Hikmah 68 dlm Al-Hikam:
النُّورُ لهُ الكشفُ والبَصِيرَة ُلهُ الحكمُ والقـَلبُ لهُ الاِقباَلُ والاَدْبارُ
Nur yg diberikan Allah di dalam hati itu bisa membuka arti sesuatu yg samar/rahasia. Dan bashirah (mata hati) bisa menentukan hukum sesuatu sesuai apa yg dilihatnya, sedangkan hati yg melaksanakan atau meninggalkan sesuatu, sesuai apa yg telah dilihat oleh bashirah.
Nur Ilahi itu bisa membuka perkara yg samar dan rahasia seperti baiknya taat dan hinanya maksiat, rahasianya qodar dan lain², dan bashirah itu juga mempunyai hukum yakni bisa melihat seperti hal tersebut. Lalu kedua kasyaf itu terkadang kurang sempurna, sehingga hamba yg di karuniai kasyaf tidak boleh mengerjakan dan menceritakan hal² tersebut sebelum meminta fatwa pada hatinya.
Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:
Cahaya yg dipancarkan Allah ke dalam hati seorang murid bisa menyibak berbagai makna dan hal ghaib, seperti baiknya ketaatan dan buruknya maksiat. Mata hati bisa melihatnya. Dalam melihat makna dan hal ghaib ini, mata hati membutuhkan cahaya, seperti halnya mata biasa yg membutuhkan bantuan cahaya lentera atau matahari ketika akan melihat sesuatu. Cahaya yg dibutuhkan mata hati itu adalah cahaya batin.
Selanjutnya, yg dilihat oleh mata hati itu akan diterima atau ditolak oleh hati. Jika mata hati melihat baiknya ketaatan, hati akan menerima dan mencintainya, lalu di ikuti oleh seluruh anggota tubuh. Bila mata hati melihat buruknya maksiat, hati akan menolak dan menjauhinya, kemudian di ikuti oleh anggota tubuh yg lain.
Hikmah ini juga bisa di artikan bahwa cahaya bisa menyingkap misteri ghaib, seperti rahasia takdir, atau memprediksikan apa yg akan terjadi di dunia. Setelah itu, mata hati berperan melihatnya dan hati memastikannya. Terkadang penyingkapan dan penglihatan tersebut tidak sempurna.
Oleh karena itu, seorang mukasyif (yg mampu menyingkap misteri ghaib) harus memastikan terlebih dahulu apa yg disingkapkan di hadapannya itu. Ia tidak boleh beramal hanya berdasarkan apa yg disingkapkan untuknya. Ia juga tidak boleh memprediksikan sesuatu sebelum bertanya kepada hatinya, apakah hatinya itu menerima atau menolaknya. Itulah sebabnya prediksi sebagian wali ada yg tidak terjadi. Ya, karena ia tidak memastikan terlebih dahulu apa yg disingkapkan di hadapannya itu. Wallaahu a’lam