Syarah Al-Hikam

Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari

Daftar Isi

01. Amal & Rasa Harap

Hikmah 1 dlm Al-Hikam

مِنْ عَلَا مَاتِ الْإِعْتِمَادِعَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَوُجُوْدِ الزَّلَلِ.

“Diantara tanda² orang yg senantiasa bersandar kepada amal²nya adalah kurangnya rasa harap (kepada rahmat Allah).”

Syaikh Fadhlala Haeri memberikan syarah (ulasan) sbb:

Jika kita berasumsi bahwa sumber kekuatan di balik usaha² adalah diri kita sendiri, kita akan kecewa kala hasilnya tidak sesuai dengan harapan² kita. Tetapi, kalau kita benar² berserah diri kepada Allah Ta’ala, maka kita akan menyaksikan satu²nya asal dan penyebab di balik ikhtiar, peranan pribadi kita dalam melaksanakannya, dan juga hasilnya. Kegagalan kemudian hanya akan kita anggap sebagai peringatan untuk memperkuat kesadaran kita akan Kehendak, Rahmat, dan Ke-Pemurahan Allah Ta’ala.

Di mata para shalihin, syuhada’, shidiqqin, serta para Nabi, terdapat kesatuan total dalam ikhtiar dan hasil.

02. Ahli Asbab & Ahli Tajrid

Hikmah 2 dlm al-Hikam:

اِرَادَاتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ, وَاِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ اِنْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ.

“Keinginanmu untuk tajriid pada saat Allah menegakkan engkau di dalam asbaab merupakan syahwah khafiyyah (syahwah yg tersembuni/tersamar).

Dan keinginanmu kepada asbaab pada saat Allah sedang menegakkan engkau di dalam tajriid merupakan suatu kejatuhan dari himmah al-’aliyyah (himmah yg tinggi).”

Tajrid adalah pemurnian batin seorang hamba oleh Allah Ta’ala, sehingga ketika si hamba beribadah serta mengagungkan Allah dengan kondisi keyakinan yg kuat terhadap jaminan Allah terhadap kebutuhan hidupnya.

Contoh tajriid:

– shalat

– tahajjud

– dzikrullah

– shadaqah, dll.

Sedangkan yg dimaksud masih dalam asbaab adalah semua perbuatan kita masih dalam wilayah hukum kausalitas/sebab-akibat.

Syahwat khafiyyah adalah tarikan pada selain Allah yg tersembunyi/tersamar. Sedangkan himmah al-‘aliyyah adalah semangat tinggi bermakrifat yg Allah anugrahkan kepada hamba²Nya yg Dia pilih.

Ustadz Salim Bahrisy dalam terjemahnya menambahkan sbb:

Sebab kewajiban kita sebagai seorang hamba, adalah menyerah kepada apa yg dipilihkan oleh majikannya. Lebih² apabila majikan itu Allah yg mengetahui benar² apa yg menguntungkan dan yg menyusahkan bagi kita.

Dan tanda bahwa Allah menempatkan diri kita dalam golongan Al-asbab (golongan yg harus berusaha kasab/bekerja adalah bila terasa ringan bagi kita mengerjakan pekerjaan/kasab tersebut, dan hal itu tidak menyebabkan kita meninggalkan kewajiban² agama. Juga dengan hasil kerja itu tidak menambah ketamakan kita pada dunia serta melupakan hak orang lain.

Sebaliknya, tanda bahwa Allah Ta’ala telah mendudukkan seseorang dalam golongan Ahli tajrid (hamba yg tidak berkewajiban kasab karena keyakinannya bahwa Allah adalah Ar-Raazaq sedemikian kuat Dia tancapkan ke dalam qalb-nya) adalah bila Allah memudahkan baginya kebutuhan hidupnya dari jalan yg tak disangka (min haitsu laa yahtasib), kemudian sekiranya terjadi kekurangan, jiwanya tetap tenang karena bersandar kepada ketawakkalannya kepada Allah dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban² agamanya.

Syaikh Ibnu Atha’illah diriwayatkan pernah berkata: “Beberapa kali aku telah meninggalkan pekerjaan kasabku tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yg ditinggalkan kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya lagi. Seorang murid merasa, bahwa tak mungkin sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para kekasih Allah dengan cara sibuk dengan ilmu² syariat lahir serta bergaul dengan masyarakat, lalu ia menghadap Syaikh-nya. Tapi sebelum ia bertanya, Sang Syaikh bercerita, ’Ada seorang yg terkemuka dalam ilmu syariat lahir, ketika ia mulai dapat merasakan sedikit dari perjalanan suluk ini, ia datang menemuiku dan berkata, ’Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu Guru.’ Syaikh kemudian berkata, ’Bukan itu yg harus kamu lakukan, namun tetaplah dalam kedudukanmu semula, sedang apa yg akan Allah berikan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu.'”

Memang untuk bisa mengenali kedudukan kita yg Allah kehendaki saat ini, apakah ahli tajrid ataukah masih dalam asbab/ahli kasab membutuhkan beberapa hal yg sangat berat dan tidak mudah. Yaitu membutuhkan qalb yg mampu menjadi media menangkap kehendak Allah atas diri kita secara terus menerus, seperti yang disampaikan Rasulullah Saw. Dalam hadits qudsy berikut:

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Barangsiapa yg memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yg paling Aku sukai dari pada sesuatu yg Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunnah² sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yg dia pakai untuk mendengar, penglihatan yg dia gunakan untuk melihatnya, tangan yg dia gunakan untuk menamparnya dan kaki yg untuknya dia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku sungguh² memberinya. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar² melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yg Aku lakukan, seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa hamba-Ku yg beriman ini yg mana ia tidak senang hati sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadapnya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Untuk hal itu, marilah kita senantiasa berjuang dan berjuang dalam melawan dominasi hawa nafsu, syahwat, serta tipu daya musuh para Nabi dan Rasul Allah. Serta tak lupa untuk selalu memohon perlindungan, bimbingan dari Allah Ta’ala. Laa hawla wa laa quwwata illa billaah.

03. Benteng Takdir

Hikmah 3 dlm Al-Hikam:

سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَ سْوَارَالْأَ قْدَارِ. 

“Kekerasan himmah itu, tidak dapat menembus tirai takdir.”

Pengertian himmah menurut Ibnu Qoyyim ra. adalah awal hasrat. Secara khusus, orang² mengartikannya sebagai puncak hasrat. Hammu adalah permulaan hasrat, dan himmah adalah puncak hasrat.

Ustadz Salim Bahreisy dalam terjemahnya menambahkan dengan mengutip ayat² Al-Qur’an berikut:

“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yg mau menempuh jalan yg lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. At-Takwir [81]: 27-29)

Juga,

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan [76]: 30)

Dalam Al-Qur’an, persoalan takdir Allah firmankan dengan serangkaian ayat²Nya yg membutuhkan qalb/hati yg suci dari penyakit²nya serta akal nalar yg memenuhi kaidah mantiq/hukum logika yg tertib. Karena seandainya kita memahami ayat² tersebut sepotong² dan tidak menganalisis secara nalar dengan paripurna, ditambah kemudian hati kita sedang terkuasai oleh penyakit melampiaskan hawa nafsu diri, maka kita pun akan salah dalam menangkap makna takdir seperti yg Allah kehendaki.

Sekedar menambah wawasan kita tentang takdir dalam Al-Qur’an, terdapat ayat² yg menerangkan bahwa Allah-lah yg memberi hidayah/petunjuk atau pun menyesatkan kepada kita, misalnya:

“Maka apakah orang yg dijadikan menganggap baik pekerjaannya yg buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yg dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yg dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yg mereka perbuat.” (QS. Fathir [35]: 8)

Namun pada ayat² lainnya disebutkan bahwa kita yg hendaknya mengubah keadaan diri kita.

“Bagi manusia ada malaikat² yg selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yg ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yg dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Dalam memahami persoalan takdir yg nampak rumit namun penting dalam kehidupan kita, sesungguhnya kita (saya lebih tepatnya) benar² memerlukan bimbingan seorang Guru yg telah memperoleh kesempurnaan makrifatullah.

Nah, dalam hikmah 3 di atas, Syaikh Ibnu Atha’illah qs., seorang yg qalb-nya telah mencapai kesempurnaan makrifatullah menyampaikan bahwa sekuat apa pun himmah kita, hal itu tidak akan mampu menembus takdir diri kita.

Dengan senantiasa memohon rahmat dan bimbingan Allah, marilah kita merenungkan serta berusaha mengamalkan hikmah tersebut. Semoga Allah meridhoi kita. Aamiin.

04. Allah SWT Mengatur Segala Urusan

Hikmah 4 dlm Al-Hikam:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ, فَمَاقَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَاتَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

“Istirahatkan dirimu dari at-tadbir (kerisauan mengatur kebutuhan), sebab apa yg sudah dijaminkan/diselesaikan oleh selainmu, tidak perlu engkau sibuk memikirkannya.”

Ustadz Salim Bahreisy menambahan dalam terjemahannya di hal. 14:

Sebagai seorang hamba, kita wajib dan harus melulu mengenal kewajiban, sedang jaminan upah/balasan ada di tangan majikan, maka tidak usah merisaukan pikiran maupun perasaan untuk mengatur (tadbir), karena mengkhawatirkan apa yg telah dijaminkan itu tidak tiba, atau terlambat. Sebab ragu terhadap jaminan Allah adalah tanda kurangnya iman kita.

Marilah kita menyadari bahwa kalimat hikmah tersebut keluar dari seorang yg pengenalannya (makrifat) kepada Allah beserta Af’al, Shifat dan Asma-Nya telah mencapai maqam/tingkat yg jauh di atas maqam kita, yaitu kesempurnaan atas seizin Allah.

Beliau yg telah mengenal bahwa Allah adalah Rabb yg sempurna Pemeliharaan serta Pemberian Rezeki-Nya kepada makhluk²nya, menasehatkan kepada kita yg seringkali kelalaian kita menyebabkan kurang yakinnya kita atas Pemeliharaan serta Penjaminan rezeki kita oleh Allah.

Hendaknya kesibukan kita lebih berfokus pada penyempurnaan penunaian kewajiban² kita kepada Allah, sebab Dia, Rabb yg sekaligus Ar-Raazak pasti akan membalas penunaian kewajiban tersebut dengan anugrah-Nya yg akan mencukupi kebutuhan kita.

Di antara kewajiban kita yg telah Allah firmankan dalam Al-Quran antara lain,

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yg haqq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. ThaaHa [20]: 14)

‎“…Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yg Dia kehendaki dan menunjuki orang² yg bertobat kepada-Nya”, (yaitu) orang² yg beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad [13]: 28)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak² Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yg demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang² yg lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al-A’raaf [7]: 172)

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yg lurus, (yaitu) agama yg benar; agama Ibrahim yg lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang² yg musyrik”. Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6]: 161-162)

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yg demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang² yg khusyuk, (yaitu) orang² yg meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45-46)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda² bagi orang² yg lubb-nya aktif (ulil albab), (yaitu) orang² yag mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia². Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 190-191)

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yg memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yg baik) itu adalah bagi orang yg bertakwa.” (QS. ThaaHaa [20]: 132)

Laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘Aliyyul ‘Adhim.

Wa Allahu A’lam bi shawwab.

05. Mata Hati yang Buta

Hikmah 5 dlm Al-Hikam:

اِجْتِهَا دُ كَ فِيْمَاضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُ كَ فِيْمَاطُلِبَ مِنْكَ دَ لِيلٌ عَلَى انْطِمَا سِ الْبَصِيرَ ةِ مِنْكَ.

“Kesungguh-sungguhanmu untuk mencapai apa² yg telah dijaminkan bagimu serta keteledoranmu terhadap kewajiban² yg telah diamanahkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu.”

Tambahan keterangan Ustadz Salim Bahreisy:

وَكَأَيِّنْ مِّنْ دَآبَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yg tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yg memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabut [29]: 60)

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْئَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعٰقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yg memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yg baik) itu adalah bagi orang yg bertakwa.” (QS. Thaa Haa [20]: 132)

Kerjakan apa yg menjadi kewajiban kita terhadap Kami (Allah), dan Kami melengkapi bagi kita bagian Kami. Di sini ada 2 hal, satu, yg dijamin Allah, maka hendaknya kita jangan menuduh (su’udzon) terhadap Allah. Kedua, yg dituntut Allah maka jangan kita abaikan.

Dalam sebuah hadits yg kurang lebih artinya demikian:

“Mengapakah orang² yg mengagungkan orang yg kaya, pemboros dan menghina ahli² ibadah, serta yg selalu mengikuti tuntunan Al-Quran hanya yg sesuai dengan hawa nafsu mereka sedangkan ayat² yg tidak sesuai dengan hawa nafsunya mereka tinggalkan, padahal yg demikian itu berarti mempercayai sebagian Kitab Allah, dan mengabaikan (kufur) terhadap sebagian isi Kitab-Nya. Mereka berusaha untuk mencapai apa² yg dapat dicapai tanpa usaha, yaitu bagian yg pasti tiba dan ajal yg sudah ditentukan, dan rezeki yg menjadi bagiannya, tetapi tidak berusaha untuk mencapai apa yg tidak dicapai kecuali dengan usahanya, yaitu pahala² yg besar dan amal² ibadah dan ‘dagangan’ yg tidak akan rusak.”

Ibrahim Al-Khawwash berkata: “Jangan memaksakan diri untuk mencapai apa yg telah dijamin (dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yg di amanahkan kepadamu.”

Oleh sebab itu, maka siapa yg berusaha untuk mencapai yg sudah dijamin, dan mengabaikan apa yg ditugaskan kepadanya, maka berarti buta mata hatinya, karena sangat bodohnya.

Kewajiban yg hendaknya kita ikhtiarkan dengan perjuangan sekuat tenaga adalah secara singkat mencari keridhoan Allah Ta’ala dalam berbagai kondisi kita. Dan jika dirinci lebih lanjut a.l.:

– Dzikrullah baik dalam duduk, berdiri, berbaring, dsb (QS. 3:191)

– Khusyu’ dalam shalat (QS. 2:45-46)

– Shaum/puasa lahir maupun batin (QS. 2:183)

– Menyempurnakan keberserah-dirian kepada Allah Ta’ala (QS. 2:208)

– Takwa dengan sebenar-benarnya takwa (haqqatu qattihi; QS. 3:102)

– Menerima dengan ridho dan menjaga rezeki harta yg Allah anugrahkan

Sesungguhnya rezeki harta yg sudah, sedang maupun akan kita terima, telah Allah tetapkan (qodho) di Lauh Al-Mahfudz. Tentu saja, keyakinan kita terhadap hal tersebut serta penyikapan kita sesuai dengan tingkat keimanan dan ketakwaan kita masing². Itulah yg dimaksudkan oleh Syaikh Ibnu Atha’illah qs  sebagai apa² yg telah dijaminkan bagimu.

Sedangkan istiqamah dzikrullah, shalat yg khusyu’, keberserah-dirian yg total kepada Allah, menerima apa² yg Allah anugrahkan kepada kita tidaklah Allah berikan jika kita tidak berjuang dengan keras, itulah yg dimaksud oleh Beliau sebagai kewajiban² yg telah di amanahkan kepadamu.

Demikianlah, jika kita mengabaikan yg menjadi kewajiban karena energi dan kesempatan kita sudah habis dipergunakan mencari apa² yg sudah dijamin oleh Allah Ta’ala, maka kita disebut buta mata hati.

Marilah kita merenungi hikmah di atas dengan qalbu yg semoga Allah bebaskan dari penguasaan hawa nafsu, serta akal nalar yg mengikuti hukum²nya dengan optimal.

Laa haula wa laa quwwata illa billaahil Aliyyul Adziim.

06. Doa

Hikmah 6 dlm Al-Hikam:

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُأَ مَدِا لْعَطَا ءِ مَعَ الْإِلْحَا حِ  فِي الدُّ عَاءِمُوْجِبًالِيَأْ سِكَ , فَهُوَضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ  فِيْمَا يَخْتَا رُهُ لَكَ لَافِيْمَا تَخْتَارُهُ لِنَفْسِكَ , وَ  فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِ يْ تُرِيْدُ.

“Janganlah kelambatan masa pemberian Allah kepadamu, padahal engkau telah bersungguh² dalam berdoa, menyebabkanmu patah harapan. Sebab Allah telah menjamin menerima semua doa, dalam apa yg Dia kehendaki bagimu, dan pada waktu yg ditentukan-Nya, bukan pada waktu yg engkau tentukan.”

Ustadz Salim Bahreisy menambahkan sbb:

Firman Allah, ”Tuhanmu yg menjadikan segala yg dikehendaki-Nya dan memilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka memilih.”

Sebaiknya seorang hamba yg tidak mengetahui secara paripurna apa yg akan terjadi, mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yg tampak baginya sepintas-lalu baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Rabb yg Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana memilihkan baginya sesuatu, hendaknya dia ridho dan menerima pilihan Rabb Yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim serta Maha Mengetahui, Maha Bijaksana sekaligus, meskipun pada lahirnya pilihan itu pahit dan pedih rasanya, namun itulah pilihan terbaik untuknya. Oleh sebab itu, bila kita berdoa kemudian belum tercapai juga keinginan kita, hendaknya janganlah kita terburu² putus harapan.

Allah berfirman:

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili qs. ketika mengartikan QS. Yunus [10]: 9, berkata, “Maka terlaksananya kebinasaan Fir’aun yg berarti setelah 40 tahun doa Nabi Musa as.”

Syaikh Fadhalla Haeri, ulama yg juga menerjemahkan dan mensyarah (mengomentari Al-Hikam) dalam komentarnya menambahkan:

Allah menjawab doa hamba²Nya yg penuh kerinduan dan permohonan yg keluar dari hati yg ikhlas memohon pertolongan Allah, yg didorong oleh perintah-Nya untuk kembali kepada-Nya. Jadi waktu dan cara Allah menjawab doa para hamba-Nya tergantung pada Kekuasaan-Nya. Yg menjadi hendaknya kita lakukan sebagai makhluk/ciptaan adalah berdoa, bergantung, dan percaya kepada cara² yg sempurna dari Sang Pencipta dan Pengatur yg juga Al-’Alim, karena Dia selalu mengetahui keadaan kita yg sebenarnya, juga pertolongan serta perbekalan yg paling tepat yg kita butuhkan untuk perjalanan menuju Dia.

Demikianlah.. setiap doa yg kita panjatkan kepada Allah Ta’ala sebenarnya pasti Dia kabulkan dalam waktu yg terbaik menurut Dia, serta dengan cara dan bentuk yg terbaik di Mata-Nya. Oleh karena itu hendaknya kita tidak terburu-buru patah harapan, sebab bersabar dalam hal itu, pasti akan mendatangkan kebaikan yg lebih utama.

Semoga Allah memberikan kesabaran kepada kita. Aamiin.

07. Janji Allah

Hikmah 7 dlm Al-Hikam:

لَا يُشَكِّكَنَّكَ  فِي الْوَ عْدِ عَدَ مُ وُقُوْعِ الْمَوْعُوْ دِ وَ إِ نْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ لِئَلَّا يَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًا فِي بَصِيْرَ تِكَ وَاِخْمَا دًالِنُوْ رِ سَرِيْرَ تِكَ.

“Janganlah kamu meragukan janji (Allah), karena tidak terjadinya apa yg telah Allah janjikan tersebut pada waktunya. Karena keraguanmu tersebut bisa menutupi mata-hatimu (bashirah) serta memadamkan nur cahaya batinmu (sirr-mu).”

Ustadz Salim Bareisy menjelaskan:

Manusia sebagai hamba tidak mengetahui bilakah Allah akan menurunkan karunia rahmat-Nya, sehingga manusia jika melihat tanda² ia menduga (mengira) mungkin telah tiba saatnya, padahal bagi Allah belum memenuhi semua syarat yg dikehendaki-Nya, maka bila tidak terjadi apa yg telah dikira-kira itu, hendaknya tiada ragu terhadap kebenaran janji Allah.

Sebagaimana yg terjadi dalam Sulhul-Hudaibiyah, ketika Rasulullah Saw. menceritakan impiannya kepada sahabat, sehingga mereka mengira bahwa pada tahun itu mereka akan dapat masuk Mekah dan melaksanakan ibadah umroh dengan aman sejahtera (yaitu mimpi Nabi Saw. yg tersebut dalam QS. Al-Fath: 27). Sehingga ketika gagal tujuan umroh karena ditolak oleh bangsa Quraisy dan terjadi penandatanganan perjanjian Sulhul Hudaibiyah, yg oleh Umar bin Khattab ra. dan sahabat² lainnya dianggap sangat mengecewakan, maka Umar ra. mengajukan beberapa pertanyaan, dijawab oleh Nabi Saw.: ”Aku hamba Allah dan juga utusan-Nya, dan Dia tidak akan mengabaikanku.”

Firman Allah:

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 216)

Syaikh Fadhalla Hairi, dalam syarah Al-Hikamnya, mengatakan:

Untuk mempertahankan jalan yg tepat menuju pencerahan batin, kita harus membuang semua keraguan terhadap kesempurnaan, keadilan, dan kebijaksanaan Allah di balik terjadinya peristiwa² sesuai dengan urutan dan waktunya yg tepat.

Yang terpenting adalah penyerahan diri sepenuhnya dan keyakinan total kita kepada kehendak dan tujuan Allah, meskipun kita mungkin sudah memperoleh ilham yg benar dan penglihatan batin menuju sebuah pencerahan maupun peristiwa, yg tidak terjadi.

Kita memang selayaknya berjuang sekuat tenaga agar kita tidak tergelincir dalam situasi dan kondisi yg menyebabkan kita ragu terhadap janji Allah. Hal itu bisa kita cegah antara lain dengan:

a. Mengingat-ingat pertolongan² Allah yg telah Dia anugrahkan kepada kita selama ini.

b. Mentafakkuri dengan qalbu yg tenang, nash² yg menunjukkan bahwa janji Allah pasti Dia tunaikan.

c. Mewaspadai tipuan hawa nafsu kita yg senantiasa membisiki kita dengan hal² yg mempertakuti kita kepada selain Allah.

Wallaahu A’lam bishshawwab.

08. Jalan Memperoleh Ma’rifat

Hikmah 8 dlm al-Hikam:

إِذَافَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّ فِ فَلَا  تُبَالِ مَعَهَاإِ نْ قَلَّ عَمَلُكَ , فَإِ نَّهُ مَا فَتَحَهَالَكَ إِ لَّا وَ هُوَيُرِ يْدُ أَ نْ يَتَعَرَّ فَ إِ لَيْكَ , أَ لَمْ تَعْلَمْ أَ نَّ التَّعَرُّ فَ  هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَالْأَعْمَا لُ أَ نْتَ مُهْدِ يْهَا إِ لَيْهِ , وَأَ يْنَ مَا تُهْدِ يِهِ إِ لَيْهِ مِمَّا هُوَمُوْرِ دُهُ عَلَيْكَ ؟

“Apabila Dia membukakan bagimu suatu untuk ma’rifat (mengenal pada-Nya), maka jangan kauhiraukan soal amal-mu yg masih sedikit, sebab Dia tidak membukakan bagimu, melainkan Dia akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui bahwa ma’rifat itu semata-mata anugrah Allah kepadamu, sedang amalmu adalah hadiahmu kepada-Nya. Maka bagaimanakah perbandingannya antara hadiahmu dengan anugrah-Nya kepadamu?”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah sebagai berikut:

Ma’rifat kepada Allah, merupakan puncak keberuntungan (falaha) seorang hamba, maka bila Dia telah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal kepada-Nya, maka tidak usah kau hiraukan berapa banyak amal kebaikanmu. Sebab ma’rifat itu suatu karunia anugrah langsung dari Allah, maka ia sekali-kali tidak tergantung kepada banyak atau sedikitnya amal baik kita.

Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, Allah berfirman:

“Apabila Aku menguji hamba-Ku yg beriman, kemudian ia tidak mengeluh kepada orang yg menemuinya, maka Aku lepaskan ia dari ikatan-Ku dan aku gantikan untuknya daging dan darah (diri) yg lebih baik daripada dari semula, dan ia boleh memperbaiki amal shalihnya, sebab yg lalu telah Ku ampuni semua.”

Diriwayatkan: Allah telah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi-Nya. Aku telah menurunkan bala’ (ujian) kepada seorang hamba, kemudian ia berdoa, dan tetap Aku tunda permohonannya, akhirnya ia mengeluh, maka Aku katakan kepadanya, ‘Hamba-Ku, bagaimana Aku memberikan rahmat-Ku kepada-mu, padahal Aku justru sedang memberimu Rahmat-Ku yg terselubung dalam bala’ tersebut.

Karena dengan segala kelakuan kebaikanmu engkau tak dapat sampai ke tingkat yg akan Aku berikan kepadamu, maka dengan bala’ itulah engkau dapat mencapai maqam dan hal di sisi-Ku.’

Sedangkan Syaikh Fadhala Hairi mensyarah sebagai berikut:

Kita tidak bisa mengukur seluruh rahmat Allah, atau membandingkannya dengan ilusi² kita tentang pengorbanan atau amal kebaikan kita. Apa pun yg kita tunjukkan kepada Sang Khaliq tidak sebanding dengan apa yg telah Dia karuniakan kepada kita, yakni fithrah dan cahaya ruh serta jiwa.

Sesungguhnya, Dia adalah Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu yg di dalam dan di sekitar (diri) kita, baik yg kasat mata/dhohir maupun yg ghaib/tak kasat mata. Kebutuhan² dan amal² kita hanyalah tanda dan pendahuluan menuju pembukaan qalbu dan pertolongan, yg sebenarnya sudah ada, hanya terhijab dari kita.

Bagi seorang shiddiqin seperti Syaikh Ibnu Atha’illah qs. dan para Ulama Akhlaq, keyakinan terhadap kesadaran posisi Beliau sebagai seorang abdi/hamba di hadapan Allah Ta’ala, telah menjadi dasar dari perilaku keseharian. Hal itu didasari oleh anugrah ma’rifatullah yg telah Beliau² rasakan, sehingga dalam setiap interaksinya dengan fenomena kehidupan ini, selalu kesadaran kesempurnaan, kepemurahan Allah Ar-Rahman Ar-Rahim menjadikan Beliau selalu dalam kewaspadaan takwa yg sangat tinggi.

Semoga kita bisa meneladani perilaku para shiddiqin tersebut dalam kehidupan kita.

Laa haula wa laa quwwata illa billaahil Aliyyul Adhim.

Wallahu A’lam bishshawwab.

09. Ahwal Menentukan Amal

Hikmah 9 dlm Al-Hikam:

تَنَوَّعَتْ أَ جْنَا سُ الْأَعْمَا لِ لِتَنَوُّ عِ وَارِ دَاتِ الْأَحْوَالِ.

“Beraneka warna jenis amal, itu karena bermacam²nya anugrah (waarid) Allah kepada hamba²Nya.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah sbb:

Karena itu tiap orang shalih yg menuju ke suatu maqam (tingkat) harus mengerti dalam ibadah yg mana ia merasakan nikmat ibadah tersebut, karena di situlah ‘terbuka’ qalbunya. Apakah dalam shalat, atau shaum, atau ibadah yg lainnya.

Syaikh Fadhalla Hairi dalam terjemahnya  mengomentari:

“Suatu perbuatan yg timbul dari hati yg suci dan merdeka tidak sama dengan perbuatan yg termotivasi oleh keinginan², ketakutan², dan ambisi² pribadi. Hasil dari perbuatan juga berbeda-beda sesuai dengan niat dan keadaan hati kita. Perbuatan adalah gerakan lahir dari apa yg ada dalam hati dan tergantung pada keadaannya. Jadi, seluruh kondisi dan pengalaman eksistensial merefleksikan keadaan hati yg sebenarnya.”

Hanya dengan hati yg jernih dari prasangka buruk serta pikiran yg tidak menghakimi, biasanya hidayah serta pemahaman yg optimal itu Allah anugrahkan kepada kita.

Semoga rahmat dan barokah Allah senantiasa tercurah bagi kita. Aamiin Yaa Mujiibassaa’iliin.

Laa haula wa laa quwwata illa billaahil Aliyyul Adhim.

Wallahu A’lam bishshawwab.

10. Tentang Ikhlas, Ruh & Ibadah

Hikmah 10 dlm Al-Hikam:

اَ لْأَ عْمَا لُ صُوَرٌ قَا ئِمَةٌ وَأَ رْوَاحُهَا وُجُوْ دُ سِرِّالْإِخْلَا صِ فِيْهَا.

“Amal perbuatan itu sebagai kerangka yg tegak, sedang ruh-nya adalah terdapatnya rahasia ikhlas (sirr al-ikhlas) dalam perbuatan itu.”

Ustadz Salim Bahreisy memberikan syarah sbb:

Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya (maqam). Seorang abrar, keikhlasannya telah bersih dari riya’, baik riya’ yg jelas maupuan yg samar. Tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yg dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya yg ikhlas. Hal ini merujuk pada ayat “Iyyaka na’budu. Hanya kepada-Mu kami mengabdi/beribadah.” (QS. Al-Fatihah [1]: 5), dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam pengabdianku ini kepada sesuatu yg lain.

Adapun keikhlasan hamba² Allah pada maqam Muqarrabin adalah menerapkan pengertian Laa haula wa laa quwwata illa billaahi (tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah) tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apa pun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada kekuatan sendiri, semua kekuatan yg kita miliki hanya dari Allah. Kalangan Muqarrabin ini meyakini bahwa semua amal mereka semata-mata hanya anugrah dari Allah, sebab Allah-lah yg memberi hidayah dan taufiq (pertolongan untuk takwa). Hal ini merujuk pada ayat, “Iyyaka nasta’in.. Hanya kepada-Mu kami minta pertolongan..” (QS. Al-Fatihah [1]: 5). Hanya kepada-Mu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya.

Amal kalangan abrar disebut amal lillahi, beramal karena Allah. Amal lillahi menghasilkan memperhatikan hukum syariat lahir. Sedangkan amal kalangan Muqarrabin disebut amal billahi, beramal dengan bantuan karunia anugrah Allah. Amal billahi menembus ke dalam syariat bathin hingga ke rasa qalbu (dzauq).

Seorang Guru berkata, “Perbaikilah amal perbuatan kita dengan keikhlasan, dan perbaikilah keikhlasan kita dengan merasa amal itu tidak berasal dari kekuatan kita sendiri, karena semua itu terjadi semata-mata karena bantuan pertolongan dan rahmat Allah Ta’ala.

Syaikh Fadhalla Hairi, mensyarah sbb:

Amal perbuatan adalah perwujudan dari niat dan keinginan kita. Pengalaman² lahiriah adalah cerminan dari realitas dan kondisi bathin kita. Usaha² kita akan gagal apabila tidak sesuai dengan tujuan, sehingga kita menjadi bingung. Puncak keikhlasan adalah kesadaran bahwa kita tidak mempunyai kekuatan dan kehendak-bebas (free will). Bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah, memahami ‘amr (perintah)-Nya, dan hanya mengharapkan hasil terbaik yg tercelupi Nur-Nya.

Kadar keikhlasan kita juga ditentukan oleh tingkat kesucian qalbu serta totalitas diri kita. Dan kesucian qalbu dan diri kita adalah terbebasnya kita dari penyakit² bathin seperti kesombongan, iri dengki, riya’, terlena terhadap kenikmatan dunia sehingga lalai dzikrullah, dsb.

Marilah kita senantiasa meningkatkan riyadhoh dan mujahadah kita untuk mensucikan diri kita agar kualitas keikhlasan kita meningkat, dan semoga dengan pertolongan dan rahmat Allah bisa mencapai keikhlasan yg cerminannya berwujud Amal Lillahi hingga akhirnya Amal Billahi, Insya Allah.

11. Tiada Kesempurnaan Tanpa Ikhlas

Hikmah 11 dlm Al-Hikam:

اِ دْ فِنْ وُجُوْ دَ كَ فِي أَ رْضِ الْخُمُوْ لِ , فَمَا نَبَتَ  مِمَّالَمْ يُدْ فَنْ لَا يَتِمُّ نَتَا جُهُ.

“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Tiada sesuatu yg lebih berbahaya bagi seseorang yg sedang beramal, daripada menginginkan kedudukan dan kemashuran di tengah² masyarakat. Hal ini termasuk dari tipu daya hawa nafsu.

Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa berendah-hati maka Allah akan memuliakannya, dan barangsiapa sombong, Allah akan menghinakannya.”

Ibrahim bin Adham ra. berkata:

“Tidak benar² menuju ke Allah siapa yg beramal untuk kemashuran dirinya.”

Ayyub As-Sakhtiyani ra. berkata:

“Demi Allah, tiada seorang hamba yg bersungguh² ikhlas pada Allah,  melainkan ia merasa senang jika tidak mengetahui kedudukannya.”

Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal ra., Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya riya’ meski sedikit, termasuk syirik. Dan siapa yg memusuhi seorang waliyullah, berarti telah berperang terhadap Allah. Dan Allah menyayangi hamba-Nya yg bertakwa namun tidak terkenal, yg bila tidak ada tidak dicari, bila ada tidak dipanggil serta tidak dikenal. Hati mereka laksana pelita hidayah (petunjuk), mereka terhindar dari segala kegelapan kesukaran.

Abu Hurairah ra. berkata, ketika kami di majelis Rasulullah Saw. tiba² Beliau bersabda:

“Besok pagi akan ada seorang ahli surga yg shalat bersama kalian. Abu Hurairah berkata, aku berharap semoga akulah orang yg ditunjuk oleh Rasulullah itu. Maka pagi² aku shalat di belakang Rasulullah Saw. dan tetap tinggal di majelis setelah orangw pulang. Tiba² ada seorang hamba hitam berkain compang-camping datang dan berjabat tangan pada Rasulullah Saw. sambil berkata: Ya Nabiyallah, doakan semoga aku mati syahid. Maka Rasulullah Saw. berdoa, sementara kami mencium wangi kesturi dari tubuhnya. Kemudian (setelah orang itu pergi) aku (Abu Hurairah ra.) bertanya: Apakah orang itu Ya Rasulullah? Jawab Nabi: Ya benar. Ia seorang hamba dari bani fulan. Abu Hurairah bertanya lagi: Mengapa tidak kau beli dan kemudian kau merdekakan ya Nabiyallah? Bagaimana aku akan dapat berbuat demikian, bila Allah hendak menjadikan dia seorang raja di surga. Hai Abu Hurairah, sesungguhnya di surga itu ada raja dan orang² terkemuka. Dan hamba sahaya ini salah seorang raja dan terkemuka. Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah mengasihi kepada makhluk-Nya yg suci hati, yg menyembunyikan diri dari masyarakatnya, yg bersih, yg rambutnya terurai (tidak tersisir rapi), yg perutnya kempis kecuali dari hasil yg halal, yg bila akan masuk istana raja niscaya tidak diperkenankan (karena tampilan lahiriahnya), bila meminang wanita bangsawan tidak diterima, bila tidak ada tidak dicari, bila hadir tidak dihiraukan, bila sakit tidak dijenguk, bahkan bila meninggal jenazahnya tidak dihadiri.”

Ketika sahabat bertanya:  Tunjukkan kepada kami seorang dari mereka ya Nabiyallah..

Nabi menjawab: “Uwais Al-Qarny ra., seorang berkulit coklat, lebar kedua bahunya, sedang tingginya, selalu menundukkan kepalanya sambil membaca Al-Qur’an, di bumi tidak dikenal, tetapi terkenal di langit. Andaikan dia bersungguh² minta sesuatu kepada Allah, pasti Dia beri. Di bahu kirinya ada bekas belang sedikit. Hai Umar dan Ali, jika kamu kelak bertemu dengannya, maka mintalah dia membacakan istighfar untuk kalian.”

Sedangkan Syarah Syaikh Fadhlala Haeri dalam terjemahnya:

Kalau perbuatan² kita tidak didasarkan pada pengabdian yg rendah hati (tawadhu’) kepada Allah, maka perbuatan² tersebut tidak akan menunjukkan hasilnya dan tidak terbebas dari kepalsuan serta kemusyrikan (menyekutkan Allah) secara halus.

Bila kita menginginkan reputasi atau penghargaan, maka buah dari perbuatan kita yg seperti itu akan asam dan busuk, karena sifat dunia yang selalu berubah.

Pencari spiritual yg sukses tidak mempedulikan apa yg muncul sebagai hasil akhir perbuatan, karena ia merasakan rahmat-Nya sejak awal penyerahan dirinya kepada Allah Ta’ala.

Di tengah² masyarakat yg berpandangan bahwa kemasyhuran di masyarakat adalah sebuah cita² yg membahagiakan secara duniawi, tentu mengerti dan mengamalkan ajaran para Kekasih Allah di atas menjadi sesuatu yg tidak mudah. Untuk itu kita sebaiknya bersahabat dengan mereka yg sama mempunyai tekad yg kuat untuk meneladani para kekasih Allah, agar kita bisa saling menolong dalam perjuangan menggapai ridho Allah dalam hal ini.

Laa haula wa laa quwwata illa billaahi Al-Aliy Al-Adhim

Wallahu a’lam bishshawwab.

12. Uzlah Pintu Tafakur

Hikmah 12 dlm Al-Hikam:

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْ  ءٌ  مِثْلُ عُزْلَةٍ  يَدْ خُلُ بِهَا مَيْدَا نَ فِكْرَ ةٍ.

“Tiada sesuatu yg sangat berguna bagi qalbu (hati), sebagaimana uzlah (menyendiri dari keramaian dengan niat tafakkur billah) untuk masuk ke medan tafakkur.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Rasulullah Saw. bersabda: “Perumpamaan kawan yg tidak baik bagaikan tukang besi yg sedang membakar besi, jika engkau tidak terbakar oleh percikan apinya, maka akan terkena sengatan bau tidak sedapnya.”

Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as.: ”Wahai putra Imran, waspadalah selalu dan pilihlah untuk dirimu sahabat, dan setiap sahabat yg tidak membantumu untuk berbuat taat kepada-Ku, maka ia adalah musuhmu.”

Demikian pula wahyu Allah kepada Nabi Daud as.: ”Hai Daud, mengapakah engkau menyendiri? Daud menjawab, ’Aku menjauhkan diri dari makhluk untuk mendekat kepada-Mu.’ Maka Allah pun berfirman: ‘Hai Daud, waspadalah selalu, dan pilihlah sahabat untukmu, dan setiap yg tidak membantumu berbakti kepada-Ku, maka itu adalah musuhmu, karena dia akan menyebabkan keras hatimu, serta jauh dari-Ku.”

Nabi Isa as. bersabda: ”Jangan berkawan dengan orang² yg ‘mati’, niscaya mati hatimu. Ketika Beliau ditanya: ’Siapakah mereka yg ‘mati’ itu? Beliau menjawab: ‘Mereka yg rakus kepada dunia.”

Rasulullah Saw. bersabda: “Yg sangat aku khawatirkan terhadap umatku adalah (mereka) lemah dalam iman keyakinan.”

Nabi Isa as. bersabda: ”Berbahagialah orang yg perkataannya dzikir, dan diamnya tafakkur serta pandangannya perhatian. Sesungguhnya orang yg sempurna akalnya ialah yg selalu muhasabah demi hari kemudian sesudah mati.”

Sahl bin Abdullah At-Tustary ra. berkata: Kebaikan itu terhimpun dalam 4 perkara, dan dengan itu tercapai maqam wali (disamping memenuhi kewajiban syariat), yaitu:

1. Lapar

2. Diam

3. Uzlah

4. Bangun/terjaga di Malam Hari (untuk shalat, munajat, dan ibadah kepada Allah).

Sedangkan Syarah Syaikh Fadhlala Haeri dalam terjemahnya:

Untuk kesehatan spiritual, kita harus berpaling dari keinginan² dan ambisi², kebingungan², dan syirik. Hati memerlukan pengalaman uzlah (menyendiri), kemudian di isi kembali melalui tafakkur dan peningkatan kesadaran kepada Tuhan. Kita harus menyeimbangkan pengalaman lahir dengan keadaan dan cahaya batin, sehingga pada waktunya nanti kita melihat seluruh perwujudan dan pengalaman yg berasal dari Zat Rabb Yang Maha Esa.

Syaikh Ibnu Arabi ra. dalam salah satu wasiatnya ketika menjelaskan pilar² ma’rifat menjelaskan bahwa Uzlah yg benar bisa menghasilkan ma’rifat tentang dunia. Sedang pilar yg lainnya adalah diam, lapar dan terjaga di malam hari.

Marilah kita semua berusaha keras untuk mampu mengamalkan uzlah ini agar qalbu kita berisi hanya Allah saja, dengan keyakinan bahwa setelah qalbu hanya terisi Allah saja, maka kemudian Allah menuntun dengan optimal perbuatan kita dalam menebarkan rahmat-Nya kepada semesta alam seisinya, Insya Allah.

Laa haula wa laa quwwata illa billaahi Al-’Aliy Al-’Adhim.

13. Cermin Qalbu

Hikmah 13 dlm Al-Hikam:

كَيْفَ يُشْرِ قُ قَلْبٌ صُوَ رُ الْأَ كْوَا نِ مُنْطَبِعَةٌ  فِي مِرْ آ تِهِ , أَ مْ كَيْفَ يَرْ حَلُ  إِ لَى اللهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ, أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ  أَ نْ يَدْ خُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلَا تِهِ , أَ مْ كَيْفَ يَرْ جُوْ أَ نْ يَفْهَمَ دَقَا ئِقَ الْأَ سْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ؟

“Bagaimana akan terang qalb (hati) seseorang yg gambar dunia terbayang jelas dalam cermin qalbnya. Atau bagaimana akan menuju Allah, padahal ia masih terikat (terbelenggu) oleh syahwat (cinta berlebihan pada materi). Atau bagaimana ia akan bisa masuk hadhirat Allah, sedangkan ia belum suci dari kelalaiannya, yg di sini di ibaratkan sebagai janabat-nya. Atau bagaimana bisa berharap akan mengerti rahasia yg mendalam (daqaa’iqal asror), sedangkan ia belum bertaubat dari kekeliruan²nya.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah sbb:

Barkumpulnya dua hal yg berlawanan dalam satu tempat dan masa adalah mustahil, sebagaimana berkumpulnya antara diam dengan gerak, antara terang dan gelap. Demikian pula nur iman berlawanan dengan kegelapan yg ditimbulkan karena selalu berharap/bersandar kepada selain Allah. Begitu pun bersuluk/berjalan menuju Allah juga harus bebas dari belenggu hawa nafsu dan syahwat supaya sampai kepada Allah.

Allah berfirman:

“..Bertakwalah kepada Allah, dan Allah yg akan mengajarkan ilmu kepadamu..” (QS. Al-Baqarah [2]: 282)

Dan Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa mengamalkan ilmu yg telah dia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yg belum dia ketahui.”

Suatu saat, Ahmad bin Hanbal ra. bertemu dengan Ahmad bin Abil-Hawari, berkata Ahmad bin Hanbal ra.: Ceritakanlah kepada kami apa² yg pernah kau dapatkan dari Gurumu Abu Sulaiman ra.

Ibnu Abil-Hawari menjawab: Bacalah Subhanallah tetapi tanpa disertai rasa kekaguman. Setelah Ahmad bin Hanbal membaca “Subhanallah” maka berkata Ibnu Abil-Hawari:

“Aku telah mendengar Abu Sulaiman ra. berkata: “Apabila qalb (hati) manusia benar² berjanji akan meninggalkan semua dosa, niscaya akan terbang ke alam malakut, kemudian kembali dengan membawa berbagai ilmu hikmah dengan tanpa berhajat pada Guru.”

Ahmad bin Hanbal ra. setelah mendengar keterangan itu langsung berdiri dan duduk di tempatnya sampai tiga kali, lalu berkata: ‘Belum pernah aku mendengar keterangan seperti ini sejak aku masuk Islam. Beliau sungguh merasa puas dan sangat gembira menerima keterangan itu, lalu Beliau membaca hadits Rasulullah Saw. tentang ilmu seperti di atas.

Sedangkan Syarah Syaikh Fadhlala Haeri dalam terjemahnya:

Qalb laksana cermin, yg memantulkan apa yg dihadapi dan di inginkannya. Cermin ini tertarik pada apa² yg di inginkannya dan menolak apa² yg ingin di hindarinya. Bila qalb yg ikhlas menghadap pada Nur Ilahi, maka ia memantulkan kebenaran yg mendalam, namun bila qalb menghadap pada dunia yg penuh perubahan dan perselisihan, maka ia akan memantulkan godaan² dan realitas yg fana.

Qalb tidak bisa tercerahkan oleh penglihatan batin spiritual, jika ia tertutup dan ternoda oleh cinta-dunia, nafsu dan keinginan. Qalb harus dipersembahkan semata-mata untuk tujuan awalnya, yaitu jalan tauhid yg absolut. Allahu Ahad.

Hidup kita ini sangat remeh dan singkat masanya bila dibandingkan dengan Agungnya penciptaan dan Harapan Allah kepada kita sebagai manusia. Nah.. Oleh sebab itu marilah kita tidak menyia-nyiakan sedikit kesempatan yg kita miliki dengan kehidupan rutin yg biasa² saja. Qalb hamba² Allah al-mukhlasin (yg di ikhlaskan-Nya) sangat sedikit  jumlahnya saat ini, itu pun Allah sembunyikan keberadaannya di antara keramaian semu dunia ini. Marilah kita berjuang keras dan cerdas untuk menemukan al-mukhlasin tersebut, dan setelah menemukannya, kita bergaul santun agar kita memperoleh ilmu, hikmah, serta bimbingan dan barokah dari Beliau² tersebut. 

Hanya dengan mengamalkan secara kaffah (total paripurna) bimbingan al-mukhlasiin lah kita bisa mencapai Dia Al-Ahad, insya Allah.

Laa haula wa laa quwwata illa billaah

14. Allah Yang Men-Dzahir-kan Alam

Hikmah 14 dlm al-Hikam:

اَلْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ  وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُوْرُ الْحَقِّ فِيْهِ , فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيْهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ فَقَدْ اَعْوَزَهُ وُجُوْدُ الْأَنْوَارِ, وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوْسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الْآثَارِ.

“Alam semesta (al-kaun) itu kesemuanya berupa kegelapan, sedang penerangnya, adalah dzahirnya (tampilnya) al-Haq (Allah) di dalamnya, maka barangsiapa melihat alam semesta namun tidak menyaksikan Al-Haq di dalamnya, atau padanya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka benar² ia telah tersilaukan oleh wujud cahaya², dan telah terhijab (tertutup) ia dari matahari ma’rifat oleh awan² jejak penciptaan.”

Ustadz Salim Bahreisy dalam syarahnya menulis:

Alam semesta yg mulanya tidak ada (adam) memang gelap, sedang yg mendhohirkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Allah padanya, karena itu siapa yg melihat sesuatu benda di alam ini, kemudian tidak terlihat olehnya kebesaran kekuasaan Allah yg ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yg terang, lalu ia mengira tidak ada sumber cahaya lain yg juga merupakan sumber nyala cahaya yg dilihatnya tersebut. Padahal sebenarnya alam seisinya ini pada hakikatnya terlihat semata-mata karena cahaya Allah semata.

Sedangkan Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:

Meskipun seluruh alam ini diciptakan dari nur ilahi, tetapi semua wujudnya tampil sebagai cahaya dan bayang², baik dan buruk, siang dan malam. Jika seorang pencari spiritual tidak melihat Allah yg memancarkan nur-Nya di balik semua ini, berarti ia sedang diliputi kebingungan terhadap permainan bayang² eksistensial dan awan² realitas yg berubah-ubah. Penciptaan manusia mempunyai makna dan tujuannya sendiri, dari nur azali, yakni sebab yg selalu ada di balik perubahan² fenomena duniawi yg tampak.

Mari dengan sepenuh kesadaran atas segala kelemahan kita dibanding Allah Ta’ala,, kita hayati secara nurani firman Allah berikut:

“Allah Cahaya lelangit dan bumi..” (QS. An-Nuur [24]: 35)

Laa haula wa laa quwwata illa billahi.

15. Allah dan Makhluk

Hikmah 15 dlm al-Hikam:

مِمَّا يَدُ لُّكَ  عَلَى وُجُوْ دِ قَهْرِهِ سُبْحَا نَهُ أَ نْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَالَيْسَ بِمَوْ جُوْ دٍ مَعَهُ.

“Di antara dalil (apa²/hal² yg menunjukkan kepadamu tentang wujud Al-Qahhar (Yang Maha Perkasa)-Nya Allah Ta’ala, adalah bahwa Dia telah menghijabmu dari-Nya dengan sesuatu yg tidak maujud bersama-Nya (yakni: bayangan² hijab di sisi Allah).”

Syarah Ustadz Salim Bahreisy:

Sepakat para arifin, bahwa segala sesuatu selain Allah itu tidak ada, artinya: tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya Allah, sebab adanya alam terserah kepada karunia Allah, bagaikan adanya bayangan yg tergantung selalu kepada benda yg membayanginya. Maka siapa yg melihat bayangan dan tidak melihat kepada yg membayanginya, di sinilah justru hijabnya.

Firman Allah:

“..Segala sesuatu rusak hancur, kecuali wajah-Nya…” (QS.Al-Qashas [28]: 88)

Rasulullah Saw. membenarkan perkataan pujangga yg berkata:

“Camkanlah, bahwa segala sesuatu selain Allah itu palsu belaka. Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan rusak lenyap.”

Sedangkan syarah dari Syaikh Fadhlala Haeri:

Sesuatu selain Allah adalah ilusi sepintas lalu dan tabir, serta gambaran² yg berkerlap-kerlip. Segala sesuatu di dunia ini berasal dari-Nya, dipelihara oleh-Nya, dan akan kembali kepadanya.

Bagaimana pun alam panca indra adalah rahmat yg bersifat kontemporer dan titik awal untuk naik menuju Allah. Sesungguhnya tak ada sesuatu pun selain-Nya dan segala sesuatu yg selain-Nya adalah sebuah refleksi atau, yg menunjukkan pancaran Nur-Nya yg Ahad. Dikatakan, orang² yg menyadari bahwa makhluk tidak mempunyai kekuatan yg berdiri sendiri untuk bertindak maka ia telah menang, dan barangsiapa yg memandang makhluk tidak mempunyai kehidupan yg bebas maka ia telah mencapai Allah, dan orang yg memandang bahwa makhluk itu tidak ada, maka ia telah sampai kepada-Nya.

16-24. Hikmah ke 16-24

Hikmah 16-24 dlm al-Hikam:

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَ نْ يَحْجُبَهُ شَيْ ءٌ وَ هُوَالَّذِي أَظْهَرَكُلَّ شَيْءٍ؟

Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Allah yg mendhahirkan segala sesuatu.

كَيْفَ يَتَصَوَّرُأَنْ يَحْجُبَهُ شَيْ ءٌ وَهُوَالَّذِي ظَهَرَبِكُلِّ شَيْءٍ؟

Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yg tampak-dhahir pada segala sesuatu.

كَيْفَ يَتَصَوَّرُأَنْ يَحْجُبَهُ شَيْ ءٌ وَهُوَالَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيْءٍ؟

Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yg terlihat dalam tiap sesuatu.

كَيْفَ يَتَصَوَّرُأَنْ يَحْجُبَهُ شَيْ ءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَلِكُلِّ شَيْءٍ؟

Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yg tampak pada segala sesuatu.

كَيْفَ يَتَصَوَّرُأَنْ يَحْجُبَهُ شَيْ ءٌ وَهُوَا لظَّاهِرُقَبْلَ وُجُوْدِ كُلِّ شَيْءٍ؟

Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia ada dhahir sebelum adanya sesuatu.

كَيْفَ يَتَصَوَّرُأَنْ يَحْجُبَهُ شَيْ ءٌ وَهُوَ أَظْهَرُمِنْ كُلِّ شَيْءٍ؟

Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih tampak jelas dari segala sesuatu.

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الْوَا حِدُ الَّذِ ي لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ ؟

Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia Yang Esa nan tidak ada di sampingnya sesuatu apa pun.

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ ؟

Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu.

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَلَوْ لَا هُ مَا كَا نَ وُجُوْدُ كُلِّ شَيْءٍ ؟

Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal seandainya tidak ada Dia, niscaya tidak akan ada segala sesuatu.

Syarah Ustadz Salim Bahreisy sebagai berikut:

Demikian tampak jelas sifat² Allah di dalam (pada) tiap² sesuatu di alam ini, yg semua isi alam ini sebagai bukti kebesaran, kekuasaan, keindahan, kebijaksanaan dan kesempurnaan Dzat Allah yg tidak menyerupai sesuatu apa pun dari makhluk-Nya.

Sehingga bila masih ada manusia yg tidak mengenal Allah, maka benar² ia telah silau oleh cahaya yg sangat terang, dan telah terhijab dari sinar ma’rifat oleh awan tebal yg berupa alam sekitarnya.

Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:

Betapa menakjubkan, keberadaan tampak dalam ketiadaan, dan betapa segala sesuatu yg mempunyai sifat ketergantungan bisa berdiri di sisi Allah yg mempunyai sifat² kekekalan.

Al-Haqq tidak datang dari sesuatu atau di dalam sesuatu, atau di atasnya, atau di bawahnya.

Jika Dia datang dari sesuatu berarti Dia diciptakan dan dibatasi sesuai dengan jangka waktu hidupnya. Kalau Dia berada di atas sesuatu maka Dia bersemayam di atasnya, dan jika Dia dalam sesuatu maka Dia berarti terkurung di dalamnya. Dan jika Dia di bawah sesuatu maka Dia ada di bawah kekuasaannya.

Apa pun yg tampak di dunia kesaksian ini, merupakan pancaran Dzat Tuhan yg kekal dan dapat dirasakan sesuai dengan keadaan dan sensitivitas sang penerima. Jadi tidak ada makhluk yg mempunyai realitas yg kekal dan bebas, dan sesungguhnya tak ada sesuatu pun yg kekal selain Sang Maha Pencipta. Seandainya kita membandingkan yg relatif dengan yg absolut, niscaya yg relatif pasti akan hancur dan tinggallah yg absolut, selamanya!!

25. Wujud & Adam (Tiada)

Hikmah 25 dlm Al-Hikam:

يَا عَجَبًا كَيْفَ يَظْهَرُ الْوُ جُوْدُ فِي الْعَدَمِ أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الْحَا دِ ثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَ صْفَ الْقِدَمِ ؟

“Sungguh sangat ajaib, bagaimana tampak wujud di dalam adam (tiada). Atau bagaimana dapat bertahan sesuatu yg hancur itu, di samping Dzat yg bersifat Qidam.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Yakni sesuatu yg hakikatnya tidak ada, bagaimana dapat tampak ada wujudnya.

Hakikat adam (tiada) itu gelap, sedangkan wujud itu bagaikan nur terang. Demikian pula batil dan haq. Batil itu niscaya rusak hancur, sedang haq itulah yg harus tetap kuat bertahan.

Mutiara hikmah ini hanya dapat ditafakkuri oleh pikiran serta hati yg jernih. Semakin jernih pikiran dan hati kita semakin teranglah cahaya yg mampu kita cerap. Wallahu a’lam

26. Menunda Amal Tanda Kebodohan (1)

Hikmah 26 dlm Al-Hikam:

مَاتَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْأً  مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرُ مَاأَظْهَرَهُ اللهُ فِيْهِ.

“Tiada meninggalkan sedikit pun dari kebodohan, siapa yg berusaha akan mengadakan sesuatu dalam suatu masa, selain dari apa yg dijadikan oleh Allah di dalam masa itu.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Sungguh amat bodoh seseorang yg akan mengadakan sesuatu yg tidak dikehendaki oleh Allah. Di dalam lain bab ada keterangan, “Tiada suatu saat yg berjalan melainkan di situ pasti ada takdir Allah yg dilaksanakan.”

Allah berfirman:

“Tiap hari Dia (Allah) menentukan urusan.” (QS. Ar-Rahman [55]: 29)

Karena setiap saat Allah menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghina dan sebagainya, maka sebaiknya seorang hamba berserah-diri dengan rela hati kepada hukum ketentuan Allah pada tiap waktu, sebab ia harus percaya kepada rahmat dan kebijaksanaan kekuasaan Allah.

Sedangkan Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:

Orang yg mendapat nur ilahiah akan semata-mata menerima dan memahami sesuatu sebagaimana adanya, menyadarinya sebagaimana penampakan dan manifestasinya dengan kesadaran dan kepuasan.

Fantasi dan ilusi (waham) adalah tabir² kebodohan, yg membuat seseorang merasakan yg lain daripada realitas yg tercermin dalam takdirnya.

Itulah mengapa dikatakan, bahwa kebenaran hanya dapat dipantulkan melalui hati yg suci dan berserah-diri pada keputusan² Allah Ta’ala.

Ternyata dalam kehidupan kita ini, bisa mempunyai kesempatan untuk mengetahui apa yg Allah kehendaki saja adalah suatu saat yg luar biasa. Berbahagialah hamba² yg selalu bergairah untuk mengetahui apa yg Allah kehendaki. Laa hawla wa laa quwwata illa billaah.

27. Menunda Amal Tanda Kebodohan (2)

Hikmah 27 dlm Al-Hikam:

إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُوْدِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ

“Menunda amal perbuatan (kebaikan) karena menantikan kesempatan yg lebih baik, merupakan sesuatu tanda kebodohan jiwa.”

Syarah dari Ustadz Salim Bahreisy:

Kebodohan itu disebabkan oleh:

1. Karena kita mengutamakan duniawi.

Padahal Allah berfirman:

“Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.” (QS. Al-A’laa [87]: 17)

2. Penundaan amal itu kepada masa yg ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu, atau kemungkinan ia dilanda oleh ajal (mati) yg telah menanti masanya.

3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah.

Kata pujangga:

“Janganlah menunda sampai besok, apa yg dapat kau kerjakan hari ini. Waktu itu sangat berharga, maka jangan kau habiskan kecuali untuk sesuatu yg berharga.”

Sedangkan syarah dari Syaikh Fadhlala Haeri:

Sifat jiwa yg rendah adalah selalu mencari kelapangan, ketentraman, dan kesenangan. Menunda² kewajiban dan perbuatan yg tidak mementingkan diri-sendiri adalah satu tipu muslihat hawa nafsu demi mengabadikan tuntutan dan kekuasaannya selalu bertambah. Alasannya adalah karena tak ada waktu atau tenaga.

Orang bijak adalah dia yg bertindak melawan dirinya sendiri (jasadiah), kebiasaan² hawa-nafsunya di masa lalu, dan bertindak untuk mencapai tujuan yg lebih tinggi, baik dalam waktu senang, luang, susah maupun padat. Dikatakan, waktu laksana pedang, jika kamu tidak memotongnya maka kamu sendiri yg akan terpotong olehnya.

Dulur, bagi kita yg hidup di zaman sekarang ini, tentu kita sangat merasakan bahwa hal yg sangat penting untuk kita kelola yaitu kekinian waktu yg kita miliki. Barangsiapa yg Allah mudahkan memanfaatkan waktunya untuk suatu amal yg bermanfaat dan memberi kemanfaatan untuk sesama, maka sungguh beruntunglah dia. Wallaahu a’lam

28. Keadaan Saat Ini

Hikmah 28 dlm Al-Hikam:

لَاتَطْلُبْ مِنْهُ أَنْ يُخْرِ جَكَ مِنْ حَالَةٍ  لِيَسْتَعْمِلَكَ فِيْمَا سِوَاهَا, فَلَوْ أَرَادَ كَ لَاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيرِ إِخْرَاجٍ.

“Jangan engkau meminta kepada Allah supaya di alihkan dari sesuatu kepada yg lain, sebab sekiranya Allah menghendakinya tentu Dia telah memindahkanmu, tanpa merubah keadaanmu yg lama.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Dalam hikayat:

Ada seorang shalih biasa bekerja dan melulu beribadah, lalu ia berkata, “Andaikan aku bisa mendapatkan 2 potong roti untuk tiap hari, niscaya aku tidak susah bekerja dan melulu beribadah.” Tiba² ia tertuduh dan karenanya ia harus masuk penjara, dan di dalam penjara tiap harinya ia menerima 2 potong roti. Setelah beberapa lama di penjara, ia merenung, ‘Bagaimana sampai terjadi kejadian ini?’ Tiba² ia teringat bahwa dia pernah menggumam: Engkau minta 2 potong roti, dan tidak minta selamat, maka Kami (Allah) memberi permintaanmu.

Setelah itu ia memohon ampun dan beristighfar, maka ia ketika itu pula dibebaskan dari penjara.

Sebab Allah menjadikan manusia dengan segala hajat kebutuhannya, sehingga manusia tidak usah khawatir atau ragu atau jemu terhadap sesuatu pemberian Allah, meskipun hal itu berbentuk penderitaan bala’ pada lahirnya, sebab hakikatnya nikmat besar bagi siapa yg mengetahui hakikatnya, sebab tidak ada sesuatu yg tidak terbit dari rahmat kurnia dan hikmat Allah Ta’ala.

Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:

Orang yg memperoleh anugrah nur Ilahiah (ma’rifat) melihat kesempurnaan dalam setiap keadaan dan situasi yg diberikan Allah kepadanya. Dalam kondisi sehat, ia akan bersyukur dan merasa bahagia. Jika ia sakit, ia pun menyadari rahmat dan karunia Allah dengan penuh kesabaran dan ridho.

Merasa ridho dengan takdir Allah adalah fondasi akhlak yg baik kepada Allah, dan merupakan pintu menuju pencerahan dan aktifnya indra batin seorang mukmin. Semuanya ini menegaskan, bahwa keadaan dan pengalaman berada dalam batas² jalan yg benar, oleh karenanya seseorang hendaknya segera bertaubat dan keluar dulu dari kemaksiatannya yg tak Allah ridhoi.

Keadaan saat ini tidak akan mencegah seseorang untuk berbuat baik, jika Allah Ta’ala menunjukinya.

Misal :

Jangan sampai seorang Dokter berandai² menjadi Ustadz hanya karena berharap akan mendapatkan pahala lebih banyak.

Ingatlah setiap keadaan yg sedang diterima saat ini, profesi yg baik apapun saat ini dapat menjadi ladang untuk mendulang pahala yg banyak, bahkan seorang dokter bisa mendapatkan pahala yg lebih banyak dari seorang Ustadz, karena keikhlasan dan kebaikannya dalam membantu orang sakit.

Kerjakanlah kebaikan apapun dengan keadaan yg telah Allah Ta’ala tetapkan saat ini, jangan berandai² menjadi orang lain. karena jika Allah Ta’ala menghendakimu mendapatkan pahala dan menjadi ahli surga, Allah Ta’ala dapat melakukannya tanpa merubah keadaanmu sekarang ini.

Dulur, mengingat ridho terhadap takdir Allah atas kita, adalah hal yg sangat menentukan masa depan kehidupan kita, marilah kita berjuang keras untuk dapat mencapai derajat itu. Dan kunci dari hal itu salah satunya adalah meningkatkan pengenalan terhadap diri dan Allah Ta’ala, baik Sifat, Asma, Af’al dan Dzat-Nya. Wallaahu a’lam

29. Pembimbing Jalan

Hikmah 29 dlm Al-Hikam:

مَاأَرَادَتْ هِمَّةُ سَالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَمَاكُشِفَ لَهَا إِلَّاوَنَادَتْهُ هَوَاتِفُ الْحَقِيْقَةِ الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ, وَلَاتَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمُكَوَّنَاتِ إِلَّا وَنَادَتْكَ حَقَائِقُهَا (إِنَّمَانَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ).

“Tiada berkehendak semangat seorang salik (yg berjalan menuju kepada Allah) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yg ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Itu bukan tujuan, dan teruslah berjalan ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya: “Bahwa kami semata² hanya sebagai ujian, maka janganlah tertipu sehingga menjadi kufur (terhijab).”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Syaikh Abul Hasan At-Tustary berkata, “Di dalam jalan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yg lain, dan pergunakan selalu dzikrullah itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala sesuatu selain Allah, akan menghambat perjalananmu.“

Syaikh Abul Hasan Asy-Syazili ra. berkata, ”Jika engkau ingin mendapatkan apa yg telah dicapai oleh para waliyullah, maka hendaknya engkau mengabaikan semua manusia, kecuali orang² yg menunjukkan kepadamu jalan menuju Allah, dengan isyarat/ilmu yg tepat atau perbuatan yg tidak menyalahi Kitabullah dan Sunnah Rasul, serta abaikan dunia, tapi jangan mengabaikan sebagian untuk mendapat bagian yg lain, sebaliknya hendaknya engkau menjadi hamba Allah yg diperintah mengabaikan musuh-Nya. Apabila engkau telah dapat melakukan 2 sifat itu, yaitu:

– Mengabaikan manusia dan dunia, maka tetaplah tunduk kepada hukum Allah dengan istiqamah.

– Selalulah tunduk istighfar.

Pengertiannya sebagai berikut:

Supaya engkau benar² merasa diri sebagai hamba Allah dalam semua yg engkau kerjakan atau engkau tinggalkan, dan menjaga hati jangan sampai merasa seolah² di dalam alam ini ada kekuasaan selain Allah, yakni bersungguh² dalam menghayati “Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi (Tiada daya dan kekuatan sama sekali, kecuali dengan pertolongan Allah).”

Bila masih merasa ada kekuatan diri sendiri, berarti belum sempurna pengakuan dirinya sebagai hamba Allah.

Nah, bila rasa dalam hati ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi’ itu tetap istiqamah selama beberapa lama, niscaya Allah membukakan pintu rahasia² yg tidak pernah dibukakan kecuali untuk hamba²-Nya yg khusus.

Sedangkan Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:

Pencari jalan spiritual (salik) yg bersungguh² terkadang dibimbangkan oleh penglihatan batin dan pencerahan (yg dia alami). Allah memerintahkan untuk menyembah dengan total dan sepenuhnya kepada Nur-Nya yg mutlak, bukan pada pantulan²-Nya yg sekunder. Jika kamu benar² dan bersungguh² mencari Kebenaran (Al-Haqq), maka kamu akan diarahkan untuk menggapai saat terbukanya hijab. Namun, jika sebaliknya, maka kamu berada dalam konflik² dan penderitaan² makhluk yg terus-menerus akibat kemusyrikan yg halus serta hijab²nya.

Saat ini banyak orang yg merasa dirinya dekat dengan Allah, sudah merasa wushul, sudah merasa menjadi wali, sudah mampu mengerjakan yg khariqul ‘adah (yg diluar nalar) seperti terbang dan berjalan di atas air, dan merasa itu adalah pemberian Allah karena kedekatan kepadanya dari mendengar suara² ghaib. 

Waspadalah itu adalah tipuan setan, yg menjadikan orang itu ujub dan sombong.

Saat seseorang mengikuti hawa nafsunya, setan menggoda untuk terus bermaksiat, dan ketika seseorang itu taubat dan ibadah, gangguan setan adalah membisikinya untuk ujub dan merasa sombong, dan berhenti meningkatkan ibadah kepada Allah Ta’ala, karena merasa sudah baik, merasa sudah dekat dan sampai kepada Allah.

Padahal Nabi Muhammad Saw. selalu meningkatkan ibadahnya, shalat malamnya hingga bengkak, padahal Nabi sudah dijamin surga. Jangan terlalu terlena dengan satu amal sholeh, padahal masih banyak amal sholeh yg belum dikerjakan.

Syarah dari Syaikh Ramadhan Al-Buthi:

Apabila setan membisiki seseorang maka harus senantiasa ingat kepada Allah dan bayangkan bagaimana Allah mengazab kita di hari kiamat.

Nah Dulur, tekad yg kuat itu, sebaiknya kita dukung dengan ilmu yg memadai, agar jalan kita tetap bisa lurus ke depan.

Wallaahu a’lam

30. Permintaan dan Kedudukan

Hikmah 30 dlm Al-Hikam:

طَلَبُكَ مِنْهُ اِتِّهَامٌ لَهُ, وَطَلَبُكَ لَهُ غَيْبَةٌ مِنْكَ عَنْهُ, وَطَلَبُكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَّةِ حَيَائِكَ مِنْهُ ,وَطَلَبُكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُوْدِبُعْدِكَ عَنْهُ.

“Permohonanmu kepada/dari Allah, mengandung pengertian menuduh Allah, khawatir tidak memberi kepadamu. Dan permohonanmu kepada Allah agar mendekatkan dirimu kepada-Nya, berarti engkau masih merasa jauh dari-Nya. Dan permohonanmu kepada Allah untuk mencapai kedudukan dunia akhirat, membuktikan tiada malumu kepada-Nya. Dan permohonanmu kepada sesuatu selain Allah menunjukkan jauhmu dari-Nya.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Dan mintamu kepada Allah untuk mencapai kedudukan dunia akherat, membuktikan tiada malumu kepada-Nya, dan permintaanmu kepada sesuatu selain dari Allah menunjukkan jauhmu dari pada-Nya. Permintaan hamba kepada Allah terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti lebih jauh dan mendalam.

Permintaan kepada Allah mempunyai arti ‘menuduh’, sebab sekiranya kita yakin bahwa Allah akan memberi tanpa kita minta, tentu kita tidak akan minta. Karena kuatir tidak Allah beri apa² yg kita butuhkan, atau menyangka Allah telah melupakan kita, dan yg lebih jahat lagi bila kita merasa berhak, tetapi oleh Allah belum juga diberi.

Dan permintaan kita untuk mendekat (taqarrub), menunjukkan bahwa kita merasa kehilangan terhadap-Nya.

Sedangkan permintaan kita tentang sesuatu dari kepentingan² duniawi membuktikan tiada malunya kita kepada-Nya, sebab sekiranya kita malu, tentu tidak ada keperluan kita selain mengabdi dan taqarrub kepada-Nya.

Sedang jika kita meminta sesuatu dari selain Allah, membuktikan jauhnya kita dari-Nya, sebab sekiranya kita tahu bahwa Allah itu dekat dengan kita, tentu kita tidak meminta kepada selain Dia. Kecuali permintaan yg semata² untuk menurut perintah-Nya. Hanya inilah yg tepat benar.

Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:

Orang yg selalu mengingat Allah dan khusyuk dalam jalan-Nya berada di jalan yg sampai kepada-Nya. Adab yg baik adalah berupa hati yg ridho, puas, yg tercerahkan karena kehadiran-Nya.

Sedangkan adab yg buruk adalah dengan adanya daftar permintaan/tuntutan atas-Nya, baik yg spiritual maupun yg material duniawi. Kita semua perlu merasakan rahmat, kedekatan, dan cinta-Nya. Allah memperbolehkan kita berada dalam kebutuhan agar dapat lebih dekat kepada-Nya. Dengan bersandar dan meyakini hanya kepada Allah semata, dan pada ketetapan²-Nya yg sempurna.

Nah Dulur, akan jauh lebih baik dan santun bila sebelum berdoa meminta sesuatu kepada Allah, kita telisik dahulu sejauh mana kita mempunyai ilmu tentang Allah dan segala Sifat, Asma’, Af’al-Nya serta juga ketidakberdayaan diri kita. Karena itu bisa mempengaruhi adab doa kita. Wallaahu a’lam

31. Qadar yang Lebih Halus

Hikmah 31 dlm Al-Hikam:

مَا مِنْ نَفْسٍ تُبْدِ يْهِ إِلَّاوَلَهُ قَدَرٌ فِيْكَ يُمْضِيْهِ.

Tiada suatu nafas terlepas dari padamu, melainkan di situ pula ada takdir Allah berlaku atasmu.

Sebab pada tiap nafas hidup manusia pasti terjadi ketaatan atau maksiat, nikmat atau bala’ (ujian). Berarti nafas yg keluar sebagai wadah bagi sesuatu kejadian, karena itu jangan sampai nafas itu terpakai untuk maksiat dan perbuatan terkutuk oleh Allah Ta’ala.

KH. Sholeh Darat mensyarah:

Permintaan seorang murid itu semuanya tidak baik, bilamana ditujukan kepada Allah Ta’ala atau kepada makhluk. Akan tetapi yg baik adalah meminta kepada Allah Ta’ala atas dasar menghambakan diri kepada Allah, menyembah-Nya, beradab tatakrama, melaksanakan perintah-Nya dan menunjukkan kelemahan diri kepada-Nya, bukan hanya agar tercapainya tujuan yg kita minta.

Dalam setiap hembusan nafas yg kita keluarkan dengan kekuasaan Allah, itu terdapat Takdir-Nya yg berlaku atas diri kita. Dengan kata lain, Allah hendak melestarikan Takdir-Nya dalam tiap hembusan nafas tersebut.

Di tiap hembusan nafas kita terdapat takdir dari Allah. Di dalamnya terdapat nikmat,mu musibah atau cobaan, dan juga maksiat, maka hendaklah kita menjaga tatakrama kita terhadap Allah, dan merendahkan diri kita di hadapan-Nya dengan adanya nafas tersebut.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Setiap nafas yg keluar dari kita telah ditakdirkan Allah, baik yg terkandung di dalamnya ketaatan, maksiat, nikmat, maupun petaka. Setiap nafas yg keluar dari kita adalah satu dari sekian takdir Allah untuk kita, siapapun diri kita.
Oleh karena itu, kita harus tetap menjaga kesopanan kita di hadapan-Nya dan menyadari bahwa Allah selalu mengawasi kita (implementasi dari muraqabah) dalam setiap desahan nafas kita. Dengan begitu, setiap nafas, kita menjadi salik yg ingin meniti jalan menuju Allah. Inilah makna ungkapan “jalan menuju Allah sebanyak desahan nafas seluruh makhluk.” Wallaahu a’lam

32. Peluang Mendekati Allah SWT

Hikmah 32 dlm al-Hikam:

لَاتَتَرَقَّبْ فَرَاغَ الْأَغْيَارِفَإِنَّ ذَلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجُوْدِ الْمُرَاقَبَةِ لَهُ فِيْمَا مُقِيْمُكَ فِيْهِ.

Janganlah menantikan selesai (habis)nya perintang²/halangan² untuk lebih mendekat kepada Allah, sebab yg demikian itu akan memutuskan engkau dari kewajiban menunaikan hak terhadap apa yg  Allah telah mendudukkan engkau di dalamnya. (Sebab yg demikian itu memutuskan kewaspadaanmu terhadap kewajibanmu).

Abdullah bin Umar ra. berkata:

Jika engkau berada di waktu senja, maka jangan menunggu tibanya pagi, demikian pula jika engkau berada di waktu pagi, jangan menunggu sore. Pergunakan kesempatan di waktu muda, sehat kuat dan kaya untuk menghadapi masa tua, sakit, lemah dan miskin.

Sahl bin Abdullah at-Tustary berkata: Jika waktu malam maka jangan mengharap tibanya siang hari, sehingga engkau menunaikan hak Allah, waktu malam itu. Dan menjaga benar² hawa nafsumu, demikian pula bila engkau berada pada pagi hari.

KH. Sholeh Darat mensyarah:

Sebab dengan engkau menantikan itu, menjadikan terputusnya perjalananmu menuju Allah di tempat yg sudah diatur-Nya.

Hendaklah seorang murid/salik mau bersungguh² dalam beribadah, dan berdzikir di segala keadaannya. Tak perlu menunggu berubahnya kondisimu dari kegelapan hati (yg melingkupi), yg menyusahkan hatimu, dan keterpautan pada dunia. Karena dengan engkau menunggunya, justru menghalangi perjalananmu menuju-Nya. Wallaahu a’lam

33. Sifat Kehidupan Duniawi

Hikmah 33 dlm al-Hikam:

لَاتَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَ كْدَارِمَادُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارِ , فَإِنَّهَا مَا أُبْرِزَتْ إِلَّامَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا.

Jangan heran atas terjadinya kesukaran² selama engkau masih di dunia ini, sebab yg ia tampakkan hanyalah yg memang layak atau asli menjadi sifatnya.

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: Dunia adalah kerisauan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya berarti laba dan keuntungannya.

Ja’far as-Shaddiq ra. berkata: Siapa yg meminta sesuatu yg tidak dijadikan oleh Allah, berarti melelahkan dirinya dan tidak akan diberi. Ketika ditanya: Apakah itu? Jawabnya: Kesenangan di dunia. 

Junaid al-Baghdadi ra. berkata: Aku tidak merasa keji terhadap apa yg menimpa pada diriku, sebab aku telah berpendirian bahwa dunia ini tempat kerisauan dan ujian, dan alam ini diliputi oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambut aku dengan kesenangan maka itu berarti suatu kurnia dan kelebihan.

Rasulullah Saw. bersabda kepada Abdullah bin Abbas: Jika engkau dapat beramal karena Allah dengan rela dan keyakinan maka bersabarlah. Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesukaran itu suatu keuntungan yg besar.

Umar bin Khattab ra. berkata kepada seseorang yg dinasehatinya: Jika engkau sabar, maka hukum Allah tetap berjalan dan engkau mendapat pahala, dan apabila engkau tidak sabar, tetap berlaku ketentuan Allah sedang engkau berdosa.

KH. Sholeh Darat mensyarah:

Seorang murid tak perlu menunggu tuntasnya urusan duniawi, karena hal itu justru menghalangi perjalanan menuju-Nya. Jangan merasa aneh dengan berbagai macam kesusahan selagi engkau masih hidup di dunia.

Tidak selayaknya seseorang yg masih hidup di dunia ini, mengharap rehat dan ketenangan hati. Karena Allah sudah menciptakan dunia sebagai tempat ujian dan cobaan, maka pastilah kesusahan itu masih tetap ada selama engkau masih berada di dunia. Jangan mengharapkan ada istirahat (dari kesusahan). Wallaahu a’lam

34. Sandarkan Hajat kepada Allah

Hikmah 34 dlm al-Hikam:

مَاتَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ, وَلَا تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ.

Tidak akan terhenti (macet) suatu permintaan yg semata² engkau minta (engkau sandarkan) kepada kurnia (kekuasaan) Tuhanmu, dan tidak mudah tercapai permintaan (pengharapan) yg engkau sandarkan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri.

Kyai Rivai menjelaskan, jangan merasa mampu dan bisa sendiri, padahal semua kekuatan adalah pemberian dari Allah, buktinya ketika Allah angkat kekuatan kita saat sakit, untuk memegang gelas saja kita tidak bisa.

Mengutip dari Imam Ghazali, untuk menyiapkan makanan satu sendok saja kita tidak mampu, ucapkanlah Laa hawlaa wa laa quwwata illa billaah, tiada daya dan upaya melainkan dari Allah.

KH. Sholeh Darat mensyarah:

Tidaklah sulit mencapai tujuan dunia ataupun akhirat selama kau memintanya kepada Tuhanmu. Tujuan dunia ataupun akhirat tidak sulit kau dapatkan selama kau memintanya kepada Tuhanmu dengan menghadirkan hatimu seraya bersandar kepada-Nya pada keberhasilan tujuanmu.

Tidaklah mudah mencapai tujuan dunia ataupun akhirat, sementara engkau memintanya dengan mengandalkan dirimu sendiri.

Tujuan yg kau pinta dengan mengandalkan dirimu sendiri seraya melalaikan Allah, bersandar pada kemauan dan kehendakmu, maka tidak akan berhasil dan akan sulit mencapainya. Barangsiapa menyerahkan seluruh hajatnya kepada Allah dan bersandar kepada-Nya, niscaya Allah yg akan mencukupi hajatnya. Barangsiapa menempatkan atau menyandarkan seluruh hajatnya pada keinginannya sendiri dan akal pikirannya, niscaya dia tidak akan berhasil dan tidak akan mudah baginya. Wallaahu a’lam

35. Permulaan & Kesudahan (1)

Hikmah 35 dlm Al-Hikam:

مِنْ عَلَامَاتِ النُّجْحِ  فِي النِّهَايَاتِ : الرُّجُوْعُ إِلَى اللهِ  فِي الْبِدَايَاتِ.

Di antara tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah sejak permulaan.

Seorang ‘arif berkata: Siapa yg menyangka bahwa ia akan dapat sampai kepada Allah, dengan perantaraan sesuatu selain Allah, pasti akan putus karenanya, dan siapa dalam ibadahnya bersandar kepada kekuatan dirinya, diserahkan oleh Allah kepada kekuatan dirinya, Yakni, hanya sampai disitu saja, dan tidak dapat mencapai kebahagiaan yg hanya dapat dicapai dengan tawakkal menyandarkan diri kepada Allah.

Kyai Rivai menjelaskan:

Saat memulai sesuatu bertawakkallah kepada Allah Ta’ala, yg terjadi sekarang adalah refleksi dari apa yg dilakukan dahulu, dan keadaan orang yg akan datang adalah tercermin dari yg dilakukan sekarang.

Seandainya ada orang yg dulu rajin ibadah, dan sekarang malas ibadah, berarti di awalnya ada yg salah dengan ibadahnya, mungkin hanya ingin dilihat orang, riya’, dan tidak niat dengan baik.

Jika ada orang yg dulu kita kenal kurang baik, tapi sekarang menjadi baik, bisa jadi saat kurang baik itu dia selalu merintih dan meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala dan merasa yg dikerjakannya adalah salah dan selalu memohon solusi kepada Allah Ta’ala.

Kita tidak bisa menuduh orang hanya dari menghukumi zahirnya saja. Di awal harus ruju` ilallaah, agar akhirnya baik.

KH. Sholeh Darat mensyarah:

Di antara tanda² keselamatan dan kebahagiaan di akhir suatu perjalanan adalah kembali kepada Allah sejak permulaan.
Masa² awal seorang murid adalah perjalanan suluknya menuju Allah. Sedangkan masa akhir seorang murid adalah keadaan ,wushul kepada Allah. Yakni, ketika perjalanan murid diawali dengan kembali dan tawakkal kepada Allah serta tidak bersandar pada amalnya, maka ia akan bahagia di akhir perjalanannya yakni wushul kepada Allah. Wallaahu a’lam

36. Permulaan & Kesudahan (2)

Hikmah 36 dlm al-Hikam:

مَنْ أَشْرَقَتْ بِدَايَتُهُ أَشْرَقَتْ نِهَايَتُهُ.

Siapa yg terang (makmur) waktunya dengan taat di masa salik (permulaannya), pasti akan terang pula di masa akhirnya (sampainya) dengan cahaya nur makrifat.

Siapa yg kuat tawakkalnya di masa bidayah (permulaan), maka akan terang terus hingga masa sampainya kehadirat Tuhannya.

KH. Sholeh Darat mensyarah:

Barangsiapa mengawali ibadahnya dengan tulus dan ikhlas, niscaya akan mendapatkan akhir yg bersinar, dengan meraih terangnya hati, makrifat Allah, dan hilangnya kesusahan nafsu.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Siapa yg awalnya cerah dan bersinar, misalnya: mengisi waktunya dengan berbagai macam ketaatan, wirid, dan bersabar sepenuh hati dalam menjalaninya, maka akhir perjalanannya akan bersinar pula. Bersinar karena memancarnya berbagai nur dan makrifat kepadanya dan hilangnya berbagai kekeruhan jiwa yg menjadi penghalang antara dirinya dengan Tuhannya.

Demikian pula sebaliknya, siapa yg usahanya kurang di awal, maka di akhir dia tidak akan mendapatkan kegemilangan. Sekiranya ia diberikan keberhasilan, keberhasilan itu lebih lemah daripada yg lain. Bisa jadi, pengertian “bersinar di awal” disini ialah kembali kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Adapun makna “bersinar di akhir” ialah wushul/berhasil sampai kepada-Nya. Ini sesuai dengan hikmah sebelumnya. Wallaahu a’lam

37. Batiniyah Mempengaruhi Lahiriyah

Hikmah 37 dlm al-Hikam:

مَااسْتُوْدِعَ فِي غَيْبِ السَّرَائِرِظَهَرَ فِي شَهَادَةِ الظَّوَاهِرِ.

Apa yg tersembunyi dalam rahasia ghaib, yaitu yg berupa nur Ilahi dan makrifat, pasti akan tampak bekas (pengaruhnya) pada anggota lahir.

Abu Hafsh berkata: “Bagusnya adab kesopanan lahir, membuktikan adanya adab yg di dalam batin.”

Rasulullah Saw. ketika melihat seorang yg main² tangannya ketika shalat, maka Rasulullah Saw. bersabda:

“Andaikan khusyuk hati orang itu, niscaya khusyuk semua anggota badannya.”

Abu Thalib al-Makki berkata: “Allah telah menunjukkan tanda bukti seorang kafir, yaitu bila disebut nama Allah saja mereka mengejek dan enggan tidak mau menerima.”

Firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْءَاخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِۦٓ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang² yg tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan² selain Allah yg disebut, tiba² mereka bergirang hati. (QS. Az-Zumar: 45)

Di dalam ayat ini Allah menyatakan sendiri perbedaan antara jiwa orang mukmin yg merasa puas jika dikatakan kepadanya. Ini dari Allah, sedang orang kafir tidak merasa puas, bahkan keberatan kepadanya sesuatu terjadi semata² karena kekuasaan dan kehendak Allah. Dan ini pula perbedaan antara Iman tauhid dengan syirik.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Makrifat dan cahaya Ilahi yg ditetapkan Allah di dalam hati seseorang pasti akan muncul pada penampilan lahirnya, pada wajah dan anggota tubuh lainnya. Ini adalah tanda untuk mengenali keadaan seorang murid menuju Allah, karena tampilan lahir adalah cermin dari keadaan batin. Bagi orang² yg ingin berteman dan berkumpul dengan seorang murid, penampilan lahirnya ini bisa menjadi pertanda. Wallaahu a’lam

38. Murad (Majdzub) & Murid (Salik)

Hikmah 38 dlm al-Hikam:

شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِ لُّ بِهِ أَوْيَسْتَدِ لُّ عَلَيْهِ , الْمُسْتَدِ لُّ بِهِ عَرَفَ الْحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَ ثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُوْدِأَصْلِهِ , وَالْإِ سْتِدْلَالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُوْلِ إِلَيْهِ , وَإِلَّافَمَتَى غَابَ حَتَّى يُسْتَدَ لَّ عَلَيْهِ ؟ وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُوْنَ الْآ ثَارُهِيَ الَّتِي تُوْصِلُ إِلَيْهِ ؟ 

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Orang² yg dekat kepada Allah ada 2 golongan, yaitu murad (yg dikehendaki Allah) dan murid (yg menghendaki Allah), atau salik (yg meniti jalan menuju Allah). Para murad atau majdzub adalah ahli syuhud.

Adapun para murid atau salik, perjalanan mereka menuju Tuhan masih terhalang akibat pandangan mereka terhadap dunia dan alam semesta. Di mata mereka, semesta teramat lahir, sedangkan Allah itu ghaib. Mereka tidak melihat-Nya, karena itu mereka berdalil bahwa wujud alam semesta ini membuktikan wujud Allah. 

Sementara itu, para murad atau majdzub, mereka langsung didekati Allah dengan Wajah-Nya Yang Mulia. Allah akan mengenalkan Diri-Nya kepada mereka. Karena itu, mereka pun akan mengenali-Nya. Semua makhluk dan alam semesta akan hilang dari pandangan mereka karena mereka berdalil bahwa wujud Allah adalah bukti dari wujud semesta. Mereka itulah kaum ‘arif. Mereka termasuk orang² yg didekatkan Allah kepada-Nya. 

Namun, karena sikap istiqamah mereka terhadap kondisi mereka, tanda didekatkannya mereka kepada Allah (jadzab) tidak tampak pada diri mereka. Oleh sebab itu, ada yg mengatakan, ”Akhir perjalanan seorang salik adalah awal perjalanan seorang majdzub.” 

Manusia yg paling kuat jadzab-nya adalah para Nabi dan Rasul. Inilah perbedaan antara dua kelompok tersebut. 

Orang yg menggunakan Allah sebagai dalil wujud alam akan mengenal Allah sebagai wujud yg wajib. Dengan kata lain, wujud itu milik Allah semata. Adapun benda² yg hadits (baru), aslinya tidak berwujud. Oleh karena itu, mereka menetapkan bahwa semua yg hadits berasal dari wujud asal, yaitu Allah Ta’ala. Mereka menganggap bahwa wujud makhluk bersumber dari wujud Khaliq yg tampak pada diri makhluk. Jika tidak, makhluk itu tidak akan ada. Demikian menurut pandangan ahli syuhud. 

Berbeda halnya dengan orang yg menggunakan alam untuk membuktikan wujud Allah. Ia menggunakan sesuatu yg tidak diketahui (majhul) sebagai dalil untuk membuktikan perkara yg sudah diketahui (ma’lum), menggunakan ketiadaan (’adam) untuk membuktikan keberadaan (wujud), atau menggunakan perkara yg tersembunyi (khafi) untuk membuktikan hal yg lahir dan nyata. Hal itu dikarenakan adanya hijab pada diri orang tersebut sehingga ia lebih suka menelusuri sebab² daripada mencari Sang Pembuat Sebab. 

Sejak kapan Allah ghaib sehingga Dia harus dibuktikan dengan sesuatu yg hadir? Sejak kapan Allah jauh sehingga alam semesta inilah yang akan mendekatkan kita kepada-Nya, padahal alam semesta ini tadinya tidak berwujud? Demikian pertanyaan yg diajukan para ahli syuhud. 

Sementara itu, orang² mahjub (yg terhalang dari-Nya) menjadikan alam semesta sebagai bukti wujud Allah. Mereka terbagi ke dalam dua golongan, yaitu kaum awam dan para salik yg belum mencapai maqam ahli syuhud. Wallaahu a’lam

39. Memberi Sesuai Kemampuan

Hikmah 39 dlm al-Hikam:

لِيُنْفِقْ ذُوْسَعَةٍ مِنْ سَعَيِهِ ) الْوَاصِلُو نَ إِلَيْهِ , (وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ) السَّائِرُوْنَ إِلَيْهِ . )

Hendaklah orang yg diberi keluasan rezeki (yaitu orang yg telah sampai kepada Allah) memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yg disempitkan rezekinya (yaitu orang yg tengah menuju kepada Allah) hendaklah memberi nafkah dari harta yg diberikan Allah kepadanya.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

“Hendaklah orang yg diberi keluasan rezeki memberi nafkah menurut kemampuannya.”

Ini adalah gambaran tentang kondisi orang² yg telah sampai kepada Allah. Yakni orang² yg telah terbebas dari penjara pandangan keduniaan, dan telah sampai kepada alam tauhid dan kesempurnaan alam batin. Karena itulah, mereka di anugerahi rezeki berupa ilmu dan rahasia Ilahi serta pandangan yg luas dan jauh ke depan. Sehingga, mereka pun dibebaskan untuk membantu orang lain, dengan mengajarkan ilmu dan pemahaman mereka, sekehendak hati mereka.

Sementara itu, orang yg disempitkan rezekinya adalah orang² yg sedang menuju kepada Allah. Mereka tidak diberi keluasan rezeki berupa ilmu dan pemahaman. Mereka masih terkungkung dalam ruang sempit khayalan dan imajinasi. Sekalipun demikian, mereka masih diperbolehkan menafkahkan karunia Allah berupa ilmu dan pemahaman yg sedikit itu kepada orang lain. Namun dengan catatan: sebatas apa yg Allah ajarkan kepada mereka. Wallaahu a’lam

40. Nur Pemberian Allah

Hikmah 40 dlm al-Hikam:

اِهْتَدَ ى الرَّاحِلُونَ إِلَيْهِ بِأَ نْوَارِ التَّوَجُّهِ , وَالْوَاصِلُو نَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ , فَالْأَ وَّلُو نَ لِلْأَ نْوَارِ وَهَؤُلَاءِ الْأَ نْوَارُلَهُمْ , لِأَ نَّهُمْ لِهََِْ لَالِشَيْءٍدُوْنَهُ , (قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْ ضِهِمْ يَلْعَبُونَ)

Orang² shalih (yg menuju kepada Allah) telah mendapatkan hidayat dengan nur (pelita) ibadah yg merupakan amalan untuk taqarrub (mendekat) kepada Allah, sedang orang² yg telah sampai, mereka tertarik oleh nur yg langsung dari Tuhan bukan sebagai hasil ibadah, tetapi semata² karunia rahmat Allah. Maka orang² shalih menuju ke alam nur, sedangkan yg telah sampai itu telah bersih dari segala sesuatu selain Allah.

Firman Allah Ta’ala:

قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

“Katakanlah: “Allah-lah (yg menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An’am (6): 91)

Hakikat tauhid itu bila telah melihat pengaruh² sesuatu selain Allah, dan inilah yg bernama haqqul yaqin, dan melihat, merasa adanya pengaruh dari sesuatu selain Allah itu hanya permainan belaka, dan itu bersifat penipuan atau munafik.

Jangan menganggap/melihat ada sesuatu selain Allah yg dapat kau harap, kau takuti, atau berkuasa, sebab semua harapan kepada sesuatu selain Allah berarti syirik, terang atau samar, besar atau kecil dalam pengertian syirik hampir tiada berbeda.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Cahaya yg didapat golongan pertama ialah cahaya yg didapat dari ibadah dan riyadhah (olah batin) yg dijadikannya sebagai jalan menuju Allah karena biasanya perjuangan akan membuahkan cahaya di dalam hati. Dengan cahaya itu, mereka akan berjalan menuju Allah. 

Adapun untuk golongan kedua, justru cahaya Allah lah yg mendatangi mereka sehingga mereka akan mudah mengenali Allah tanpa perjuangan dan susah payah. 

Golongan pertama akan menjadi budak cahaya dan amat membutuhkannya untuk sampai kepada tujuan dan keinginan mereka. Sementara itu, golongan kedua akan dengan sendirinya didatangi cahaya itu sehingga ia tidak perlu bersusah payah dalam mendapatkannya. 

Adapun maksud firman ”Katakan ‘Allah’” ialah menghadaplah kepada-Nya semata dan jangan cenderung kepada cahaya² atau hal² selain-Nya. Kemudian, maksud ”biarkan mereka bermain² dalam kesibukannya” ialah bahwa tindakan memurnikan tauhid, setelah menyingkirkan kebendaan, merupakan sikap yg didasari haqqul yaqin (keyakinan yg kokoh), sedangkan melihat kepada selain Allah hanyalah permainan dan leha². Tentu itu adalah sifat orang² mahjub (terhalang). Wallaahu a’lam

41. Hijab Menutupi Diri dan Alam Ghaib

Hikmah 41 dlm al-Hikam:

تَشَوُّفُكَ إِلَى مَا بَطَنَ فِيْكَ مِنَ الْعُيُوْبِ خَيْرٌ مِنْ تَشَوُّ فِكَ إِلَى مَاحُجِبَ عَنْكَ مِنَ الْغُيُوْبِ.

“Upayamu untuk mengetahui aib² (al-uyuub) yg masih ada di dalam dirimu (jiwa), itu lebih baik daripada upayamu untuk membuka hijab ghaib bagimu.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Kata orang arif bijaksana, ”Jadilah hamba Allah yg selalu ingin mencapai istiqamah, dan jangan menjadi hamba yg menuntut karomah. Istiqamah berarti menunaikan kewajiban, sedang menuntut karomah berarti menuntut maqam (kedudukan di hadapan Allah), padahal karomah yg Allah anugrahkan kepada seorang suci itu sebagai buah daripada istiqamah yg bersangkutan.

Istiqamah berarti tetap dalam Ubudiyah, tidak melemah nur iman keyakinannya kepada Allah, ke-Tuhan-an Allah, Kekuasaan-Nya, Al-Hakim-Nya, baik ketika dalam keadaan sehat atau sakit, senang atau susah, kaya maupun miskin.

Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:

Salik yg berakal cerdas adalah dia yg mengamati dan memperbaiki kesalahan², kekurangan², tabir², kekotoran, dan kesamaran  (al-uyuub) yg dimilikinya. Kesalahan² jiwa yg nyata disebabkan oleh keinginan, cinta, harapan, dan seluruh ketidak-seimbangan dalam lahir dan batin. Sakitnya qalbu (hati) dikarenakan keinginan² batin terhadap penghargaan, kebencian, keserakahan, ketidak-ikhlasan, dan tabir² lainnya, yg mencabut kebebasan qalbu dari ketergantungan kepada makhluk. Alam ghaib terhijab dari kita justru karena kesalahan², hijab² dan kesalahan akal budi dan hati kita.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Contoh kekurangan diri ialah sifat riya’, tingkah laku tidak sopan, bermuka dua, suka jabatan, dan haus akan kedudukan. Maknanya, kau harus mengarahkan tekadmu untuk menghapus semua keburukan itu dengan riyadhah dan mujahadah, serta berusaha untuk terbebas darinya. Upaya ini biasanya harus di bawah bimbingan seorang Guru. Langkah di atas lebih baik daripada usahamu dalam menelusuri takdir yg terselubung, pelajaran yg tersembunyi, rahasia² Ilahi, ilmu laduni atau karomah. Biasanya, itu semua ditujukan demi kepuasan dirimu, bukan demi mencari ridha Tuhanmu. 

Oleh karena itu, jangan kau cari semua itu dengan amalan²mu. Jangan sibukkan hatimu dengannya. Jangan pula berhenti di tempat munculnya karomah tersebut karena hal itu justru akan mengurangi ibadahmu. 

Oleh sebab itu, orang² berkata, ”Jadilah pencari istiqamah, jangan menjadi pencari karomah.” Jiwamu selalu bergerak dan berkeinginan mencari karomah, padahal Tuhanmu menuntutmu untuk istiqamah. Untuk itu, menunaikan hak Tuhanmu lebih baik ketimbang kau menunaikan keinginanmu sendiri. Wallaahu a’lam

42. Tidak Ada Sesuatu pun yg Menghijabi Allah, Manusialah yg Terhijab dari Allah

Hikmah 42 dlm al-Hikam:

“Tidak Ada Sesuatu pun yg Menghijabi Allah, Manusialah yg Terhijab dari Allah”

اَلْحَقُّ لَيْسَ بِمَحْجُوْبٍ وَإِ نَّمَا الْمَحْجُوْبُ أَنْتَ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهِ , إِذْلَوْ حَجَبَهُ شَيْءٌ لَسَتَرَهُ مَاحَجَبَهُ , وَلَوْ كَا نَ لَهُ سَاتِرٌ لَكَا نَ لِوُجُو دِهِ حَا صِرٌ , وَكُلُّ حَا صِرٍ لِشَيْءٍ فَهُوَ لَهُ قَا هِرٌ وَ هُوَ الْقَاهِرُ فَوْ قَ عِبَا دِهِ .

Yang Maha Haq (Allah) tidaklah terhijab. Yg terhijab adalah pandanganmu sehingga kau tak bisa melihat-Nya karena jika Dia dikatakan terhijab, itu artinya, sesuatu menutupi-Nya. Jika Dia tertutupi sesuatu, itu artinya, wujud-Nya terbatas. Segala sesuatu yg terbatas adalah lemah, padahal, “Dia adalah Maha Kuasa (qâhir) atas segala sesuatu.” (QS. Al-An’am (6): 18)

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Terhijab bukanlah sifat Allah Ta’ala. Yg memiliki sifat terhijab hanyalah dirimu sendiri. Jika kau ingin sampai kepada-Nya, kau harus mencari dan mengobati semua kekuranganmu, niscaya kau akan sampai kepada-Nya dan melihat-Nya dengan mata batinmu. 

Hikmah di atas menepis anggapan yg menyatakan bahwa tidak mustahil Allah terhalang oleh hijab karena hijab biasa digunakan oleh para pembesar atau raja untuk memperlihatkan keagungan dan kemuliaannya. Jawaban terhadap anggapan ini adalah, sekiranya Allah terhijab oleh sesuatu, seperti halnya para pembesar dan raja, niscaya Allah terkurung di dalam hijab itu, terpenjara dan terbatas ruang geraknya. Tentu hal itu tidak mungkin terjadi pada Allah Ta’ala, berdasarkan firman-Nya:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan Dialah yg berkuasa atas sekalian hamba²Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am (6): 18)

43. Perintah Agama Tentang Sifat² Manusia

Hikmah 43 dlm al-Hikam:

“Perintah Agama Tentang Sifat² Manusia”

اُخْرُجْ مِنْ أَوْ صَافِ بَشَرِ يَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُنَا قِضٍ لِعُبُوْدِيَّتِكَ لِتَكُوْنَ لِنِدَاءِ الْحَقِّ مُجِيْبًا وَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيْبًا.

Keluarkanlah sifat² kemanusiaanmu yg berlawanan dengan kehambaanmu agar engkau mudah menyambut panggilan Yang Maha Benar (Allah) dan menjadi  dekat kehadirat-Nya.

Sifat² manusia yg berhubungan dengan faham agama terbagi dua: Lahir yaitu yg dilakukan dengan anggota jasmani, dan Batin yaitu yg berlaku dalam hati (ruhani). Yg berhubungan dengan anggota lahir juga terbagi dua: Yg  sesuai dengan perintah bernama taat dan yg menyalahi perintah bernama maksiat. Demikian pula yg berhubungan dengan hati terbagi dua: Yg sesuai dengan hakikat (kebenaran) bernama iman dan ilmu, dan yg berlawanan dengan hakikat kebenaran bernama nifaq dan kebodohan.

Sifat² yg jelek (rendah) yaitu: Hasud, iri hati, dengki, sombong, mengadu domba, merampok dan gila pangkat, sangat cinta pada dunia, tamak, rakus, dan lain² sebagainya.

Dan dari sifat² jelek ini akan timbul cabang²nya yg berupa permusuhan kebencian, merendah terhadap orang kaya, menghina orang miskin, bermuka dua, sempit dada, hilang kepercayaan terhadap jaminan Allah, kejam, tidak punya malu dan lain² sebagainya.

Apabila seseorang telah dapat mengusir dan membersihkan diri dari sifat² yg rendah, yg bertentangan dengan kehambaan itu, maka pasti ia akan sanggup menerima dan menyambut tuntunan Allah Ta’ala baik yg langsung dalam ayat² Al-Qur’an atau yg berupa tuntunan dan contoh yg diberikan oleh Rasulullah Saw. Dan dengan demikian berarti ia telah mendekat kehadirat Allah Ta’ala.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Keluarkanlah dari dirimu sifat² kemanusiaan yg tercela dengan riyadhah dan mujahadah; baik itu sifat² tercela yg lahir (seperti suka melakukan ghibah, mengadu domba, membunuh, dan merampas), maupun yg batin (seperti sombong, ujub, riya,‘ sum’ah [ingin terkenal], dengki, gila kehormatan, gila harta, dan sebagainya). 

Jauhkan dirimu dari sifat² yg bertentangan dengan predikat kehambaanmu agar kau mudah menjawab seruan Yang Haq. Ketika kau berhasil mengeluarkan sifat² tercelamu dan menyisakan sifat² baikmu (seperti tawadhu’ [rendah hati] karena Allah, khusyuk di hadapan-Nya, mengagungkan perintah-Nya, menjaga hukum²-Nya, takut kepada-Nya, dan ikhlas dalam menyembah-Nya), maka di saat datang seruan kepadamu, ”Wahai hamba-Ku!” kau pun akan dengan mudahnya menjawab, ”Labbaik, Tuhanku!” Kau pun akan tulus dan ikhlas dalam menjawab seruan itu karena sifat² yg bertentangan dengan kehambaanmu itu telah hilang darimu. Kau pun akan dekat dengan-Nya sehingga Dia akan menjagamu dari dosa (mahfuz) dan memudahkan segala amalmu yg kelak akan kau nikmati hasilnya. 

Ada perbedaan makna antara mahfuz (terjaga dari dosa) dengan lafadz ma’shum (terlindungi dari dosa). Bedanya adalah, ma’shum sama sekali tidak pernah menyentuh dosa, sedangkan mahfuz terkadang melakukan kesalahan dan kekeliruan, tetapi tidak selamanya demikian. Saat keliru, seorang yg mahfuz akan langsung bertaubat. 

Ketahuilah, di mata ahli tarekat, menjauhi sifat buruk dan memiliki sifat mulia merupakan hakikat dan tujuan dari suluk. Hal itu tidak akan bisa diraih, kecuali oleh orang yg diberi taufik dan bimbingan Allah untuk mengenali dirinya sendiri dan mengetahui sifat² buruknya. Karena siapa yg sudah mengenali dirinya dan sifat² buruknya, ia akan waspada dan berusaha menghindari sifat² buruknya. Jika tidak demikian, secara tidak disadarinya, ia akan terjerumus ke dalam hal² yg dibenci Tuhannya. Wallaahu a’lam

44. Pangkal Setiap Kelalaian Dan Maksiat Adalah Merasa Puas Diri (1)

Hikmah 44 dlm al-Hikam:

“Pangkal Setiap Kelalaian Dan Maksiat Adalah Merasa Puas Diri”

أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍالرِّضَاعَنِ النَّفْسِ , وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَامِنْكَ عَنْهَا.

Pokok dari semua maksiat dan kelalaian serta syahwat itu, karena ingin memuaskan nafsu. Sedangkan pokok dari segala ketaatan, kesadaran dan kesopanan akhlak budi, ialah karena ada pengekangan (penahanan) terhadap hawa nafsu.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yg diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf (12): 53)

Abu Hafsh berkata:

Siapa yg tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menariknya ke jalan kebaikannya, maka ia telah tertipu. Dan siapa yg memandang padanya dengan merasa sudah baik, berarti telah membinasakannya.

Syaikh Junayd al-Baghdadi qs. berkata:

Jangan mempercayai hawa nafsumu, meskipun telah lama taat kepadamu, untuk berbuat ibadah kepada Tuhanmu.

Al-Bushiry dalam Burdahnya berkata:

Tentang selalu hawa nafsu dan setan dan jangan menurutkan keduanya itu memberi nasehat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan berhati-hati.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Maksiat berarti menentang semua perintah dan larangan Allah. Kelalaian berarti hati tidak waspada dan tidak sadar tentang kehadiran Allah. Adapun syahwat berarti ketergantungan terhadap sesuatu yg menyibukkan diri dan membuat lupa dari Allah Ta’ala.

Menurut orang² ‘arif, sebab dari segala maksiat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Sikap tersebut akan selalu mendorong seseorang berusaha menutup-nutupi aib dan kesalahannya sehingga yg buruk akan dijadikannya baik. Siapa yg puas dengan keadaan dirinya akan menganggap baik semua kondisi pribadinya dan merasa nyaman dengan semua kondisi itu. Siapa yg menganggap baik semua kondisi pribadinya akan lalai dari Allah. Sehingga, hatinya tidak lagi mampu mengawasi dan mengendalikan bisikan² syahwatnya. Akibatnya, ia dikuasai oleh syahwat. Siapa yg dikuasai oleh syahwat, tentu akan mudah terjerumus pada maksiat. 

Adapun ketaatan berarti melaksanakan segala perintah dan larangan Allah. Kesadaran berarti perasaan tentang kehadiran Tuhan dan hal² yg diridhai-Nya. Kesucian berarti ketinggian tekad dan kebersihannya dari syahwat. 

Pangkal dari segala ketaatan dan kesadaran adalah sikap tidak puas dengan keadaan diri sendiri. Jika seseorang tidak puas dengan keadaan dirinya sendiri, ia tidak akan menganggap baik semua kondisinya dan tidak akan tenang dengan semua itu. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini maka ia akan selalu sadar dan waspada terhadap segala yg datang dan menyerang. 

Dengan sikap waspada dan sadar ini, ia dapat menyelidiki dan mendeteksi secara dini bisikan² hatinya. Saat itu, api syahwatnya akan padam sehingga tidak bisa menguasai dirinya. Buahnya, ia akan menjadi suci. Dengan demikian, ia akan menjauhi semua larangan Allah dan mentaati semua perintah-Nya. Itulah makna taat kepada Allah. 

Sikap puas terhadap keadaan diri sendiri adalah sikap orang² yg mempelajari ilmu lahir yg tidak mau mengakui aib diri sendiri. Oleh karena itu, Syaikh Ibnu Atha‘illah melarang kita untuk berteman dengan orang² semacam itu. Wallaahu a’lam

45. Pangkal Setiap Kelalaian Dan Maksiat Adalah Merasa Puas Diri (2)

Hikmah 45 dlm al-Hikam:

وَلأَنْ تَصْحَبَ جَا هِلًا لَا يَرْ ضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَا لِمًا يَرْ ضَى عَنْ نَفْسِهِ , فَأَ يُّ عِلْمٍ لِعَا لِمٍ  يَرْ ضَى عَنْ نَفْسِهِ وَأَ يُّ جَهْلٍ لِجَا هِلٍ لَا يَرْ ضَى عَنْ نَفْسِهِ ؟

Berteman dengan orang bodoh yg tidak puas dengan keadaan dirinya, lebih baik bagimu daripada berteman dengan orang berilmu yg puas dengan keadaan dirinya. Di mana letak berilmunya orang berilmu yg puas dengan dirinya itu? Di mana pula letak bodohnya orang bodoh yg tidak puas terhadap dirinya itu?

Orang yg tidak ridho dengan nafsunya akan selalu menganggap dirinya belum baik dan akhlaknya masih jelek. Orang seperti ini baik untuk dijadikan sahabat, karena sangat banyak manfaatnya bagimu, kebodohannya tidak akan membahayakan dirimu.

Bagaimana akan dinamakan bodoh, seseorang yg telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahwa semua amal perbuatannya hanya semata² untuk keridhaan Allah dan bersih dari dorongan hawa nafsu. Sebaliknya, apalah arti suatu ilmu yg tidak dapat menahan atau memimpin hawa nafsu dari kebinatangan dan kejahatannya.

Dalam sebuah hadits ada keterangan: “Seorang akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yg harus diambil sebagai sahabat.”

Seorang penyair berkata: “Barang siapa bergaul dengan orang² yg baik, akan hidup mulia. Dan yg bergaul dengan orang² yg rendah akhlaqnya pasti tidak mulia.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Orang bodoh ialah orang yg tidak memiliki ilmu lahir. Tidak puas dengan keadaan diri sendiri, misalnya dengan menganggap dirinya hina atau menyadari kekurangannya. 

Tidaklah baik berteman dengan seseorang yg puas dengan keadaan dirinya sendiri walaupun ia seorang yang alim (orang berilmu). Bagaimanapun, pertemanan dapat mendatangkan pengaruh yg besar padamu. Ketika kau berteman dengan alim yg sudah berpuas diri, kau bisa mendapatkan sifat buruknya sehingga ilmunya tidak berguna bagimu dalam melembutkan jiwamu. Kebodohan yg membuat orang alim puas diri itulah yg berbahaya bagimu. Seakan ia bukan orang yg berilmu karena rela dengan aib yg dimiliki dirinya. 

Sebaliknya, berteman dengan orang bodoh yg tidak puas dengan keadaan dirinya lebih baik dan lebih bermanfaat bagimu. Biasanya, tabiat seseorang di dapat dari tabiat orang lain; nafsu selalu terdorong untuk mengikuti orang yg di anggap baik kondisinya. Oleh karena itu, kebodohan orang bodoh tidak akan berbahaya bagimu. Namun, ilmunya – yg membuatnya tidak puas terhadap keadaan dirinya – justru amat berguna bagimu. Seakan ia bukan orang bodoh karena mengetahui kekurangan dirinya sampai tidak merasa puas terhadap dirinya. Dengan demikian, orang bodoh yg tahu kekurangan dirinya bisa disebut orang yg memiliki ilmu. Oleh karena itu, bergaul dengan orang bodoh seperti ini akan bermanfaat dan lebih baik bagimu. Wallaahu a’lam

46. Mata Hati & Penyaksian kepada-Nya

Hikmah 46 dlm al-Hikam:

شُعَا عُ الْبَصِيْرَ ةِ يُشْهِدُ كَ قُرْبَهُ مِنْكَ , وَعَيْنُ الْبَصِيرَ ةِ يُشْهِدُ كَ  عَدَ مَكَ لِوُجُوْدِهِ , وَحَقُّ الْبَصِيرَ ةِ يُشْهِدُ كَ وُجُوْدَهُ لَا عَدَمَكَ وَلَا وُجُوْدَكَ.

Sinar mata hati membuatmu menyaksikan kedekatan-Nya denganmu. Penglihatan mata hati membuatmu menyaksikan ketiadaanmu karena keberadaan-Nya. Hakikat mata hati membuatmu menyaksikan keberadaan-Nya, bukan ketiadaanmu dan bukan pula keberadaanmu.

Salik dalam perjalanannya menuju Allah Ta’ala akan ada Nur dari Allah tiga macam:

1. Syu’aa ‘ul-bashirah yaitu cahaya akal.

2. Ainul-bashirah yaitu cahaya ilmu.

3. Haqqul-bashirah yaitu cahaya Ilahi.

Dan semua nur tersebut akan menimbulkan macam² buah dan faedah yg penting.

Maka orang² yg menggunakan akal mereka, masih merasa adanya dirinya dan dekatnya kepada Tuhan [yakni, Allah selalu meliputi dan mengurung mereka]. Sedang orang² yg menggunakan nurul ilmi merasa dirinya tidak ada jika dibanding dengan adanya Allah. Sedang ahli hakikat hanya melihat kepada Allah dan tidak melihat apapun di samping-Nya. Bukannya mereka tidak melihat adanya alam sekitarnya, tetapi karena alam sekitarnya itu tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhajat kepada Allah, maka adanya alam ini tidak menarik perhatian mereka, karena itu mereka menganggap bagaikan tidak ada.

Sebagian ulama ahli tarekat berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai hakikatnya tawadhu’ kecuali sudah bersinarnya hati dengan nur musyahadah. Dan ketika hati sudah bersinar maka nafsunya akan lebur dan bisa menetapi kebenaran dan akhlak yg baik.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Sinar mata hati sering disebut dengan cahaya akal dan ’ilmul yaqin. Penglihatan mata hati sering disebut dengan cahaya ilmu dan ‘ainul yaqin. Hakikat mata hati sering disebut dengan cahaya kebenaran dan haqqul yaqin

Cahaya² Ilahi tersebut akan menyinari hati seorang salik. Setiap cahaya tersebut memiliki buah dan manfaatnya sendiri². 

Seseorang berkata, ”Seorang hamba tidak akan sampai pada hakikat tawadhu’, kecuali saat terpancarnya cahaya musyahadah dari hatinya.” Saat itu, nafsunya akan larut dan tunduk pada sang Khaliq dan bersikap rendah hati di hadapan makhluk. 

Melalui hikmah ini, Syaikh Ibnu Atha‘illah as-Sakandari qs. menjelaskan bahwa orang yg terbuka dengan cahaya pertama akan merasa kedekatan Allah. Ia akan selalu sadar pengawasan Allah dan malu kepada-Nya. Ia merasa bahwa pandangan Allah tidak pernah luput darinya, baik itu di saat ia melaksanakan perintah-Nya maupun di saat menjauhi larangan-Nya. 

Orang yg terbuka dengan cahaya kedua akan merasa ketiadaan segala yg wujud karena“ wujud Tuhan Yang Maha Haq. Ia akan melihat bahwa alam semesta ini tidak ada dan tidak memperdulikannya lagi karena wujud alam semesta ini hanyalah akibat dari wujud Yang Maha Mawjud. Wujud hakiki hanyalah milik Allah Ta’ala. Dalam pandangannya, tak ada lagi yg dijadikan sandaran atau ternpat berkeluh kesah, kecuali Allah. Ia hanya akan bertawakal kepada-Nya, ridha, dan memasrahkan diri kepada-Nya. 

Sementara itu, orang yg terbuka dengan cahaya ketiga akan memiliki dzat dan jiwa yg suci. Ia akan merasa kefana’an secara total. Kefana’an yg abadi karena luluh dengan wujud Tuhannya. Rahasia² Ilahi pun terkuak di hadapannya. Jika ia naik dari kefana’an total itu, ia akan menempati maqam keabadian. 

Penulis Al-‘Awarif berkata, ”Orang yg abadi di satu maqam tidak akan dihalangi Allah dari makhluk dan tidak akan dihalangi makhluk dari Allah, sedangkan orang yg fana’ akan terhalangi oleh Yang Maha Haq dari makhluk.” Wallaahu a’lam

47. Allah Maha Esa, Selalu

Hikmah 47 dlm al-Hikam:

كَانَ اللهُ وَلَا شَيْ ءَ مَعَهُ , وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ.

telah ada Allah, dan (sebelum adanya makhluk) telah ada Allah, dan tiada sesuatu di samping-Nya, dan DIA kini sebagaimana ada-Nya semula.

Keadaan seperti ini adalah keadaan orang yg sudah berada di maqam fana’, dia tiada melihat sesuatu kecuali Allah Ta’ala. Bagaikan seseorang di dalam gedungnya, kemudian ia mengisi rumah dengan perabot dan boneka atau patung, lalu ditanya: ‘Siapakah yg ada di dalam gedung itu?’ Jawabnya: ‘Hanya dia seorang’, yakni semua boneka dan patung itu tidak dapat disebut sebagai temannya. Demikian pun orang ahli hakikat tidak melihat adanya sesuatu yg dapat disebut selain Allah Ta’ala.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Ini adalah kondisi orang yg menduduki maqam kefana’an. Ia tidak lagi melihat selain Tuhannya (musyahid). Dalam pandangannya, Tuhan masih tetap sebagaimana ada-Nya semula. 

Seorang musyahid meyakini bahwa wujud hakiki hanya milik Allah Ta’ala, sedangkan selain-Nya tidak memiliki wujud. Sifat wujud itulah yg melekat pada Allah Ta’ala sekarang dan sebelum musyahid itu mengetahuinya. Ketidaktahuan musyahid tentang Tuhan sebelum itu tak lain karena adanya hijab. Wallaahu a’lam

48. Al-Karim Tumpuan Segala Hajat

Hikmah 48 dlm al-Hikam:

لَاتَتَعَدَّبِيَّةُ هِمَّتِكَ إِلَى غَيْرِهِ فَالْكَرِيْمُ لَا تَتَخَطَّاهُ الْآمَالُ.

“Al-Karim Tumpuan Segala Hajat”

“Jangan melampaui/melanggar niat dan tujuanmu [hasrat dan harapanmu] kepada lain-Nya. Maka Tuhan yg Maha Pemurah itu tidak dapat di lampaui oleh sesuatu harapan (angan²) hamba.”

Sebaiknya bagi orang yg mengharapkan berhasil hajatnya, jangan meminta kapada selain Allah Ta’ala (makhluk), karena itu bertentangan dengan sifat ubudiyah. Itu kalau permintaan itu disandarkan/bergantung pada makhluk, dan lupa pada Allah ketika berdoa. Apabila permintaan pada makhluk (manusia) menjadi perantara untuk meminta kepada Allah, dan selalu memandang Allah-lah Dzat yg memberi. Permintaan seperti ini masih diperbolehkan.

Perasaan yg luhur enggan membuka kebutuhan [hajat]-nya kepada orang yg tidak dermawan, dan tidak ada yg dermawan pada hakikat yg sebenarnya kecuali Allah Ta’ala.

Syaikh Junayd al-Baghdadi qs. berkata: ”Dermawan [Al-Karim] itu ialah yg memberi kebutuhan seseorang sebelum diminta.”

Ada pula pendapat: ”Dermawan [Al-Karim] ialah yg tidak pernah mengecewakan harapan orang yg berharap.”

Dermawan [Al-Karim] yaitu apabila berkuasa memaafkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak memperdulikan tentang berapa banyak pemberiaannya, dan kepada siapa ia memberikannya.

Al-Karim adalah salahsatu dari Asma’ul Husna. Asma’ ini memberi pengertian yg istimewa tentang Allah.

Al-Karim berarti:

1. Allah Maha pemurah.

2. Allah memberi tanpa diminta.

3. Allah memberi sebelum diminta.

4. Allah memberi apabila diminta.

5. Allah memberi bukan karena permintaan tetapi cukup sekedar harapan, cita² dan angan² hamba²Nya. Allah tidak mengecewakan harapan hambanya.

6. Allah memberi lebih baik daripada apa yg diminta dan diharapkan oleh para hamba-Nya.

7. Allah Yang Maha Pemurah tidak dikira berapa banyak yg diberikan-Nya dan kepada siapa Dia memberi.

8. Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya sendiri, Allah memberi dengan bijaksana, dengan cara yg paling baik, masa yg paling sesuai dan paling bermanfaat kepada si hamba yg menerimanya.

Sekiranya para hamba mengenali Al-Karim niscaya permintaan, harapan dan angan²nya tidak tertuju kepada yg lain melainkan kepada-Nya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Jangan sampai kau menuju kepada selain Allah dalam memenuhi kebutuhanmu. Akan tetapi, ungkapkan hajatmu kepada-Nya dan mintalah dari-Nya. Tekad yg tinggi selalu mencari pemenuhan kebutuhannya kepada sosok yg mulia; dan tak ada yg benar² mulia, kecuali Allah Ta’ala. Setiap orang yg mulia, jika sudah menetapkan sesuatu, pasti akan memenuhinya; jika berjanji, akan menepatinya; jika memberi, akan menambahkan pemberiannya melebihi harapan. Dia tidak peduli berapa banyak dan kepada siapa dia memberi. Dia tidak mengurangi dan tidak pernah mengecewakan siapa pun yg berlindung kepadanya. Dia akan mencukupinya dengan segala pertolongan. Sifat² ini tidak dimiliki selain oleh Allah Ta’ala. Karena itu, selayaknya harapan dan asa para pengharap tidak boleh melewatinya dan menuju kepada selain-Nya. 

Ketahuilah bahwa meminta kepada makhluk dianggap bertentangan dengan ubudiyah (penghambaan di hadapan-Nya) bila didasari oleh rasa bergantung pada makhluk dan lalai untuk meminta kepada Allah. Lain halnya bila permintaan tersebut di iringi dengan keyakinan bahwa makhluk yg dimintainya itu hanyalah wasilah (perantara), tetapi yg sebenarnya memberi adalah Allah sebagai satu²nya tempat bergantung. Ini tidak bertentangan dengan ubudiyah. Wallaahu a’lam

49. Jangan Mengadu Kepada Selain Allah

Hikmah 49 dlm Al-Hikam:

“Jangan Mengadu Kepada Selain Allah”

لاَ تـَرْفَعَنَّ اِلىَ غيرِهِ حاَجَةً هُوَ مُورِدُهاَ عَليْكَ فكَيْفَ يَرْفَعُ غيرَهُ ماكانَ هُوَ لهُ واضِعاً مَنْ لاَيَسْتَطِيعُ ان يَرْفَعَ حاَجةً عن نَفْسِهِ فَكيْفَ يَسْتَطِيعُ اَنْ يَكونَ لهاَ عَن غيرِهِ راَفِعاً

“Jangan mengadu dan meminta sesuatu kebutuhan/hajat selain kepada Allah, sebab DIA sendiri yg memberi dan menurunkan kebutuhan itu kepadamu. Maka bagaimanakah sesuatu selain Allah akan dapat menyingkirkan sesuatu yg diletakkan oleh Allah. Barangsiapa yg tidak dapat menyingkirkan bencana yg menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah ia akan dapat menyingkirkan bencana yg ada pada orang lain.”

Adanya sesuatu bencana [musibah] itu menyebabkan engkau berhajat [butuh] kepada bantuan [pertolongan], maka dalam tiap kebutuhan [hajat] jangan mengharap selain kepada Allah, sebab segala sesuatu selain Allah itu juga berhajat seperti engkau. Sebab barangsiapa yg menyandarkan [menggantungkan nasib] pada sesuatu selain Allah, berarti ia tertipu oleh sesuatu bayangan fatamorgana, sebab tidak ada yg tetap selain Allah yg selalu tetap karunia dan nikmat serta rahmat-Nya kepadamu.

Syaikh Atho’ al-Khurasani berkata: “Saya bertemu dengan Wahab bin Munabbih di suatu jalan, maka saya berkata, ‘Ceritakanlah kepadaku suatu hadits yg dapat saya ingat, tetapi persingkatlah.’

Maka berkata Wahab, “Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as.: Wahai Dawud, demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, tidak ada seorang hamba-Ku yg minta tolong kepada-Ku, tidak pada selainnya, dan Aku ketahui yg demikian dari niatnya, kemudian orang itu akan ditipu oleh penduduk langit yg tujuh dan bumi yg tujuh, melainkan pasti Aku akan menghindarkannya dari semua itu, sebaliknya demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, tidak ada seorang yg berlindung kepada seorang makhluk-Ku, tidak kepada-Ku dan Aku ketahui yg demikian dari niatnya, melainkan Aku putuskan rahmat yg dari langit, dan Aku longsorkan bumi di bawahnya, dan tidak Aku pedulikan dalam lembah dan jurang yg mana ia binasa.”

Syakih Muhammad bin Husain bin Hamdan berkata: “Ketika saya di majlis Yazid bin Harun, saya bertanya kepada seseorang yg duduk disampingku, ‘Siapakah namamu?’ Jawabnya. ‘Said’. Saya bertanya, ‘Siapakah gelarmu?’ Jawabnya, ‘Abu Usman’. Lalu saya bertanya tentang keadaannya. Jawabnya, ‘Kini telah habis belanjaku. Lalu saya tanya, ‘Dan siapakah yg engkau harapkan untuk kebutuhanmu itu?’ Jawabnya. ‘Yazid bin Harun. Maka saya berkata kepadanya, ‘Jika demikian, maka ia tidak menyampaikan hajatmu, dan tidak akan membantu meringankan kebutuhanmu.’

Dia bertanya, ‘Dari mana engkau mengetahui hal itu?’ Jawabku, ‘Saya telah membaca dalam sebuah kitab: Bahwasanya Allah telah berfirman: Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, dan kemurahan-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku, di atas Arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yg mengharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan, dan akan Aku singkirkan ia dari dekat-Ku, dan Aku putuskan dari hubungan-Ku. Mengapa ia berharap selain Aku dalam kesukaran, padahal kesukaran itu di tangan-Ku, dan Aku dapat menyingkirkannya, dan mengharap kepada selain Aku serta mengetuk pintu lain padahal kunci pintu² itu tertutup, hanya pintu-Ku yg terbuka bagi siapa yg berdoa kepada-Ku. Siapakah yg pernah mengharapkan Aku untuk menghalaukan kesukarannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yg pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya, lalu Aku putuskan harapannya? Atau siapakah yg pernah mengetuk pintu-Ku, lalu tidak Aku bukakan? Aku telah mengadakan hubungan yg langsung antara-Ku dengan angan² dan harapan semua makhluk-Ku, maka mengapakah engkau bersandar kepada selain-Ku. Dan Aku telah menyediakan semua harapan hamba-Ku, tetapi tidak puas dengan perlindungan-Ku, dan Aku telah memenuhi langit-Ku dengan makhluk yg tidak jemu bertasbih kepada-Ku dari para Malaikat, dan Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara-Ku dengan para hamba-Ku, tetapi mereka tidak percaya kepada firman-Ku. Tidakkah engkau mengetahui bahwa barangsiapa yg ditimpa oleh bencana yg Aku turunkan, tidak ada yg dapat menyingkirkan selain Aku, maka mengapakah Aku melihat ia dengan segala angan² dan harapannya selalu berpaling dari pada-Ku, mengapakah ia tertipu oleh selain-Ku. Aku telah memberi kepadanya dengan kemurahan-Ku apa² yg tidak ia minta, kemudian Aku yg mencabut dari padanya lalu ia tidak minta kepada-Ku untuk mengembalikannya, dan ia minta kepada selain-Ku. Apakah Aku yg memberi sebelum di minta, kemudian jika dimintai lalu tidak memberi kepada peminta?

Apakah Aku bakhil [kikir], sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku. Tidakkah dunia dan akhirat itu semua milik-Ku? Tidakkah semua rahmat dan karunia itu di tangan-Ku? Tidakkah dermawan dan kemurahan itu sifat-Ku? Tidakkah hanya Aku tempat semua harapan? Maka siapakah yg dapat memutuskan dari pada-Ku. Dan apa pula yg diharapkan oleh orang² yg mengharap, andaikata Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi: Mintalah kepada-Ku, kemudian Aku memberi kepada masing² orang pikiran apa yg terpikir pada semuanya, lalu Aku beri semua itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku walau pun sekecil debu? Maka bagaimana akan berkurang kekayaan yg lengkap, sedang Aku yg mengawasinya?

Alangkah sial [celaka] orang yg putus dari rahmat-Ku, alangkah kecewa orang yg maksiat kepada-Ku dan tidak memperhatikan Aku, dan tetap melakukan yg haram dan tiada malu kepada-Ku’. Maka orang itu berkata: ‘Ulangilah keteranganmu itu, lalu ia menulisnya.’

Kemudian ia berkata: “Demi Allah, setelah ini saya tidak usah menulis suatu keterangan yg lain’.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Jika ada musibah yg menimpamu, jangan kau meminta kepada selain Allah untuk menghilangkannya karena yg menurunkan musibah itu adalah Allah. Ingat, Allahlah Yang Unggul dan tak ada yg bisa mengalahkan-Nya. 

Orang yg tak bisa mengangkat musibahnya sendiri mustahil mampu mengangkat musibah yg menimpa orang lain. 

Kesimpulannya, siapa pun selain Allah, sekalipun itu seorang raja, tidak akan mampu mengangkat musibah orang lain. Selain itu, ia pun tentu lebih mencintai dirinya sendiri daripada orang lain. Demikian pula, jika memang benar ia mampu memberi manfaat kepada orang lain, tentu ia akan mendatangkan manfaat kepada dirinya sendiri terlebih dahulu. Namun kenyataannya, ia tidak mampu mendatangkan itu. Perlu di ingat, tak ada kelemahan melebihi kelemahan dalam memberi manfaat kepada diri sendiri.

Oleh karena itu, teramat sempit akalmu jika dalam hajat dan musibahmu kau bergantung pada orang yg juga butuh pertolongan seperti dirimu. Wallaahu a’lam

50. Husnudzan Terhadap Allah

Hikmah 50 dlm al-Hikam:

“Husnudzan Terhadap Allah”

اِن لَمْ تُحْسِنْ ظَنـَّكَ بِهِ لاَجْلِ حُسنِ وَصْفِهِ فَحَسِّنْ ظَنـَّكَ بهِ لِوُجوُدِ مُعَامَلتِهِ مَعَكَ فَهَلْ عَوَّدَكَ الاَّ حَسَناً اَسدىَ اِليكَ الاَّ مَنَناً

“Jika engkau tidak bisa berbaik sangka [husnudzan] terhadap Allah Ta’ala karena Sifat² Allah yg baik itu, berbaik sangkalah kepada Allah karena karunia pemberian-Nya kepadamu. Tidakkah selalu ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”

Manusia dalam hal husnudzan kepada Allah itu ada dua golongan:

1. Golongan khas-shah, yaitu orang yg berhusnudzan kepada Allah karena melihat Sifat² Allah yg bagus dan tinggi.

2. ‘Ammah, yaitu orang yg berhusnudzan kepada Allah karena macam²nya nikmat Allah dan anugrah dari Allah yg tidak bisa terhitung.

Apabila engkau tidak dapat berbaik sangka terhadap Allah, karena Allah itu bersifat: Rabbul ‘Alamiin [Tuhan yg mencipta, melengkapi, memelihara dan menjamin seisi alam, Ar-Rahman, Ar-Rahim: Pemurah, Penyayang]. Maka sudah selayaknya engkau harus berbaik sangka kepada Allah, karena tiada henti²nya nikmat dan karunia Allah atas dirimu dan anak keluargamu. Yakni sejak engkau berupa sperma hingga matimu. Dan sebaik-baik khusnudzan [baik sangka] terhadap Allah di waktu menerima nikmat Allah yg berupa ujian [musibah], bagaikan ayah yg menyambut anak yg disayang, demi untuk kebaikan anak itu sendiri.

Allah berfirman:

وَعَسٰىٓ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسٰىٓ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah (2): 216)

فَعَسٰىٓ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Maka mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, sedang Allah telah menjadikan padanya kebaikan yg banyak.” (QS. An-Nisa’ (4): 19)

Jabir ra. berkata: “Rasulullah Saw.  bersabda:

‘Barangsiapa yg dapat melakukan khusnudzan [baik sangka] kepada Allah, sehingga ia tidak akan mati kecuali tetap dalam khusnudzan terhadap Allah, maka hendaklah ia melakukannya’.” Kemudian ia membaca ayat:

وَذٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِى ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدٰىكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِّنَ الْخٰسِرِينَ

“Dan yg demikian itu adalah prasangkamu yg telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang² yg merugi.” (QS. Fussilat (41): 23)

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah itu, sebaik-sebaik melakukan ibadah kepada Allah.”

Ibnu Mas’ud ra. bersumpah: “Demi Allah tidak ada orang yg berbaik sangka terhadap Allah, melainkan pasti Allah akan memberikan kepadanya apa yg ia sangka, sebab kebaikan itu semuanya di tangan Allah, maka apabila Allah telah memberi khusnudzan, berarti Allah akan memberi apa yg disangkanya itu. Maka Allah yg memberinya khusnudzan [baik sangka] berarti akan melaksanakannya.”

Abu Said al-Khudry ra. berkata: “Rasulullah Saw. menjenguk orang sakit, maka Rasulullah Saw. bertanya kepada orang yg sakit itu, ‘Bagaimanakah persangkaanmu terhadap Tuhanmu?’ Jawabnya, ‘Wahai Rasulullah, aku khusnudzan [baik sangka]’. Maka bersabda Rasulullah Saw., ‘Sangkalah sesukamu kepada Allah, maka Allah selalu akan memberi apa yg disangkakan oleh orang mukmin’.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Dalam hikmah ini, Syaikh Ibnu Atha‘illah mengisyaratkan bahwa dalam berbaik sangka kepada Allah, manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan khusus dan golongan awam. 

Golongan khusus berbaik sangka kepada Allah atas Sifat²Nya yg baik. Sementara itu, golongan umum berbaik sangka kepada Allah atas perlakuan-Nya yg baik terhadap diri mereka, berupa karunia dan nikmat yg telah diberikan-Nya kepada mereka. 

Ada perbedaan yg mencolok antara dua maqam tersebut. Syaikh Ibnu Atha‘illah seakan berkata, ”Wahai murid, kau harus berbaik sangka kepada Allah secara mutlak, baik itu atas manfaat yg telah diberikan-Nya maupun bahaya yg telah dijauhkan-Nya darimu. Kau tidak boleh berpaling kepada selain-Nya. Jika kau tak sanggup berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang khusus, kau bisa berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang awam.

Sikap berbaik sangkamu kepada Allah atas kebaikan Sifat²Nya akan menumbuhkan cinta dan tawakkal yg benar kepada-Nya. Baik sangkamu kepada-Nya atas perlakuan-Nya yg baik terhadapmu akan membuahkan syukur atas nikmat dan rahmat-Nya. Wallaahu a’lam

51. Aneh Dan Ajaib

Hikmah 51 dlm al-Hikam:

“Aneh Dan Ajaib”

الْعَجَبُ كُلُّ العًَجَبِ مِمّاَ لاَ انْفِكاَكَ لهُ عَنْهُ وَيَطلُبُ ما لاَ بَقاَءَ لهُ مَعَهُ فاِنـّهَاَ لاَ تَعْمَى الاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعمىَ الْقُلوْبُ الَّتىِ فِى الصُّدُورِ

Keanehan yg sangat mengherankan [ajaib] terhadap orang yg lari dari Allah yg sangat dibutuhkan, dan tidak dapat lepas daripadanya, dan berusaha mencari apa yg tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yg buta, tetapi yg buta ialah mata hati yg di dalam dada.

Hikmah 46, menceritakan tentang tingkatan makrifat yg dicapai melalui penyaksian mata hati. Makrifat melalui mata hati diperoleh dengan cara bertauhid. Hikmah 47, menggambarkan tentang tauhid yg tertinggi. Tingkatan yg tertinggi itu tidak mudah dicapai. Jalan untuk mencapainya adalah dengan menghapuskan semua jenis syirik, yg lahir dan yg batin/samar. Hikmah 48 hingga 50 menceritakan tentang syirik yg samar, yaitu hati bukan bergantung kepada Allah saja tetapi pada makhluk yg sama, ia juga berharap kepada makhluk, lantaran kurang keyakinannya kepada Allah, atau karena menyangka makhluk bisa melakukan sesuatu yg memberi bekas kepada perjalanan takdir Ilahi.

Syirik yg demikian dirumuskan oleh Hikmah 51 ini dengan mengatakan bahwa itu semua terjadi akibat buta mata hati. Sekiranya mata hati dapat melihat tentu dilihatnya bahwa dalam keadaan apa saja dia tidak terlepas dari qudrat dan Iradat Allah Ta’ala Dia tidak akan dapat melepaskan dirinya dari Allah. Allah mempunyai segala sifat² iftiqar yg menyebabkan semua makhluk-Nya tidak ada jalan melainkan bergantung kepada-Nya.

Seseorang yg melarikan diri dari panggilan Tuhan untuk beribadah semata-mata karena ingin memuaskan hawa nafsu dan syahwatnya, suatu fakta butanya mata hatinya, sebab ia telah mengutamakan bayangan dari pada hakikat, mengutamakan yg sementara dan meninggalkan keabadian, mengutamakan yg dapat binasa dari pada yg tetap kekal untuk selama-lamanya.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Sungguh mengherankan! Orang yg ingin menghindari Allah dengan tidak melakukan apa yg sudah ditetapkan-Nya untuknya dan lebih suka mencari dunia dan perkara² selain-Nya karena mengikuti hawa nafsu. 

Tindakan seperti ini bersumber dari kebutaan mata hati dan kebodohannya tentang Tuhannya karena ia menukar sesuatu yg teramat baik dengan sesuatu yg hina. Ia juga lebih mengutamakan yg fana daripada yg kekal dan tak bisa dihindarinya. Sekiranya ia memiliki mata hati yg tajam, niscaya ia takkan melakukan hal itu. Wallaahu a’lam

52. Pindahlah Dari Alam (Makhluk) Kepada Pencipta Alam (1)

Hikmah 52 dlm al-Hikam:

“Pindahlah Dari Alam (Makhluk) Kepada Pencipta Alam”

لاَتـَرْحَلْ منْ كوْنٍ الىَ كَونٍ فَتَكُونَ كَحِماَر سلرَّحىٰ يَسِيْرُ وَالمكانُ الَّذِىْ ارْتَحَلَ اليهِ هُوَالَّذي ارْتـَحلَ مِنهُ ولٰكِنْ ارْحَلْ من الاَكوَانِ الى المُكَوِّنِ. وَاِنَّ الىٰ رَبِّكَ المُنْتَهٰى

Jangan berpindah dari satu alam (makhluk) ke alam (makhluk) yg lain, berarti sama dengan himar [keledai] yg berputar di sekitar penggilingan, ia berjalan menuju ke tempat tujuan, tiba² itu pula tempat yg ia mula² berjalan dari padanya, tetapi hendaklah engkau pergi dari semua alam menuju kepada Pencipta alam; Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan.

Keadaan orang yg tidak dapat melepaskan dirinya dari syirik adalah umpama seekor keledai yg terikat dan berputar menggerakkan batu penggiling. Walaupun jauh jarak yg dijalaninya, namun dia senantiasa kembali ke tempat yg sama. Jika ia mau bebas perlulah ia melepaskan ikatannya dan keluar dari bulatan yg sempit.

Orang yg mau membebaskan dirinya dari syirik secara keseluruhan, hendaklah membebaskan perhatian hatinya dari semua perkara kecuali Allah.

Keluar dari bulatan alam dan masuk kepada Wujud Mutlak.

Jangan berpindah dari syirik yg terang ke alam syirik yg samar. Amal kebaikan yg di nodai oleh riya’, sum’ah [mengharap pujian orang], tidak dianggap oleh syari’ah [tidak di terima oleh Allah]. Dan apabila telah bersih dari semua itu, kemudian beramal karena terdorong oleh menginginkan kedudukan atau kekayaan atau karamah dunia atau akhirat, semua itu masih termasuk alam hawa nafsu, dan belum mencapai tujuan ikhlas yg bersih dari segala tujuan selain hanya kepada Allah, yakni tanpa pamrih. Karena itu selama berpindah dari alam ke alam tidak berbeda, bagaikan keledai yg berputar di sekitar penggilingan, tetapi seharusnya sekali berangkat dari alam ini, langsung menuju kepada Pencipta alam.

Karena itu Nabi Isa as. pernah berkata kepada sahabat hawariyyin: “Semua yg ada padamu dari berbagai nikmat kesenangan itu langsung dari karunia Allah kepadamu, maka manakah kiranya yg lebih besar harganya [nilainya]? Apakah pemberian-Nya ataukah yg memberi?”

”Wa Inna ila Rabbikal-muntaha”. Sesungguhnya kepada Tuhanmu itulah puncak segala tujuan. Sebab barangsiapa yg telah mendapatkan Allah, berarti telah mencapai segala sesuatu, baik urusan dunia mau pun urusan akhirat. Wallaahu a’lam

53. Pindahlah Dari Alam (Makhluk) Kepada Pencipta Alam (2)

Hikmah 53 dlm al-Hikam:

وَانْظـُرْ الٰى قَولهِ صلَي اللهُ عليهِ وَسَلَّمَ : فمَنْ كاَنَتْ هِجْرَتُهُ الىَ اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرَتهُ الى اللهِ وَرَسُولهِ. ومن كاَنَتْ هِجْرَتُهُ الىَ دُنْياَ يُصِيبُهاَ اَوِامْرَأَةٍ يَتزَوَّجُهاَ فَهِجرَتهُ الٰي ما هاَجَرَ اِليهِ. فاَفْهَم قولَهُ عَلَيهِ الصَّلاةُ والسَّلامُ وَتأمَّلْ هٰذاَ الاَمرَاِنْ كُنْتَ ذاَفهْمٍ

Dan perhatikan sabda Nabi Saw.: ‘Maka barangsiapa yg berhijrah menuju kepada Allah dan Rasul-Nya [menurut perintah Allah dan Rasul-Nya], maka hijrahnya akan diterima oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yg berhijrah karena kekayaan dunia, dia akan mendapatkannya, atau karena perempuan yg akan dinikahi, maka hijrahnya terhenti pada apa yg ia hijrah kepadanya. Camkanlah sabda Nabi Saw.  ini dan perhatikanlah persoalan ini jika engkau mempunyai kecerdasan faham.

Hikmah ini adalah lanjutan dari Kalam Hikmah yg lalu. Keluar dari satu hal kepada hal yg lain adalah hijrah juga namanya.

Dan yg utama dalam hadits ini ialah sabda Nabi Saw., bahwa hijrah yg tidak dengan niat ikhlas kepada Allah akan terhenti pada tujuan yg sangat rendah dan tidak berarti, dan tidak akan mencapai keridhaan Allah. Seseorang minta nasehat kepada Syaikh Abu Yazid al-Busthami qs., maka berkata Syaikh Abu Yazid, “Jika Allah menawarkan kepadamu akan diberi kekayaan dari Arsy sampai ke bumi, maka katakanlah, Bukan itu ya Allah, tetapi hanya Engkau ya Allah tujuanku.”

Syaikh Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Andaikan aku di suruh memilih antara masuk surga Jannatul-Firdaus dengan shalat dua rakaat, niscaya saya pilih shalat dua rakaat. Sebab di dalam surga, saya dengan bagianku, dan dalam shalat aku dengan Tuhanku.”

Asy-Syibli ra. berkata: “Berhati-hatilah  dari ujian Allah, walaupun dalam perintah, “Kulu wasyarabu” [makan dan minumlah]. Sebab dalam pemberian nikmat itu ada ujian untuk diketahui, siapakah yg silau dan lupa kepada-Nya setelah menerima nikmat, dan siapa yg tetap pada-Nya sebelum dan sesudah menerima nikmat.”
Seorang penyair berkata: “Dia shalat dan puasa karena sesuatu yg diharapkan, sehingga setelah tercapai urusannya, dia tidak shalat dan puasa.”

54. Memilih Sahabat (1)

Hikmah 54 dlm al-Hikam:

“Memilih Sahabat”

لاَتصْحَبْ من لاَيُنْهِضُكَ حالهُ ولاَ يَدُلُّكَ علَى اللهِ مقاَلهُ

Jangan bersahabat dengan seseorang yg tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, amal kelakuannya dan kata²nya tidak membimbing engkau ke jalan Allah.

Dalam hadits:

“Seseorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, maka lihatlah saudaramu dengan siapakah harus didekati sebagai teman.”

Sufyan ats-Tsaury berkata: “Barangsiapa yg bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan barangsiapa mengikuti mereka, harus menjilat pada mereka, dan barangsiapa yg menjilat kepada mereka, maka ia binasa seperti mereka.”

Sahl bin Abdullah berkata: Berhati-hatilah [jangan] bersahabat dengan tiga macam manusia:

1. Pejabat pemerintah yg dzalim [kejam]. 2. Ahli quraa’ yg pejilat.

3. Sufi gadungan [yg bodoh tentang hakikat tasawuf].

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata: “Sejahat-jahat teman yg memaksa engkau bermuka-muka [menjilat] dan memaksa engkau minta maaf, atau selalu mencari alasan.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Seorang murid dilarang berteman dengan orang semacam itu sekalipun orang itu adalah ahli ibadah atau ahli zuhud karena dianggap tidak ada gunanya. Sebaliknya, kau disarankan berteman dengan orang yg membuatmu bersemangat dan ucapannya membimbingmu ke jalan Allah. 

Misalnya, orang yg tekadnya tinggi yg senantiasa bergantung kepada Allah, jauh dari makhluk, atau dalam setiap kebutuhannya tidak bertumpu kecuali kepada Allah dan dalam setiap perkara tidak bertawakal kepada selain-Nya sehingga di matanya seluruh manusia tak berarti apa², tidak bisa mendatangkan bahaya ataupun manfaat. Bahkan, ia menganggap dirinya sendiri rendah dan tak berguna, tidak mampu berbuat sesuatu, dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dalam setiap amalnya, ia tetap berjalan pada jalur syara’, tanpa melebih-lebihkannya atau menguranginya. Inilah sifat orang² ‘arif yg mengenal Allah. 

Menemani orang² seperti itu, walaupun ibadahnya sedikit dan amalan sunnahnya tidak banyak, amat dianjurkan bagi seorang murid karena banyak mendatangkan manfaat, baik dari sisi agama maupun dunia sebab manusia selalu mengikuti tabiat manusia lain.

Adapun orang² yg tidak memiliki sifat² di atas, kita hanya diperbolehkan bergaul dengan mereka secara lahir, tidak lebih, karena tidak ada gunanya bergaul dengan mereka. Jika mereka sederajat denganmu, pergaulanmu dengan mereka tidak akan mendatangkan bahaya apa² bagimu. Namun, jika derajat mereka berada di bawahmu, Syaikh Ibnu Atha‘illah memberikan nasihatnya melalui hikmah berikut. Wallaahu a’lam

55. Memilih Sahabat (2)

Hikmah 55 dlm Al-Hikam:

رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيـْءـاً فأراكَ الاِحْساَنَ مِنْكَ صُحْبَتَكَ كمن هُوَ اَسْوَءُ حالاًمِنْكَ

Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik di matamu karena persahabatanmu dengan orang yg lebih buruk daripada dirimu.

Bersahabat dengan yg lebih rendah budi pekerti [iman]-nya itu, sangat berbahaya, sebab persahabatan itu pengaruh mempengaruhi, percaya mempercayai, sehingga dengan demikian sulit sekali untuk dapat melihat atau mengoreksi kesalahan sahabat yg kita sayangi bahkan kesetiaan sahabat akan membela kita dalam kekeliruan, kesalahan dan dosa, yg dengan itu kamu pasti akan binasa karenanya. Sedang seseorang tidak dapat mengoreksi diri sendiri, kecuali dengan kacamata orang lain, tetapi jika justru kacamata orang lain itu pula mengelabui kita, maka bahayalah yg pasti menimpa kepada kita.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Artinya, berteman dengan orang yg kualitas kebaikannya berada di bawahmu amat berbahaya karena bisa menyamarkan aib dan kekuranganmu. Akibatnya, kau akan selalu berbaik sangka terhadap dirimu sendiri. Kau bangga dengan amalmu dan merasa puas dengan kondisimu sehingga kau rela hati dan selalu melihat kebaikan²mu. Itu adalah pangkal segala keburukan. 

Boleh saja kau berteman dengan orang yg keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah asalkan orang itu sederajat denganmu agar pertemananmu dengannya tidak membahayakanmu. 

Di sini Syaikh lbnu Atha’illah ingin menjelaskan bahwa pertemanan dengan orang² ‘arif terbagi menjadi dua: pertemanan yg didasari keinginan dan pertemanan yg mengharap berkah. 

Pertemanan yg didasari keinginan ialah pertemanan yg harus memenuhi syarat²nya. Kesimpulannya, keberadaan seorang murid dengan Syaikh atau Gurunya seperti seonggok mayat di tangan para pemandi mayat. 

Adapun pertemanan untuk mengharap berkah ialah pertemanan yg tujuannya masuk ke satu kaum dan berpakaian dengan pakaian mereka, serta tunduk pada peraturan mereka. Di sini tidak perlu ada syarat² pertemanan. Yg paling penting adalah bagaimana ia berpegang pada batasan² syara’. Diharapkan dari pertemanannya dengan kaum itu, ia akan mendapatkan berkah mereka dan bisa sampai ke maqam yg telah mereka raih. Wallaahu a’lam

56. Zahid Dan Roghib

Hikmah 56 dlm Al-Hikam:

“Zahid Dan Roghib”

ماَقـَلَّ عَملٌ بَرَزَ من قلْبٍ زاَهِدٍ ولاكَثـُرَ عملٌ بَرَزَ من قلبٍ رَاغِبٍ

“Tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yg dilakukan dengan hati yg zuhud, dan tidak dapat dianggap banyak amal yg dilakukan oleh seseorang yg cinta dunia.”

Kita telah diajarkan keluar dari alam kepada Pencipta alam, berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita diajar supaya memilih sahabat yg dapat membangkitkan semangat untuk berjuang pada jalan Allah dan berbuat taat kepada-Nya. Hikmah ini memberi gambaran apakah hijrah ruhani itu akan berhasil atau gagal. Alat untuk menilainya ialah dunia. Bagaimana kedudukan dunia di dalam hati akan mempengaruhi perjalanan keruhanian.

Ukuran amal itu menurut hati orang yg beramal, apabila amal itu dilakukan orang yg zuhud (hatinya tidak tergantung pada dunia), walaupun kelihatan sedikit akan tetapi hakikatnya banyak. Karena zahid itu amalnya bisa selamat dari penyakit yg menjadikan amalnya tertolak, seperti riya’ mencari kepentingan dunia, tidak karena Allah, dll. Sebaliknya amal orang yg roghib (cinta/rakus dunia) amalnya tidak selamat dari penyakit² tersebut.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata: “Tumpahkan semua hasrat keinginanmu itu kepada usaha untuk diterimanya amal perbuatanmu, sebab tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yg diterima oleh Allah.”

Allah berfirman: “Innamaa yataqobbalullaahu minal muttaqiina” [Sesungguhnya Allah hanya menerima amal perbuatan dari orang yg bertakwa], ikhlas baginya, dan tepat menurut ajaran-Nya.

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: “Dua raka’at yg dilakukan oleh seorang ‘alim yg mengerti dan ikhlas [tidak tamak/rakus kepada dunia], lebih baik dari ibadah orang² ahli ibadah sepanjang masa tapi masih cinta dunia.”

Abu Sulaiman ad-Darani ra. bertanya kepada Ma’ruf al-Karkhi ra.: “Mengapakah orang² itu kuat taat sampai sedemikian rupa banyaknya? Jawabnya, ‘Karena mereka telah membersihkan hati mereka dari pada cinta dunia, andaikata masih ada sedikit cinta dunia, tidak akan diterima dari mereka amal perbuatan itu’.”

Seorang sholeh mengeluh kepada Abu Abdillah al-Qurasyi ra., bahwa ia telah berbuat berbagai amal kebaikan, tetapi belum bisa merasakan kelezatan amal kebaikan itu dalam hatinya. Jawab Abu Abdullah al-Qurasyi ra., ”Karena engkau masih memelihara putri iblis, yaitu kesenangan dunia, dan lazimnya seorang ayah itu selalu berziarah kepada putrinya.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Seorang zahid adalah orang yg tidak bergantung pada dunia. Amalnya, walaupun secara kasat mata tampak sedikit, secara maknawi amatlah banyak karena terbebas dari cacat dan kekurangan yg membuat amal itu tidak diterima, seperti berniat riya’, pura² di hadapan manusia, mengharap keuntungan duniawi, atau tanpa kehadiran hati di hadapan Tuhan. 

Sementara itu, amal yg bersumber dari hati yg tamak terhadap dunia, walaupun secara kasat mata amal itu terlihat banyak, secara maknawi amal itu dianggap sedikit karena tidak terbebas dari hal² yg mengotori dan mengurangi nilainya. 

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra., ”Dua raka’at (shalat sunnah) dari seorang zahid yg ‘alim lebih baik daripada ibadah para ‘abid dan mujtahid sepanjang hidup mereka.”

57. Kedudukan Amal, Ahwal Dan Maqam Inzal

Hikmah 57 dlm Al-Hikam:

“Kedudukan Amal, Ahwal Dan Maqam Inzal”

حُسْنُ الاَعماَلِ نَتَاءِجُ حُسْنِ الاَحوالِ وَحُسنُ الاَحوَالِ منَ التـَّحَققِ فىِ مقاَماَتِ الاِنْزالِ

Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya Ahwal, dan baiknya Ahwal itu sebagai hasil dari kesungguhan istiqamah pada maqam inzal (apa yg diperintah oleh Allah).

Hikmah yg lalu mengaitkan nilai amal dengan zuhud hati terhadap dunia. Hati yg menerima cahaya Nur Ilahi akan mendapat pengalaman keruhanian yg dinamakan ahwal (hal²). Ahwal yg menetap pada hati dinamakan maqam.

Maqam Inzal yaitu: pengetahuan/ilmu yg berhubungan dengan Ketuhanan Allah Ta’ala, yg oleh Allah diberikan kepada hati hambanya, supaya hamba tidak mengaku-aku, tidak karena surga atau takut neraka.

Jadi baiknya Amal itu muncul dari baiknya Ahwal, baiknya Ahwal itu muncul dari maqom inzal/ilmu yg diberikan oleh Allah.

Amal yg baik itu hanya yg diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada Allah, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar² kedudukan dirinya terhadap Tuhannya.

Imam Al-Ghazali berkata: “Tiap tingkat dalam kepercayaan/keyakinan itu mempunyai ilmu, dan Hal [perasaan] dan amal perbuatan;

Ilmu-yaqin [keyakinan yg didapat dari pengertian teori pelajaran]. Ainul-yaqin [keyakinan yg didapat dari fakta² lahir setelah terungkap/terbuka]. Haqqul-yaqin [keyakinan yg benar² langsung dari Allah, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yg hakiki.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Amal terbaik adalah amal yg terbebas dari faktor² yg membuat sebuah amal tidak diterima, seperti riya’ dan mengharap keuntungan duniawi. Amal yg lebih baik lagi adalah amal yg dikerjakan dengan hati yg senantiasa hadir di hadapan Allah dan tidak peduli dengan bisikan² setan. 

Ahwal (keadaan batin) terbaik adalah ahwal yg tergambar dalam bentuk sikap zuhud terhadap dunia dan ikhlas kepada Allah. Misalnya, dengan meniatkan amal untuk ‘ubudiyah kepada-Nya semata, bukan untuk mencari pahala. Ahwal ini didapat dari kemapanan maqam² yg diturunkan ke dalam hati yg bentuknya berupa makrifat ilahiah yg menyebabkan seseorang mengabaikan segala keinginan, baik itu keinginan masuk surga maupun keinginan selamat dari neraka. 

Jika seorang murid berhasil meraih itu, ia akan merasa melihat Tuhannya dengan hatinya. Dengan begitu, dalam amalnya, ia tidak berharap selain Allah. Buahnya, amalnya akan terbebas dari segala faktor yg membuat amal tidak diterima. Hikmah ini merupakan dalil dan penegas hikmah sebelumnya. 

Karena sifat² terpuji, biasanya, tidak tumbuh kecuali dari banyaknya dzikir, Syaikh Ibnu Atha’illah menyampaikan demikian. Wallaahu a’lam

58. Dzikir adalah Jalan Terdekat Menuju Allah

Hikmah 58 dlm al-Hikam:

“Dzikir adalah Jalan Terdekat Menuju Allah”

لاَتتـْرُكِ الذِكْرَ لِعَدَمِ حُضوُرِكَ مَعَ اللهِ فيهِ لاَنَّ غفلَتَكَ عن وُجُودِ ذِكرِهِ أَشَدُّ من غَفلَتِكَ فى وُجوُدِ ذِكرِهِ فعَساَهُ أَنْ يَرْفَعَكَ من ذِكرٍ مع وجودِغَفلَةٍ إلى ذِكرٍ معَ وُجودِ يَقظةٍ ، ومن ذكرٍ معَ وُجودِ يَقظةٍ إلى ذِكرٍ معَ وُجودِ حُضوُرٍ، ومن ذكرٍ معَ وُجودِ حُضوُرٍ إلى ذِكرٍ معَ وُجودِ غـَيْبَةٍ عمَّا سِوىَ المَذكـُورِ وَماَ ذٰلكَ على اللهِ بِعَزِيزِ

“Jangan meninggalkan dzikir, karena engkau belum bisa selalu ingat kepada Allah di waktu berdzikir, sebab kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir itu lebih berbahaya dari pada kelalaianmu terhadap Allah ketika kamu berdzikir.” Semoga Allah menaikkan derajatmu dari dzikir dengan kelalaian, kepada dzikir yg disertai ingat terhadap Allah, kemudian naik pula dari dzikir dengan kesadaran ingat, kepada dzikir yg disertai rasa hadir, dan dari dzikir yg disertai rasa hadir kepada dzikir hingga lupa terhadap segala sesuatu selain Allah. Dan yg demikian itu bagi Allah tidak berat [tidak sulit].”

Empat keadaan yg berkaitan dengan dzikir:

1. Berdzikir dalam keadaan hati tidak ingat kepada Allah.

2. Berdzikir dalam keadaan hati yg ingat kepada Allah.

3. Berdzikir dengan disertai rasa kehadiran Allah di dalam hati.

4. Berdzikir dalam keadaan fana’ dari makhluk, lenyap segala sesuatu dari hati, hanya Allah saja yg ada.

Seorang salik tidak boleh meninggalkan dzikir, disebabkan karena hatinya belum bisa ingat/menghadap kepada Allah, akan tetapi ia harus tetap selalu berdzikir walaupun hatinya masih belum bisa khudhur (hadir di hadirat Allah).

Karena orang yg meninggalkan dzikir itu jauh dengan Allah, hati dan lisannya. Berbeda dengan orang yg mau berdzikir, meskipun hatinya masih jauh dengan Allah karena belum bisa mengingat Allah waktu berdzikir, tapi lisannya dekat dengan Allah.

Karena tidaklah sulit bagi Allah untuk mengubah suasana hati hamba-Nya yg berdzikir dari suasana yg kurang baik kepada yg lebih baik hingga mencapai yg terbaik. Menaikkan satu tingkat [derajat] kelain tingkat [derajat], dzikir adalah satu²nya jalan yg terdekat menuju kepada Allah, bahkan sangat mudah dan ringan.

Syaikh Abul Qasim al-Qusyairi qs. berkata: “Dzikir itu simbol wilayah (kewalian), dan pelita penerangan untuk sampai ke Hadirat Allah, dan tanda sehatnya permulaannya, dan menunjukkan jernihnya akhir puncaknya, dan tiada suatu amal yg menyamai dzikir, sebab segala amal perbuatan itu ditujukan untuk berdzikir, maka dzikir itu bagaikan jiwa dari segala amal. Sedang kelebihan dzikir dan keutamaannya tidak dapat dibatasi.”

Allah Ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, berdzikirlah (ingatlah) kamu kepada-Ku niscaya Aku berdzikir (ingat pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah (2): 152)

Dalam hadits Qudsi, Rasulullah Saw. bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

“Aku selalu mengikuti sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia berdzikir (mengingat) dalam dirinya. Aku pun berdzikir padanya dalam dzat-Ku dan jika ia berdzikir pada-Ku di keramaian, maka Aku pun berdzikir padanya dalam keramaian yg lebih baik dari pada kelompoknya, dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya berjalan cepat.”

Abdullah bin Abbas ra. berkata: “Tidak ada suatu kewajiban yg diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya melainkan ada batas²nya, kemudian bagi orang² yg berudzur dimaafkan jika ia tidak dapat melakukannya, kecuali dzikir, maka tidak ada batas dan tidak ada udzur yg dapat diterima untuk tidak berdzikir, kecuali jika berubah akal [gila].

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيٰمًا وَقُعُودًا وَعَلٰى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بٰطِلًا سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang² yg berdzikir (mengingat) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia², Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali-‘Imran (3): 191)

Firman Allah: “Wahai orang² yg beriman, berdzikirlah [ingatlah] kamu kepada Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

Yakni pagi, siang, sore, malam, di darat, di laut, di udara, dalam perjalanan [musafir], berdiam diri pada semua tempat dan waktu, bagi yg kaya, miskin, sehat, sakit, terang²an atau sembunyi dengan lisan atau hati dan pada tiap keadaan.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Biasakan selalu berdzikir karena dzikir adalah jalan terdekat menuju Allah dan tanda wujud kekuasaan-Nya. Siapa yg diberi kesempatan berdzikir berarti ia telah diberi sebagian kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, jangan tinggalkan dzikir. Jangan kau tinggalkan dzikir lantaran merasa tidak bisa berkonsentrasi saat dzikir akibat terlalu di sibukkan dengan bisikan² setan dan hal² duniawi. Kelalaianmu untuk berdzikir kepada-Nya lebih buruk daripada kelalaianmu saat berdzikir. Karena meninggalkan dzikir sama saja menjauhkan diri dari Allah, baik secara hati maupun lisan. Berbeda halnya dengan lalai saat berdzikir, meski hatimu jauh dari-Nya, lisanmu tetap dekat dengan-Nya. Oleh karena itu, kau tetap harus berdzikir kepada Allah walaupun hatimu lalai saat dzikir. 

Semoga Allah menuntunmu dari dzikir yg disertai kelalaian menuju dzikir yg disertai kesadaran dan konsentrasi; dari dzikir yg disertai kesadaran hati menuju dzikir yg mengantarkan hati masuk ke hadirat Ilahi, sehingga kau merasa melihat-Nya saat berdzikir dan tidak lalai dari-Nya; dari dzikir yg disertai kehadiran hati, menuju dzikir yg meniadakan segala hal selain Allah, termasuk dzikir itu sendiri sehingga tanpa disadarinya, ia keluar dari dzikirnya. Pada saat itulah, Tuhannya akan menjadi lisan yg digunakannya untuk berbicara. Saat bergerak pun, tangan Tuhannyalah yg bergerak. Saat mendengar, Tuhannyalah yg menjadi pendengarannya. 

Mungkin, kondisi seperti itu tampak tidak masuk di akal, tetapi itu benar² terjadi. Kondisi seperti itu hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh para salik. Sekalipun demikian, para ulama sepakat untuk mempercayai dan meyakininya. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mendustakannya sehingga kau akan binasa bersama orang² yg binasa. 

Dalam hikmah ini, Syaikh Ibnu Atha‘illah juga melarang seorang murid untuk putus asa dan merasa tidak mungkin sampai pada maqam semacam itu. Maka dari itu, ia pun menyitir firman Allah, ”Dan yg demikian itu bagi Allah tidaklah sukar, ” (QS. Ibrahim (14): 20) karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seorang murid hanya wajib melaksanakan sebab², sedangkan hasilnya menjadi urusan Allah. Wallaahu a’lam

59. Tanda Hati Yang Mati

Hikmah 59 dlm Al-Hikam:

“Tanda Hati Yang Mati”

مِنْ علاَماَتِ مَوْتِ القلبِ عَدَمُ الحُزنِ على ماَ فاَتكَ منَ المُواَفَقاَتِ وَتركُ النَّدَمِ علىَ ما فَعلتهُ من الزَّلاَّتِ.

Sebagian dari pada tanda matinya hati, yaitu jika tidak merasa sedih [susah] karena tertinggalnya suatu amal [perbuatan] kebaikan [kewajiban], juga tidak menyesal jika terjadi berbuat pelanggaran dosa.

Pada hikmah sebelumnya diterangkan supaya jangan meninggalkan dzikir walaupun hati belum bisa hadir ketika berdzikir. Begitu juga dengan ibadah dan amal kebaikan. Janganlah meninggalkan ibadah lantaran hati tidak khusyuk ketika beribadah dan jangan meninggalkan amal kebaikan lantaran hati belum ikhlas dalam melakukannya. Khusyuk dan ikhlas adalah sifat hati yg sempurna. Dzikir, ibadah dan amal kebaikan adalah cara² untuk membentuk hati agar menjadi sempurna. Hati yg belum mencapai tahap kesempurnaan dikatakan hati itu berpenyakit. Jika penyakit itu dibiarkan, tidak diambil langkah mengobatinya, pada satu masa, hati itu mungkin akan mati. Matinya hati berbeda dengan mati tubuh badan. Orang yg mati tubuh badan ditanam di dalam tanah. Orang yg mati hatinya, tubuh badannya masih sehat dan dia masih berjalan ke sana kemari dimuka bumi ini.

Manusia menjadi istimewa karena memiliki hati ruhani. Hati mempunyai nilai yg mulia yg tidak dimiliki oleh akal fikiran. Semua anggota dan akal fikiran menuju kepada alam benda sementara hati ruhani menuju kepada Pencipta alam benda. Hati mempunyai persediaan untuk beriman kepada Tuhan. Hati yg menghubungkan manusia dengan Pencipta. Hubungan dengan Pencipta memisahkan manusia dari daerah kehewanan dan mengangkat derajat mereka menjadi makhluk yg mulia. Hati yg cerdas, sehat dan dalam keasliannya yg murni, berhubung erat dengan Tuhannya. Hati itu membimbing akal fikiran agar akal fikiran dapat berfikir tentang Tuhan dan makhluk Tuhan. Hati itu membimbing juga kepada anggota tubuh badan agar mereka tunduk kepada perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Hati yg bisa mengalahkan akal fikiran dan anggota tubuh badannya serta mengarahkan mereka berbuat taat kepada Allah adalah hati yg sehat.

Dalam suatu hadits Rasulullah Saw.  bersabda:

“Barangsiapa yg merasa senang oleh amal kebaikannya, dan merasa sedih/menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia seorang mukmin.”

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: ”Ketika kami dalam majelis Rasulullah Saw., tiba² datang seseorang yg turun dari kudanya dan mendekati Rasulullah Saw.  sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya telah melelahkan kudaku selama sembilan hari, maka saya jalankan terus menerus selama enam hari, tidak tidur di waktu malam dan puasa pada siang hari, hingga lelah benar kuda ini, demi hanya untuk menanyakan kepadamu dua masalah yg telah merisaukan hatiku hingga tidak dapat tidur’. Rasulullah Saw.  bertanya, ‘Siapakah engkau?’ Jawab orang itu, ‘Zaidul-Khoir’ Berkata Rasulullah Saw., ‘ Wahai Zaidul-Khoir, bertanyalah kemungkinan sesuatu yg sulit, yg belum pernah ditanyainya’ . Berkata Zaidul-Khoir, ‘Saya akan bertanya kepadamu tanda² orang yg disukai dan yg dimurkai?’ Jawab Rasulullah Saw., ‘Untung, untung, bagaimanakah keadaanmu saat ini wahai Zaid?’ Jawab Zaid, ‘Saya saat ini, suka kepada amal kebaikan dan orang² melakukan amal kebaikan, bahkan suka akan tersebarnya amal kebaikan itu, dan bila aku ketinggalan merasa menyesal dan rindu pada kebaikan itu, dan bila aku berbuat amal sedikit atau banyak, tetap saya yakin pahalanya’. Jawab Rasulullah Saw., ‘Ya itulah dia, andaikan Allah tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan yg lain daripada itu, dan tidak peduli di jurang yg mana engkau akan binasa’. Berkata Zaid, ‘Cukup wahai Rasulullah, lalu ia kembali ke atas kudanya, kemudian ia berangkat pulang’.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Tanda hidupnya hati ialah memancarnya cahaya Ilahi dari hatimu meskipun kau belum mendapatkan cahaya itu karena tebalnya hijabmu. 

Kesedihanmu atas ketaatan yg terlewatkan dan penyesalanmu atas kesalahan yg telah kau lakukan atau kebahagiaanmu atas amal² baikmu dan kesedihanmu atas amal² burukmu membuktikan bahwa kau termasuk ahli iradah (orang yg dikehendaki dan dicintai Allah). Oleh karena itu, giatlah dalam beramal shaleh dan jangan malas!

Wallaahu a’lam

60. Dosa Dan Khusnudzan (1)

Hikmah 60 dlm Al-Hikam:

“Dosa Dan Khusnudzan”

لاَ يُعظَمُ الذنبُ عِندَكَ عظمَةً تَصُدُّكَ عَنْ حُسنِ الظنِّ بِاللهِ ، فَاِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اِسْتَسغَرَ فىِ جَنْبِ كرَمِحِ ذ َنْبُهُ

Jangan sampai dosa yg kau anggap besar menghalangimu untuk berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Siapa yg mengenal Tuhannya akan menganggap dosanya kecil jika dibandingkan dengan kemurahan-Nya.

Merasa besarnya suatu dosa itu baik, jika menimbulkan rasa akan bertaubat dan niat untuk tidak mengulanginya untuk selama-lamanya. Tetapi jika merasa besarnya dosa itu akan menyebabkan putus dari rahmat Allah, merasa seakan-akan rahmat dan ampunan Allah tidak akan didapatnya, maka perasaan itu lebih berbahaya baginya dari dosa yg telah dilakukannya, sebab putus asa dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang² kafir.

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: “Seorang mukmin melihat dosanya bagaikan gunung yg akan menimpanya, sedang orang munafiq melihat dosanya bagaikan lalat yg hinggap di ujung hidungnya, maka diusirlah ia dengan tangannya.”

Rasulullah Saw. telah bersabda: “Demi Allah yg jiwaku ada di tangan-Nya, andaikan kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mematikan kamu, dan mendatangkan suatu kaum yg berbuat dosa lalu istighfar (minta ampun) dan di ampunkan bagi mereka itu.”

Rasulullah Saw. bersabda: “Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mukmin dari pada ujub (mau di agung²kan karena amal kebaikannya), maka Allah tidak akan membiarkan seorang mukmin berbuat dosa untuk selamanya.”

Sebab ujub itu menjauhkan seorang hamba dari Allah, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Allah. Dan ujub, merasa besar diri, sedang dosa merasa kecil dan rendah diri di sisi Allah.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Jangan kau anggap dosa yg kau lakukan itu besar dan tidak mungkin di ampuni sehingga membuatmu putus asa dari rahmat Tuhanmu. Anggapan semacam itu termasuk sikap tercela dan dapat merusak keimanan. Sikap itu bahkan lebih buruk daripada dosa yg kau lakukan. 

Hal itu mencerminkan ketidaktahuanmu tentang Tuhanmu dan memperlihatkan bahwa kau mengandalkan diri sendiri di hadapan Tuhanmu. Siapa yg mengenal Tuhannya dengan baik tentu akan mengetahui dosa apa saja yg tidak ada ampunan dan maafnya. 

Lain halnya jika anggapan itu mendorong pelakunya untuk bertobat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Ini adalah anggapan yg terpuji dan merupakan tanda keimanan seorang hamba. 

Ada yg berkata: “Semakin ketaatan seseorang dianggap kecil maka ia semakin besar di sisi Allah. Semakin maksiat dianggap besar maka ia akan semakin kecil di sisi-Nya.”

Wallaahu a’lam

61. Dosa Dan Khusnudzan (2)

Hikmah 61 dlm Al-Hikam:

لاصغيرة اذاقابلك عدله ولاكبيرة اذاواجهك فضله

Tidak ada dosa kecil jika kau dihadapkan pada keadilan-Nya dan tidak ada dosa besar jika kau dihadapkan pada karunia-Nya.

Yg dinamakan Adil yaitu: pelaksanaan hukum Allah di dalam kerajan-Nya yg tidak ada yg menentangnya. Apabila sifat adilnya Allah itu dilaksanakan pada orang yg di benci Allah, maka batal semua kebaikannya, dan dosa kecilnya akan menjadi dosa besar.

Yg dinamakan Fadhol yaitu: pemberian Allah kepada hamba-Nya yg tidak ada balasannya. Apabila sifat Fadholnya Allah diberikan pada hamba yg dicintai-Nya, dosa dan kesalahan yg besar akan di anggap kecil oleh Allah.

Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada dosa besar jika disertai dengan istighfar (minta ampun), dan tidak dapat di anggap dosa kecil jika dikerjakan terus menerus.”

Yahya bin Mu’adz ra. dalam berdoa ia berkata: “Tuhanku, jika Engkau kasihan kepadaku, Engkau ampunkanlah semua dosaku, tetapi jika Engkau murka kepadaku, tidaklah Engkau terima amal kebaikanku.”

Syaikh Abu Hasan as-Syadzili ra. berkata dalam doanya: “Ya Rabbi, semoga amal jelekku Engkau jadikan seperti amal jeleknya orang yg engkau cintai, dan amal kebaikanku jangan engkau jadikan seperti kebaikannya orang yg engkau benci.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Ketika keadilan Allah berbicara, semua dosa adalah besar. Keadilan Allah adalah kuasa-Nya untuk melakukan apa saja, tanpa ada yg bisa menahan dan melarang-Nya. Jika sifat adil Allah muncul di hadapan orang yg dibenci-Nya, kebaikan² orang itu akan diabaikan dan dosa² kecilnya akan dipandang besar. 

Adapun karunia Allah adalah pemberian-Nya tanpa berharap balasan dan ganti. Jika karunia itu diberikan kepadamu, dosamu akan menjadi kecil. Jika sifat murah hati-Nya muncul di hadapan orang yg dicintai-Nya, semua kesalahan dan keburukannya akan di abaikan, sedangkan dosa besarnya akan dipandang kecil. Wallaahu a’lam

62. Amal Yang Bernilai di Sisi Allah

Hikmah 62 dlm Al-Hikam:

“Amal Yang Bernilai di Sisi Allah”

لاَ عمَلَ اَرْجٰى للِْقبُولِ من عملٍ يَغيْبُ عَنكَ شُهُودُهُ وَيُحتَقَرُّ عَنْكَ وُجوُدُهُ

Tidak ada amal kebaikan yg dapat diharapkan diterima oleh Allah, melebihi dari amal yg terlupa olehmu adanya dan kecil dalam pandanganmu kejadiannya.

Amal kebaikan yg pasti diterima oleh Allah, yaitu jika merasa bahwa amal itu semata-mata terjadi karena taufik dan hidayah dari Allah, kemudian ia tidak membanggakan diri dengan amal itu, dan tidak merasa seakan-akan sudah cukup baik dengan adanya amal itu.

Karena amal itu telah ditujukan kepada keridhoan Allah, maka tidak usah di ingat² lagi. Sebab barangsiapa yg merasa sudah beramal, sesungguhnya jarang sekali yg tidak merasa ujub/arogan dengan amalnya itu. Dan itu suatu bahaya bagi amal itu.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

”Amal yg tidak kau sadari” adalah amalmu yg kau yakini dibimbing dan dilakukan oleh Allah. Tanpa Allah, niscaya amal itu tidak akan kau lakukan. 

”Amal yg tidak berarti di matamu” ialah amal yg tidak kau jadikan sandaran untuk meraih sebuah keinginan, seperti keinginan untuk bisa sampai kepada Allah dan dekat dengan-Nya atau keinginan mendapatkan derajat dan kedudukan tinggi. Bahkan, kau masih memandang amal itu kurang sempurna dan tidak terbebas dari cacat yg membuatnya sulit diterima Allah. Wallaahu a’lam

63. Warid (1)

Hikmah 63 dlm Al-Hikam:

“Warid”

اِنَّماَ اَوْرَدَ عليكََ الوَارِدِ لِتَكُونَ بِهِ عليهِ واَرِداً

Sesungguhnya Tuhan memberikan kepadamu warid (yaitu ilmu pengertian atau perasaan dalam hati, sehingga mengenal dan merasa benar² akan kebesaran karunia Allah), hanya semata-mata supaya engkau mendekat dan masuk kehadirat Allah.

Warid itu kadang diartikan dengan pemberian Allah pada hamba-Nya berupa ilmu laduni dan pemahaman tentang Ketuhanan Allah, yg menjadikan terang hatinya. Kadang diartikan ber-tajalli-nya Allah pada hati hamba, meskipun si hamba tidak bisa merasakan karena terlalu tebalnya sifat kemanusiaannya. Dan juga bisa disamakan dengan Ahwal. Jadi warid dengan hal itu sama artinya.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Yg dimaksud dengan ”ilham” adalah ilmu dan cahaya pengetahuan yg datang dari Allah, cahaya yg membuat hati lapang dan bersinar terang. Dengannya, hati bisa melihat kebenaran sebagai kebenaran dan melihat kebathilan sebagai kebathilan. Ilham ini juga merupakan penampakan Ilahi yg masuk ke dalam hati meski seorang hamba tidak merasakannya karena keburukan sifat² kemanusiaannya. Terkadang, ilham disebut juga dengan hal (keadaan batin). Semuanya datang kepadamu agar kau bisa menuju ke hadirat Ilahi. Namun, untuk sampai ke hadirat Allah, hati harus bersih dan suci dari segala kekotoran. Wallaahu a’lam

64. Warid (2)

Hikmah 64 dlm Al-Hikam:

اَورَدَ عليْكَ الوَارِدَ لِيَتَسَلَّمَكَ مِنْ يَدِ الاَغْياَرِ وَلِيُحَرِّرَكَ مِنْ رَقَ الاَثاَرِ

Allah memberikan warid itu untuk menyelamatkanmu dari cengkeraman materi, dan membebaskanmu dari perbudakan hawa nafsu.

Aghyaar dan atsaar yaitu: kepentingan duniawi dan kesenangan hawa nafsu. Keduanya bagaikan orang yg ghosob (mengambil) dirimu karena kamu senang dan bergantung pada keduanya.  Lalu Allah mendatangkan warid kepadamu untuk menyelamatkan kamu dari tangan orang yg ghosob dan membebaskan kamu dari orang yg memperbudak kamu (aghyaar dan atsaar). Sehingga makhluk tidak punya bagian dan persekutuan dalam dirimu. Sehingga kamu pantas menghadap kehadirat Ilahi.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Materi dan hawa nafsu akan merampas kebebasanmu bila kau begitu mencintai dan bergantung padanya. Oleh karena itu, Allah memberimu ilham yg dapat menyelamatkanmu dari cengkeraman materi dan membebaskanmu dari perbudakan hawa nafsu. Dengan begitu, tak akan ada lagi kesempatan bagi makhluk untuk menguasaimu sehingga kau hanya pasrah kepada Allah dan layak untuk hadir ke hadapan-Nya. Wallaahu a’lam

65. Warid (3)

Hikmah 65 dlm Al-Hikam:

اَورَدَ عليْكَ الوَارِدَ لِيُخْرِجَكَ مِنْ سِجْنِ وُجُودِكَ اِلٰى فَضاَءِ شُهُودِكَ

Allah memberikan kepadamu warid untuk mengeluarkanmu dari penjara wujudmu dan membawamu ke angkasa penyaksianmu.

Dalam tiga pelajaran berkenaan dengan warid (karunia Tuhan) yg pertama diberikan kepadamu, supaya engkau ringan melakukan taat beribadah dan mendekat kehadirat Allah Ta’ala, tetapi kemungkinan kurang ikhlas, maka diturunkan warid yg kedua untuk melepaskanmu dari tujuan kepada sesuatu selain Allah, sedang warid yg ketiga untuk melepaskan dirimu dari sifat² dan wujud yg sempit kepada alam yg luas, melihat kebesaran Tuhan yg tidak terbatas sehingga lupa kepada diri dan hanya ingat kepada Allah Ta’ala semata-mata.

Syaikh Abul Qasim an-Nashrabady berkata: “Penjaramu yaitu dirimu sendiri (hawa nafsumu), kalau kamu bisa keluar dari dirimu, maka kamu akan enak selamanya.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Makna ”penjara wujud” ialah kungkungan sifat²mu yg menghambatmu menyaksikan Tuhanmu, ibarat penjara yg membatasi gerak para narapidana. 

Maksud ”angkasa penyaksian” adalah kesempatanmu menyaksikan Tuhanmu. Ia di umpamakan dengan ruang angkasa yg tiada batas dan tanpa ada yg menghalangi pandangan mata. 

Hikmah ini menegaskan bahwa pemilik warid itu hanya satu. Demikian pula buahnya, yaitu datang ke hadirat-Nya. Hikmah ini juga bisa di artikan bahwa Allah selalu melimpahkan untukmu warid agar kau sampai kepada-Nya. Dengan warid yg datang kepadamu, kau pun sibuk melakukan bermacam ketaatan dan mujahadah. Namun, di saat sifat² burukmu masih bercokol di hatimu, yg menyebabkan kau tidak ikhlas dalam beribadah, Dia akan mengirimkan warid lain yg akan menyelamatkanmu dari hal itu dan membuatmu ikhlas. 

Ketika kau ikhlas, mungkin kau akan mengandalkan keikhlasanmu itu sebagai jaminan di terimanya amalmu dan sampainya dirimu di hadapan Tuhan dengan keikhlasanmu itu. Tentu, tindakan ini adalah salah. Oleh karena itu, warid berikutnya akan datang. Dengan warid itu, kau tidak lagi melihat dirimu sendiri dan hanya melihat Tuhanmu dengan mata batinmu. Wallaahu a’lam

66. Nur, Bashirah Dan Hati

Hikmah 66 dlm Al-Hikam:

“Nur, Bashirah Dan Hati”

الاَنْواَرُ مطَايَا القُلوُبِ والاَسرَارِ

“Nur (cahaya) iman dan nur keyakinan itu sebagai kendaraan yg mengantarkan hati manusia dan asror (rahasia) ke hadirat Allah.”

Nur Ilahiyah yg diberikan Allah kepada hamba-Nya itu biasanya hasil sebab dzikir dan latihan² ruhani. Nur itu yg menjadi kendaraan hati dan sirr yg menyampaikan pada tujuannya, yaitu masuk dan taqarrub kehadirat Allah Ta’ala. Nur ini juga disebut Nur Warid.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Yg dimaksud dengan ”cahaya” di sini ialah cahaya Ilahi yg masuk ke dalam hati murid. Biasanya, cahaya ini didapat dengan dzikir dan riyadhah. “Kendaraan hati” dapat membawa hati menuju Allah hingga sampai ke hadirat-Nya dan mendekati-Nya. Adapun “rahasia jiwa” menurut kaum Sufi ialah kedalaman hati, bukan mata hati. Wallaahu a’lam

67. Cahaya adalah Tentara Hati dan Kegelapan adalah Tentara Nafsu (1)

Hikmah 67 dlm Al-Hikam:

“Cahaya adalah Tentara Hati dan Kegelapan adalah Tentara Nafsu”

النّوُرُ جُندُ القـُلوب، كَماَ أَنَّ الظُّلمَةَ جُندُ النَّفْسٍ ، فَاِذاَ أرَادَ اللهُ أَنْ يَنصُرَعَبْدَهُ، أمَدَّهُ بِجُنوُدِ الاَنْواَرِ وَقطَعَ عَنْهُ عَدَدَ الظُلمِ والاَغيَارِ

Nur (cahaya) tauhid itu sebagai pasukan (tentara) yg membantu hati, sebagaimana gelapnya syirik itu sebagai pasukan (tentara) yg membantu hawa nafsu. Maka apabila Allah menolong hamba-Nya, maka dibantunya dengan pasukan (tentara) nur Ilahi dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan.

Nur (cahaya) terang yg berupa tauhid, iman dan keyakinan itu sebagai pasukan (tentara) pembela dan pembantu hati, sebaliknya kegelapan syirik dan keraguan itu sebagai pasukan (tentara) pembantu hawa nafsu. Sesungguhnya nur tauhid dan gelapnya syirik keduanya akan selalu berperang, Apabila Allah menolong hambanya, maka Allah akan melenyapkan kegelapan syirik dan mengganti dengan nur tauhid. Seperti contoh, ketika hatimu ingin mengerjakan kebaikan sedangkan nafsumu mengajak pada perkara sebaliknya, maka keduanya akan berperang untuk saling mengalahkan. Ketika seperti itu, bagi hamba tidak ada jalan lain kecuali meminta pertolongan dan berserah diri kepada Allah. Dan disinilah terlihat jelas pengertian:

“Barangsiapa yg diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yg dapat menyesatkannya.”

“Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yg dapat menunjukinya.”

“Barangsiapa yg diberi petunjuk (hidayah) oleh Allah, maka ialah yg mendapat petunjuk (hidayah), dan barangsiapa yg disesatkan oleh Allah, maka tidak akan engkau mendapatkan pelindung atau pemimpin untuknya.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Dengan iringan tentara kalbu (cahaya), hati bisa sampai ke hadirat Allah dengan mudah dan selamat, sebagaimana seorang raja yg di iringi bala tentaranya menuju tujuannya, yaitu mengalahkan musuh. Inilah pengertian yg dapat kita petik dari hikmah di atas. 

“Kegelapan”, yg merupakan tabiat seorang hamba, dianggap sebagai bala bantuan dan prajurit nafsu yg mengiringi seorang hamba sampai kepada tujuan, yaitu meraih keduniaan. 

Perang antara hati dan nafsu akan terus berlangsung sepanjang waktu. Jika Allah ingin membantu hamba-Nya mengalahkan nafsunya, Dia akan mengirimkan bala bantuan-Nya berupa cahaya. Jika hamba itu mendapat bantuan-Nya, ia akan menyadari keburukan syahwat yg menghambatnya untuk sampai kepada Allah. Selain itu, Allah juga akan membinasakan prajurit kegelapan dan tipuan dunia yg akan membantu nafsu. 

Sebaliknya, jika Allah ingin menghinakan seorang hamba, Dia akan memberinya prajurit kegelapan. Hati yg cenderung kepada amal shaleh (misalnya, ingin berpuasa) dan nafsu yg cenderung kepada syahwat (misalnya, ingin berbuka) akan bertempur dan saling membunuh. Saat itu, cahaya dan rahmat Allah akan segera membantu hati, sedangkan kegelapan akan menolong nafsu. Saat kedua barisan pasukan itu bertemu dan pertempuran semakin sengit, tak ada jalan lain bagi seorang hamba kecuali ia harus takut kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya. Seperti itulah yg terjadi dalam setiap amal shaleh yg dikerjakannya hingga ia berhasil sampai ke hadirat Allah. Saat itu, kekuasaan nafsu akan terputus dan kalah. Wallaahu a’lam

68. Cahaya adalah Tentara Hati dan Kegelapan adalah Tentara Nafsu (2)

Hikmah 68 dlm Al-Hikam:

النُّورُ لهُ الكشفُ والبَصِيرَة ُلهُ الحكمُ والقـَلبُ لهُ الاِقباَلُ والاَدْبارُ

Nur yg diberikan Allah di dalam hati itu bisa membuka arti sesuatu yg samar/rahasia. Dan bashirah (mata hati) bisa menentukan hukum sesuatu sesuai apa yg dilihatnya, sedangkan hati yg melaksanakan atau meninggalkan sesuatu, sesuai apa yg telah dilihat oleh bashirah.

Nur Ilahi itu bisa membuka perkara yg samar dan rahasia seperti baiknya taat dan hinanya maksiat, rahasianya qodar dan lain², dan bashirah itu juga mempunyai hukum yakni bisa melihat seperti hal tersebut. Lalu kedua kasyaf itu terkadang kurang sempurna, sehingga hamba yg di karuniai kasyaf tidak boleh mengerjakan dan menceritakan hal² tersebut sebelum meminta fatwa pada hatinya.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Cahaya yg dipancarkan Allah ke dalam hati seorang murid bisa menyibak berbagai makna dan hal ghaib, seperti baiknya ketaatan dan buruknya maksiat. Mata hati bisa melihatnya. Dalam melihat makna dan hal ghaib ini, mata hati membutuhkan cahaya, seperti halnya mata biasa yg membutuhkan bantuan cahaya lentera atau matahari ketika akan melihat sesuatu. Cahaya yg dibutuhkan mata hati itu adalah cahaya batin. 

Selanjutnya, yg dilihat oleh mata hati itu akan diterima atau ditolak oleh hati. Jika mata hati melihat baiknya ketaatan, hati akan menerima dan mencintainya, lalu di ikuti oleh seluruh anggota tubuh. Bila mata hati melihat buruknya maksiat, hati akan menolak dan menjauhinya, kemudian di ikuti oleh anggota tubuh yg lain. 

Hikmah ini juga bisa di artikan bahwa cahaya bisa menyingkap misteri ghaib, seperti rahasia takdir, atau memprediksikan apa yg akan terjadi di dunia. Setelah itu, mata hati berperan melihatnya dan hati memastikannya. Terkadang penyingkapan dan penglihatan tersebut tidak sempurna. 

Oleh karena itu, seorang mukasyif (yg mampu menyingkap misteri ghaib) harus memastikan terlebih dahulu apa yg disingkapkan di hadapannya itu. Ia tidak boleh beramal hanya berdasarkan apa yg disingkapkan untuknya. Ia juga tidak boleh memprediksikan sesuatu sebelum bertanya kepada hatinya, apakah hatinya itu menerima atau menolaknya. Itulah sebabnya prediksi sebagian wali ada yg tidak terjadi. Ya, karena ia tidak memastikan terlebih dahulu apa yg disingkapkan di hadapannya itu. Wallaahu a’lam

69. Ingatlah, Ketaatan Itu Anugrah Dari Allah (1)

Hikmah 69 dlm Al-Hikam:

“Ingatlah, Ketaatan Itu Anugrah Dari Allah”

لاَ تـُفـْرِ حُكَ الطَّاعَةُ، لاَنَّهاَ بَرَزَتْ منكَ، وَافرَحْ بِهاَ لاَنَّهاَ بَرَزَتْ مِنَ اللهِ ِليكَ. قـُلْ بِفَضلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فبذٰ لكَ فَليَفْرَحُوا هُوَ خيرٌ مِمَّا يجمَعُونَ

Jangan merasa gembira atas perbuatan taat, karena engkau merasa telah dapat melaksanakannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan taat itu, karena ia sebagai karunia, taufik dan hidayag dari Allah Ta’ala kepadamu, ‘Katakanlah, dengan merasa mendapatkan karunia dan rahmat Allah, maka dengan itu hendaknya mereka bergembira. Itulah yg lebih baik dari apa yg dapat mereka kumpulkan.’ (QS. Yunus: 58)

Gembira atas perbuatan taat itu jika karena merasa mendapat kehormatan karunia dan rahmat Allah sehingga dapat melakukan taat, maka itu lebih baik. Sebaliknya jika gembira karena merasa diri sudah kuat dan sanggup melaksanakan taat, maka ini menimbulkan ujub, sombong dan kebanggaan, padahal yg demikian itulah yang akan membinasakan amal taat. Allah Ta’ala telah memperingatkan hambanya yg sombong dan ujub (mengagungkan diri) dengan firmannya dalam hadits Qudsi, Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yg mengambil salah satu dari kedua hal tersebut dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka’.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Jangan merasa senang jika kau mampu melakukan sebuah ketaatan. Sikap seperti itu adalah sikap tercela, terlarang, dan dapat membatalkan ketaatan. Yg semestinya membuatmu senang bukanlah kemampuanmu melakukan ketaatan, tetapi karena Allah telah menganugrahkan ketaatan itu kepadamu. Inilah sikap yg terpuji dan diharapkan dari seorang hamba. Inilah bentuk kesyukuran seorang hamba atas karunia tersebut. 

Syaikh Ibnu Atha‘illah mendasari hikmah itu atas firman Allah:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yg mereka kumpulkan.” (QS. Yunus (10): 58)

Ketaatan yg bisa dilakukan seorang hamba merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang Allah kepadanya. Oleh karena itu, ia patut berbahagia atas hal itu, bukan atas upayanya menjalankan ketaatan itu. Wallaahu a’lam

70. Ingatlah, Ketaatan Itu Anugrah Dari Allah (2)

Hikmah 70 dlm Al-Hikam:

قطَعَ السَّاءـرينَ لهُ، والواَصِلينَ مِنْ رُوءْيَةِ أعْمالهِمْ ، وَشُهُودِ أحْوالهِمْ. أمَّاالسّاءـرُونَ فَلاَِ َنَّهُمْ لَمْ يَتحَقــَّقوا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيهاَ. أمَّ الواَصِلوُنَ فَلاَِ َنَّهُمْ غيبهُمْ بِشُهُودِهِ عَنْهاَ

Allah membuat orang² yang tengah menuju kepada-Nya (sa’irun) dan orang² yg telah sampai kepada-Nya (washilun) tidak mampu melihat amal dan keadaan (ahwal) mereka. Karena para sa’irun belum benar2 ikhlas dalam amal mereka dan karena para washilun terlalu sibuk melihat Tuhan mereka.

Sehingga apabila ada amal perbuatan diri sendiri, maka itu hanya karunia, taufik dan rahmat Allah Ta’ala semata-mata. Tanda bahwa Allah telah memberi taufik dan hidayah pada seorang hamba, apabila disibukkan hamba itu dengan amal perbuatan taat, tetapi diputuskan dari pada ujub dan arogan dengan amal perbuatan itu, karena merasa belum tepat mengerjakannya, atau karena merasa bahwa perbuatan itu semata-mata karunia Allah, sedang ia sendiri merasa tiada berdaya untuk melaksanakan andaikan tiada karunia dan rahmat Allah Ta’ala.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Allah menghalangi pandangan para sa’irun dan washilun sehingga mereka tidak bisa melihat atau memperhatikan amal lahir dan ahwal hati mereka. Sekalipun sama² dihalangi, penyebabnya berbeda. Pandangan para sa’irun dihalangi lantaran Allah melihat hati mereka kurang hadir di hadapan-Nya saat beramal. Sementara itu, pandangan para washilun dihalangi lantaran mereka sibuk melihat Allah sehingga mereka tidak mampu melihat selain dzat-Nya. 

Allah telah memberikan karunia-Nya kepada dua kelompok itu. Dia membebaskan keduanya dari ketergantungan terhadap amal dan ahwal mereka. Akan tetapi, Allah memberikan karunia-Nya kepada para salik dengan terpaksa, sedangkan kepada para sa’irun dengan sukarela. Tentu saja kedudukan yg kedua lebih tinggi daripada yg pertama. 

Oleh sebab itu, Al-Washiti bertanya kepada para sahabat Abu Utsman tentang apa gerangan yg diperintahkan oleh Syaikh mereka. Mereka menjawab, ”Ia memerintahkan kami untuk senantiasa taat dan melihat atau memperhatikan kekurangan di dalam ketaatan yg kami lakukan itu.” 

Kemudian Al-Washiti berkata, ”Jika demikian, berarti dia telah memerintahkan kalian untuk mengamalkan ajaran² kaum Majusi. Maukah kalian kuperintahkan untuk mengabaikan hal itu dan lebih melihat kepada sumber alirannya langsung?” Maksudnya adalah agar mereka meninggikan tekad mereka menuju maqam orang² ‘arif, bukan merendahkan apa yg mereka alami karena hal itu juga termasuk kebaikan. Wallaahu a’lam

71. Tamak Akan Melahirkan Kehinaan (1)

Hikmah 71 dlm Al-Hikam:

“Tamak Akan Melahirkan Kehinaan”

ماَ سَبَقتْ اَغْصاَنَ ذ ُلِّ ِاِلاَّ على بِذْرِ طَمَعٍ

Tidak akan berkembang biak berbagai cabang kehinaan itu, kecuali di atas bibit tamak (kerakusan).

Sifat tamak bagian dari besarnya aib yg mencela sifat kehambaan. Tamak (rakus) itu adalah bibit dari segala macam kehinaan dan kerendahan.

Sifat tamak (rakus) itu adalah sumber dari segala penyakit hati, karena tamak itu hanya bergantung pada manusia, minta tolong pada manusia, bersandar pada manusia, mengabdi pada manusia, yg demikian itu temasuk kehinaan, sebab ragu² dengan takdirnya Allah Ta’ala.

Abu Bakar al-Warraq al-Hakim berkata: “Andaikata sifat tamak itu dapat ditanya, ‘Siapakah ayahmu?’ Pasti jawabnya, ‘Ragu terhadap takdir Allah’. Dan bila ditanya, ‘Apakah pekerjaanmu?’ Jawabnya, ‘Merendahkan diri dan mencari kehinaan’. Dan bila ditanya, ‘Apakah tujuanmu?’ Jawabnya, ‘Memiskinkan seseorang.”

Suatu hikayat mengatakan: “Ketika Sayyidina Ali bin Abu Thalib kw. baru masuk ke masjid Jami’ di Bashrah, didapatinya banyak orang yg memberi ceramah di dalamnya. Maka ia menguji mereka dengan beberapa pertanyaan dan yg ternyata tidak dapat menjawab dengan tepat, maka mereka di usir dan tidak di izinkan memberi ceramah di masjid itu, dan ketika sampai ke majelis Hasan al-Basri, ia bertanya, ‘Wahai para pemuda! Aku akan bertanya kepadamu sesuatu hal, jika engkau dapat menjawab, aku izinkan engkau terus mengajar di sini, tetapi jika engkau tidak dapat menjawab, aku usir engkau sebagaimana teman²mu yg lain, telah aku usir itu’.

Jawab Hasan al-Basri, ‘Tanyakan sekehendakmu’.

Sayyidina Ali bertanya, ‘Apakah yg mengokohkan agama?’

Jawab Hasan, ‘Wara’ (menjaga diri sendiri untuk menjauhi segala yg bersifat syubhat dan haram).

Lalu Sayyidina Ali bertanya lagi, ‘Apakah yg dapat merusak agama?’

Jawab Hasan, ‘Tamak (rakus)’.

Imam Ali berkata kepadanya, ‘Duduklah! Engkau boleh tetap mengajar di sini, orang seperti engkaulah yg layak berbicara di hadapan manusia. Wara’ (menjauhi) ketamakan adalah wara’-nya orang² khusus (khawwash). Sikap ini menunjukkan kokohnya keyakinan, sempurnanya tawakkal, dan tenangnya hati terhadap Allah. Berbeda dengan wara’-nya orang² biasa (awam) yg baru sebatas meninggalkan perkara² syubhat’.”

Seorang Guru berkata: “Dahulu ketika dalam permulaan bidayahku di Iskandariyah, pada suatu hari ketika aku akan membeli suatu keperluan dari seseorang yg mengenal aku, timbul dalam perasaan hatiku; mungkin ia tidak akan menerima uangku ini, tiba² terdengar suara yg berbunyi, ‘Keselamatan dalam agama hanya dalam memutuskan harapan dari sesama makhluk’.”

Wara’ dalam agama itu menunjukkan adanya keyakinan dan sempurnanya bersandar diri kepada Allah Ta’ala. Wara’ yaitu jika sudah merasa tiada hubungan antara dia dengan makhluk, baik dalam pemberian, penerimaan atau penolakan, dan semua itu hanya terlihat langsung dari Allah Ta’ala.

Sahl bin Abdullah berkata: “Di dalam iman tidak ada pandangan sebab perantara, karena itu hanya dalam Islam sebelum mencapai iman.”

Semua hamba pasti akan makan rezeki-Nya, hanya berbeda-beda, ada yg makan dengan kehinaan, yaitu peminta-minta. Ada yg makan rezeki-Nya dengan bekerja keras, yaitu para buruh, ada yg makan rezeki-Nya dengan cara menunggu, yaitu para pedagang yg menunggu sampai ada yg membeli barang²nya. Adapun yg makan rezeki-Nya dengan rasa mulia, yaitu orang² sufi yg merasa tidak ada perantara dengan Tuhan.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Syaikh Ibnu Atha’illah mengumpamakan kehinaan dengan sebuah pohon. Dahan²nya adalah perumpamaan bagi berbagai jenis kehinaan. Ia juga mengumpamakan ketamakan dengan sebuah benih. Seakan Syaikh Ibnu Atha‘illah berkata, “Jangan kau tanam benih ketamakan di hatimu sehingga akan tumbuh menjadi pohon kehinaan yg dahan dan rantingnya akan bercabang-cabang.” 

Ketamakan merupakan sikap tercela yg dapat merusak ‘ubudiyah. Bahkan, ia adalah pangkal segala kesalahan. Ketamakan menandakan ketergantungan dan penghambaan manusia terhadap manusia. Di sinilah letak kehinaan dan kenistaan sikap ketamakan. Sebabnya adalah keraguan terhadap sesuatu yg telah ditakdirkan Allah. Wallaahu a’lam

72. Tamak Akan Melahirkan Kehinaan (2)

Hikmah 72 dlm Al-Hikam:

ماَ قاَدَكَ شىءٌ مثـل الوَهْمِ

Tiada sesuatu yg dapat menuntun/memimpin engkau (pada kehinaan) seperti angan² (bayangan yg kosong).

Wahm ialah tiap² angan² terhadap sesuatu selain dari Allah, yg berarti angan² yg tidak mungkin terjadi. Dan biasanya nafsu itu lebih tunduk pada wahm/angan², dari pada pada akalnya. Sebagai contoh: manusia itu biasanya lari apabila melihat ular, karena dia berangan-angan ular itu akan menggigit dirinya. Apabila dia (nafsunya) tunduk pada akalnya, tentu dia tidak lari. Karena apa² yg sudah ditentukan Allah pasti wujud, dan sebaliknya.

Ingatlah, tidak ada orang yg bisa selamat dari sifat tamak, kecuali orang yg khusus yaitu orang² yg ahli Qana’ah dan berserah diri pada Allah, yg hatinya sama sekali tidak bergantung pada makhluk (manusia).

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Angan² adalah sesuatu yg teramat buruk. Selain karena merupakan penyebab ketamakan manusia, juga karena angan² sebenarnya adalah perkara yg tidak ada. Ia hanyalah khayalan dan perkiraan. Namun anehnya, jiwa selalu lebih tunduk kepadanya daripada kepada akal. 

Tidakkah kau melihat bahwa tabiat manusia selalu merasa takut kepada ular karena ia menyangka bahwa ular itu berbahaya. Bahkan, ia takut bila melihat seutas tali yg melingkar sebab ia mirip dengan ular. Sekiranya tabiat tunduk kepada akal, tentu ia tidak akan merasa takut karena segala hal yg ditakdirkan pasti akan terjadi dan yang tidak ditakdirkan pasti tidak akan terjadi.

Oleh sebab itu, tak seorang pun yg selamat dari ketamakan terhadap makhluk dan apa yg ada di tangan mereka, kecuali para ahli wara’ dari kalangan khawwash. Mereka adalah orang² yg selalu qana’ah dan tawakkal. Di hati mereka tiada lagi hubungan antar makhluk. Mereka tidak lagi memperdulikan rezeki. Wallaahu a’lam

73. Tamak Akan Melahirkan Kehinaan (3)

Hikmah 73 dlm Al-Hikam:

أنْتَ حُرُّمِمَّا اَنتَ عَنْهُ أيِسٌ وَعَبْد ٌ لمَا اَنتَ لهُ طاَمعُ

Engkau bebas merdeka dari segala sesuatu yg tidak engkau butuhkan, dan engkau tetap menjadi hamba kepada apa yg engkau inginkan.

Hikmah ini menunjukkan hinanya tamak, dan baiknya qana’ah.

Andaikan tidak ada keinginan² yg palsu dan sifat tamak, pasti orang akan bebas merdeka tidak akan diperbudak oleh sesuatu yg tidak berharga.

العبد حرّماقنع ٭ والحرُّعبد ٌماطمع

Budak itu merdeka/bebas selagi dia menerima pembagian dari Allah (qana’ah) *orang merdeka itu menjadi budak selagi dia tamak.

Qana’ah yaitu: tenangnya hati karena tidak adanya sesuatu yg sudah biasa ada. Dan qana’ah itu awal dari pada sifat zuhud.

Suatu hikayat:

Burung elang (rajawali) yg terbang tinggi di angkasa raya, sulit orang akan dapat menangkapnya, tetapi ia melihat sepotong daging yg tergantung pada perangkap, maka ia turun dari angkasa oleh karena sifat tamaknya (rakusnya), maka terjebaklah ia dari perangkap itu sehingga ia menjadi permainan anak² kecil.

Fateh al-Maushily ketika ditanya tentang ibarat orang yg menurutkan nafsu syahwat dan sifat tamaknya (rakusnya), sedang tidak jauh dari tempat itu ada dua anak sedang makan roti, yg satu hanya makan roti, sedang yg kedua makan roti dengan keju, lalu yg makan roti ingin yg keju, maka ia berkata kepada temannya:

“Berilah kepadaku keju.” Jawab temannya: “Jika engkau suka jadi anjingku, aku beri keju.”

Jawab anak yg meminta: ‘Baiklah.’

Maka di ikatlah lehernya dengan tali sebagai anjing dan dituntun.

Berkata Fateh kepada orang yg bertanya: “Andaikata anak itu tidak tamak (rakus) pada keju, niscaya ia tidak menjadi anjing.”

Suatu kejadian, ada seorang murid didatangi oleh Gurunya, maka ia ingin menjamu Gurunya, maka ia keluarkan roti tanpa lauk pauk, dan tergerak dalam hati si murid sekiranya ada lauk pauknya tentu lebih sempurna. Dan setelah selesai Sang Guru makan apa yg di hidangkan itu, berdirilah Sang Guru dan mengajak si murid keluar tiba² ia dibawa ke penjara untuk ditunjukkan berbagai macam orang yg dihukum, baik yg dirajam atau dipotong tangannya dan lain², lalu berkatalah Sang Guru kepada muridnya:

Semua orang² yg engkau lihat itu, yaitu orang yg tidak sabar makan roti saja tanpa lauk pauk.

Ada seorang yg baru dikeluarkan dari penjara, yg masih terikat kakinya dengan rantai, ia meminta-minta sepotong roti kepada seseorang, maka berkatalah orang tempatnya meminta:

Andaikata sejak dulu engkau mau menerima sepotong roti, maka tidak akan terikat kakimu itu.

Dalam hikayat lain dikisahkan:

Ada seseorang melihat seorang hakim sedang makan buah yg jatuh ke sungai, maka orang itu berkata, ‘Wahai bapak hakim, sekiranya engkau mau bekerja pada Baginda Raja tentu engkau tidak sampai makan buah yg jatuh ke dalam sungai.

Lalu dijawab oleh sang hakim:

Andaikan engkau suka menerima makanan ini, tidak perlu menjadi budaknya Raja.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Ini adalah dalil lain yg menunjukkan betapa buruknya ketamakan dan terpujinya keengganan terhadap para makhluk dan sikap qana’ah terhadap rezeki yg sudah dibagi. 

Ketamakan pada sesuatu sama saja dengan penghambaan terhadap sesuatu itu. Sementara itu, keengganan terhadap sesuatu adalah bentuk kebebasan dari sesuatu itu. Keengganan itu membuktikan ketidaktertarikan dan ketidakbutuhan hati terhadap sesuatu itu. Orang yg tamak akan menjadi budak, sedangkan orang yg enggan (terhadap sesuatu) akan menjadi orang yg merdeka. 

Oleh sebab itu, dikatakan, ”Seorang budak akan merdeka selama ia puas. Seorang yg merdeka akan menjadi budak selama ia tamak.” 

Sifat qana’ah adalah sikap tenang saat hilangnya sesuatu yg biasa ada. Ini adalah awal langkah zuhud. Wallaahu a’lam

74. Nikmat dan Musibah Adalah Jalan Menuju Allah (1)

Hikmah 74 dlm Al-Hikam:

“Nikmat dan Musibah Adalah Jalan Menuju Allah”

مَنْ لَمْ يُقبِلْ على اللهِ بِمُلاَ طفاَتِ الاِحْساَنِ قـُيِّدَ اليْهِ بِسلاَسِلِ الاِمتِحاَنِ

Barangsiapa yg tidak suka menghadap kepada Allah dengan halusnya pemberian karunia Allah, maka akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian (musibah).

Ada dua perkara yg menjadikan seorang hamba itu bisa taat dan menghadap kepada Allah, yaitu:

1. Datangnya nikmat dari Allah pada dirinya, sehingga dia mau bersyukur dan menghadap taat kepada Allah.

2. Datangnya macam² musibah dan bencana pada dirinya atau hartanya, lalu ia bisa sadar dan kembali kepada Allah.

Terkadang musibah itu juga bisa menjadi sebab ia meninggalkan bergantung pada dunia dan hanya bergantung pada Allah. Karena yg di inginkan Allah pada hambanya yaitu kembalinya hamba kepada Allah dengan cara menurut (ridho) atau dipaksa.

Barangsiapa yg tidak suka sadar dan dzikir (ingat) kepada Allah ketika sehat dan murah rezeki, maka akan dipaksa supaya dzikir (ingat) kepada Allah dengan tibanya musibah (bencana). Maka dalam kedua hal itu Allah berkenan akan menuangkan nikmat karunia yg sebesar-besarnya kepada hamba-Nya.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Orang yg tidak mendekat kepada Allah meski telah diberi berbagai kenikmatan akan dipaksa mendekat kepada Allah melalui berbagai macam musibah. Artinya, kedekatan seorang hamba kepada Allah terjadi melalui dua proses. 

Pertama, dengan diturunkannya nikmat kepadanya sehingga dia bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut dan bersiap melayani-Nya.

Kedua, dengan diturunkannya musibah yg menimpa tubuh atau hartanya sehingga dia akan berlindung kepada Allah dan meminta-Nya agar mengangkat musibah itu. Mungkin, itu akan menjadi sebab dia meninggalkan keduniaan dan hanya mau bergantung kepada Allah. Allah menghendaki para hamba-Nya kembali kepada-Nya, baik secara sukarela maupun terpaksa. Wallaahu a’lam

75. Nikmat dan Musibah Adalah Jalan Menuju Allah (2)

Hikmah 75 dlm Al-Hikam:

مَنْ لَمْ يَشكُرِ النِّعَمِ فَقدْ تـَعَرَّضَ لِزَوَالِهاَ ومن شَكرَهاَ فقد قـَيَّدَ بِعِقاَلهاَ

Barangsiapa yg tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk menghilangkan nikmat itu, dan barangsiapa mensyukuri nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yg kuat.

Mensyukuri nikmat itu berarti menetapkan dan menambah nikmat itu, firman Allah Ta’ala:

“Lain syakartum la adziydannakum.”

(Kalau kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat bagimu).

Bersyukur itu ada kalanya dengan hati, yaitu sadar kalau kenikmatan itu semua datang dari Allah, firman Allah Ta’ala:

“Wamaa bikum min ni’matin faminallahi.”

(Tiada terjadi suatu nikmat bagimu, maka itu dari Allah).

Ada kalanya dengan lisan, yaitu dengan menceritakan nikmat itu pada orang lain. Firman Allah Ta’ala:

“Wa ammaa bini’mati Rabbika fahaddits.”

(Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka pergunakanlah/ceritakan dan sebarkan).

Dan ada kalanya dengan anggota badan, yaitu dengan taat kepada Allah sehingga jangan sampai anggota tubuh digunakan untuk melakukan perkara yg tidak diridhoi Allah.

Nu’man bin Basyir ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa yg tidak mensyukuri nikmat yg sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yg banyak, dan barangsiapa yg tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak dapat bersyukur (berterima kasih) kepada Allah.”

Syukur ialah merasa dalam hati, dan menyebut dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota badan.

Syaikh Junaid al-Baghdadi qs. berkata:

“Ketika aku berusia tujuh tahun dan hadir dalam majelis As-Sari as-Saqathi, tiba² aku ditanya:

Apakah arti syukur?

Jawabku: Syukur ialah tidak menggunakan suatu nikmat yg diberikakan Allah untuk berbuat maksiat.

As-Sari berkata:

Aku khawatir kalau bagianmu dari karunia Allah hanya dalam lidahmu belaka.

Al-Junaid berkata:

Maka karena kalimat yg dikeluarkan oleh As-Sary itu aku selalu menangis, khawatir kalau benar apa yg dikatakan oleh As-Sary itu.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Syukur nikmat akan membuat nikmat itu abadi dan semakin bertambah. Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim (14): 7)

Sementara itu, kufur nikmat akan menyebabkan nikmat itu hilang. Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yg ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d (13): 11)

Artinya, jika mereka mengubah ketaatan mereka, yaitu dengan tidak mensyukuri nikmat yg diberikan-Nya, Allah tidak akan memberi mereka kebaikan dan kemurahan-Nya. 

Syukur nikmat bisa diwujudkan dengan hati, yaitu kita sadar bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman, ”Dan apa saja nikmat yg ada pada kamu maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl (16): 53)

Bisa pula diwujudkan dengan lisan, yaitu dengan membicarakan nikmat tersebut. Allah Ta’ala berfirman, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu siarkan ( bicarakan).” (QS. Adh-Dhuha (93): 11)

Bisa juga dilakukan dengan anggota tubuh, misalnya dengan menggunakannya di jalan ketaatan kepada Allah dan menjauhkannya dari hal yg tidak diridhai-Nya. Wallaahu a’lam

76. Karunia Atau Istidraj?

Hikmah 76 dlm Al-Hikam:

Karunia Atau Istidraj?

خـَفْ مِنْ وُجُودِ اِحْساَنِهِ اِلَيْكَ وَدَوامِ اِساَءَتِكَ مَعَهُ اَنْ يكونَ ذٰلِكَ اِسْتِدْراَجاًلكَ، سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْسُ لاَيَعْلموُنَ

Berhati-hatilah bila kebaikan Allah selalu kau dapatkan bersamaan dengan maksiat yg terus kau lakukan! Berhati-hatilah! Bisa jadi, itu adalah awal kehancuranmu yg berangsur-angsur. Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ( ke arah kebinasaan) dengan cara yg tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’raf (7): 182)

Hikmah ini menjadi jawaban soal dari hikmah sebelumnya, yakni: kita tahu banyak yg tidak mensyukuri nikmat, tetapi nikmatnya tidak hilang bahkan bertambah. Itu semua istidraj dari Allah Ta’ala.

Istidraj, ialah mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa kemudian dibinasakan, juga berarti memperdaya.

Firman Allah Ta’ala:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتّٰىٓ إِذَا فَرِحُوا بِمَآ أُوتُوٓا أَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yg telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu² kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yg telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am (6): 44)

Demikianlah sebuah ibarat istidraj, tiap² seseorang berbuat dosa ditambah dengan nikmat, dan dilupakan untuk meminta ampun (istighfar) atas kesalahannya itu.

Ada yg berpendapat bahwa setiap kali mereka membuat kesalahan baru, maka Allah akan menambah nikmat untuk mereka dan membuat mereka lupa memohon ampunan atas kesalahan itu. 

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Kita sering melihat banyak manusia yg tidak bersyukur atas nikmat Allah, namun nikmat itu tidak hilang dari mereka. Bisa jadi, hal itu merupakan proses penarikan nikmat yg dilakukan secara berangsur-angsur oleh Allah. Karena prosesnya yg berangsur-angsur itu, mereka pun tidak menyadarinya. Namun, berikutnya Allah akan merampas seluruh nikmat itu dari mereka secara tiba².

Ada yg mengatakan, maksud ayat itu ialah, Allah akan terus memberi mereka nikmat dan membuat mereka lupa bersyukur. Jika mereka sudah bergelimang kenikmatan dan terhalang dari Pemberi nikmat, seluruh kenikmatan itu akan direnggut dari mereka secara tiba². Wallaahu a’lam

77. Sanksi yg Ditangguhkan Bisa Jadi merupakan Istidraj

Hikmah 77 dlm Al-Hikam:

“Sanksi yg Ditangguhkan Bisa Jadi merupakan Istidraj (Sanksi yg Ditimpakan secara Berangsur-angsur dan Tanpa Disadari)”

مِنْ جَهْلِ المُرِيدُ اَنْ يَنسِىء الاََدَبَ، فَتُوءَخِرُ العُقـُوْبَة ُ عَنْهُ فَيَقوُلُ، لَوْكاَنَ هٰذَا سُوْءَ اَدَبٍ لَقطَعَ الاِمداد وَاَوجب الاِبعادُ، فقد يقطعُ المَدَدُ عنهُ مِنْ حيثُ لاَ يَشْعُرُ ولَولَمْ يَكُنْ الاَ منعَ المَزِيدِ وقدْ يُقاَمُ مقاَمَ البُعْدِ وهُوَ لاَيَدْرِي ولَولَمْ يَكُنْ الاَّ اَنْيُخَلِّيَكَ وَماَتُرِيْدُ

Di antara tanda kebodohan seorang murid adalah jika bersikap tidak sopan, tetapi hukuman untuknya ditangguhkan, ia justru berkata, “Jika ini adalah sikap tidak sopan, tentu aku sudah tidak ditolong lagi dan dijauhi.” Bisa jadi, ia memang sudah tidak ditolong lagi. Namun, ia tidak menyadarinya karena mungkin bentuknya hanya berupa tidak ditambahnya pertolongan. Bisa jadi pula sebenarnya ia telah dijauhi. Namun, ia tidak menyadarinya karena mungkin bentuknya hanya berupa pembiaran dirinya dengan keinginannya.

Putusnya bantuan dari Allah adalah awal dari hijab. Jadi apabila murid sudah mulai terhijab sehingga ibadahnya tidak bisa khudhur kepada Allah, itu menjadi sebab gugurnya murid dari perhatian Allah, dan akan datang hijab dalam hatinya.

Syaikh Abul Qasim Junaid al-Baghdadi qs. berkata: “Ketika aku sedang menunggu jenazah bersama orang² banyak yg akan di shalatkan di masjid As-Syuniziyah, tiba² ada seorang pengemis miskin meminta-minta, maka dalam hatiku berkata, ‘Andaikan orang itu bekerja sedikit² supaya tidak meminta-minta, tentu akan lebih baik baginya’. Dan ketika pada malam harinya, aku akan mengerjakan wirid yg biasa aku kerjakan pada tiap malam, terasa sangat berat dan tidak dapat berbuat apa², sambil duduk akhirnya tertidurlah mataku. Tiba² aku bermimpi, orang² datang membawa orang miskin itu di atas talam (baki), dan orang² itu berkata kepadaku, ‘Makanlah daging orang ini sebab engkau telah meng-ghibah padanya’. Maka langsung aku terbangun dan sadar, dan aku tidak merasa ghibah padanya, hanya tergerak dalam hati, tetapi aku diperintahkan meminta halal kepada orang itu, maka tiap hari aku berusaha mencari orang itu, akhirnya bertemu di tepian sungai sedang mengambil daun²an yg rontok untuk dimakan dan ketika aku memberi salam kepadanya, langsung ia berkata, ‘Apakah kamu akan mengulangi lagi wahai Abul Qasim?’ Jawabku, ‘Tidak’. Maka ia berkata, ‘Semoga Allah mengampuni kami dan kamu’.”

Tanda² seseorang mendapat taufik itu ada tiga:

1.Mudah mengerjakan amal kebaikan, padahal ia tidak berniat dan bukan tujuannya.

2.Berusaha untuk berbuat maksiat, tetapi selalu terhindar dari padanya.

3.Selalu terbuka baginya kebutuhan dan hajat kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan tanda² seseorang yg dihinakan oleh Allah juga ada tiga:

1.Sulit melakukan ibadah dan taat, padahal ia sudah berusaha sungguh².

2.Mudah terjerumus ke dalam maksiat, padahal ia berusaha menghindarkannya.

3.Tertutupnya pintu kebutuhan atau hajat kepada Allah, sehingga merasa tidak perlu berdoa dalam segala hal.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Tuhan telah mendidik aku sebaik-baik didikan dan menyuruhku melakukan akhlak yg sebaik-baiknya.”

Dalam satu ayat:

Ambillah hati mereka dengan suka memaafkan, dan anjurkan perbuatan² yg baik dan mudah, abaikanlah orang² yg masih bodoh, (jangan dituntut) mereka yg masih bodoh itu.

Seorang sufi kehilangan anak, hingga tiga hari tidak mendapat beritanya, maka ada orang yg berkata kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak minta kepada Allah, supaya mengembalikan anak itu kepadamu?’ Jawab sang sufi, ‘Tantanganku terhadap putusan Allah itu akan lebih berat bagiku dari pada hilangnya anak.’

Syaikh Abu Sulaiman ad-Darany qs. berkata: “Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as., ‘Sesungguhnya Aku menjadikan syahwat hanya untuk orang² yg lemah dari para hamba-Ku, karena itu waspadalah jangan sampai hatimu tertawan oleh syahwat itu, sebab seringan-ringan siksa untuknya ialah Aku cabut manisnya rasa cinta kepada-Ku dari dalam hatinya.”

Dan dalam bagian lain Allah berfirman kepada Nabi Dawud as., “Wahai Dawud! Berpeganglah pada ajaran-Ku, dan tahanlah nafsumu untuk ketenangan dirimu, jangan sampai engkau tertipu daripadanya, niscaya engkau terhijab dari cinta-Ku, putuskan syahwatmu untuk Aku, sebab Aku hanya memberikan syahwat itu untuk hamba-Ku yg lemah, untuk apakah orang² yg kuat akan memuaskan syahwat. Padahal ia akan mengurangi kelezatan bermunajat kepada-Ku, sebab Aku tidak merelakan dunia ini untuk kekasih-Ku, bahkan Aku bersihkan ia dari padanya.

Wahai Dawud! Jangan engkau mengadakan antara-Ku dengan engkau suatu alam yg dapat menghijab engkau karena mabuk pada alam itu daripada cinta kepada-Ku, mereka hanya perampok di tengah jalan terhadap hamba-Ku yg baru berjalan. Usahakanlah untuk meninggalkan syahwat dengan banyak puasa.

Wahai Dawud! Cintailah Aku dengan memusuhi hawa nafsumu, dan tahanlah dari syahwatnya, niscaya engkau melihat kepada-Ku, dan engkau akan dapat melihat yg terbuka antara-Ku dengan engkau’.”

Syaikh Ibrahim bin Adham ra. berkata: ”Seseorang tidak akan mencapai derajat orang² shaleh, kalau tidak melalui enam rintangan:

1. Menutup pintu kemuliaan, membuka pintu kehinaan.

2. Menutup pintu nikmat, membuka pintu kesulitan.

3. Menutup pintu istirahat, membuka pintu perjuangan.

4. Menutup pintu tidur, membuka pintu jaga.

5. Menutup pintu kekayaan, membuka pintu kemiskinan.

6. Menutup pintu harapan, membuka pintu siaga menghadapi maut.”

Syaikh Ibrahim al-Khawwash ra. berkata: ”Ketika aku di tengah perjalanan tiba² merasa lapar, sehingga sampai di kota Array, maka aku berkata dalam hati, ‘Di sini aku banyak sahabat, maka jika aku bertemu tentu mereka akan menjamuku, maka ketika aku telah masuk ke dalam kota, tiba² aku melihat perbuatan² mungkar (maksiat), dan aku merasa berkewajiban mencegah kemungkaran. Tiba² aku ditangkap dan dipukuli oleh orang².’ Sehingga aku bertanya-tanya dalam hati, ‘Mengapa aku dipukuli oleh semua orang padahal aku ini lapar.’ Tiba2 di ingatkan dalam hatiku, ‘Engkau mendapat hukuman itu karena engkau mengharap dijamu oleh sahabat²mu’.”

Firman Allah dalam salah satu wahyu-Nya (kepada Nabi Dawud as.): ”Sesungguhnya seringan-ringan siksa-Ku terhadap orang alim jika ia mengutamakan syahwatnya daripada cinta-Ku, maka Aku haramkan daripada merasakan kelezatan bermunajat kepada-Ku.”

Sangat penting bagi murid:

Imam al-Qusyairy berkata: Siapa saja yg menjadi murid salah satu guru sufi/tarekat, lalu menentang gurunya dengan hati, berarti dia sudah merusak perjanjiannya menjadi murid, dan murid tersebut harus bertobat.

Apabila ada seorang salik yg bermaksud wushul, tapi tidak bisa wushul itu disebabkan menentang pada gurunya, karena guru sufi/tarekat (yg sudah menetapi syarat) itu menjadi penunjuk jalan bagi para murid.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Bersikap tidak sopan bisa terjadi terhadap Allah, guru, manusia, bisa pula terhadap diri sendiri. Di antara contoh bersikap tidak sopan terhadap Allah adalah melanggar perintah-Nya, mentaati aturan selain aturan-Nya, mengeluhkan hukum²Nya yg dianggap memberatkan, dan mengadukan penderitaannya kepada makhluk. 

Di antara contoh bersikap tidak sopan terhadap guru adalah membangkang dan tidak mau menerima nasehat dan saran mereka. 

Sebagian orang berkata, ”Membangkang kepada guru tidak ada tobatnya.” 

Bahkan, ada yg mengatakan, ”Siapa yg berkata ‘mengapa’ kepada gurunya maka ia tidak akan pernah beruntung.”

Imam al-Qusyairy berkata, ”Siapa yg menemani seorang guru, namun kemudian membangkang dalam hatinya, berarti ia telah melanggar akad persahabatan itu dan harus segera bertobat.” 

Jika seorang salik mendapati dirinya belum juga sampai ke tujuannya, hendaknya ia sadar bahwa hal itu mungkin disebabkan oleh pembangkangannya secara diam² terhadap guru²nya. Karena guru ibarat duta bagi para murid di hadapan Tuhan.  

Di antara contoh bersikap tidak sopan terhadap diri sendiri adalah mengedepankan pemenuhan “syahwat yg di halalkan” daripada pemenuhan kewajiban yg sudah ditetapkan Allah. 

Orang yg bersikap tidak sopan bisa saja tidak segera dihukum. Misalnya, tidak langsung diberi penyakit atau petaka, baik yg menimpa tubuhnya maupun batinnya. Namun, Allah akan menghentikan bantuan kepadanya dan menjauhinya. Itulah awal mula terhijabnya ia dari Allah. 

Saat seorang murid tidak lagi mendapat pertolongan dan rahmat Allah ia akan jatuh di hadapan Allah dan terjuntailah tirai hijab di hatinya. Kerinduannya kepada Allah akan berganti menjadi keterasingan. Demikian pula saat seorang murid dijauhi-Nya, akan terurailah hijab yg menutupi dan menghalangi hatinya untuk masuk ke hadirat-Nya. Wallaahu a’lam

78. Dua Macam Hamba Allah: Muqarrabin dan Abrar

Hikmah 78 dlm Al-Hikam:

“Dua Macam Hamba Allah: Muqarrabin dan Abrar”

اِذاَ رَأيْتَ عَبْداً أقاَمهُ اللهُ تعالى بِوُجُودِ الاَورَدِ وَاَدَمَهُ عليهاَ مَعَ طُولَ الامساَدَ فَلاَ تـَسْتحْقِرَنَّ ماَمنَحَهُ مَولاهُ لاَنَّكَ لم تَرَعليهِ سِيماَ العاَرِفِينَ ولاَ بَهْجَةَ المُحِبِّينَ فَلولاَ واَرِدٌ ماكاَنَ وِرْدٌ

Jangan kau pandang sebelah mata seorang hamba yg telah ditetapkan, dilanggengkan, dan ditolong Allah dalam melaksanakan berbagai wirid, hanya karena kau tidak melihat dalam dirinya tanda orang² ‘arif atau keelokan kaum pecinta Tuhan. Sebab, kalau tidak ada limpahan karunia dari Allah, tentu wirid dari orang itu tidak akan pernah ada.

Wirid ialah macam²nya ibadah yg dikerjakan oleh hamba, seperti shalat, puasa, dzikir dan lainnya.

Jadi apabila kau merendahkan pemberian Allah pada sebagian hamba yg berupa wirid itu berarti kau kurang tata krama pada hamba tersebut.

Hamba Allah yg mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam:

1. Muqarrabin, yaitu mereka yg telah dibebaskan dari kepentingan nafsunya, dan ia hanya sibuk menunaikan ibadah dan taat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yg mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka yg disebut ‘arifin, muhibbin.

2. Abrar, yaitu mereka yg masih merasa banyak kepentingan dunia/nafsu keinginannya, dan mereka juga mengerjakan ibadah kepada Allah, mereka masih menginginkan masuk surga dan selamat dari neraka. Dan mereka yg dinamakan zahid ‘abid.

Dan masing² mendapat karunia sendiri² di dalam tingkat derajatnya yg langsung dari Allah Ta’ala.

Sebenarnya seseorang yg mendapat taufik dan hidayah dari Allah, sehingga dia istiqamah dalam menjalankan suatu wirid (taat ibadah), berarti telah mendapat karunia dan rahmat yg besar sekali, sebab ia telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan karunia yg lain dari kebesaran Allah.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

“Ditolong” ialah dipalingkan dari kesibukan² yg membuat hamba tersebut lupa melakukan wirid. Adapun makna ”dilanggengkan” di sini adalah dibuat terus melaksanakan wirid itu sepanjang zaman. Ini adalah sifat para zahid dan ‘abid. 

“Tanda orang² ‘arif“ ialah karakter orang² ‘arif yg meninggalkan ikhtiar dan tidak memperdulikan nasib dan keinginan dari mereka, serta selalu hadir di hadapan Allah. Adapun maksud “keelokan para pencinta Tuhan” ialah bukti² dan pengaruh cinta yg tampak pada diri orang² yg mencintai Allah (muhibbin). Jika sudah tertanam dalam hati, pengaruh cinta kepada Allah akan tampak pada seluruh anggota tubuh. Misalnya adalah dengan sering berdzikir mengingat-Nya, segera melaksanakan perintah-Nya, dan mengabaikan selain-Nya. Ia selalu berusaha untuk melayani-Nya, menikmati munajat kepada-Nya, dan lebih mengutamakan-Nya daripada selain-Nya. 

Syaikh Ibnu Atha‘illah melarang untuk meremehkan orang semacam itu (yakni yg istiqamah melakukan wirid, namun tidak terlihat pada dirinya tanda² kaum ’arif dan pencinta Tuhan). Alasannya, kalau tidak ada limpahan karunia dari Allah, tentu orang itu tidak akan melakukan wirid dan istiqamah dalam berwirid. 

“Wirid” bermakna segala amal ibadah yg dihasilkan dari upaya mujahadah seorang hamba, baik itu berupa shalat, puasa, dzikir, maupun ibadah lainnya. Dengan demikian, jika kau meremehkan orang seperti itu, itu artinya, kau sudah berlaku tidak sopan terhadapnya. 

Kesimpulannya, hamba² Allah yg khusus (khawwash) terbagi menjadi dua golongan: muqarrabiin dan abrar. Muqarrabin adalah orang² yg tidak memperdulikan nasib dan keinginan diri mereka, serta lebih mengedepankan pelaksanaan hak² Allah sebagai bentuk penghambaan (‘ubudiyah) kepada-Nya dalam rangka mencari ridha-Nya. Mereka adalah kaum ’arif sekaligus muhibbin (pencinta Allah). Sementara itu, abrar ialah orang² yg dalam ibadah mereka masih memperdulikan nasib dan keinginan diri. Mereka melaksanakan ibadah kepada Allah karena ingin mendapat surga dan selamat dari neraka. Sekalipun demikian, Allah tetap memberikan pertolongan-Nya kepada kedua golongan ini sesuai maqam mereka masing². Wallaahu a’lam

79. Orang-orang yang Melayani-Nya dan yang Mencintai-Nya

Hikmah 79 dlm Al-Hikam:

قومٌ اَقاَمهُمُ الحَق ُّ لِخِدمتِهِ وقومٌ اِخـْتصَّهُمْ بِمَحَبَّتِهِ ،كُلا ًّنُمِدُّ هٰـءوُلاَءِ وهٰـءُولاَءِ من عطاَءِ رَبِّكَ وماكانَ عَطاءُ رَبِّكَ كانَ مَحْظُوراً

Ada orang² yg Allah tetapkan untuk melayani-Nya. Ada pula orang² yg Allah pilih untuk mencintai-Nya. “Kepada tiap² golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidaklah terbatas.” (QS. Al-lsra’ (17): 20)

Allah sendiri yg memilih hamba-Nya, maka ada yg dipilih untuk melaksanakan ibadah yg lahir, ialah mereka para ‘abid dan zahid, dan ada pula yg dipilih oleh Allah untuk Kesayangan (Kekasih) Allah dan mereka ini orang² ‘arif dan muhibbin yg tidak ada tempat dalam hati mereka kecuali dzikrullah semata-mata.

Menganggap dunia ini kosong tidak ada apa² kecuali Allah yg menciptakan dan melaksanakan segala sesuatunya.

Jadi ketika hamba melihat pada pilihan Allah atas hamba-Nya dan mengkhususkan kedudukan pada hamba tersebut, bisa menjadikan si hamba tidak memandang rendah pada kedudukan yg telah Allah berikan kepada sebagian hamba. Syeikh Abu Yazid al-Busthami qs. berkata, “Allah Ta’ala melihat hati para hamba (kekasih-Nya), lalu sebagian ada yg tidak pantas/kuat memikul beratnya nur makrifat, lalu Allah menyibukkan hamba tersebut dengan ibadah.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Yg dimaksud dengan “orang² yg melayani-Nya” adalah orang² yg mentaati Allah secara lahir. Mereka adalah para zahid dan ‘abid yg layak menempati surga-Nya. Sementara itu, yg dimaksud dengan “orang² yg mencintai-Nya” adalah para muhibbin dan ‘arif yg didekati-Nya dan masuk ke hadirat-Nya. Kedua kelompok ini sama² ingin melayani dan mendekatkan diri kepada Allah. Bedanya, kelompok pertama lebih banyak dengan anggota tubuh, sedangkan kelompok kedua lebih banyak dengan hati. 

Pengelompokan ini merupakan kehendak Allah. Oleh karena itu, terlarang bagi hamba yg memahami hal ini untuk meremehkan atau memandang rendah salah satu kelompok tersebut. Wallaahu a’lam

80. Warid Terjadi Secara Tiba-Tiba

Hikmah 80 dlm Al-Hikam:

قَـلَّما تَكونُ الواَرِداَتُ الاِلٰهِيَّة ُ اِلاَّ بَغْتَة ً لـءَـلاَّ يَدَّعِيَهاَ العِبَادُ بِوجوُدِ الاِسْتِعدادِ

Jarang sekali terjadi karunia besar dari Allah (warid) itu kecuali datang secara mendadak (tiba²), supaya tidak ada orang yg mengaku bahwa ia dapat karena telah mengadakan persiapan untuk menerima karunia itu.

Yg dimaksud warid disini adalah ilmu² Wahbiyyah dan ilmu yg halus yg berhubungan dengan kemakrifatan, yg oleh Allah diberikan pada hamba²Nya.

Dan pemberian itu biasanya dalam kondisi mendadak tanpa persiapan seperti shalat, puasa dll. Supaya hamba tidak mengku-aku bahwa dia ahli warid/kehebatan.

Singkatnya: Warid itu hadiah dan anugrah dari Allah, jadi bukan hasil setelah mengerjakan macam²nya ibadah.

Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as.: “Tahukah engkau mengapakah Aku mengangkat engkau sebagai Nabi yg langsung mendengar kalam-Ku?”

Jawab Nabi Musa as.: “Engkau yg lebih mengetahui.”

Allah berfirman: “Ketika Aku larikan semua kambing Nabi Syu’aib yg dipelihara itu, sehingga dengan susah payah engkau mengejar kambing² itu, sehingga dengan susah payah engkau mengejar kambing² itu untuk mengembalikannya, tetapi kemudian setelah kembali semuanya engkau tidak merasa jengkel/marah, maka itulah sebabnya.”

Dalam hadits, seorang pelacur yg memberi minum seekor anjing, tiba² Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni semua dosanya. Demikianlah kehormatan dan karunia besar dari Allah itu, tidak dapat diraba oleh manusia, dan selalu diberikan oleh Allah secara tiba², supaya tidak ada orang yg berbangga dengan amal perbuatannya. Wallaahu a’lam

81. Menjawab Semua yang Ditanyakan adalah Tanda Kebodohan

Hikmah 81 dlm Al-Hikam:

“Menjawab Semua yang Ditanyakan adalah Tanda Kebodohan”

مَنْ رَاَيْتـَهُ مُجِيْباً عنْ كُلِّ ماَ سُـءِـلَ وَمُعَبَِّراً عَنْ كُلِّ مَا شـَهِدَ وَذاكِراً كُلَّ ماَ علمَ فاَسْتَدِلَّ بذَٰ لكَ عن وجُودُ جَهلِهِ

Barangsiapa yg selalu menjawab segala pertanyaan, dan menceritakan segala sesuatu yg telah dilihat (mata hatinya), dan menyebut segala apa yg ia ingat (ketahui), maka ketahuilah bahwa yg demikian itu adalah tanda kebodohan orang itu.’

Menjawab segala pertanyaan yg berhubungan dengan ilmu batin yg dituangkan oleh Allah ke dalam hati orang² ‘Arifin, menunjukkan adanya kebodohan, demikian pula jika menceritakan segala yg dilihat, sebab semua itu berupa rahasia Allah yg diberikan kepada seorang hamba-Nya, maka jika diterangkan kepada bukan ahlinya, hanya akan menjadikan bahan ejekan dan pendustaan belaka. Karena itu yg menerangkan/menceritakan termasuk orang yg bodoh.

Para ulama’ sufi/tarekat mengatakan: Hati orang merdeka itu kuburan dari Sirr (rahasia Ketuhanan). Dan Sirr itu amanah dari Allah kepada hamba tersebut, barang siapa menerangkan Sirr itu berarti dia khianat. Jadi semua yg diketahui tidak boleh diterangkan kecuali dengan isyarat.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Sebagian dari ilmu itu ada yg sifatnya seperti barang simpanan, tidak ada yg tahu kecuali ulama’ billah, dan apabila dia menerangkan (menjelaskan ilmu Sirr) orang² akan ingkar”.

Sayyid Ali bin Husain bin Ali ra. berkata: “Hai Saudaraku, banyak ilmu yg seperti mutiara, berlian, yg seumpama aku terangkan, maka aku akan dituduh sebagai seorang musyrik, dan orang Islam menganggap halal darahku, mereka (muslimin) menganggap perkara jelek yg di kerjakan itu sebagai kebaikan, sungguh! Mutiaranya ilmu itu tetap aku simpan supaya orang² bodoh tidak tahu, dan menjadikan fitnah.”

Abu Hurairah ra  berkata: “Aku hafal ilmu dari Rasulullah Saw. dua karung, yg satu karung aku sebarkan ke masyarakat (umat), yg sekarung seumpama aku terangkan, kamu semua pasti akan memenggal leherku.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Seorang murid atau seorang ‘arif dianggap bodoh jika ia selalu menjawab, dengan mengungkapkan semua yg dilihat dan dirasakan batinnya, saat ditanya tentang ilmu yg diberikan Allah kepadanya. Mengapa disebut bodoh? Karena seharusnya ia mengerti bahwa untuk menjawab pertanyaan² semacam itu dibutuhkan penguasaan yg baik atas ilmu yg bersangkutan. Dan itu amat mustahil.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآ أُوتِيتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

”Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’ (17): 85) 

Semestinya, ia juga memperhatikan kondisi penanya karena tidak semua orang layak bertanya seperti itu atau cukup mengerti ketika mendengar jawaban atas pertanyaan seperti itu. Menjawab pertanyaan orang semacam ini adalah sebuah kebodohan. 

Mengungkapkan semua yg disaksikan sama dengan menyebarkan rahasia yg semestinya disimpan. Orang² bijak berkata, “Hati orang² merdeka merupakan kuburan rahasia. Rahasia adalah amanah Allah pada seorang hamba.” 

Menyebarkan rahasia ke semua orang adalah tindakan khianat atau tidak amanah. Menjawab pertanyaan yg berkaitan dengan pengalaman atas perkara² ghaib cukup dengan menggunakan isyarat atau anggukan. Bila dijawab dengan kata², itu sama saja dengan mengumumkan dan menyebarkan rahasia ke khalayak ramai. Lagi pula, menjelaskan perkara² ghaib dengan kata² justru hanya akan membuatnya semakin tidak jelas dan tertutup karena perkara² yang didasarkan pada dzauq (pengalaman ruhani) sulit diungkapkan dengan kata².

Selain itu, mengungkapkan semua yg diketahui merupakan bukti tidak adanya kemampuan dalam memilah-milah ilmu pengetahuan. Bisa jadi, di antara ilmu yg diketahuinya itu ada yg tak layak untuk diberitahukan kepada orang lain karena bisa membahayakan, mendatangkan kerusakan, atau penolakan manusia. 

Rasulullah Saw. bersabda, ”Di antara ilmu ada yg bagaikan mutiara berlumuran tanah yg tidak diketahui (bahwa itu mutiara), kecuali oleh ulama yg mengenal Allah. Jika ilmu itu diperlihatkan kepada manusia, niscaya orang² yg lalai kepada Allah akan menolaknya.”

Sayyid Ali ibn Husain ibn Ali ra. berkata, ”Banyak inti ilmu yg jika aku kemukakan semuanya, orang² akan menganggapku termasuk penyembah berhala, dan pasti banyak pula orang² muslim yg menghalalkan darahku. Oleh karena itu, aku selalu menyembunyikan inti ilmuku agar orang1 bodoh tidak guncang ketika menyaksikan Yang Maha Haqq.” 

Dan sebab mengucapkan/menerangkan bagian ilmu Sirr, Syaikh Husain bin Mansyur Al-Hallaj, dibunuh pemerintah pada masanya, sebab Al-Hallaj mengatakan: “Maafil jubbati illallah.” (dijubah ini tidak ada lain kecuali Allah). Itu semua karena mereka melihat Allah pada semua yg wujud, yakni mereka melihat Allah-lah yg mewujudkan, mengatur dan menguasai semua yg wujud itu. Ini diungkapkannya karena setiap orang yg dekat kepada Allah pasti merasa bahwa yg ada hanyalah Allah atau bahwa Allah itu menampakkan Diri-Nya dalam segala sesuatu. Keterangan seperti ini adalah puncak dari yg bisa diterangkan. Sedang hakikatnya tidak bisa dijelaskan dengan kata², kecuali hanya bisa dirasakan. Itulah puncak dari kemampuan mereka dalam mengungkapkan pengalaman mereka. Sebetulnya ini adalah perkara yg tidak bisa diketahui, kecuali lewat dzauq.

Kebenaran yg dilihat dan diketahui oleh setiap hamba adalah sama. Akan tetapi, itu akan berbeda manakala diungkapkan melalui kata². Wallaahu a’lam

82. Akhirat Adalah Tempat Pembalasan

Hikmah 82 dlm Al-Hikam:

“Akhirat Adalah Tempat Pembalasan”

اِنّماَ جَعلَ الدَّرالاَخِرَة َ محلا ًّ لِجَزَاءِ عِباَدِهِ المُوءْمنينَ لاَِنَّ هٰذ هِ الدَّرَ لاَ تَسَعُ ماَ يُرِيدُ انْ يُعْطيَهُم وَلاَنَّهُ اَجلَّ اَقداَرَهُمْ عنْ اَنْ يُجاَزيَهُِم في داَرِِ لاَبَقاَءَ لهاَ

Sesungguhnya Allah menjadikan akhirat untuk tempat pembalasan bagi hamba yg mukmin, sebab dunia ini tidak cukup untuk tempat apa yg akan diberikan kepada mereka, juga karena Allah sayang akan memberikan balasan pahala mereka di tempat yg tidak kekal.

Allah Ta’ala berfirman:
“Aku telah menyediakan untuk hamba-Ku yg shaleh, apa² yg belum pernah dilihat oleh mata, atau didengar oleh telinga atau tergerak dalam hati manusia.”

Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya tempat pecut kuda di dalam surga lebih berharga (baik) dari pada dunia dan semua isinya.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Dunia tidak bisa menampung segala kenikmatan indrawi maupun maknawi. Pertama, karena dunia ini sempit. Seperti disebut dalam khabar, di akhirat Allah memberikan kepada setiap mukmin sebuah kerajaan yg luasnya sepanjang perjalanan selama tujuh ratus tahun. Bagaimana halnya dengan orang² mukmin yg khusus (khawwash)? Tentu jarak dan luas dunia ini tidak akan cukup menampung seluruh pahala mereka.

Kedua, karena dunia penuh dengan kekurangan, rendah, dan hina. Sementara itu, segala kenikmatan di surga sangat mulia, tinggi, dan berharga. Sebagaimana disebut dalam khabar, tempat satu depa di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Cahaya gelang para bidadari di sana mengalahkan silaunya cahaya matahari.

Allah ingin memuliakan para hamba-Nya dengan tidak memberikan balasan di dunia, negeri yg tidak kekal ini. Segala hal yg fana, walaupun masanya panjang, akan sirna. Allah akan memberi mereka keabadian dalam nikmat dan kerajaan surga-Nya. Wallaahu a’lam

83. Tanda Diterima Amal

Hikmah 83 dlm Al-Hikam:

مَنْ وجَدَ ثمَرَة َعملِهِ عاَجِلا ً فَهُو دَليلٌ علٰى وُجودِ القبولِ اٰجِلا ً

Barangsiapa yg dapat merasakan buah dari amal ibadahnya di dunia ini, maka itu dapat dijadikan tanda diterimanya amal itu oleh Allah di akhirat.

Manis dan lezatnya amal itu sebagai tanda diterimanya amal tersebut oleh Allah yg di wujudkan di dunia. Itu sebagai bukti adanya pembalasan di akhirat. Apabila hamba sudah merasakan manisnya amal, maka jangan sampai berhenti atau condong dengan amal tersebut. Dan juga jangan sampai beramal demi mendapatkan manis dan lezatnya amal karena itu kepentingan nafsu. Dan karena maksud yg seperti itu bisa merusak keikhlasan ibadah. Jadi rasa manis dan enaknya ibadah itu hanya menjadi ukuran untuk membenarkan amal dan membenarkan tingkahnya hati.

Syaikh Atabah al-Ghulam berkata:
”Aku melatih diri shalat malam dua puluh tahun, setelah itu baru aku merasakan nikmat bangun malam.”

Syaikh Tsabit al-Bunani ra. berkata: ”Aku melatih membaca Al-Qur’an selama dua puluh tahun setelah itu baru aku merasakan nikmat membaca Al-Qur’an.”

Syaikh Abu Thurab berkata:
”Jika seseorang bersungguh-sungguh dalam niatnya beramal, maka dapat merasakan nikmat amal itu sebelum mengerjakannya, dan apabila ikhlas dalam melakukannya, maka dia akan merasakan manisnya, itulah amal yg diterima dengan karunia Allah.”

Al-Hasan berkata:
”Carilah manisnya amal itu pada tiga hal:

  1. Bila kamu telah mendapatkannya, bergembiralah dan teruskan mencapai tujuanmu.
  2. Apabila kamu belum mendapatkannya, ketahuilah bahwa pintu masih tertutup.
  3. Ketika membaca Qur’an, berdzikir dan ketika bersujud.”

Ada pula yg mengatakan:
”Dan ketika bersedekah dan ketika bangun malam.”

Sejak kapankah engkau merasakan telah mengenal Allah? Yaitu ketika aku setiap akan berbuat pelanggaran terhadap syariat-Nya dan aku merasa malu kepada-Nya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Yg dimaksud dengan ”buah amal di dunia” adalah kenikmatan dalam beramal. Bila seseorang sudah merasakan nikmatnya beramal, itu berarti bahwa amal tersebut telah diterima Allah selagi masih di dunia.

Amal yg memiliki sifat² seperti ini akan diterima Allah. Bila Allah telah menerima amal seorang hamba di dunia, itu adalah tanda bahwa kelak di akhirat, Dia akan memberinya pahala, sebagaimana yg akan dijelaskan.

Sekalipun telah merasakan manisnya beramal, seorang hamba tidak layak untuk terlena dan merasa bahagia terlebih dahulu. Ia juga tidak layak berharap agar amal tersebut terus berlangsung lantaran ia merasa nikmat dan mujur di dalamnya. Hal itu bisa merusak keikhlasannya dalam beribadah dan ketulusan niatnya. Wallaahu a’lam

84. Kedudukan Hamba Di Sisi Allah

Hikmah 84 dlm Al-Hikam:

“Kedudukan Hamba Di Sisi Allah”

اِذاَ اَردتَ اَنْ تَعْرِفَ قدرَكَ عِندهُ فاَنْظُرْ ماَذاَ يُقِيمكَ فيهِ

Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikankah dimana Dia menempatkanmu.

Hikmah ini bisa diartikan dua kedudukan.

  1. Awam (umum), yaitu: apabila engkau termasuk golongan orang yg beruntung dan diterima, Allah akan menjalankanmu pada apa² yg selalu menjadikan Allah ridha, seperti selalu taat dan ibadah. Dan apabila kamu termasuk ahli celaka, maka Allah akan menjalankanmu pada perkara yg menjadikan murkanya Allah.
  2. Khash, yaitu: jika kamu ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka lihatlah kedudukan Allah di hatimu.

Rasulullah Saw. bersabda:

”Barangsiapa yg ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah mendudukkan hamba-Nya, sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah dalam hatinya.”

Syaikh Fudhail bin Iyadh ra. berkata:

”Sesungguhnya seorang hamba dapat melakukan taat ibadah kepada Tuhan itu menurut kedudukannya di sisi Tuhan, atau perasaan imannya terhadap Tuhan, atau kedudukan Tuhan di dalam hatinya.”

Wahb bin Munabbih berkata:

”Aku telah membaca dalam kitab² Allah yg dahulu Allah berfirman:

”Wahai anak Adam, taatilah perintah-Ku dan jangan engkau beritahukan kepada-Ku apa kebutuhan yg baik bagimu. [Yakni engkau jangan mengajari kepada-Ku apa yg baik bagimu].” Sesungguhnya Aku [Allah] telah mengetahui kepentingan hamba-Ku, Aku memuliakan siapa yg taat pada perintah-Ku, dan menghina siapa yg meninggalkan perintah-Ku, Aku tidak menghiraukan kepentingan hamba-Ku, sehingga hamba-Ku memperhatikan hak-Ku [yakni kewajibannya terhadap Aku].”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Apakah kau termasuk orang² yg maqbul (diterima amalnya) dan bahagia ataukah termasuk orang² yg mardud (ditolak amalnya) dan menderita? Jika kau ingin tahu dirimu, perhatikan di mana Allah menempatkanmu, apakah di dalam ketaatan atau sebaliknya?

Siapa yg termasuk orang² yg maqbul dan bahagia maka Allah akan mempekerjakannya dalam amal yg diridhai-Nya, berupa bermacam ketaatan. Siapa yg termasuk orang yg mardud dan menderita maka Allah akan mempekerjakannya dalam hal yg dibenci-Nya, berupa ragam pelanggaran. Ini berlaku bagi orang² awam. Adapun bagi orang² khusus (khawwash) maka kalimatnya adalah, ”Jika kau ingin tahu kedudukanmu di sisi-Nya, apakah kau termasuk muqarrabin atau tidak, lihatlah di mana Allah menempatkanmu dan pengetahuan apa yg diberikan-Nya ke dalam hatimu?”

Wallaahu a’lam

85. Nikmat Lahir Dan Batin

Hikmah 85 dlm Al-Hikam:

“Nikmat Lahir Dan Batin”

متىٰ رَزَقكَ الطَّاعةَ والغِنىٰ بهِ عَنها فاَعْلم اَنَّهُ قد اَسْبَغ َ عليكَ نِعمَهُ ظاَهِرة ًوباطِنَة ً

Ketika Allah memberi rezeki kepadamu berupa perasaan puas melakukan taat [ibadah] pada lahirmu, dan merasa cukup dengan Allah dalam hatimu, sehingga benar² tidak ada sandaran bagimu kecuali Allah. Maka ketahuilah bahwa Allah telah melimpahkan kepadamu nikmat lahir bathin.

Dua macam rezeki yg dinyatakan disini adalah Islam dan Iman. Hamba Allah yg memperoleh kedua rezeki tersebut menjadi insan yg beriman dan beramal shalih. Tidak ada amal shalih tanpa iman dan tidak ada kenyataan iman tanpa amal shalih. Ayat² al-Qur’an sering menggabungkan iman dan amal shalih menjadi satu, tidak dipisahkan.

Orang yg mengaku beriman tetapi tidak beramal menurut apa yg di imaninya adalah dianggap sebagai orang yg berbohong, sementara orang yg melakukan amal shalih sedangkan hatinya tidak beriman adalah munafik. Kesempurnaan seorang insan terletak pada gabungan kedua-duanya, yaitu iman dan amal shalih.

Seorang hamba dituntut dua macam, yaitu menurut perintah Allah dan meninggalkan larangan pada lahirnya, dan hanya bersandar serta berharap kepada Allah pada bathinnya. Karena itu siapa yg di beri rezeki oleh Allah demikian, berarti telah menerima karunia nikmat Allah yg sempurna lahir dan bathin, dan menyampaikan pada cita²nya di dunia dan di akhirat.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

”Ketaatan” ialah melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan secara lahir. Adapun makna ”merasa cukup dengan-Nya” adalah kau tidak terlalu bergantung pada ketaatan itu dalam mendapatkan keinginanmu, tetapi hanya bergantung kepada Tuhanmu dan menyisihkan segala hal selain-Nya.

Jika demikian, ketahuilah bahwa Allah telah menganugrahkan segala karunia-Nya, baik yg lahir, seperti ketaatan, maupun yg batin, seperti makrifat yg mewajibkanmu untuk mengabaikan dan tidak melihat selain-Nya. Wallaahu a’lam

Komentar:

Yaqin dlm ilmu/pemahaman, disebut juga iman, yakin dlm penyaksian/musyahadah, disebut juga ihsan.

Seringkali… Setelah yaqin dlm ilmu, haliyah kita dinaikkan kepada yakin dlm penyaksian.

Contoh:
Bukan karena ikhtiar kita (jualan, marketing, narik taksi online, kontraktoran, ngajar jadi guru, dll), lantas Allah memberi rejeki. Apalagi sampai ta’alluq, menganggap ikhtiar kita itu sebagai sababiyah diberinya rejeki.

86. Sebaik-Baik Permintaan

Hikmah 86 dlm Al-Hikam:

“Sebaik-Baik Permintaan”

خيرُماَ تطلُبُهُ منهُ ماهُوَ طالبُهُ منكَ

Sebaik-baik yg harus engkau minta dari Allah, ialah bisa mengerjakan apa² yg Allah perintahkan kepadamu.

Ingatlah! Pada setiap waktu dan setiap keadaan pasti disitu ada tuntutan/kewajiban dari Allah, maka sebaik-baik yg harus engkau minta kepada Allah supaya tetap iman, patuh, taat pada semua perintah dan larangan, istiqamah dalam pengabdian diri kehadirat Allah. Itulah sebaik-baik yg harus engkau minta, baik untuk dunia maupun untuk akhirat, sebab hanya itulah bahagia yg tiada bandingnya.

Karena itu sebaik-baik doa ialah:

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, ridha-Mu, dan surga, dan aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan api neraka.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Sebaik-baik perkara yg kau minta dari Allah adalah yg Allah minta darimu, berupa sikap istiqamah di jalan ‘ubudiyah. Ini lebih baik bagimu daripada permintaanmu berupa nasib baik dan keinginan dunia atau akhiratmu karena itu hanyalah keuntungan bagi dirimu sendiri. Wallaahu a’lam

87. Tanda Orang Yang Tertipu

Hikmah 87 dlm Al-Hikam:

“Tanda Orang Yang Tertipu”

الحزنُ علٰى فِقداَنِ الطَّاعةِ مع عدمِ النُّهوْضِ اليها من علامات الاِغتِرارِ

Merasa susah karena tidak dapat melakukan suatu amal ibadah yg disertai oleh rasa malas untuk melakukannya, itu suatu tanda bahwa ia terperdaya [tertipu] oleh syaitan.

Jika ketinggalan suatu amal kebaikan merasa sedih, tetapi bila mendapat kesempatan tidak segera melakukannya, maka itu suatu tanda telah dipermainkan oleh nafsu dan syaitan. Susah yg seperti ini adalah susah yg bohong, dan menangis yg seperti ini juga menangis yg bohong. Sebagai mana dikatakan sebagian ulama’: “Banyak mata yg menangis akan tetapi hatinya masih keras, karena orang tersebut tidak aman dari tipuan Allah yg samar. Allah tidak memberikan pada orang tersebut apa yg manfaat pada dirinya tapi malah memberi sesuatu yg membohongi dirinya, yaitu susah dan menangis yg bohong. Adapun susah yg sesungguhnya yaitu, susah yg mendorong dirinya untuk melakukan taat yg disertai menangis yg benar. Dan itu termasuk dari maqomnya salik.

Bersabda Rasulullah Saw.:

“Sesungguhnya Allah menyukai pada tiap hati yg selalu berduka cita.”

Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq ra. berkata:

“Seseorang yg menyesal dapat menempuh jalan menuju kepada Allah dalam waktu satu bulan, apa yg tidak dapat ditempuh oleh orang yang tidak menyesal dalam beberapa tahun. Karena itu termasuk dalam sifat utama bagi Rasulullah Saw. Mutawashilul-ahzan, daa’imul fikir. Rasulullah Saw. selalu merasa berduka cita dan selalu berfikir [merenung]”.

Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyah mendengar seseorang berkata:

”Alangkah sedihnya”. Maka Rabi’ah berkata:

”Katakanlah, alangkah sedikitnya rasa sedihku, sebab bila engkau benar² merasa sedih, tidak berkesempatan lagi untuk bersuka cita.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Kesedihan seperti ini biasanya merupakan akibat ketergantungan atas sesuatu yg tidak ada wujudnya. Inilah kesedihan semu yg biasanya disertai dengan tangisan yg juga semu. Dalam pepatah disebutkan, “Berapa banyak mata yg meneteskan air mata, tetapi hatinya tetap keras.”

Orang yg bersedih semu itu akan merasa aman dari makar Allah yg tersamar. Allah akan menahan apa yg berguna baginya dan memberi apa yg membuatnya sedih dan menangis. Dmgan begitu, ia menganggap baik ahwal-nya dan menganggap dirinya berguna. Adapun kesedihan yg tulus dan sungguh² adalah yg mendorong kepada ketaatan dan diiringi dengan tangisan yg benar. Ini adalah maqom para salik.

Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq ra. yg selalu bersedih menuturkan bahwa ia meniti jalan Allah dalam sebulan seperti orang yg belum pernah menempuh jalan Allah selama bertahun-tahun. Wallaahu a’lam

88. Tanda-Tanda Orang ‘Arif

Hikmah 88 dlm Al-Hikam:

“Tanda-Tanda Orang ‘Arif”

ماَالعاَرِفُ مَن اذاَ اَشارَ وجدَ الحَق َّ اقرَبَ اليهِ مِنْ اِشارَتِهِ ، بلِ العارفُ مَن لاَ اِشارَة َ لهُ لِفَناءـهِ في وُجُوده وانطِواَءـهِ في شهوُدهِ

Tidak disebut orang ‘arif itu, orang yg bila ia memberi isyarah sesuatu ia merasa bahwa Allah lebih dekat dari isyarahnya, tetapi orang ‘arif itu ialah yg merasa tidak mempunyai isyarah, karena merasa lenyap/sirna diri dalam wujud Allah, dan diliputi oleh pandangan [syuhud] kepada Allah.

Hikmah yg lalu menerangkan keadaan orang awam yg dihijab oleh cahaya dunia dan syaitan sehingga mereka tidak jadi untuk berbuat taat kepada Allah. Hikmah 88 ini pula menerangkan keadaan orang yg berjalan pada jalan Allah dan sudah mengalami hakikat², tetapi cahaya hakikat masih menjadi hijab antara dirinya dengan Allah. Pengalaman tentang hakikat menurut istilah tasawuf disebut isyarah tauhid. Isyarah² tersebut apabila diterima oleh hati maka hati akan mendapat pengertian tentang Allah. Isyarah² demikian membuatnya merasa dekat dengan Allah. Orang yg merasa dekat dengan Allah, tetapi masih melihat kepada isyarah² tersebut masih belum mencapai maqom ‘arif billah. Orang ‘arif billah sudah melepas isyarah² dan sampai kepada Allah yg tidak boleh di isyarahkan lagi. Maqom ini dinamakan fana’ fillah atau lebur kewujudan diri dalam Wujud Mutlak dan penglihatan mata hati tertumpu kepada Allah semata-mata, yaitu dalam keadaan:

Tiada sesuatu sebanding dengan-Nya.

Tidak ada nama yg mampu menceritakan tentang Dzat-Nya. Tidak ada sifat yg mampu menggambarkan tentang Dzat-Nya. Tidak ada isyarah yg mampu memperkenalkan Dzat-Nya. Itulah Allah yg tidak ada sesuatu apa pun menyerupai-Nya. Maha Suci Allah dari apa yg disifatkan.

Yakni, siapa yg masih mempunyai pandangan kepada sesuatu selain Allah, maka belum sempurna sebagai seorang [yg mengenal kepada Allah]. Tetapi seorang ‘arif yg sesungguhnya, ialah yg merasakan kepalsuan sesuatu selain Allah, sehingga pandangannya tiada lain kecuali kepada Allah.

Seorang ‘arif ditanya tentang apakah fana’ itu? Dia menjawab:
“Fana’ ialah muncul/terlihatnya sifat keagungan dan kemegahan Allah pada hamba-Nya, sehingga hamba tersebut jadi lupa akan dunia, lupa akhirat, lupa derajat, lupa maqom, hal, dzikir, lupa akalnya, lupa dirinya sendiri, lupa fana’nya sebab tenggelam dalam ta’dhim kepada Allah Ta’ala.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

”Memberi isyarat” ialah menunjukkan sebagian rahasia Allah dengan isyarat. ”Merasa Allah lebih dekat” berarti ia merasa bahwa Allah selalu hadir bersama-Nya dan tak pernah ghaib, bahkan serasa Allah memperhatikan-Nya saat ia menunjukkan sebagian rahasia Ilahi itu.

Tentu, orang seperti ini bukanlah seorang ‘arif yg sesungguhnya karena ia selalu merasa dirinya ada dan kekal. Pola pikirnya masih seperti orang yg mahjub, karena mengandaikan adanya wujud sebanyak “yg menunjukkan”, wujud objek “yg ditunjukkan”, dan wujud media “yg digunakan untuk menunjukkan”. Selama ia sadar dengan akalnya bahwa ia sedang menunjukkan sesuatu, yaitu Allah, yg ditunjukkannya melalui media ucapan, maka artinya selama itu pula ia tidak merasa dirinya sirna dan fana’ karena ia belum keluar dari ranah indranya.

Isyarat lebih halus bentuknya daripada ungkapan karena ia sekadar pertanda, bukan pernyataan. Isyarat kerap digunakan oleh ahli tarekat di antara mereka saat mereka berdzikir. Mereka telah dibukakan oleh Allah rahasia² tauhid, ilmu laduni, dan pengalaman² yg didapat melalui perasaan.

Orang yg mengisyaratkan sesuatu, namun selalu memperhatikan isyaratnya walaupun ia sadar bahwa Allah lebih dekat kepadanya dan tidak ghaib darinya saat ia memberi isyarat maka orang ini tidak ‘arif. Ia tidak lenyap dalam penyaksian terhadap-Nya, Orang ‘arif sesungguhnya ialah orang yg tampak tidak memiliki isyarat sama sekali walaupun isyarat itu terjadi darinya karena ia telah melebur dan fana’ dalam wujud Allah. Ia lenyap dalam penyaksian terhadap-Nya.

Maknanya, seorang ‘arif sejati adalah orang yg sirna dari isyarat, yg di isyaratkan, dan alat isyaratnya. Jika terjadi isyarat darinya, ia tidak menyatakannya dan tidak merasakannya karena yg mengisyaratkan dan yg di isyaratkan saat itu hanya Allah Ta’ala. Di sini ia sedang melebur dengan penyaksian terhadap-Nya, bukan malah memisahkan diri dari sana. Maka dari itu, siapa yg melakukan hal ini, berarti ia tidak lagi akan melihat dirinya sendiri.

Syaikh Yusuf Al-‘Ajami berkata, ”Siapa yg berbicara di maqam peleburan, berarti ia seakan tidak berbicara. Yg berbicara adalah Yang Maha Haq melalui lisan hamba-Nya.”

Ini sesuai dengan firman Allah dalam sebuah hadits qudsi,

“Dengan-Ku, dia (hamba) mendengar, dengan-Ku pula dia melihat, dan dengan-Ku dia berbicara.”

Seseorang dari mereka ditanya tentang kefana’an diri (peleburan diri). Ia menjawab, ”Keagungan dan kemuliaan Allah tampak pada diri seorang hamba sehingga membuatnya lupa dunia dan akhirat, derajat dan ahwal, maqam dan dzikir, dan ia merasa fana’ dari segala sesuatu; akalnya, dirinya, bahkan fana’ dari kefana’an itu sendiri sampai ia merasa tenggelam dalam keagungan Ilahi.” Wallaahu a’lam

89. Roja’ (Harapan) Dan Tamanni (Khayalan)

Hikmah 89 dlm Al-Hikam:

“Roja’ (Harapan) Dan Tamanni (Khayalan)”

الرَّجاءُ ماَ قاَرَنهُ عملٌ وِالاَّ فهُوَ اُمْنِيَّةٌ

Pengharapan (Roja’) yg sesungguhnya ialah yg disertai amal perbuatan kalau tidak demikian, maka itu hanya angan² [khayalan] belaka.

Yg dinamakan roja’ yaitu pengharapan yg dibarengi dengan amal. Apabila tidak dibarengi amal tapi malah malas beramal dan masih berani melakukan maksiat dan dosa, pengharapan itu disebut umniyyah atau lamunan. Dan dia tertipu dengan belas kasih Allah.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Seorang yg sempurna akal ialah yg mengoreksi dirinya dan bersiap-siap untuk memghadapi maut, sedang orang bodoh ialah yg selalu menurutkan hawa nafsu dan mengharap berbagai macam harapan.”

Syaikh Ma’ruf al-Karkhi berkata:

“Mengharap surga tanpa amal perbuatan itu dosa, dan mengharap syafa’at tanpa sebab berarti tertipu, dan mengharap rahmat dari siapa yg tidak engkau taati perintahnya berarti bodoh.”

Al-Hasan ra. berkata:

“Sesungguhnya ada beberapa orang oleh angan² keinginan pengampunan, sehingga mereka keluar dari dunia [mati], sedang belum ada bagi mereka kebaikan sama sekali. Sebab mereka berkata: Kami baik sangka terhadap Allah. Padahal berdusta dalam pengakuan itu, sebab andaikan mereka baik sangka terhadap Allah, tentu baik pula perbuatannya. Al-Hasan lalu membacakan ayat Qur’an:

وَذٰ لِكمُ ْ ظَنُّكمُ ُالَّذىِ ظَنـَنـْتُمْ بِرَبِّكُم اَرْداكمُ ْ فَاَصبَحْتـُمْ من الخاَسِرِينَ

“Itulah persangkaanmu terhadap Tuhan telah membinasakan kamu, maka kamu termasuk orang² yg rugi.”

Al-Hasan berkata: Wahai hamba Allah, berhati-hatilah kamu dari angan² [khayalan] yg palsu, sebab itu sebagai jurang kebinasaan, kamu akan lalai karenanya. Demi Allah, tidak pernah Allah memberi pada seorang hamba kebaikan semata-mata karena angan² belaka, baik untuk dunia maupun untuk akhirat.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Harapan yg sesungguhnya ialah harapan yg memotivasi seseorang untuk bersungguh-sungguh dalam bekerja dan beramal. Biasanya, orang yg berharap sesuatu, dia akan mencarinya. Orang yg takut terhadap sesuatu, dia akan menghindarinya.

Jika harapan tidak dibarengi amal, bahkan pelakunya malas dan enggan bekerja, serta justru mendorong kepada maksiat dan dosa, menurut para ulama, itu hanyalah angan², bukan harapan sesungguhnya. Ia bukanlah harapan, melainkan ketertipuan.

Allah Ta’ala berfirman:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتٰبَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هٰذَا الْأَدْنٰى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا

“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yg jahat) yg mewarisi Taurat, yg mengambil harta benda dunia yg rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” (QS. Al-A’raf [7]: 169)

Rasulullah Saw. bersabda, ”Orang yg baik ialah orang yg menghinakan dirinya sendiri dan beramal untuk masa setelah kematian, sedangkan orang yg buruk ialah orang yg mengikuti hawa nafsunya dan berharap dari Allah dengan harapan² palsu.” Wallaahu a’lam

90. Permintaan Orang ‘Arif Billah

Hikmah 90 dlm Al-Hikam:

“Permintaan Orang ‘Arif Billah”

مَطْلَبُ العارفينَ مِنَ اللهِ تعالى الصِدق ُ في العُبُوديةِ والقِيامُ بحُقوُقِ الرُّبُوبيَّةِ

Permintaan orang yg sudah makrifat kepada Allah, hanya semoga dapat bersungguh-sungguh dalam menghamba dan tetap dalam menunaikan hak² kewajiban terhadap Allah.

Yg dinamakan Sidqul ‘Ubudiyyah yaitu: menetapi tatakramanya menghamba pada Allah (ubudiyyah), seperti mencukupi hak²nya Allah dalam beribadah, mensyukuri pemberian Allah, sabar menghadapi bala’, menyerahkan semua urusannya pada Allah, selalu Muraqabah (meniti taqdir Allah, yg terjadi atas dirinya dan lainnya), memperlihatkan fakirnya kepada Allah dan selalu mengharap rahmatnya Allah dan lain².

Hikmah 90 ini menjelaskan seorang ‘arif itu tidak mempunyai permintaan kepada Allah, kecuali dua perkara:

1. SHIDQUL ‘UBUDIYYAH,
2. AL-QIYAMU BIHUQUQIR-RUBUBIYYAH.

Tanpa melihat kepentingan dirinya dan nafsunya.

Berbeda dengan orang yg belum ‘Arif billah, yg belum bisa meninggalkan kepentingan diri dan nafsunya.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Yg diminta oleh orang ’arif ini lebih tinggi daripada yg di minta oleh orang selainnya, baik itu oleh ahli ibadah, zahid, maupun ‘alim. Hal itu dikarenakan, yg diminta oleh orang ‘arif hanyalah bagaimana bisa tulus dalam beribadah dan menghambakan diri, yakni dengan memperhatikan etika penghambaan, berakhlak dengan akhlak hamba, dan melaksanakan hak² Allah.

Hak² Allah itu adalah bersyukur atas karunia-Nya, bersabar atas musibah-Nya, memusuhi orang yg memusuhi-Nya, menjadikan penolong orang yg menolong-Nya, bertawakkal kepada-Nya, merasa diawasi-Nya (muraqabah), berdiri di hadapan pintu-Nya sambil mengenakan pakaian tawadhu’ dan kerendahan, mengulurkan tangan kepada yg butuh, memegang tali harapan kepada-Nya, mengenakan serban ketakutan di hadapan-Nya, serta sifat² dan akhlak ‘ubudiyah lainnya.

Siapa yg tulus dalam mengerjakan itu semua berarti ia telah menunaikan segala kewajiban yg dibebankan Allah kepadanya. Contoh memenuhi hak² Tuhan secara lahir adalah dengan taat secara lahir, muraqabah secara batin, dan selalu merasakan kehadiran-Nya dalam dirinya.

Hikmah di atas menjelaskan bahwa seorang ‘arif hanya meminta dua perkara, tanpa memperhatikan keuntungan diri. Artinya, orang² ‘arif memisahkan antara tujuan dan keuntungan diri dalam permintaan mereka. Sementara itu, yg lain tidak pernah memisahkan antara keuntungan dengan tujuan. Oleh sebab itu, permintaan seorang ‘arif lebih tinggi daripada permintaan selainnya.

Syaikh Abu Madyan berkata, ”Ada perbedaan antara orang yg tekadnya bidadari dan istana surga dengan orang yg keinginannya tersingkap hijab dan hadir bersama Allah.” Wallaahu a’lam

91. Al-Basthu Dan Al-Qobdhu (1)

Hikmah 91 dlm Al-Hikam:

“Al-Basthu Dan Al-Qobdhu”

بسطكَ كى لا يُبْقِيك مع القبضِ وقبضكَ كى لا يترُككَ معَ البسطِ واخْرَجكَ عَنْهماكى لاتكون لشىءٍدونهُ

Allah melapangkan bagimu, supaya kamu tidak selalu dalam kesempitan (qobdh). Dan Allah telah menjadikanmu sempit supaya kau tidak hanyut (terlena dalam kelapangan (basth). Dan Allah melepaskanmu dari keduanya, supaya kau tidak tergantung kepada sesuatu selain Allah.

Arti Hikmah ini, Allah selalu membuat macam² keadaan hatimu, supaya kau selalu sadar dan fana’, yakni, tidak melihat keadaanmu itu.

Jadi, Qobdhu (kesempitan itu untuk ahli Bidayah, seumpama tidak ada Qobdhu tentu tidak bisa melatih/mencegah dari kebiasaan dan kesenangan nafsu. Sedangkan maqom Basthu, bagi orang yg masuk permulaan futuh, supaya tidak kendor kekuatannya dan anggota badannya bisa digunakan untuk sesuatu yg disenangi, yaitu pemberian dari Allah dan dan tanda² ridho dari Alloh.

Sedangkan maqom I’TIDAL, itu bagi orang yg berada pada akhir suluknya, supaya keadaannya bisa tetap (tidak berubah) dan bersih amalnya, dan selalu di sisi Allah, tanpa ada ‘illat.

Allah merubah-rubah keadaan dari sedih ke gembira, dari sakit ke sehat, dari miskin ke kaya, dari gelap ke terang dan seterusnya, supaya mengerti bahwa kita tidak bisa lepas dari hukum dan ketentuan-Nya. Dan supaya kita selalu berdiri diatas landasan LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH.

Firman Allah Ta’ala:

لِكيْلا تأ ْسَوْاعلٰى ماَ فاَتَكُم ولا تَفرَحُوْا بِماَ اٰتَكمُ ْ

“Supaya kamu tidak sedih (menyesal) terhadap apa yg terlepas dari tanganmu, dan tidak gembira atas apa yg diberikan kepadamu.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Saat dalam kesempitan, kita merasa tertekan dan sakit. Saat lapang, kita akan merasa beruntung dan senang. Allah akan mengeluarkanmu dari kesempitan dan kelapangan dengan cara membuatmu merasa fana’ dan kau memilih abadi dengan-Nya.

Oleh karena itu, jangan terus-menerus berada dalam sifat dan keadaanmu yg menyakitkan atau menyenangkan agar itu tidak menjadi hijab antara dirimu dengan Tuhanmu dan agar kondisimu seimbang dan berada di tengah: tidak sempit, tidak pula lapang.

Maknanya, warnailah keadaan batinmu agar kau bisa menaklukkannya dan merasa fana darinya. Kesempitan diperuntukkan bagi orang² ‘Arif pemula. Sekiranya tanpa kesempitan, hakikat² mereka tidak akan terkumpul dan tidak terhenti dari keinginan dan syahwat.

Adapun kelapangan diperuntukkan bagi orang² yg mendapatkan cahaya awal kemenangan agar mereka mengerahkan segenap kekuatannya dan merasa nyaman dengan embusan napas Tuhan dan tanda² penyaksian terhadap keridhaan-Nya.

Sementara itu, keseimbangan diperuntukkan bagi ahli nihayah (orang yg mendapat tujuan akhir perjalanannya) agar ahwal mereka lurus, amal mereka bersih, dan mereka selalu berada di hadapan Tuhan tanpa cacat dan kekurangan.

Kesimpulannya, kesempitan dan kelapangan merupakan kondisi yg masih kurang karena masih membutuhkan eksistensi dan keberadaan seorang hamba di dunia. Namun, keduanya dapat membuat hamba itu menjadi tegar.

Itu merupakan salah satu tanda kelembutan Allah kepada hamba-Nya. Allah mewarnai hamba-Nya dengan dua kondisi itu, lalu mengeluarkannya dari sana dengan menjadikan hamba itu merasa fana dan berada bersama-Nya. Kesempitan dan kelapangan adalah kondisi kaum ‘Arif pemula. Pada masa² itu, mereka masih tercemari. Persis seperti murid pemula yg keadaannya diwarnai harap dan takut. Kendati demikian, keduanya tetap berbeda. Harap dan takut yg dirasakan murid berkaitan dengan perkara yg diperkirakan akan terjadi di masa mendatang, baik itu yg ditakuti maupun yg dicintai.

Adapun kesempitan dan kelapangan yg menimpa kaum ‘Arif berkaitan dengan perkara yg tidak diperkirakan kedatangannya. Jika perkara yg tiba² datang itu adalah perkara yg ditakuti, itu adalah kesempitan. Jika perkara yg tiba² datang itu adalah perkara yg dicintai, itu adalah kelapangan.

Sebab adanya kesempitan dan kelapangan itu adalah asupan² yg masuk ke dalam batin seorang ‘arif. Jika yg masuk ke dalam hati adalah asupan keagungan Ilahi, terjadilah kesempitan. Jika asupannya berupa keindahan Ilahi, terjadilah kelapangan. Wallaahu a’lam

92. Al-Basthu Dan Al-Qobdhu (2)

Hikmah 92 dlm Al-Hikam:

العَارِفوُنَ اِذاَ بُسِطوُ اَخـْوَفَ مِنْهُمْ اِذاَ قبَضَُوا وَلاَ يَقِفُ علىَحُدُودِ الاَدَبِ فى الْبَسْطِ الاَّ قلِيْلٌ

‘al-‘Arifun (orang yg ma’rifat billah) jika merasa lapang, itu lebih khawatir/takut kepada Allah, dari pada jika berada dalam kesempitan, dan tidak dapat berdiri tegak di batas² adab dalam keadaan lapang (basthu) kecuali hanya sedikit sekali.

Dalam kitab ‘Latha’iful Minan’, Syaikh Ibnu Atha’illah berkata: “Keadaan basthu itu menggelincirkan kaki para lelakinya Allah (orang shalih). Jadi keadaan Basthu menjadikan sebab para ‘Arifin menambah kehati-hatiannya, dan kembali pada Allah. Sedangkan keadaan Qobdhu itu lebih dekat dengan keselamatan, karena itu sudah menjadi kedudukan hamba. Karena hamba selalu dalam genggaman dan kekuasaan Allah”.

Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq ra. berkata: “Kami diuji dengan kesukaran, maka kami kuat bertahan dan sabar, tetapi ketika kami diuji dengan kesenangan (kelapangan), hampir tidak tahan/sabar”.

Syaikh Yusuf bin Husain ar-Razy menulis surat kepada Imam Junaid al-Baghdadi ra.: “Semoga Allah tidak memberimu rasa kelezatan hawa nafsumu, jika engkau merasakan kelezatan, maka tidak akan merasakan kebaikan untuk selamanya”.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Mereka amat mengkhawatirkan diri mereka jika diberi Allah kelapangan. Bagi mereka, kelapangan lebih cocok dengan hawa nafsu. Saat itu, mereka takut terjerumus oleh dorongan hawa nafsu untuk selalu berbicara tentang ahwal, karamah, dan keistimewaan lain yg mereka miliki. Mungkin di situlah letak keterusiran dan keterasingan mereka. Terkadang pula, pada saat itu, dari diri mereka terucap ucapan yg tidak sesuai dengan keagungan Tuhan. Saat itulah mereka dituntut untuk selalu menjaga adab dan menahan diri. Itu amat sulit bagi mereka dalam kondisi ini.

Oleh sebab itu, Syaikh Ibnu Atha’illah berkata, “Yg bisa menjaga adab pada saat berada dalam kelapangan hanyalah sedikit.”

Kelapangan dapat menggelincirkan kaki orang². Ia menuntut agar mereka lebih waspada dan berhati-hati. Kesempitan lebih dekat kepada keselamatan karena ia merupakan tempat hamba berada dalam genggaman Allah. Di sana pula kuasa Allah meliputinya. Dari manakah gerangan datangnya kelapangan? Dari Allah.

Kelapangan sama dengan keluar dari hukum waktu-Nya, sedangkan kesempitan adalah keadaan yg memang layak ada di dunia ini. Karena dunia adalah negeri yg penuh beban, misteri tentang masa depan, ketidaktahuan tentang masa lalu, dan tempat tuntutan pelaksanaan hak² Allah. Wallaahu a’lam

93. Al-Basthu Dan Al-Qobdhu (3)

Hikmah 93 dlm Al-Hikam:

البَسْطُ تاءْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهاَ بِوُجُودِ الفَرَحِ والقبضُ لاَ حَظَّ للنَّفْسِ فِيْهِ

Di dalam keadaan lapang (bashtu), hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam keadaan sempit (qobdhu) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu.

Hikmah ini menjelaskan hikmah sebelumnya tentang sulitnya menjaga adab/tatakrama kepada Allah dikala keadaan Basthu, maka dari itu sedikit sekali orang yg bisa menepati adab kepada Allah dikala Basthu.

Karena itu manusia lebih aman dalam kesempitan, karena hawa nafsu tidak dapat berdaya dan tidak dapat bagiannya.

Syaikh Abul Hasan Ali as-Syadzili ra. berkata: Alqobdhu wal Basthu (susah/sedih dan senang dalam hati) itu selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih bergantinya siang dan malam. Dan sebabnya qobdhu (susahnya hati) itu salah satu dari tiga: karena dosa, atau kehilangan dunia, atau dihina orang, maka jika seseorang merasa berdosa maka segeralah bertaubat. Jika kehilangan dunia, maka harus rela dan menyerahkan kepada hukum Allah. Dan jika dihina orang harus sabar. Dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan orang lain.

Dan apabila terjadi qobdhu yg tidak di ketahui penyebabnya, maka harus tenang dan menyerah kepada Allah. Insya Allah tidak lama akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang, adakalanya terangnya bintang, yaitu ilmu, atau sinar bulan yaitu tauhid, atau matahari yaitu ma’rifat. Tetapi jika tidak tenang di masa gelap (qobdhu), mungkin akan terjerumus ke dalam kebinasaan.

Adapun masalah basthu (riang/senangnya hati), maka sebabnya adalah satu dari tiga ini: karena bertambahnya kelakuan ibadah/taat dan bertambahnya ma’rifat atau bertambahnya kekayaan atau kehormatan, dan yg ketiga karena pujian dan sanjungan orang kepadanya.

Maka adab seorang hamba jika merasa bertambah kelakuan ibadahnya dan ilmu ma’rifatnya, harus merasa bahwa itu semata-mata karunia dari Allah, dan berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari hasil usahanya sendiri. Dan jika mendapat tambahnya harta dunia, maka ini pula sebagai karunia dari Allah juga, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya. Adapun jika mendapat pujian dari orang lain kepadamu, maka kehambaanmu harus bersyukur kepada Allah yang telah menutupi kejelekanmu/aibmu, sehingga orang lain hanya melihat kebaikanmu.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Dalam hikmah ini terdapat penegasan tentang hikmah sebelumnya bahwa menjaga adab/etika saat lapang amat sulit. Sebab, tak ada yg bisa menjaga adab/etika dalam kondisi itu kecuali segelintir orang.

Seakan Syaikh Ibnu Atha’illah berkata, “Memang demikian adanya karena hawa nafsu selalu memainkan perannya dalam kondisi kelapangan.”

Biasanya, saat lapang, hawa nafsu menjadi lalai, melupakan kewajiban, mengaku-aku memiliki ilmu, pemahaman, ahwal batin dan rahasia², selalu berbicara tentang kemampuan khusus, menikmati hal² luar biasa, menyinggung masalah karamah, dan bersuara tentang maqam masing². Semuanya itu tentu bertentangan dengan prinsip ‘ubudiyah.

Sebaliknya, di dalam kesempitan, nafsu tidak merasa beruntung dan memiliki peran apa². Nafsu tidak akan sombong dengan menampakkan sesuatu yg menjadi miliknya. Dengan begitu, kesempitan lebih aman dan lebih membentuk kemampuan untuk menunaikan etika² ‘ubudiyah. Oleh karena itu, orang² ‘arif lebih mengutamakan kesempitan daripada kelapangan. Wallaahu a’lam

94. Rahasia Pemberian Dan Penolakan Allah (1)

Hikmah 94 dlm Al-Hikam:

“Rahasia Pemberian Dan Penolakan Allah”

رُبَّماَ اَعْطاكَ فمَنَعكَ وَرُبَّماَ منَعَكَ فأَعْطاكَ

Terkadang Allah memberimu kekayaan/kesenangan dunia, tetapi Allah menahan tidak memberimu perkara yg hakikatnya baik padamu (taufiq dan hidayah-Nya). Dan terkadang Allah menahan (tidak memberi) kamu dari kesenangan dunia tetapi pada hakikatnya memberikan kepadamu taufiq dan hidayah-Nya.

Jadi apabila Allah tidak memberi apa yg menjadi syahwat keinginanmu dan apa yg enak menurut perasaan nafsumu, hakikatnya itu adalah pemberian yg agung dari Allah, dan kamu dilepaskan dari apa yg menjadi kepentingan nafsumu.

Sebaliknya walaupun kelihatannya itu sebagai pemberian dari Allah (dikabulkannya doamu) pada hakikatnya itu sebagai penolakan dari Allah.

Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi berkata: “Jika ditahan (tidak diberi) permintaanmu maka hakikatnya engkau telah diberi, dan jika permintaanmu segera diberikan maka hakikatnya telah ditolak dari sesuatu yg lebih besar. Karena itu utamakan tidak dapat dari pada dapat, dan sebaiknya hamba tidak memilih sendiri, tapi menyerahkan sepenuhnya kepada Allah yg menjadikannya. Dan yg mencukupi segala kebutuhannya.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

“Taufik” ialah bimbingan untuk melakukan ketaatan serta mendekatkan diri kepada-Nya dan memahami-Nya.

Allah mungkin memberimu kesenangan dan kenikmatan dunia. Namun, Dia menghalangimu dari bimbingan-Nya untuk mentaati, mendekati, dan memahami-Nya. Mungkin juga Allah menghalangimu dari kesenangan dunia, namun dia memberimu bimbingan-Nya.

Halangan Allah kepadamu untuk menikmati syahwatmu dan menikmati kesenangan alam semesta, meski disertai buruknya kebiasaan ibadahmu, merupakan karunia yg besar dari-Nya. Allah telah menetapkannya untukmu dan memutusmu dari kepentingan dan tujuan²mu.

Sebaliknya, ketika Allah memberimu kesenangan dunia, walaupun secara lahir tampak seperti pemberian, jangan kau lihat lahirnya saja. Lihatlah hakikatnya. Saat itu, seorang hamba wajib menyerahkan putusan, pengaturan, dan pilihan kepada Tuhannya. Wallaahu a’lam

95. Rahasia Pemberian Dan Penolakan Allah (2)

Hikmah 95 dlm Al-Hikam:

مَتٰى فتَحَ لكَ باَبَ الفـَهْمِ فِى المَنْعِ عاَدَ المَنْعُ هُوَ عَيْنُ العطاَءِ

Apabila Allah telah membukakan pengertian (faham) tentang penolakan-Nya, maka berubahlah penolakan itu hakikatnya menjadi pemberian.

Sesuatu yg sangat menghalangi perjalanan keruhanian seorang murid adalah keinginan diri sendiri. Dia berkeinginan sesuatu yg menurutnya akan membawa kebaikan kepada dirinya. Keinginan atau hajat keperluannya itu mungkin tentang dunia, akhirat atau hubungan dengan Allah Ta’ala. Jika hajatnya tercapai dia merasa menerima karunia dari Allah. Jika hajatnya tidak dikabulkan dia akan merasa itu sebagai penolakan Allah, dan merasa jauh dari Allah. Orang yg berada pada peringkat ini selalu mengaitkan makbul permintaan atau doa, dengan kemuliaan di sisi Allah. Jika Allah mengabulkan permintaannya dia merasa itu adalah tanda dia dekat dengan-Nya. Jika permintaannya ditolak dia merasa itu tanda dia jauh. Anggapan begini sebenarnya tidak tepat. Tidak semua penerimaan doa itu menunjukkan dekat dan tidak semua penolakan itu menunjukkan jauh.

Apabila Allah telah memperlihatkan kepadamu hikmah kebijaksanaan-Nya dalam apa yg di jauhkan-Nya darimu, maka itu berarti suatu karunia Tuhan kepadamu. Sehingga terasa olehmu keselamatan dunia dan akhiratmu.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Ketika kau meminta namun tidak diberi, lalu kau paham bahwa tidak adanya pemberian itu merupakan salah satu bentuk rahmat-Nya untukmu (karena Dia Maha Tahu bahwa itulah yg terbaik untukmu), dan bahwa Tuhanmu sedang memperlihatkan kuasa-Nya di hadapanmu, maka pemahaman semacam itulah sejatinya pemberian untukmu dari-Nya. Wallaahu a’lam

96. Lahir Dan Batinnya Alam (Dunia)

Hikmah 96 dlm Al-Hikam:

“Lahir Dan Batinnya Alam (Dunia)”

اَلاَكـْواَنُ ظاَهِرُهاَ غِرَّ ةٌ وَباَطِنُهاَ عِبْرَةٌ فاَالنَّفْسُ تَنْظُرُ اِلىَ ظاَهِرِ غِرَّتِهاَ والقَلبُ يَنْظُرُ اِلٰى باَطِنِ عِبْرَتِهاَ

Alam semesta ini lahirnya berupa tipuan, dan batinnya sebagai peringatan, maka hawa nafsu melihat lahir tipuannya, sedangkan mata hati memperlihatkan peringatan/akibatnya.

Dunia ini bila dilihat dari lahirnya akan terlihat sangat indah, menyenangkan dan menggiurkan, sehingga banyak orang yg mencintai dunia, terbujuk oleh dunia sehingga melupakan Allah sang pencipta dan penguasa dunia.

Allah berfirman: “Maka janganlah kamu tertipu oleh kehidupan dunia.”

Firman Allah: WAMAL-HAYATAD-DUN-YA ILLAA MATAA-UL GHURUUR. (tiadalah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yg menipu)

Apabila dunia dilihat dari sisi batinnya (hakikatnya), akan menjadikan pelajaran bagi kita untuk mengenal Allah, dunia yg kita lihat akan membuat hati melihat manifestasi ketuhanan di dalamnya, dan dunia tempat berjalannya Qudrat dan Irodat Allah.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Maksud “alam” di sini adalah segala kenikmatan dan pernak pernik duniawi yg di dalamnya nafsu meraih keuntungannya. Alam membuat jiwa tertipu karena keindahan dan kilauannya.

Namun hakikatnya, alam sesungguhnya adalah objek untuk diambil pelajarannya dan dijauhi karena keburukan, kehinaan, dan kefanaannya.

Secara lahir, alam ini indah dipandang, sedangkan secara batin, ia amat buruk. Siapa yg melihat kepada lahirnya, ia akan mendapatinya hijau, indah, dan menyilaukan. Pasti ia tertipu karenanya dan akan suka melihatnya. Namun, siapa yg melihat hakikat batinnya, ia akan mendapatinya kering, mati, dan kotor sehingga akan menjadikannya bahan pelajaran dan menjauhinya.

Nafsu selalu melihat kepada hiasan alam yg menyilaukan sehingga ia tertipu dan pemiliknya akan binasa. Namun, kalbu akan melihat pada batinnya atau keburukannya sehingga ia akan berkaca di sana dan terhindar dari keburukannya. Wallaahu a’lam

97. Carilah Kemuliaan Yang Abadi

Hikmah 97 dlm Al-Hikam:

“Carilah Kemuliaan Yang Abadi”

اذا اَرَدتَ اَنْ يَكُونَ لكَ عِزًّ لاَ يَفْنىَ فَلاَ تَسْتَعِزَّنَّ بِعِزٍّ يُفـْنىٰ

Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan yg tidak punah/rusak, maka jangan membanggakan kemuliaan yg bisa rusak.

Manusia mencari kemuliaan melalui berbagai macam cara. Mereka mencarinya melalui harta, pangkat dan kekuasaan. Ada yg mencarinya melalui ilmu dan amal. Semua kemuliaan yg diperoleh dengan cara demikian bersifat sementara. Semua kemuliaan tersebut adalah fatamorgana.

Kemuliaan yg abadi/tidak rusak hanya kemuliaan Allah, maka bergantunglah dengan Allah, sebab Allah kekal abadi dan tidak rusak. Adapun jika bergantung kepada kekayaan, kebangsaan, kedudukan, maka semua itu palsu dan akan rusak tidak kekal. Maka barang siapa bergantung pada suatu sebab yg tidak kekal, maka akan rusak bersama dengan rusaknya sebab/alat itu.

Allah berfirman: “Apakah mereka mengharapkan pada apa yg mereka sanjung itu suatu kemuliaan, ketahuilah sesungguhnya kemuliaan itu semuanya milik dan hak Allah Ta’ala.”

Ada hikayat: Seseorang datang kepada raja Harun al-Rasyid, untuk memberi nasihat, tiba² Harun al-Rasyid marah kepadanya, lalu memerintahkan kepada pengawalnya supaya mengikat orang itu bersama dengan keledainya yg nakal, supaya dia mati di tendang keledai. Setelah perintah dilaksanakan tiba² keledai itu jadi lunak kepada orang yg akan dihukum. Kemudian Harun memerintahkan supaya orang tersebut di masukkan kedalam rumah dan pintunya supaya ditutup dengan semen, supaya dia mati didalamnya, tiba² orang yg dihukum itu telah berada di luar (kebun) sedang pintu rumah masih tertutup dengan semen. Maka orang itu dipanggil oleh Harun al-Rasyid dan ditanya: “Siapa yg mengeluarkan kamu dari rumah (penjara)?” Jawabnya: “Yg memasukkan saya ke kebun.” Harun bertanya lagi: “Dan siapa yg memasukkan engkau ke dalam kebun?” Jawabnya: “Yg mengeluarkan aku dari rumah.”

Kemudian Harun al-Rasyid sadar dan memerintahkan pengawalnya untuk membawa orang itu diatas kendaraan dan keliling kota, sambil memberitahukan pada masyarakat: “Ketahuilah bahwa raja Harun al-Rasyid menghinakan orang yg telah di muliakan Allah, maka tidak bisa.”

Seseorang datang kepada seorang ‘Arif sambil menangis, maka ditanya oleh sang ‘Arif: “Mengapa engkau menangis?” Jawabnya: “Karena Guruku telah mati.” Orang ‘Arif itu berkata: “Mengapa engkau berguru pada orang yg bisa mati.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Jika kau menghendaki kemuliaan abadi, jauhilah segala sebab dan yakinlah dengan adanya sang Pencipta sebab. Pencipta sebab adalah Tuhan Yang Abadi sehingga ketergantunganmu kepada-Nya menjadi sumber kemuliaan yg abadi.

Jangan kau tertipu dengan kemuliaan yg fana, misalnya dengan menyandarkan diri pada sebab dan tidak menyadari siapa Penciptanya. Karena sebab itu fana, ketergantunganmu terhadap sebab menjadi sumber kemuliaan yg tidak abadi.

Apabila kau merasa mulia karena Allah, kemuliaanmu akan abadi dan tak seorang pun yg mampu menghinakanmu. Namun, jika kau mendapat kemuliaan dari selain-Nya, seperti dari harta, kehormatan, dan kedudukan, dan kau merasa puas serta menjadikannya sandaran, lalu kau lalai dari Tuhanmu, maka tak ada keabadian bagi kemuliaanmu itu. Tak ada kemuliaan pada sesuatu yg kau banggakan selain Tuhan. Wallaahu a’lam

98. At-Thoyyu: Melipat/Menyingkat Jarak/Waktu

Hikmah 98 dlm Al-Hikam:

“At-thoyyu” (Melipat/Menyingkat Jarak/Waktu)

اَلطَّيُّ الحقِقيُّ اَنْ تطوٰى مساَفة ُ الدُّنْياَ عَنْكَ حَتَّى ترَىالاٰخِرَةَ اَقْرَبَ اِليكَ منكَ

Menyingkat/melipat jarak yg hakiki ialah jika engkau bisa menyingkat jarak dunia ini, sehingga engkau dapat melihat akhirat itu lebih dekat kepadamu dari pada dirimu sendiri.

Hikmah ini menerangkan tentang at-thoyyu al-haqiqy, yg diberikan kepada para kekasih Allah, dengan thoyyu al-haqiqy, Allah memuliakan para wali²Nya. Bukan melipat jaraknya perjalanan di bumi (Indonesia- makkah bisa ditempuh hanya satu langkah atau kedipan mata).

Dan juga bukan menghabiskan masa siang malam dengan sholat dan puasa semata-mata. Karena itu semua bisa bercampur dengan sifat riya’, ujub, dll.

At-Thoyyul haqiqyy itu diberikan pada orang² yg telah bersinar Nurul yaqin dalam hatinya, sehingga dia melihat dunia akan hilang dari pandangannya, dan melhat akhirat ada dekat di depannya. Orang yg seperti ini tidak mungkin akan mencintai dunia, karena dia tahu rusaknya dunia.

Dalam keterangan lain, Syaikh Ibnu Atha’illah berkata: Andaikata Nur keyakinan itu telah terbit terang di hatimu, pasti engkau dapat melihat akhirat lebih dekat kepadamu daripada engkau akan pergi kesana, dan pasti dapat melihat segala keindahan dunia ini diliputi suramnya kerusakan dan kehancuran yg akan menimpa kepadanya. Wallaahu a’lam

99. Hakikat Pemberian Dari Makhluk

Hikmah 99 dlm Al-Hikam:

“Hakikat Pemberian Dari Makhluk”

العَطَاء مِنَ الخَلقِ حِرْماَنٌ والمنْعُ من اللهِ اِحْسانٌ

Pemberian dari makhluk itu suatu kerugian (penghalang), dan penolakan dari Allah itu suatu pemberian kebaikan dan karunia.

Hikmah ini merupakan ucapan ahli tauhid yg sebenarnya. Orang yg benar² bertauhid menganggap bahwa sekiranya mereka menerima pemberian makhluk sedangkan hatinya tidak melihat bahwa pemberian itu sebenarnya dari Allah, maka dia menerima pemberian itu sebagai suatu kerugian.

Sedangkan penolakan Allah atas permintaanmu itu hakikatnya suatu pemberian dan anugerah dari Allah, karena Allah menempatkan kamu di pintu Rahmat-Nya dan menyelamatkan kamu dari terhalang dengan-Nya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata: Jangan merasa adanya yg memberi nikmat kepadamu selain Allah, dan anggaplah segala nikmat yg kamu terima dari selain Allah sebagai kerugian. (yakni: di antara engkau dengan Allah tidak ada perantara, maka semua nikmat yg kamu terima
semata-mata dari Allah, dan bila terjadi engkau merasa menerima nikmat dari sesama manusia, maka itu sebagai kerugian bagimu.)

Seorang Hakim berkata: Menanggung budi kebaikan dari manusia itu lebih berat daripada sabar karena kekurangan (ketiadaan). Pemberian dari makhluk itu, pada umumnya menyebabkan terhijab dari Allah, sehingga tidak ingat pada Allah, dan merasa berhutang budi kepada sesama manusia, dan inilah letak kerugian moril. Sebaliknya penolakan dari Allah yg menyebabkan kita ingat Allah itu, berarti suatu karunia nikmat yg besar dari Allah. Wallaahu a’lam

100. Amal Dan Balasan Dari Allah (1)

Hikmah 100 dlm Al-Hikam:

“Amal Dan Balasan Dari Allah”

جَلَّ رَبُّناَ اَنْ يُعاَملهُ العَبْدُ نَقْداً فَيُجاَزِيهُ نَسِيْـءَـةً

Maha Agung Tuhan, jika seorang hamba beramal kontan (segera) dan di balas kemudian hari.

Pembalasan amal itu tidak khusus di akhirat saja, tapi kadang sebagian ada yg di wujudkan di dunia, supaya mendorong semangatnya amal, dan sebagai tanda diterimanya amal. Wallaahu a’lam

101. Amal Dan Balasan Dari Allah (2)

Hikmah 101 dlm Al-Hikam:

كَفىَ من جَزَاءهِ اِيَّاكَ علىَ الطاَّعةِ اَنْ رَضِيكَ لها اَهْلاً

Cukuplah menjadi balasan Allah atas ketaatanmu jika Allah ridho menjadikan engkau ahli taat beribadah.

Apabila tidak ada Ridho Allah, pasti sifat manusia itu malas melakukan taat dan tidak memperhatikan ibadahnya.

Jadi apabila Allah memberi kemudahan bisa melaksanakan ibadah, hakikatnya itu suatu pembalasan dan anugerah yg sangat besar yg ada di dunia.

Ingatlah! Kita itu makhluk yg hina, tidak berhak dan pantas mengabdi/khidmah kepada Raja diRaja (ALLAH), jadi kalau Allah mendekatkan kita bisa mengabdi kepada-Nya, dan Allah ridho kepada kita menjadi ahli khidmah, itu suatu nikmat yg sangat besar.

Taufiq dan hidayah dari Allah yg diberikan kepada seorang hamba itu sebagai karunia yg sebesar-besarnya bagi seorang hamba, sebab dengan hidayah dan taufiq itulah seorang hamba dapat menerima nikmat dan bahagia dunia akhirat. Wallaahu a’lam

102. Amal Dan Balasan Dari Allah (3)

Hikmah 102 dlm Al-Hikam:

كفىَ العاَمِلِينَ جَزَاءً ماَهوَ فاَتِحُهُ على قلوبِهِمْ فِي طاَعَتِهِ وَماَ هُوَ مُورِدُهُ عليهِمْ من وُجُودِ موءَانَسَتِهِ

Cukuplah sebagai balasan dari Allah pada orang² yg beramal, apa yg telah dibukakan Allah dalam hati mereka dari kebiasaan melakukan taat dan apa yg di berikan Allah pada mereka berupa kesenangan berdzikir, kepuasan berkhalwat, menyendiri dengan Allah.

Tidak ada nikmat di dunia ini yg menyamai/menyerupai nikmat surga, kecuali nikmat yg dirasakan oleh ahli dzikir, dalam perasaan hati. Wallaahu a’lam

103. Beribadah Jangan Mengharap Sesuatu Selain Allah

Hikmah 103 dlm Al-Hikam:

“Beribadah Jangan Mengharap Sesuatu Selain Allah”

مَنْ عَبَدَهُ لِشىءٍ يَرْجُوهُ مِنْهُ اَوْلِيَدْفَعَ بِطاَعَتِهِ وُرودُ العُقُوبَتِ عَنْهُ فَماَ قَاَمَ بِحَقِّ اَوْصَافِهِ

Barang siapa menyembah Allah karena mengharap sesuatu, atau untuk menolak siksa atas dirinya, maka dia belum menunaikan kewajiban terhadap sifat² Allah.

Sebagai hamba Allah kita wajib menghamba dan beribadah hanya kepada-Nya, yg kita tuju juga hanya Allah, bukan karena pahala surga-Nya, atau siksa neraka-Nya. ILAAHI ANTA MAQSHUUDII-WA-RIDHOOKA MATHLUUBII.

Allah telah menurunkan wahyu pada Nabi Dawud as.: Sesungguhnya orang yg sangat aku kasihi ialah orang yg beribadah bukan karena upah pemberian-Ku, tetapi semata-mata karena Aku yg berhak untuk disembah. Dalam kitab zabur disebutkan: Dan siapakah yg lebih kejam dari orang yg menyembah-Ku karena surga atau neraka, apakah seandainya Aku tidak membuat surga atau neraka, Aku tidak berhak untuk disembah?

Rasulullah Saw. bersabda: Janganlah berlaku sebagai seorang hamba yg busuk jika takut, lalu bekerja/beribadah. Dan jangan berbuat sebagai buruh yg busuk jika tidak di bayar tidak bekerja.

Sebab sebenarnya pemberian Allah kepada hamba itu sudah lebih dari yg diharapkan yaitu hidupnya, nafasnya, panca indranya dan kesehatannya dan lain²nya.

Abu Hazim berkata: Saya malu menyembah Allah karena pahala, seperti buruh yg busuk jika tidak di bayar tidak bekerja, atau menyembah karena takut siksa, seperti budak yg curang jika tidak takut siksa, tidak bekerja, tetapi saya menyembah Allah karena cinta kepada-Nya.

Sufyan as-Tsauri minta nasehat kepada Rabi’ah al-Adawiyyah, maka Rabi’ah berkata: Engkau seorang yg baik, andaikan engkau tidak cinta kepada dunia. Wallaahu a’lam

104. Memahami Rahasia Pemberian Dan Penolakan Allah (1)

Hikmah 104 dlm Al-Hikam:

“Memahami Rahasia Pemberian Dan Penolakan Allah”

مَتىَ اَعْطاَكَ اَشْهَدَكَ بِرَّهُ وَمتىَ مَنَعَكَ اَشْهَدَكَ قَهْرَهُ فَحُوَ فىِ كُلِّ ذٰلكَ مُتَعَرِّفٌ اِليكَ وَمُقَبِّلٌ لِوُجوُدِ لُطْفِهِ عليْكَ

Apabila Allah memberi karunia kepadamu, maka Dia akan menunjukkan kepadamu karunia belas kasih-Nya, dan apabila Allah menolak pemberian-Nya atasmu, maka Dia akan menunjukkan kepadamu kekuasaan-Nya, maka Dia dalam semua itu memperkenalkan diri kepadamu, dan menghadapkan kepadamu dengan kehalusan pemberian pemeliharaan-Nya kepadamu.

Kewajiban bagi tiap hamba harus mengenal Tuhannya, dengan segala sifat² kebesaran-Nya. Maka siapa yg tidak mau mengenal dengan sifat Mu’thi Wahhab (pemberi) maka ia harus mau mengenal dengan sifat Mani’ (menolak), Muntaqim (membalas), Qohhar (memaksa). Tetapi apabila telah mengenal hikmah Rahmat Allah, maka terasa bahwa semua itu semata-mata karunia dari Allah kepada hamba-Nya.

Sufyan as-Tsauri bertemu dengan Abu Habib al-Badri, dan memberi salam, Abu Habib bertanya: Engkaukah Sufyan as-Tsauri yg terkenal itu? Jawabnya: Benar, semoga Allah memberkahi apa yg dikatakan orang² itu. Lalu Abu Habib berkata: Hai Sufyan, tidak ada suatu kebaikan melainkan berasal dari Tuhan. Jawab Sufyan, Benar. Ditanya lagi: Mengapa kamu tidak suka bertemu pada siapa yg tidak ada kebaikan kecuali pada-Nya. Hai Sufyan: Penolakan Allah kepadamu itu berarti pemberian karunia-Nya padamu, sebab Dia tidak menolak karena bakhil atau tidak ada, hanya Dia menolak permintaanmu karena kasih-Nya kepadamu. Hai Sufyan, Sesungguhnya aku masih suka duduk dengan engkau tetapi bersamamu itu ada kesibukan, kemudian Abu Habib menuju ke kambingnya dan membiarkan Sufyan as-Tsauri. Wallaahu a’lam

105. Memahami Rahasia Pemberian Dan Penolakan Allah (2)

Hikmah 105 dlm Al-Hikam:

اِنَّمَا يوُءَلِّمكَ المَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فيهِ

Sesungguhnya sebab terasa pedihnya penolakan Allah kepadamu itu, karena engkau tidak mengerti hikmah rahmat Allah dalam penolakan (tidak memberikan keinginan/harapanmu) itu.

Sebagian dari tanda memahami penolakan (tidak mengabulkan doa) dari Allah yaitu:

1. Kita bisa memahami bahwasanya Allah menghendaki kita menghadap kepada-Nya, selalu bergantung kepada-Nya, dan tanda dikasihi Allah, karena apabila Allah mencintai hamba-Nya maka hamba itu akan di jaga dari kesenangan dunia.

2. Kita bisa memahami bahwasanya Allah akan menapakkan kita ke jalan orang² yg dekat dengan Allah. Seperti kata Syaikh al-Fudhail dalam munajatnya : Ya Tuhanku, Engkau memberi lapar padaku dan keluargaku, dan Engkau tidak memberi pakaian padaku dan keluargaku, yg itu semua biasanya diperuntukkan untuk orang² pilihan, lalu kenapa aku bisa mendapatkan kedudukan yg seperti itu?

3. Kita bisa memahami bahwasanya dunia itu rusak, hina dan akan musnah, dan kita merasa senang dengan simpan untuk kita besok di akhirat.

Dengan memahami itu semua akan membuka hati kita. Dan apabila hati kita telah terbuka maka kita bisa memahami bahwa penolakan dari Allah itu lebih menyenangkan. Jadi Allah tidak memberi itulah hakikatnya pemberian Allah.

Tiada sempurna iman dan keyakinan seseorang kepada Allah sebelum ia memiliki dua sifat:

1. Percaya penuh kepada Allah, yakni bersandar dan berharap hanya kepada Allah.

2. Bersyukur kepada Allah karena dihindarkan dari padanya apa yg di ujikan pada orang lain yaitu berupa kekayaan dunia.

Juga tidak sempurna iman keyakinan hamba sebelum ia mengerti bahwa pemberian Allah sesuatu yg manfaat. Dan penolakan Allah itu karena madhorot/bahaya. Wallaahu a’lam

106. Jangan Menyombongkan Amalmu (1)

Hikmah 106 dlm Al-Hikam:

“Jangan Menyombongkan Amalmu”

رُبَّماَ فَتَحَ لكَ باَبَ الطَّاعةِ وَماَ فَتَحَ لكَ بَابَ القَبُولِ. وَرُبَّمَا قَضىَ عليكَ بالذ َّنْبِ فَكانَ سَبَباً فِي الوُصوُلِ

Terkadang Allah membukakan untukmu pintu taat, tetapi belum dibukakan pintu kabul (penerimaan), sebagaimana adakalanya ditaqdirkan engkau berbuat dosa, tetapi menjadi sebab wushul (sampaimu) kepada Allah.

Taat itu terkadang dibarengi dengan penyakit hati yg bisa menghilangkan ikhlas, seperti ujub (bangga dengan amalnya dll.), sedangkan dosa itu terkadang di ikuti dengan merasa hina dirinya dan menganggap baik orang yg tidak melakukannya, dan menjadikan dia meminta ampun kepada Allah sehingga menjadi sebab Allah mengampuni dosanya, dan bisa wushul kepada Allah.

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Allah yg jiwaku ada di tangan-Nya, andaikan kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menyingkirkan (mematikan) kamu, dan diganti dengan orang² yg berbuat dosa lalu minta ampun kepada Allah, lalu di ampuni oleh Allah. Wallaahu a’lam

107. Jangan Menyombongkan Amalmu (2)

Hikmah 107 dlm Al-Hikam:

مَعْصِيَة ٌ اَورَثـْتَ ذُلاًّ واَفـْتِقَاراً خَيرٌ من طاَعةٍ اَوْرَثـْتَ عِزًّ واسْتِكباَراً

Maksiat (dosa) yg menjadikan rendah diri dan membutuhkan rahmat dari Allah, itu lebih baik dari perbuatan taat yg membangkitkan rasa sombong, ujub dan merendahkan orang lain.

Merasa hina, rendah diri itu bagian dari sifatnya seorang hamba kepada Allah. Syaikh Abu Madyan berkata: inkitsarun lil-‘aashi khoirun min wushuulil-muthiiI. Perasaan rendah diri telah berbuat dosa, itu lebih baik dari kesombongan seorang yg taat.

Ada kalanya seorang hamba berbuat kebaikan yg menimbulkan rasa ujub, sombong, sehingga menggugurkan amal yg di kerjakan sebelumnya. Dan ada kalanya seorang berbuat dosa yg menyedihkan hatinya, sehingga timbul rasa takut kepada Allah, yg menyebabkan keselamatan pada dirinya.

As-Sya’bi meriwayatkan dari al-Khalil bin Ayyud, bahwasanya seorang ‘abiid (ahli ibadah) bani israil, ketika ia berjalan ia selalu dinaungi oleh awan, tiba² ada seorang pelacur bani israil tergerak hatinya, ingin mendekat kepada si ‘Abid. Maka ketika pelacur itu mendekat pada si ‘abid, tiba² si abid itu mengusirnya dengan berkata: pergi kau dari sini. Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi, bahwa Aku (Allah) telah mengampuni dosa pelacur itu dan membatalkan amal ‘abid itu. Maka berpindahlah awan dari atas kepala ‘abid ke atas kepala pelacur itu.

Al-Harits al-Muhasibi berkata: Allah menghendaki supaya anggota lahir ini sesuai dengan batinnya (hati), maka apabila sombong congkak seorang alim/’abid, sedangkan pelacur itu tawadhu’ merendahkan diri, maka ketika itu pelacur itu lebih taat kepada Allah dari si ‘abid dan alim.

Ada pula kisah: seorang ‘abid bani israil sedang sujud, tiba² kepalanya di injak oleh orang, maka ‘abid itu berkata: angkat kakimu, demi Allah aku tidak akan mengampunkan engkau. Maka Allah menjawab: Hai orang yg bersumpah atas nama-Ku, bahkan engkau tidak diampunkan karena kesombonganmu. Al-Harits berkata: Dia bersumpah karena merasa diri besar di sisi Allah, maka kesombongan, ujub itulah yg tidak di ampuni Allah. Wallaahu a’lam

108. Nikmat Iijad dan Nikmat Imdad (1)

Hikmah 108 dlm Al-Hikam:

“Nikmat Iijad (Diciptakan) dan Nikmat Imdad (Kelanjutan)”

نِعْمَتاَنِ ماَ خَرَجَ موْجُودٌ عَنْهاَ ولاَ بُدَّ لِكُلِّ مُكـَوِّنٍ مِنْهُما نِعْمةُ الاِيْجادِ وَنِعْمة ُالاِمْداَدِ

Ada dua nikmat yg tidak ada satu makhlukpun yg terlepas dari keduanya, yaitu nikmat ciptaan (diwujudkan) dan nikmat kelanjutan.

Karena tiap makhluk asalnya tidak ada, maka nikmat yg diterima pertama kali adalah nikmat iijad/diciptakan Allah yg menjadikannya ada. Kemudian dilanjutkan dengan nikmat imdad/kelanjutan hidup, yakni melengkapi kebutuhan hidup, sebab bila tidak dilengkapi kebutuhan hidup maka tidak akan dapat bertahan hidup. Wallaahu a’lam.

 

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Kedua nikmat ini dirasakan oleh setiap yg berwujud. Setiap yg ada, awalnya tidak ada dan nihil. Nikmat penciptaan telah menghilangkan ketiadaan itu darinya sehingga ia menjadi ada. Tanpa nikmat itu, niscaya ia tetap tidak ada. Sesuatu yg tidak ada itu tentu tidak berharga.

Ketika keberadaannya membutuhkan pertolongan Ilahi agar sosok dan rangka fisiknya tetap ada, Allah membantunya dengan memberinya manfaat dan melindunginya dari bahaya. Oleh karena itu, nikmat penciptaan telah menghilangkan ketiadaan sebelumnya, sedangkan nikmat pemenuhan atau bantuan Ilahi dapat menghilangkan ketiadaan sesudahnya dan menggantinya dengan wujud yg berkesinambungan.

Tanpa nikmat penciptaan, segala sesuatu tidak akan keluar dari ketiadaan menuju wujud. Ia akan tetap ma’dim (tidak ada). Kemudian, tanpa nikmat pemenuhan dan bantuan Allah, wujud segala yg ada tidak akan sempurna. Ia tidak akan kekal, bahkan ia akan cepat rusak dan luluh lantak dalam waktu yg singkat. Semuanya berlaku pada seluruh makhluk, yg tinggi maupun yg rendah. Wallaahu a’lam.

109. Nikmat Iijad dan Nikmat Imdad (2)

Hikmah 109 dlm Al-Hikam:

اَنْعَمَ عليكَ اوَّلاً بِالاِيجَادِ واثاَنياً بِتَوالى الاِمدادِ

Pada mulanya Allah memberi nikmat kepadamu berupa iijad/diwujudkan, kemudian nikmat yg kedua: melengkapi kebutuhan² wujudmu yg terus-menerus (bantuan/pertolongan Allah).

Allah berfirman: wa-asbagho ‘alaikum ni’mahuu-dhohirotan-wa-baathinah.(Allah menuangkan kepadamu nikmat lahir batin yg terang dan samar, dan yg tidak terasa.)

Dan firman Allah: “Tetapi Allah yg mencintakan kamu kepada iman, dan Allah menghias iman itu dalam hatimu, dan Allah yg membencikan kamu kepada kufur (kekafiran) dan pelanggaran dan maksiat dosa. Merekalah orang yg dapat petunjuk, itu semua karunia dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hujurat: 8)

Dzun-Nun al-Mishri berkata: Siapa yg dalam tauhid itu merasa seolah-olah sebagai hasil kecerdasannya sendiri, maka tauhid itu, tidak dapat menyelamatkannya dari api neraka, sehingga merasa bahwa tauhidnya itupun karunia dari Allah Ta’ala.

Seseorang apabila telah merasa asal kejadiannya dari Allah dan kelanjutannya pun dari Allah, merasa bahwa sifat fakirnya itu memang asli pada kejadiannya, dan ia tidak dapat melepaskan diri dari Tuhan yg di hajatkannya pada tiap detik dalam wujudnya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Sekiranya seorang hamba mengetahui bahwa awal dan kesinambungan wujudnya dari Allah, niscaya dia mengetahui bahwa kebutuhan adalah sifat aslinya. Maka dari itu, ia amat membutuhkan pertolongan Allah karena setelah berwujud, setiap saat ia teramat miskin dan papa. Ia amat membutuhkan pertolongan dan pemenuhan kebutuhan.

Berikutnya, pertolongan Ilahi ini pun datang berturut-turut kepadanya. Ada yg berupa makanan untuk membuatnya kenyang dan menguatkan tubuhnya. Ada pula yg berupa makanan untuk ruhnya, seperti keimanan, ilmu, dan pengetahuan.

Pertolongan Ilahi yg pertama meliputi seluruh makhluk, mukmin maupun kafir, seperti halnya nikmat penciptaan. Namun, pertolongan kedua khusus untuk kaum mukmin saja. Wallaahu a’lam

110. Sifat Asli Manusia Dan Waktu Terbaik Untuk Hamba

Hikmah 110 dlm Al-Hikam:

“Sifat Asli Manusia Dan Waktu Terbaik Untuk Hamba”

فاَقَتُكَ لكَ ذاتِيَةٌ وَوُروُدُ الاَسباَبِ مُذَكِراَتٌ لكَ بماَ خَفىَ عليكَ منهَا وَالفاقَةُ الذ ّاَتِيَةٌ لاَتَرْفَعُهاَ العَوَارِضُ

Kefakiran/kebutuhanmu itu adalah sifat asli dalam dzat kejadianmu, sedang sebab²/kejadian yg menghinggapi dirimu itu untuk mengingatkan kamu apa yg tersembunyi bagimu dari sifat aslimu, sedangkan kebutuhan/sifat asli itu tidak bisa dihilangkan dengan sesuatu yg sementara.

Hikmah ini menjadi kelanjutan dari hikmah sebelumnya, yg menerangkan nikmat pemberian dari Allah.

Jadi jelas sudah, bahwa wujud/kejadianmu itu pemberian/ciptaan Tuhan, demikian pula hajat kebutuhan tiap detik untuk kelanjutan hidup, itupun pemberian Tuhan, maka jelas bahwa kebutuhan/kefakiran itu asli dalam kejadianmu.

Jadi apabila kamu lupa dengan kefakiranmu, seolah-olah kamu tidak berhajat karena sudah hidup, dalam kondisi sehat, punya harta maka itu suatu hal yg hinggap sementara ketika engkau lupa asal kejadianmu, maka Allah memberi padamu peringatan berupa penyakit, kekurangan harta, dll, untuk mengingatkan kamu asal kejadianmu (fakir). Sehingga kamu mau kembali lagi menjadi seorang hamba.

Sebagian ulama’ mengatakan: mengapa Fir’aun mengatakan “ANA ROBBUKUMUL-A’LAA” (akulah tuhan yg maha tinggi), itu dikarenakan Fir’aun itu kaya dan selalu sehat tidak pernah sakit. Fir’aun dalam waktu 40 tahun itu tidak pernah sakit sekalipun, seumpama dia pernah sekali saja sakit kepala atau panas badannya, tentu dia tidak akan mengaku menjadi Tuhan.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Jika kau mengerti bahwa kau tidak mungkin ada tanpa adanya bantuan Allah, berupa nikmat penciptaan dan pemenuhan semua kebutuhanmu, maka sudah semestinya kau sadar bahwa ketergantungan kepada Allah adalah hakikat atau substansi dirimu.

Namun kebanyakan manusia tidak menyadari hakikat diri mereka, terutama ketika mereka sedang diberi nikmat kesehatan dan kekayaan. Bahkan lebih dari itu, mereka tidak hanya lupa terhadap hakikat diri mereka tetapi juga lupa terhadap Tuhan mereka. Oleh karena itu, Allah menurunkan kepada mereka “Sebab² ketergantungan kepada Allah”, agar mereka kembali sadar dan ingat. “Sebab² ketergantungan kepada Allah” itu bisa berupa penyakit, rasa lapar, haus, panas, dingin, dan sebagainya.

“Sebab-sebab ketergantungan kepada Allah” itu akan membuatmu sadar dan ingat kembali akan hakikat dirimu, yang sebelumnya tertutup oleh kesehatan dan kekayaan. Sehingga di saat itu pula kau akan melaksanakan hak-hak ‘ubudiyah kepada Allah, dan berdoa kepada-Nya agar memenuhi kebutuhanmu dan menghapus segala deritamu.

Sebagian orang mengatakan, “Yang membuat Firaun berani mengaku sebagai tuhan adalah karena ia selalu dalam keadaan sehat dan segar bugar selama empat puluh tahun. Ia tidak pernah sakit, meskipun itu sakit kepala. Kekayaannya melimpah dan kekuasaannya tak terbatas. Karena itulah ia merasa seperti tuhan. Seandainya ia sakit, sekali saja, atau merasa bosan dengan kehidupan, niscaya itu akan menghalanginya untuk mengaku diri sebagai tuhan.”

Dan ini pula yang terjadi pada mayoritas manusia. Kecuali orang-orang yang ‘arif. Karena mereka selalu menyadari hakikat diri mereka. Dan mereka tidak perlu lagi diingatkan. “Sebab-sebab ketergantungan kepada Allah” yang Allah timpakan kepada mereka hanyalah untuk memperlihatkan kesungguhan penghambaan mereka.

Cobaan dan penderitaan hidup justru semakin membuat mereka merasa tergantung kepada Allah, semakin membuat mereka taat dan kembali kepada-Nya. Dan dengan keridhaan dan kepasrahan yang mereka perlihatkan itu, pahala mereka semakin bertambah dan kedudukan mereka di mata Allah pun semakin mulia.

“Ketergantungan kepada Allah” yang merupakan hakikat atau Substansi manusia ini tidak mungkin bisa dihilangkan oleh sesuatu yang bersifat sementara atau nisbi. Dengan kata lain, walaupun kau kaya, sehat atau berkuasa, tetap saja kau tidak bisa lepas Vari ketergantungan kepada Allah. Kekayaan, kesehatan ataupun kekuasaan hanyalah relatif dan sementara. Bukan perkara yang sulit bagi Allah untuk menghilangkan itu semua dari dirimu dan

“Sebab² ketergantungan kepada Allah” itu akan membuatmu sadar dan ingat kembali akan hakikat dirimu, yg sebelumnya tertutup oleh kesehatan dan kekayaan. Sehingga di saat itu pula kau akan melaksanakan hak² ‘ubudiyah kepada Allah, dan berdoa kepada-Nya agar memenuhi kebutuhanmu dan menghapus segala deritamu.

Sebagian orang mengatakan, “Yg membuat Fir’aun berani mengaku sebagai tuhan adalah karena ia selalu dalam keadaan sehat dan segar bugar selama empat puluh tahun. Ia tidak pernah sakit, meskipun itu sakit kepala. Kekayaannya melimpah dan kekuasaannya tak terbatas. Karena itulah ia merasa seperti tuhan. Seandainya ia sakit, sekali saja, atau merasa bosan dengan kehidupan, niscaya itu akan menghalanginya untuk mengaku diri sebagai tuhan.”

Dan ini pula yg terjadi pada mayoritas manusia. Kecuali orang² yg ‘arif. Karena mereka selalu menyadari hakikat diri mereka. Dan mereka tidak perlu lagi di ingatkan. “Sebab² ketergantungan kepada Allah” yg Allah timpakan kepada mereka hanyalah untuk memperlihatkan kesungguhan penghambaan mereka.

Cobaan dan penderitaan hidup justru semakin membuat mereka merasa tergantung kepada Allah, semakin membuat mereka taat dan kembali kepada-Nya. Dan dengan keridhaan dan kepasrahan yg mereka perlihatkan itu, pahala mereka semakin bertambah dan kedudukan mereka di mata Allah pun semakin mulia.

“Ketergantungan kepada Allah” yg merupakan hakikat atau substansi manusia ini tidak mungkin bisa dihilangkan oleh sesuatu yg bersifat sementara atau nisbi. Dengan kata lain, walaupun kau kaya, sehat atau berkuasa, tetap saja kau tidak bisa lepas dari ketergantungan kepada Allah. Kekayaan, kesehatan ataupun kekuasaan hanyalah relatif dan sementara. Bukan perkara yg sulit bagi Allah untuk menghilangkan itu semua dari dirimu dan menggantinya dengan sebaliknya, sehingga kau benar² merasa betapa hidup ini tergantung kepada Allah Ta’ala saja. Wallaahu a’lam

111. Waktu Terbaik Untuk Hamba

Hikmah 111 dlm Al-Hikam:

“Waktu Terbaik Untuk Hamba”

خَيْرُ اَوقاَتِكَ وَقْتٌ تَشْهَدُ فيهِ وُجُودُ فاَقَتِكَ وَتُرَدُّ فيِهِ اِلٰى وُجُودِ ذِلَّتِكَ

Sebaik-baik waktu dalam hidupmu, ialah saat² dimana engkau merasa dan mengakui kefakiran/kebutuhanmu, dan kembali pada adanya kerendahan dirimu.

Sebaik-baik waktu dalam masa hidupmu, ialah saat ingat kepada Allah dan putus hubungan dengan segala sesuatu selain-Nya. Yaitu disaat merasakan benar² kebutuhanmu kepada Allah, sedang segala sesuatu yg lainnya tidak dapat menolong meringankan kebutuhanmu. Dan tidak ada pengharapan selain pada Allah. Maka pada saat itu murnilah pengertian tauhidmu kepada Allah.

Diceritakan: Syaikh ‘Atha’ as-Sulami selama tujuh hari tidak merasakan makanan sama sekali dan dia tidak bisa berbuat apa², tapi dalam kondisi seperti itu hati Beliau tambah senang, dan berkata (berdoa): “Ya Tuhanku, jika Engkau tidak memberi makanan kepadaku tiga hari lagi tentu aku akan shalat seribu raka’at.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Ini dianggap waktu terbaik karena pada waktu ini kau merasa hadir dengan Tuhanmu. Kau palingkan pandanganmu dari segala media, sarana, dan sebab² yg membuatmu semakin jauh dari-Nya. Lain halnya ketika kau merasa kaya dan mulia, maka itu adalah waktu terburuk bagimu.

Diceritakan bahwa suatu malam, Syaikh Fatah al-Mushili pulang ke rumahnya. Ia tidak mendapati hidangan makan malam, lampu penerang, dan tidak pula kayu bakar. Ia tetap memuji Allah dengan mengucap Alhamdulillah seraya beribadah kepada-Nya. Ia berdoa,

“Tuhanku, dengan sebab dan wasilah (perantara) apalagi agar Engkau memperlakukanku seperti memperlakukan para wali-Mu?”

Demikian pula yg terjadi pada Fudhail ibn Iyyadh. Ia berkata, “Dengan amal apa lagi supaya aku layak mendapatkan hal ini dari-Mu agar aku terus mengalaminya?”

Banyak kejadian serupa yg terjadi pada orang² yg dekat dengan Allah. Oleh sebab itu, Syaikh Ibnu Atha’illah berkata, “Kebutuhan adalah hari raya para murid.” Wallaahu a’lam

112. Al-Unsu (Ketenangan Jiwa)

Hikmah 112 dlm Al-Hikam:

“Al-Unsu (Ketenangan Jiwa)”

مَتٰى اَوحَشكَ من خَلقِهِ فاَعْلم اَنَّهُ يُرِيدُ ان يَفتحَ لك باَبَ الاُنْسِ بِهِ

Apabila Allah telah menjemukan kamu dari makhluk, maka ketahuilah bahwa Allah akan membukakan untukmu pintu ketenangan dan senang kepada Allah.

Pada hikmah² sebelumnya menjelaskan tentang karunia pemberian Allah kepada kita, sehingga kita tahu tentang kefakiran dan kehinaan kita.

Pada hikmah ini Syaikh Ibnu Atha’illah menjelaskan tanda orang² yg sudah bergantung kepada Allah akan diberi Unsu (ketenangan hati). Yaitu ketika Allah telah membuka pintu ketenangan menghadap Allah, maka kita benar² menjadi hamba Allah, dan kita akan merasa jemu dengan selain-Nya (makhluk), karena merasa makhluk tidak bermanfaat, bahkan adakalanya mudharat bagi kita.

Diceritakan: Syaikh Abu Yazid al-Busthami ketika ia diperlihatkan oleh Allah alam malakut dan makhluk² yg ada di langit, kemudian ditanya: Adakah sesuatu yg menyenangkan engkau? Jawabnya: Tidak. Maka dikatakan kepadanya: Engkau hamba Allah yg sesungguhnya. Wallaahu a’lam

113. Rahasia Berdoa

Hikmah 113 dlm Al-Hikam:

“Rahasia Berdoa”

مَتٰى اَطـْلَقَ لِساَنَكَ بِاالطَلَبِ فَاعلمْ اَنَّهُ يُرِيدُ ان يُعْطِيكَ

Ketika lisanmu digerakkan untuk meminta, berarti Dia hendak memberimu.

Yakni ketika Allah melepaskan lidahmu dari diam (tidak meminta) yg timbul karena kamu merasa kaya dan tidak butuh dan tidak melihat kefakiranmu, sehingga kamu mau meminta/berdoa dengan lisanmu kepada Allah, itu disebabkan kamu sadar dengan kefakiranmu, pasti Allah akan memberi kepadamu. Karena Allah telah berjanji akan mengijabah doa orang² yg sangat berhajat.

Abdullah bin Umar ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Siapa yg telah mendapatkan izin berdoa, berarti telah dibukakan baginya pintu rahmat, dan tiada dimintai sesuatu yg lebih disukai oleh Allah dari pada dimintai ampunan dan selamat dunia akhirat.

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda: Siapa yg telah diberi kesempatan berdoa, maka tidak akan diharamkan dari ijabah (diterimanya doa).

Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Apabila Allah kasih sayang kepada seorang hamba, maka diturunkan kepadanya bala’, maka bila ia berdoa, Malaikat berkata: Suara yg sudah terkenal, Jibril berkata: Tuhanku, hamba-Mu Fulan, sampaikan hajatnya. Allah menjawab: Biarkan saja hamba-Ku, Aku suka mendengar suaranya, maka apabila hamba berkata: Ya Robbi.. Allah menjawab: Labbaika hamba-Ku, tiada engkau berdoa kecuali Aku sambut, dan tiada engkau meminta melainkan pasti Aku berikan, ada kalanya aku segerakan pemberian-Ku untukmu, atau Aku simpan untukmu yg lebih baik bagimu. Atau Aku tolak dari padamu bala’ yg lebih besar dari itu.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Diam adalah sifat yg dituntut dari seorang hamba yg tak lagi membutuhkan perkara duniawi dan tidak lagi memperhatikan berbagai kebutuhannya.

Namun, Allah bisa saja melepas tuntutan diam itu darimu. Misalnya, dengan memberimu kemiskinan dan kebutuhan sehingga kau pun terdorong untuk berdoa kepada-Nya. Maka pada saat itulah lisanmu digerakkan untuk meminta kepada-Nya dengan lisan keterdesakan. Ini berarti juga bahwa keinginanmu akan terwujud, sebab janji Allah untuk mengabulkan doa seseorang yg terdesak kebutuhan pasti akan ditepati-Nya. Allah tidak pernah melanggar janji-Nya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yg diberi kesempatan berdoa maka pengabulannya tidak akan terhalang.” Pengabulan doa itu bisa berupa sesuatu yg dimintanya, bisa pula selainnya; bisa langsung atau tidak langsung:

Seseorang berkata, “Pengabulan ini terjadi bila doa itu bersumber dari ikhtiar dan niat baik. Adapun jika ia mengalir saja dari lisan tanpa disertai niat dan tujuan, pengabulannya yg berupa sesuatu yg diminta mungkin agak sedikit telat.” Wallaahu a’lam

114. Kebutuhan Orang ‘Arif Terhadap Allah Tidak Pernah Hilang

Hikmah 114 dlm Al-Hikam:

“Kebutuhan Orang ‘Arif Terhadap Allah Tidak Pernah Hilang”

العاَرِفُ لاَ يَزوُلُ اِضْطرَارُهُ ولاَ يَكُوْنُ معَ غَيْرِالله قرَارةٌ

Seorang ‘arif selalu merasa butuh pada-Nya dan hanya merasa tenang jika bersama-Nya.

Seorang ‘Arif mempunyai hati yg sangat halus dan adab sopan santun yg sangat tinggi terhadap Allah. Dia mengenali karunia dan kekuasaan Allah, pada nikmat penciptaan (ijaad) dan nikmat kelanjutan kewujudan (imdaad) yg diciptakan Allah. Dia meyakini bahwa tiada satu detik pun makhluk bisa terlepas dari ketergantungan kepada Allah.

Seorang ‘Arif selalu merasa berhajat kepada Allah, sebab memang tidak ada sesuatu yg bisa memuaskan kepadanya selain Allah. Juga karena sadar benar² terhadap kekuasaan Allah disamping kelemahan dan kebutuhan diri sendiri kepada Allah.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Kebutuhan seorang ‘Arif selalu ada karena ia melihat kuasa Allah yg Maha Menyeluruh, mengenali dirinya sendiri dengan baik, dan menyadari kebutuhannya setiap saat. Lain halnya dengan orang yg tidak ‘Arif, ia terkadang butuh, lalu berdoa, terkadang pula berdoa, namun tidak butuh. Hal itu dikarenakan kebutuhan orang² awam bergantung pada adanya dorongan sebab². Mereka terlalu di dominasi oleh indra dalam penyaksiannya. Jika sebab² itu hilang dari mereka, kebutuhan mereka pun akan sirna.

Sekiranya mereka melihat kuasa Allah yg menyeluruh niscaya mereka mengetahui bahwa kebutuhan mereka kepada Allah bersifat abadi. Mereka tidak akan tenang dan hati mereka tidak akan bergantung kecuali kepada Allah semata, karena sesekali mereka merasa butuh kepada sesuatu, tetapi hati mereka menolak sesuatu itu. Ini menandakan bahwa “kebutuhan akan bantuan-Nya” dan “tergeraknya lisan untuk meminta kepada-Nya” merupakan dua sifat orang² ‘Arif. Wallaahu a’lam

115. Hati Diterangi Dengan Nur Sifat-Nya

Hikmah 115 dlm Al-Hikam:

“Hati Diterangi Dengan Nur Sifat-Nya”

اَناَرَالظواَهِر بِاَنواَرِ اَثاَرِهِ وَاَناَرَالسَّرَاءرَ اَوْصافِهِ لاَجْلِ ذٰلكَ اَفَلَتْ اَنْوَارُالظَّواهِرِ وَلمْ تأفـُلْ اَنْوَارُالقلوبِ واَالسرَاءرِ ،ولذَٰلكَ قِيلَ : انَّ شَّمسَ النَّهاَرِ تـَغْرُبُ بِليلٍ وَشَمْسَ القلوبِ ليسَتْ تغيْبُ

Allah telah menerangi alam (lahir) ini dengan cahaya makhluk (atsar)Nya, dan menerangi hati (sirr) dengan Nur sifat-Nya. Maka karena itu cahaya alam itu bisa terbenam, dan tidak dapat terbenam/hilang cahayanya hati dan sirr. Kata syair: “Sesungguhnya mataharinya siang itu terbenam waktu malam, tetapi mataharinya hati tidak pernah terbenam.”

Allah menerangi alam dengan Nur/cahaya bulan, bintang dan matahari yg semua itu makhluk yg rusak dan berubah, tetapi Allah menerangi hati (sirr) dengan Nur, ilmu dan ma’rifat yg langsung dari sifat² Allah, maka karenanya tidak dapat suram dan terbenam.

Syair ini mengingatkan pada kita tentang pentingnya memperhatikan sesuatu yg abadi dari pada yg bisa rusak dan sirna.

Sahl bin Abdullah ra. ketika ditanya tentang makanan (qut) jawabnya: Huwa-alhayyul-ladzii laa-yamuut. (Ia yg hidup dan tiada mati). Penanya berkata: Saya tidak bertanya tentang makanan itu, tapi makanan yg menguatkan, jawabnya: Ilmu, ketika ditanya: Makanan sehari-hari yg lazim? Jawabnya: Dzikir, ditanya: makanan jasmani? Jawabnya : apa urusanmu dengan jasmani, biarkan/serahkan pada yg membuat pada mulanya, Dia akan mengurusi selanjutnya, jika ada kerusakan kembalikan pada yg membuat, tidakkah itu sudah lazim, buatan sesuatu jika rusak kembalikan pada yg membuat untuk diperbaiki.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Allah Ta’ala menerangi seluruh langit dan bumi dengan cahaya dari jejak sifat²Nya atau dengan cahaya matahari, bulan, dan bintang, yg kesemuanya mencerminkan sifat qudrah dan iradah Allah. Seluruh fenomena alam nyata ini menjadi terbuka bagi kita dengan cahaya bintang². Saat itu, kita bisa melihat seluruh alam semesta dan mengambil manfaat darinya atau menghindari bahayanya.

Allah menerangi relung batin dengan ilmu pengetahuan yg bersumber dari penampakan sifat²Nya pada hati orang² ‘arif. Relung batin orang² ‘arif itu menjadi terbuka dengan cahaya ilmu pengetahuan yg bersumber dari sifat² Allah Ta’ala atau meresapnya sifat² itu dalam hati mereka. Saat itulah, orang² ‘arif akan bisa melihat berbagai sifat yg ada dalam batin mereka sehingga mereka akan menghindari bahayanya dan mengambil manfaatnya.

Alam semesta bisa nyata dengan cahaya makhluk-Nya dan relung batin bisa nyata dengan cahaya sifat²Nya. Cahaya makhluk bersumber dari sesuatu yg hadits (baru), sedangkan cahaya sifat²Nya bersumber dari Dzat yg Qadim (terdahulu). Semua Cahaya lahir (yg berasal dari makhluk) itu akan redup.

Cahaya matahari akan hilang di malam hari. Cahaya bintang dan bulan akan hilang di siang hari. Namun, cahaya hati yg bersumber dari penyaksian terhadap sifat² Allah yg Qadim tidak akan pernah hilang dan redup. Tentu saja cahaya yg bersumber dari Yang Maha Qadim tidak akan sirna.

Yg membuat cahaya itu tidak tampak adalah sifat² kemanusiaan yg ada pada diri orang² ‘arif, sehingga cahaya itu seolah-olah tak ada. Padahal, cahaya itu tetap ada dalam hati mereka. Oleh sebab itu, seorang penyair berkata,

“Sesungguhnya, matahari siang terbenam menjelang malam, namun matahari hati tiada pernah tenggelam.”

Syair lain mengatakan:

“Matahari pencinta Tuhan akan terbit di malam hari.

Ia akan memancarkan sinarnya dan tak pernah terbenam.”

Di sini terkandung peringatan bahwa perkara² yg abadi itulah yg harus disukai, disenangi, perlu dilestarikan, dan dijaga kondisinya. Lain halnya dengan perkara² fana yg bisa terbenam, ia tak perlu digandrungi. Bila demikian, seorang hamba akan mengikuti keyakinan dan prinsip Ibrahim saat ia berkata, “Saya tidak suka sesuatu yg terbenam dan hilang.” Wallaahu a’lam

116. Sikap Menghadapi Bala’ & Ujian

Hikmah 116 dlm Al-Hikam:

“Sikap Menghadapi Bala’ & Ujian”

لِيُخَفِّفْ اَلَمَ البَلاَءِ عليكَ عِلمُكَ بِاَنَّهُ سُبْحانهُ هُوَ المُبْلى لكَ. فالذِىواجْهَتكَ منهُ الاقدارُ هُوَالذيْ عَوَّدَكَ حُسنُالاِخِتِياَرِ

Seharusnya bala’ yg menimpa padamu terasa ringan, karena engkau mengetahui bahwa Allah yg menguji (memberi bala’) padamu. Maka Tuhan yg menimpakan kepadamu takdir-Nya itu, Dia pula yg telah biasa memberi sebaik-baik apa yg dipilihkan-Nya untukmu. (Dialah yg membiasakan kau merasakan sebaik-baik pilihan-Nya/pemberian-Nya).”

Ketahuilah, bahwa Dzat yg memberi nikmat kepadamu punya kebiasaan senang memberi sesuatu yg terbaik untukmu, maka di lain waktu bila memberi sesuatu yg dirasakan tidak baik, tentu kau bisa yakin bahwa itu juga terbaik untukmu.

Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata: “Suatu tanda seseorang itu mendapat taufiq karunia Allah, ialah terpeliharanya iman (Tauhid) diwaktu menghadapi bala’, ujian bencana. Wa-‘asaa -an-takrohuu syai-an-wahuwa khoirul-lakum (Mungkin kamu tidak suka pada sesuatu, padahal itu baik untukmu).

Syaikh Abu Thalib al-Makki berkata: Manusia itu tidak suka miskin, hina dan penyakit, padahal itu semua baik baginya untuk bekal di akhirat, sebaliknya ia suka kaya, sehat dan terkenal padahal itu semua bahaya di sisi Allah, dan jelek akibatnya.

Syaikh Junaid al-Baghdadi berkata: Ketika saya tidur di tempat Syaikh Sary as-Saqathy, tiba² saya di bangunkan, lalu dia berkata: Ya Junaid, saya telah bermimpi seolah-olah berhadapan dengan Allah, lalu Allah berkata kepadaku: Hai Sary, ketika Aku membuat makhluk maka semua mengaku cinta kepadaku, kemudian aku membuat dunia, maka lari dari pada-Ku sembilan puluh persen (90%) dan tinggal sepuluh persen (10%), kemudian Aku membuat surga, maka lari dari pada-Ku sembilan puluh persen dari sisanya itu, kemudian Aku membuat neraka, maka lari dari pada-Ku sembilan puluh persen dari sisanya itu, kemudian Aku membuat bala’, maka lari dari padaku sembilan puluh persen dari sisa²nya itu.

Maka Aku berkata pada sisa yg tinggal itu: Dunia kamu tidak mau, surga kamu tidak suka, neraka kamu tidak takut, bala’ musibah juga kamu tidak lari, maka apakah keinginanmu? Jawabnya: Engkau telah mengetahui keinginan kami. Aku berkata: Aku akan menurunkan kepadamu bala’ yg tidak akan sanggup menanggungnya walaupun bukit yg besar. Sabarkah kamu? Jawab mereka: Apabila Engkau yg menguji, maka terserahlah kepada-Mu (berbuatlah sekehendak-Mu), maka mereka itulah hamba-Ku yg sebenarnya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Kau harus sadar bahwa Allah yg mengujimu, bukan yg lain. Dia yg lebih mengetahui maslahatmu daripada dirimu sendiri. Kesadaran ini akan menjadi sebab kebahagiaan, kesenangan, hiburan, ketawakkalan, dan kesabaranmu. Dzat yg menetapkan berbagai perkara yg ditakdirkan untukmu, seperti penyakit, hilangnya harta dan anak, atau yg lainnya, adalah Dzat yg memilihkan untukmu perkara terbaik yg sesuai denganmu.

Dalam kehidupan ini pun kau kerap menyaksikan bahwa orang yg selalu berbuat baik kepadamu bisa saja sewaktu-waktu bersikap buruk dan berbuat kasar kepadamu. Sekalipun demikian, kau tetap sabar menghadapi sikap buruknya karena mungkin saja kekasaran dan keburukan sikapnya itu didasari oleh niat baik dari dalam lubuk hatinya.

Demikian pula seorang hamba, jika ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala Maha Pemurah, Maha Lembut, dan Maha Melihat kepadanya, setiap petaka dan ujian yg dijatuhkan kepadanya tidak perlu dipedulikan karena Allah tidak menghendaki darinya kecuali kebaikan. Dengan kesadaran itu, ia akan berbaik sangka kepada Allah dan yakin bahwa itu adalah pilihan-Nya untuknya. Ia harus yakin bahwa dalam ujian itu terkandung maslahat tersamar bagi dirinya yg tidak diketahui, kecuali oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Syaikh Abu Thalib al-Makki berkata tentang ayat ini, “Seorang hamba benci kemiskinan, kekurangan, kelemahan, dan bahaya, padahal itu lebih baik baginya di hari akhir. Mungkin ia suka kekayaan, kesehatan, dan popularitas, padahal di sisi Allah itu lebih buruk baginya dan lebih jelek akibatnya.” Wallaahu a’lam

117. Salah Satu Tanda Lemahnya Iman adalah Tidak Melihat Lembutnya Takdir

Hikmah 117 dlm Al-Hikam:

“Salah Satu Tanda Lemahnya Iman adalah Tidak Melihat Lembutnya Takdir”

مَنْ ظَنَّ اِنفِكَاَكُ لُطْفِهِ عن قَدَرِهِ فَذاَكَ لِقُصُورِنَظْرِهِ

Barangsiapa yg mengira terlepas kasih sayang Allah sebab turunnya bala’ ujian yg ditakdirkan Allah, maka yg demikian itu disebabkan karena piciknya (dangkalnya) pandangan imannya.

Rasulullah Saw. bersabda: “Jangan menuduh tidak baik terhadap segala apa yg telah ditakdirkan Allah untukmu.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Jika Allah belas kasih pada seorang hamba, maka diuji dengan bala’, jika sabar maka dipilih-Nya, jika telah ridho maka di istimewakan.”

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yg dikehendaki Allah untuknya kebaikan, maka diujinya dengan musibah bala.”

Abu Hurairah ra. dan Abu Said ra. keduanya berkata: Bersabda Rasulullah Saw., “Tiada sesuatu yg mengenai seorang mukmin berupa penderitaan, kelelahan atau risau hati/fikiran melainkan kesemua itu akan menjadi penebus dosanya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ibnu Mas’ud ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Tiada seorang muslim yg terkena musibah bala’ gangguan atau penyakit, dan yg lebih ringan dari itu melainkan Allah menggugurkan dosanya, bagaikan gugurnya daun pohon.”

Kita jangan menjadi orang yg dangkal/piciknya pandangan, sehingga tidak dapat melihat adanya nikmat rahmat karunia dari Allah dalam takdir musibah bala’ itu hanya karena lemahnya iman keyakinan, dan tidak adanya husnudzan terhadap Allah Ta’ala yg Maha Bijaksana.

Sebab kalau kita mau berhusnudzan kepada Allah, banyak sekali karunia Allah yg diberikan bersamaan dengan bala’/ujian itu di antaranya:

Sebab bala’, Allah menempatkan kita di pintu rahmat-Nya.

Sebab bala’, nafsu kita jadi lemah, hilang kekuatannya, hilang sifat²nya nafsu yg menjatuhkan kita ke pintu maksiat dan mencintai dunia.

Sebab bala’, hati mudah untuk taat seperti sabar, ridho, tawakkal, zuhud dan ingin bertemu dengan Allah.

Sebab bala’, dosa² hamba akan di ampuni oleh Allah.

Imran bin Husain ra. menderita penyakit buang air selama tiga puluh tahun tidak dapat bergerak dari tempat tidurnya, sehingga dibuatkan lubang dibawah tempat tidur untuk kencing dan buang airnya, suatu hari datang saudaranya Al alaa’ atau Muthorrif bin Assyikhir, lalu menangis melihat penderitaan Imran bin Husain, maka ditanya oleh Imron, “Mengapakah engkau menangis?” Jawabnya, “Karena aku melihat keadaanmu.” Imran berkata, “Jangan menangis, karena aku suka pada apa yg disukai Allah untukku.” Kemudian Imran berkata, “Saya akan berkata kepadamu semoga bermanfaat bagimu, tetapi jangan kau buka kepada orang lain sehingga aku mati. Sesungguhnya para malaikat berziarah padaku dan memberi salam padaku, sehingga aku merasa senang dengan adanya mereka.”

Urwah bin az-Zubair ra. ketika sakit yg oleh dokter diputuskan harus di potong betisnya, maka ketika akan dilaksanakan, oleh dokter akan diberi obat tidur supaya tidak terasa sakitnya dipotong betisnya itu. Urwah berkata, “Jangan diberi obat tidur, tetapi teruskan potong betis tanpa obat tidur.” Dan ketika di gergaji betisnya tidak terdengar keluhan kecuali ucapan Hasby (cukup bagiku yakni rahmat Allah).

Dan setelah selesai operasinya, ia menyuruh pembantunya supaya mencuci dan membungkus potongan betisnya itu dan menguburnya di kuburan kaum muslimin, lalu ia berkata, “Allah telah mengetahui bahwa kaki itu tidak pernah saya gunakan berjalan kepada maksiat.” Lalu ia berkata, “Ya Allah, jika Engkau ambil, masih banyak sisanya, jika engkau memberi bala’, masih banyak selamatnya.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Kemahakuasaan Allah terlihat saat Allah menimpakan petaka dan ujian kepadanya. Jika ia mengira bahwa kelembutan Allah itu terpisah dari kekerasan-Nya, hal itu menandakan pandangannya sempit. Sekiranya pandangannya sempurna, ia akan menyadari bahwa dalam petaka dan ujian itu ia banyak mendapat kelembutan Allah. Misalnya, dengan ujian itu, ia bisa mendekatkan diri kepada-Nya. Ujian yg ditimpakan Allah kepada hamba²Nya pasti bertolak belakang dengan keinginan mereka dan membuat nafsu syahwat mereka meronta. Tentu setiap hal yg mengganggu atau menyakiti nafsu pasti akan berbuah baik, bahkan sebelum hamba itu kembali kepada Allah dan mengetuk pintu-Nya. Ini adalah faedah terbesar dari ujian dan cobaan. Hamba yg mendapatkan ujian akan mendapati bahwa jiwanya lemah, kekuatannya terbatas, dan sifat² yg telah mendorongnya melakukan dosa atau maksiat serta menguatkan keinginannya terhadap dunia adalah bathil.

Dengan ujian itu, biasanya seorang hamba akan meraih ketundukan hati, sabar, ridha, tawakkal, zuhud, dan ingin bertemu Allah. Bagaimanapun, sebiji sawi amalan hati lebih baik daripada segunung amalan anggota tubuh. Dengan ujian itu pula, ia akan mendapatkan penghapusan dosa dan kesalahan serta meraih kelembutan Ilahi lainnya. Wallaahu a’lam

118. Khawatir Dengan Hawa Nafsu

لاَ يُخاَفُ عليكَ اَنْ تَلْتَبِسَ الطُرُقُ عليكَ وَاِنَّماَ يُخَافُ عليكَ مِنْ غَلبَةِ الهَوَى عليكَ

Tidak dikuatirkan padamu salah jalan, tetapi yg dikuatirkan atasmu yaitu menangnya hawa nafsu mengalahkan akal dan imanmu.

Apabila kamu dalam perjalanan suluk mengalami berbagai hal seperti: berbuat taat, atau maksiat, mendapat nikmat atau bala’, itu semua jalan menuju Allah yg sudah jelas, sudah cukup tuntunan dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Jika berbuat taat hendaknya merasa itu sebagai karunia dari Allah, jika berbuat dosa lekas bertaubat, jika menerima nikmat harus bersyukur, jika mendapat ujian bala’ harus bersabar. Tetapi yg di khawatirkan padamu yaitu merajalelanya hawa nafsu, sehingga mengalahkan akal dan iman.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

“Ketidakjelasan jalan” bermakna ketidakjelasan jalan ‘ubudiyah yg dapat mengantarkanmu ke hadirat Tuhanmu saat kau mengalami satu ahwal. Padahal, jalan ‘ubudiyah ini telah dijelaskan syari’at. Siapa yg menelaah Al-Qur’an dan sunnah maka ia akan mendapatkan bimbingan gamblang dalam meniti jalan itu.

‘Ubudiyah-mu dalam ketaatan adalah dengan menyaksikan karunia ketaatan itu. ‘Ubudiyah dalam maksiat adalah dengan beristighfar dan bertaubat. Adapun ‘ubudiyah-mu dalam kenikmatan adalah dengan mensyukuri nikmat tersebut dan ‘ubudiyah dalam cobaan adalah dengan bersabar.

Dalam semua kondisi di atas, yg dikhawatirkan dari dirimu adalah kemenangan hawa nafsu atas dirimu sendiri sehingga ia membutakan matamu sampai kau tidak bisa melihat jalan tujuanmu. Ia bisa membuatmu bersikap sombong dan ‘ujub atas ketaatanmu, mendorongmu untuk selalu bermaksiat, mengabaikan nikmat dan tidak mensyukurinya, atau gelisah dan sedih saat menerima musibah.

Bisa jadi makna hikmah di atas adalah yg dikhawatirkan darimu, bukan ketidaktahuanmu tentang mana di antara sekian amal yg harus kau utamakan. Ini akan kau alami jika kau tidak dibimbing oleh seorang Syaikh atau Guru. Yg dikhawatirkan darimu justru adalah saat hawa nafsu mengalahkanmu. Hawa nafsu akan menghalangimu untuk melakukan amalan² tersebut sehingga kau malah mengurungkan niat meniti jalan menuju Tuhan. Bahkan, kau meninggalkan jalan yg semestinya kau gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Jika kau tidak mengetahui mana yg lebih utama di antara semua amal itu, sebaiknya kau mencari seorang Syaikh pembimbing agar kau diajari dan dibimbingnya. Wallaahu a’lam

119. Allah Menutupi Rahasia Kewalian

Hikmah 119 dlm Al-Hikam:

“Allah Menutupi Rahasia Kewalian”

سُبْحاَنَ من سَتَرَ سِرَّالخُصُوصيَّةِ بِظُهُورِ البَشَرِيَّةِ وَظَهرَ بِعَظَمةِ الرُّبُوْبِيَّةِ فِى اِظهاَرِالعُبُودِيَّةِ

Maha Suci Allah yg telah menutupi rahasia² keistimewaan seorang wali dengan tampaknya sifat² yg umum bagi menusia, dan telah jelas terlihat keagungan ke-Tuhanan Allah dengan menunjukkan kepada manusia sifat² kehambaan dan kerendahan mahluknya.

Rahasia² kebesaran ilmu makrifat yg diberikan oleh Allah pada para wali-Nya ditutupi oleh Allah dengan tampaknya sifat dan kebiasaan yg umum bagi semua manusia, seperti bekerja, bertani, berdagang, dll, tetapi dalam hatinya penuh dengan ilmu dan makrifat. Sebaliknya Allah memperlihatkan dengan sangat jelas kebesaran Ketuhanan-Nya dengan menunjukkan sifat² ‘Ubudiyah, kelemahan dan kefakiran hamba kepada-Nya.

Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili ra. berkata: AL-‘UBUDIYYATU JAUHAROTUN ADH-HAROTHAR-RUBUBIYYAH. (‘Ubudiyah/penghambaan itu berlian yg diperlihatkan oleh Allah).

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Di antara “keistimewaan” yg dimaksud dalam hikmah di atas adalah ilmu pengetahuan dan rahasia² Ilahi yg diberikan dan dilimpahkan Allah ke dalam hati para wali-Nya.

“Sifat² kemanusiannya” ialah hal² duniawi yg biasa dialami dan dihadapi manusia secara umum. Terkadang, sebagian wali berprofesi sebagai pengemudi keledai tunggangan atau penenun. Bisa jadi tak ada seorang pun yg mengetahui bahwa ia adalah seorang wali karena keistimewaan mereka tertutup profesi yg digeluti atau tersamar oleh sikap² mereka yg tidak berbeda dengan kebanyakan manusia lainnya, seperti bertengkar atau beradu mulut dengan orang.

Namun, terkadang pula, Allah menampakkan tanda² keistimewaan itu pada sebagian manusia, seperti pada para da’i. Allah menampakkannya pada para da’i agar dengan peran mereka seluruh manusia menjadi baik dan sempurna.

Dan keagungan rububiyah-Nya terlihat ketika Dia memperlihatkan kehambaan makhluk. Artinya, keagungan rububiyah Allah akan tampak manakala Dia memperlihatkan tanda kehambaan seluruh makhluk. Yg dimaksud dengan tanda kehambaan makhluk adalah kondisi² yg membuat seorang makhluk membutuhkan Tuhan, seperti penyakit atau kemiskinan. Seorang hamba, jika mengalami salah satu kondisi itu, ia akan berlindung kepada Tuhannya dan memohon agar diselamatkan dari kondisi itu.

Di sinilah rububiyah Allah akan ditampakkan-Nya kepada hamba-Nya itu. Allah ingin menegaskan bahwa hamba itu memiliki Tuhan yg Maha Kuasa dan bisa menghilangkan kondisi yg dialaminya. Tanpa hal itu, Allah tidak akan mengenalkan keagungan rububiyah-Nya. Tanpa hal itu juga, keagungan rububiyah Allah hanya akan terselubung dan tidak akan tampak ke permukaan.

Oleh sebab itu, Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili ra. berkata, “’Ubudiyah adalah isi. Ia akan ditampakkan oleh rububiyah.”

Maha Suci Tuhan Yang Maha Lembut dan Maha Meliputi segala sesuatu. Wallaahu a’lam

120. Jangan Menuntut Tuhanmu

Hikmah 120 dlm Al-Hikam:

“Jangan Menuntut Tuhanmu”

لاَ تُطَالب رَبَّكَ بِتأَخرِ مطلَبكَ وَلٰكِن طِالب نَفْسَكَ بِتأَخِيرِ اَدَبِكَ

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintaan yg telah engkau minta kepada Allah. Tetapi hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu yg belum bisa bertata krama (supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban²mu terhadap Allah.

Jika belum tercapai hajat permintaanmu, jangan engkau su’udzan kepada Allah, dan menuntut kepada Allah untuk segera mengabulkan permintaanmu, sebab Allah tidak dapat dituntut terhadap apa saja yg dikehendaki.

Akan tetapi hendaknya permintaanmu itu semata-mata untuk menunjukan sifat kehambaanmu kepada Allah, dan hajat kebutuhanmu kepada Allah. Sebab terhadap kebutuhanmu, Allah tidak usah di ingatkan, bahkan Allah telah melengkapi segala kebutuhanmu sebelum kau mengerti apa hajat kebutuhanmu yg sebenarnya. Maka sebaiknya kau menyerah bulat² kepada Allah tanpa memaksa, tanpa usul apa² kepada Allah.

Dan lagi apabila kamu meyakini Allah tidak akan mengabulkan doamu itu berarti kamu tidak punya adab, karena Allah telah berjanji akan mengabulkan semua doa hamba-Nya. Tetapi cara mengabulkannya tidak harus mewujudkan seperti keinginanmu, semua terserah Allah, yg semua itu terbaik bagimu.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Jangan protes kepada Tuhan dan berburuk sangka kepada-Nya jika permintaanmu terlambat dipenuhi-Nya, baik yg batin, seperti keistimewaan tertentu, maupun yg lahir, seperti kebutuhan² duniawimu.

Jika kau meminta sesuatu dari-Nya dan jawaban-Nya tidak diberi langsung, jangan kau berburuk sangka kepada-Nya dan jangan memaksa-Nya untuk menunaikan permintaanmu itu karena Dia melakukan apa saja yg dikehendaki-Nya tanpa dimintai pertanggungjawaban atas apa yg dilakukan-Nya. Jika permintaanmu ditunda, tuntutlah dirimu atas keterlambatan pengabulan doamu itu karena kau telah meminta agar disegerakan jawaban doamu. Tentu ini merupakan sikap yg tidak sopan dan kurang ajar terhadap Tuhan.

Tuntutanmu agar Tuhan segera mengabulkan doamu merupakan bukti bahwa kau berdoa hanya untuk dikabulkan. Doamu hanya memiliki tendensi tertentu. Inilah yg mengurangi kesempurnaan ‘ubudiyah-mu. Demikian pula halnya dengan keyakinanmu bahwa Dia tidak akan mengabulkan doamu. Ini adalah sikap yg tidak sopan karena belum tentu pengabulan doa itu berupa sesuatu yg kau inginkan langsung. Allah berhak menahannya darimu karena bisa jadi tindakan itu lebih baik bagimu.

Syaikh Ibnu Atha’illah mengisyaratkan sebuah etika. Jika dipegang oleh seorang hamba, ia akan mendapatkan tujuan dan maksudnya, yaitu sikap istiqamah dan berjalan pada jalan yg lurus, seperti dalam firman Allah, “Tunjukilah kami jalan yg lurus.” (QS. Al-Fatihah (1): 6). Wallaahu a’lam

121. Nikmat Karunia Terbesar Dari AllahNikmat Karunia Terbesar Dari Allah

Hikmah 121 dlm Al-Hikam:

“Nikmat Karunia Terbesar Dari Allah”

مَتىَ جَعَلكَ فِى الظَّاهِرِ مُمتـَثِلاً لاَمْرِهِ وَرَزقكَ فِى البَاطِنِ الاِسْتِسْلاَمِ لِقَهْرِهِ فَقَد اَعْظَمَ المِنَّةَ عَلَيْكَ

Apabila Allah telah menjadikan engkau pada lahirnya taat menurut perintah-Nya dan dalam hatimu menyerah/tawakkal kepada-Nya, maka berarti Allah memberi kepadamu nikmat karunia yg sebesar-besarnya.

Jika Allah telah memberi taufiq hidayah kepada hamba untuk melakukan segala perintah-Nya, dan di dalam hati/batinnya diberi kekuatan bisa menyerah/tawakkal pada sifat qohrinya Allah (selalu ridho atas apa yg terjadi atas dirinya), itu berarti Allah telah memberi karunia nikmat yg sangat besar. Karena Allah telah mengumpulkan ‘Ubudiyyah (penghambaan) lahir dan ‘Ubudiyyah batin.

Sebab tugas manusia hanya untuk beribadah kepada Allah lahir batin, dengan ikhlas, tentang semua kebutuhan dan hajatnya telah dicukupi oleh Allah, maka jangan menuruti hawa nafsu yg tidak ada puasnya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Ketika Allah menjadikanmu taat, dengan memberimu taufiq untuk melaksanakan berbagai ketaatan, dan membuatmu ridho dengan putusan Tuhanmu, berarti Dia telah melimpahkan karunia yg paling besar kepadamu. Dalam karunia itu, Dia telah menghimpun ‘ubudiyah batin dan ‘ubudiyah lahir pada dirimu.

Kedua perkara inilah yg menuntutmu untuk menghambakan diri kepada Allah semata. Lantas, mengapa kau masih tamak? Apa lagi yg kau cari setelah mendapat dua perkara itu jika kau seorang hamba sejati? Ketahuilah, tak ada kedudukan yg sempurna, kecuali saat kau berjuang dalam ‘ubudiyah lahir dan ‘ubudiyah batin. Wallaahu a’lam

122. Kekeramatan Bukan Jaminan Kesempurnaan

Hikmah 122 dlm Al-Hikam:

لَيْسَ كُلُّ مَنْ ثَبَتَ تَخْصِيْصُهُ كـَمُلَ تَخـْـلِيْصُهُ

Tidak semua orang yg telah tampak jelas kekeramatannya itu berarti telah sempurna pembersihannya (dari penyakit² hati dan hawa nafsu).

Keramat (perkara yg luar biasa/tidak masuk akal) yg diberikan Allah kepada para hamba-Nya, yg tujuannya untuk menambah keyakinan dan keimanan hamba, dan untuk memperkenalkan bukti kekuasaan Allah itu tidak tergantung pada sebab dan kebiasaan, bahkan kebiasaan itu bisa menjadi sebab terhijabnya manusia dari Qudratnya Allah. Dan juga bisa menjadi fitnah, bagaikan awan yg menutupi sinar matahari keesaan Allah. Maka dari itu menurut ajaran thariqah, siapa yg terterikat/silau pada keramat maka dia terhina.

Seorang sahabat Sahl bin Abdullah ra. berkata: “Adakalanya jika saya wudhu’ tiba² air yg mengalir di tanganku menjadi lantakan emas dan perak.” Jawab Sahl: “Apakah engkau tidak mengerti bahwa anak kecil jika menangis dihibur dengan boneka/mainan supaya diam.”

Abu Nashr as-Sarraj berkata: “Saya bertanya kepada Hasan bin Salim: apakah arti kekeramatan, sedang mereka telah dimuliakan oleh Allah sehingga sanggup mengabaikan dunia dan meninggalkannya dengan suka rela, tetapi bagaimana lalu kemuliaan (keramat) batu berubah menjadi emas, apakah artinya itu?” Jawabnya: “Bukannya Allah memberikan karena kotornya, tetapi diberi untuk menjadikan hujjah mengalahkan bisikan hawa nafsu, yg selalu goncang kuatir tidak dapat rizki, sehingga oleh Allah diperlihatkan yg demikian, sehingga dapat berkata: Bahwa Allah yg dapat merubah batu menjadi emas, dapat mendatangkan rizki dan memberi dari jalan yg tidak disangka.”

Ishaq bin Ahmad berkata pada Sahl: “Nafsuku ini selalu merasa kuatir tidak dapat makan.” Maka Sahl berkata: “Engkau ambil batu itu dan minta kepada Allah supaya dijadikan makanan untuk kau makan.”

Ishaq bertanya: “Jika berbuat demikian, maka siapa tauladan dalam berbuat demikian?” Jawab Sahl: “Bertauladanlah pada Nabi Ibrahim as. ketika berkata: “Wahai Tuhan, tunjukkan perlihatkan kepadaku bagaimana caranya Engkau menghidupkan sesuatu yg telah mati, supaya tentram hatiku, sebenarnya aku telah percaya tetapi nafsuku ini tidak puas, kecuali jika telah melihat dengan mata kepala.””

Seorang wali Ibrahim al-Khawwas pada suatu hari berkenalan dengan orang Yahudi di dalam kapal, keduanya membicarakan tentang agama, lalu Yahudi tadi berkata: “Kalau agamamu ini benar, berjalanlah diatas laut bersamaku.”

Lalu si Yahudi turun dari kapal dan berjalan diatas laut bersama dengan Ibrahim, sesampainya di daratan Yahudi berkata : “Aku ingin berteman dan bersamamu, tapi dengan syarat kita tidak boleh masuk masjid dan gereja, mari kita masuk ke hutan dan padang, tidak boleh bawa bekal.” Dan disanggupi oleh Ibrahim, lalu keduanya berjalan ke padang yg tidak ada tumbuhan dan tidak ada air sama sekali. Sampai tiga hari keduanya tidak makan dan minum, ketika keduanya duduk² tiba² ada anjing datang dengan menggigit roti tiga biji, dan ditaruh di depan Yahudi lalu anjingnya pergi, si Yahudi lalu makan roti tadi tanpa mengajak Ibrahim ikut makan, tidak berapa lama ada pemuda yg tampan dan berbau harum datang dengan membawa nampan yg dipenuhi dengan makanan dan minuman yg sangat enak dan lezat, dan ditaruh di depan Ibrahim lalu dia pergi. Lalu Ibrahim mengajak Yahudi untuk ikut makan, tapi Yahudi tidak mau karena malu, akhirnya Allah memberi hidayah kepada si Yahudi sehingga masuk Islam dan menjadi murid Ibrahim al-Khawwas.

Syaikh Abu Yazid al-Busthami qs berkata: “Kamu jangan sampai tertipu dengan keadaan yg luar biasa/tidak masuk akal, yg dialami seseorang, tapi lihatlah bagaimana taatnya pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Tidak setiap orang yg mendapatkan perkara luar biasa, seperti dapat mempersingkat perjalanan, terbang di udara, atau berjalan di atas air, sepenuhnya terbebas dari gejolak nafsu, dorongan syahwat, kesalahan, dan pelanggaran.

Syaikh Ibnu Atha’illah berkata, “Tidak semua orang yg mendapat karamah terbebas dari salah.” Bahkan mungkin, sebagian orang yg mendapatkan karamah itu tidak mampu istiqamah.”

Karamah sejati adalah sikap istiqamah yg dimiliki seseorang. Lain halnya dengan karamah yg berupa perkara² luar biasa yg kadang kala terjadi pada orang yg tidak beristiqamah dengan sempurna. Bahkan, karamah seperti ini banyak terjadi pada para pemula dan tidak tampak pada orang yg sudah benar² istiqamah dan tawakkal. Sekalipun demikian, keduanya termasuk orang² yg dekat dengan Allah. Oleh karena itu, kita harus tetap menghormati mereka dan memuliakannya. Namun, ahli istiqamah lebih harus dimuliakan daripada ahli karamah. Wallaahu a’lam

123. Menghendaki Langgengnya Wirid Lebih Baik Daripada Langgengnya Karamah (1)

Hikmah 123 dlm Al-Hikam:

“Menghendaki Langgengnya Wirid Lebih Baik Daripada Langgengnya Karamah”

لاَيَسْتَحْقِرُ الوِرْدُ الاَّ جَهُولٌ. الوَارِدُ يُوجَدُ في الدَّارِ الاَخِراَةِ. الوِرْدُ يَنْطَوِي بِانْطواَءِ هٰذِهِ الدّاَرِ وَاَولٰى ماَ يُعْتَنىَ بِهِ ماَلاَ يَخْلُفُ وُجُودُهُ، ثُمَّ الوِرْدُ هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ واَالوَارِدُ اَنْتَ تَطْلُبُهُ

Tidak akan meremehkan wirid, kecuali orang yg sangat bodoh, warid (karunia Allah buah dari wirid) itu akan wujud di akhirat. Wirid itu akan habis/hilang bersama habisnya dunia,. Dan sebaik-baik yg harus diperhatikan oleh seseorang yaitu perkara yg apabila hilang tidak ada gantinya (wirid). Wirid itu sebagai perintah Allah padamu (haknya Allah yg harus kau penuhi), sedangkan warid itu hajat keperluanmu yang kau minta kepada Allah, maka apa imbang antara perintah Allah kepadamu (hak Allah) dengan pengharapanmu dari Allah.

Wirid adalah segala macam bentuk ibadah lahir batin baik yg wajib maupun yg sunnah, sedangkan warid (pemberian Tuhan dalam hati hamba) yg berupa pemahaman, nur/cahaya, kesenangan/manisnya dalam beribadah, taufiq dan hidayah-Nya.

Maka sebaiknya seorang hamba menjalankan kewajibannya, karena wirid itu hanya berlaku ketika masih hidup di dunia ini saja, sedang warid akan lanjut sampai di akhirat.

Rasullullah Saw. bersabda, “Amal yg paling disukai Allah ialah yg istiqamah (terus-menerus) meskipun sedikit.”

Imam Hasan al-Bashri berkata, “Siapa yg hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia rugi, dan siapa hari ini lebih buruk dari kemarinnya, maka dia mahrum (tidak dapat rahmat), dan siapa yg tidak bertambah berarti berkurang, dan siapa yg makin berkurang amalnya, maka mati lebih baik baginya.”

Ketika Imam Junaid ditegur orang karena memegang tasbih di tangannya, “Tuan dalam kedudukan yg demikian itu masih menggunakan tasbih.” Jawab Imam Junaid, “Alat yg telah menyampaikan kami, maka tidak saya tinggalkan.”

Imam Junaid berkata, “Orang ’arif menerima semua amal (wirid) itu sebagai tugas dari Allah, karena itu mereka kembali menghadap pada Allah dengan kebiasaan wirid (ibadah) yg ditugaskan Allah itu. Dan andaikata seribu tahun tidak akan mengurangi sedikitpun amal wiridku, kecuali jika terhalang untuk melakukannya.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Wirid ialah amal shaleh yg mengisi waktu² dan membuat seluruh anggota tubuh menjauhi hal² yg dibenci-Nya. Orang bodoh akan meremehkan wirid, padahal di dalamnya terkandung ubudiyah kepada Allah, rasa hadir bersama-Nya, dzikir, pembersihan batin, serta dapat menarik cahaya karunia Ilahi. Menjalani wirid tanpa mempedulikan hasilnya termasuk kebodohan.

Syaikh Ibnu Atha’illah menyebutkan, wirid lebih utama daripada warid bila ditinjau dari dua sisi. Pertama, wirid ialah karunia yg masuk ke dalam batin seorang hamba, berupa makrifat Tuhan dan kelembutan jiwa atau cahaya² yg membuat hati lapang dan bersinar terang. Warid ini tetap akan ada hingga di negeri akhirat, sedangkan wirid akan musnah dengan musnahnya dunia. Oleh karena itu, yg perlu mendapat perhatian adalah yg wujudnya akan sirna. Artinya seorang hamba harus memperbanyak wirid sebelum tertinggal karena ia tidak mungkin mengganti wirid yg hilang dan tertinggal.

Kedua, wirid merupakan sesuatu yg dituntut Allah darimu. Adapun warid, kaulah yg memintanya dari Allah. Oleh karena itu, yg kau minta dari-Nya tidak sebanding dengan yg Dia minta darimu. Tentu, yg diminta-Nya darimu lebih utama daripada yg kau minta dari-Nya. Wirid adalah hak Allah atasmu, sedangkan warid (karunia) adalah hakmu atas-Nya. Melaksanakan hak-Nya tentu lebih utama dan lebih patut daripada meminta keuntungan dan bagian dari-Nya.

Syaikh Ibnu Atha’illah ingin mengingatkan para murid yg tamak terhadap warid (karunia), namun mengabaikan wirid. Tindakan itu merupakan akibat kebodohan dan ketidaktahuannya tentang buah dan hasil wirid. Oleh karena itu, orang² ‘arif tidak meninggalkan wirid, padahal ahwal mereka lebih baik daripada para murid. Wallaahu a’lam.

124. Menghendaki Langgengnya Wirid Lebih Baik Daripada Langgengnya Karamah (2)

Hikmah 124 dlm Al-Hikam:

وُروُدُ الاِمدادِ بِحَسْبِ الاِستِعْداَدِ وَشُرُوقُ الاَنواَرِ عَلَى حَسَبِ صَفاءِ الاَسْرَارِ

Datangnya bantuan/pertolongan dari Allah itu menurut kadar kesiapannya, dan terbitnya/cahaya ilahi itu menurut/tergantung pada bersih/jernihnya hati.

Bersihkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan mengisi/memenuhi hatimu dengan pengertian² makrifat dan rahasia² keyakinan. Karena itu tiap² warid (pemberian karunia dari Allah) itu tergantung pada wirid, apabila wiridnya banyak maka waridnya juga banyak, apabila wirid itu timbul dari hati yg bersih, maka datangnya warid demikian terang jernihnya, demikian pula jika wiridnya tetap terus, maka waridnya pun demikian tidak berhenti begitu seterusnya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Datangnya pertolongan Allah kepada hamba-Nya bergantung pada kesiapan seorang hamba membersihkan hatinya dan seberapa sering ia melakukan wirid. Oleh sebab itu, dikatakan, “Bersihkan hatimu dari dunia maka Kami akan mengisinya dengan makrifat dan rahasia.”

Setiap warid akan selalu mengikuti wirid, sesuai kondisinya. Jika wiridnya sempurna, misalnya bersumber dari hati yg bersih, warid-nya pun akan sempurna. Jika wirid kurang, warid pun akan kurang. Jika wiridnya banyak, warid-nya akan banyak. Setiap warid akan bergantung pada wiridnya. Jika wiridnya dilakukan terus-menerus, warid pun akan mengalir terus-menerus.

Oleh sebab itu, amal yg paling dicintai Allah adalah yg paling sering dilakukan walaupun sedikit. Jika amal itu sering dilakukan, bantuan Allah pun akan sering diberikan.

Kalimat “terbitnya cahaya sesuai dengan kadar kejernihan jiwa” merupakan penegas dan penjelas ungkapan sebelumnya. Maknanya, terbitnya cahaya keyakinan dan makrifat bergantung pada kejernihan batin dari kekotoran yg di akibatkan sikap bergantung pada dunia. Kejernihan batin itu sendiri tidak akan terjadi, kecuali dengan seringnya melakukan wirid. Wallaahu a’lam

125. Sikap Orang yang Lupa Pada Allah

Hikmah 125 dlm Al-Hikam:

“Sikap Orang Yang Lupa Pada Allah”

الغَافِلُ اِذاَ اَصْبَحَ نَظَرَ فيماَ يَفْعَلُ، والعاَقِلُ يَنْظُرُ ماَذاَ يَفْعَلُ اللهُ بِهِ

Orang yg lupa/lalai dalam tauhidnya (bahwa segala sesuatu itu berjalan menurut ketentuan takdir Allah), jika pagi hari dia selalu berangan-angan apakah yg harus aku kerjakan hari ini (yakni mengatur dirinya sendiri), sedangkan orang yg sempurna akal tauhidnya memikirkan apakah yg akan ditakdirkan Allah bagi dirinya hari itu.

Jadi, pandangan org yg lalai pada Allah itu, selalu mengatur dan memandang dirinya dan kemampuan atau rencananya, maka dari itu Allah menyerahkan urusannya itu pada dirinya sendiri. Sehingga tidak akan berhasil apa yg direncanakan.

Sedangkan orang yg berakal, selalu memandang Allah, selalu mengingat kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, maka Allah mencukupi apa yg menjadi kebutuhannya. Permulaan pemikiran yg bergerak dalam hati itu menjadi timbangan dan ukuran tauhid dan imannya kepada Allah.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Kini aku tidak merasa senang kecuali dalam ketentuan² takdir Allah.”

Abu Madyan berkata, “Usahakan dengan sungguh² bila dapat, supaya hatimu tiap pagi dan sore menyerah bulat² kepada Allah, semoga Allah melihat padamu dengan pandangan Rahmat-Nya. Niscaya kamu termasuk orang yg bahagia dunia akhirat.

Siapa yg melihat kepada Allah, maka tidak akan terlihat dirinya sendiri, dan siapa yg melihat dirinya sendiri maka tidak terlihat Allah. Karena itu jika engkau menghadapi sesuatu hal, perhatikan hatimu, kemana condongnya, jika langsung pada kekuatanmu sendiri, maka terputus dengan Allah. Dan jika langsung pada kekuasaan Allah, berarti engkaulah yg telah sampai kepada Allah, sedang alam ini semua dalam genggaman Allah.

Dan tiap pagi sebaiknya berdo’a: Allahumma-inni-ash-bahtu laa-amliku linafsii dharra’u-walaa-naf‘aa, walaa mautau-walaa nusyuraa, walaa-as-tathii’u an-aakhudza illaa-maa-a’thaitanii, walaa-at-taqii illa maa-waqaitanii. Allahumma innaka-dzul-fadhlil-‘adhiim.

“Ya Allah, kini aku berada di waktu pagi, tiada menguasai diriku untuk kebaikan atau menolak bahaya, atau mati atau hidup atau bangkit sesudah mati, dan aku tidak dapat mengambil kecuali yg engkau beri, dan tidak dapat menghindari sesuatu kecuali yg engkau hindarkan. Ya Allah, pimpinlah aku kepada jalan yg engkau ridhai baik dalam perkataan atau amal perbuatan di dalam taat kepada-Mu, sungguh engkau Dzat yg maha besar karunia-Nya.”

Doa Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili ra., “Allahumma innal amra ‘indaka wahuwa mahjuubun ‘annii walaa a’lamu amran akhtaa-ruhu linafsii fakun antal-mukhtaaralii, wah-milnii fii-ajmalil umuuri ‘indaka wa-ahmadihaa ‘aa-qibatan fid-diini wad-dun-ya wal aakhirah, innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir”.

“Ya Allah sungguh segala sesuatu ada di tangan-Mu, dan tertutup dari padaku, dan aku tidak mengetahui apa yg harus aku pilih untuk diriku, maka pilihkanlah apa yg baik bagiku, dan bawalah aku dalam hal yg amat baik serta terpuji akibatnya dalam agama, dunia dan akhirat, sesungguhnya engkau berkuasa atas segala sesuatu.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Orang yg lalai ialah yg lupa tauhid dan lupa bahwa segala sesuatu terjadi atas ketetapan dan takdir Allah. Di pagi hari, orang seperti ini akan menisbahkan semua amalnya kepada dirinya sendiri, biasanya, ia berkata, “Apa yg akan kulakukan hari ini?”

Sementara itu, seorang yg berakal, saat bangun pagi, ia tidak lalai dari tauhid dan tidak lupa bahwa segala sesuatu terjadi dengan ketentuan dan takdir Allah. Ia juga menisbahkan semua amalnya hanya kepada Allah. Orang seperti ini akan berkata, “Apa yg akan dilakukan Allah terhadapku hari ini?”

Orang lalai akan selalu melihat kemampuan dirinya sendiri. Saat Allah membebaninya dengan sebuah pekerjaan, pekerjaan itu tidak akan berhasil. Sementara itu, orang yg berakal hanya akan melihat kepada Tuhannya. Oleh karena itu, Allah akan mencukupi keinginannya dan memudahkan semua permintaannya. Ini adalah sebuah patokan agar murid bisa mengenali kondisi dirinya.

Hal pertama yg harus terdetik dalam hati seorang murid adalah kadar tauhidnya. Seberapa besar kadar tauhidnya? Itu bisa dilihat melalui kadar cahaya yg datang kepadanya. Jika sejak pertama hatinya hanya memandang pada daya dan kekuatannya, ia akan terputus dari Allah. Jika ia sadar dan kembali kepada Allah, tentu ia pun akan sampai kepada-Nya. Wallaahu a’lam

126. Jangan Terpengaruh Dengan Makhluk

Hikmah 126 dlm Al-Hikam:

“Jangan Terpengaruh Dengan Makhluk”

٭ اِنَّماَ يَسْتوحِشُ العِباَدُ وَالزُّهاَدُ مِنْ كُلِّ شيءٍ لِغَيْبَتِهِمْ عَنِ اللهِ فِى كُلِّ شىءٍ فَلَو شَهِدوُهُ فِى كُلِّ شىءٍ لَمْ يَسْتوحِشُوا مِنْ شَىءٍ ٭

Sesungguhnya yg menyebabkan kerisauan/kesusahan hati para ‘abid (ahli ibadah) dan zahid (ahli zuhud) dari segala sesuatu itu karena mereka masih terhijab/tidak melihat Allah dalam apa yg mereka lihat itu. Tetapi andaikan mereka melihat Allah dalam segala sesuatu (makhluk), pasti mereka tidak akan risau dari/terhadap segala sesuatu.

Yg dinamakan ‘abid/ahli ibadah ialah: orang² yg bertaqarrub/mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam amal ibadah. Sedangkan zahid/ahli zuhud ialah orang yg bertaqarrub/mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan tawakkal/menyerahkan diri hanya kepada Allah. Kedua golongan ini selalu ingin menjauh dari masyarakat/sesama makhluk, itu dikarenakan mereka merasa bahwa masyarakat/makhluk menjadi perintang mereka dalam mendekatkan diri kepada Allah, tapi sekiranya mereka lebih mendalam dalam makrifat kepada Allah, tentu mereka tidak dapat terhalang oleh suatu apapun, sebab Allah berada dalam segala sesuatu, maka tidak ada sesuatu yg melupakan dari Allah, bahkan sebaliknya masyarakat/makhluk itu bisa mengingatkan kepada Allah Ta’ala.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

‘Abid adalah orang² yg menuju Allah melalui jalan amal dan ibadah, sedangkan zahid ialah orang² yg menuju Allah dengan jalan tawakkal. Kedua golongan ini cenderung menjauhi makhluk karena mereka terputus dari Allah, terhalang, dan belum bisa melihat-Nya. Itu di akibatkan oleh sikap mereka yg terlalu memandang diri sendiri dan selalu memperhatikan kemaslahatan pribadinya. Mereka lari dari segala hal duniawi (baik itu manusia maupun materi) yg menghantui pandangan mereka. Mereka takut jika hal duniawi menghalangi tujuan mereka dan menyimpangkan maksud mereka. Mereka khawatir terlena dan tertipu olehnya.

Sekiranya mereka melihat Allah dalam segala sesuatu, sebagaimana orang² ‘Arif dan para muhibbin (kaum pencinta), mereka tidak akan khawatir atau takut terhadap segala hal duniawi karena mereka melihat Allah ada di dalamnya. Tentu mereka tidak akan lagi sibuk memandang dan memperhatikan kemaslahatan diri sendiri. Buahnya, mereka tidak akan merasa risau dan takut tertipu olehnya. Wallaahu a’lam

127. Lihatlah Alam Ini Untuk Mengenal Allah

Hikmah 127 dlm Al-Hikam:

“Lihatlah Alam Ini Untuk Mengenal Allah”

اَمَرَكَ فِى هٰذِهِ الدَّارِ بِالنَّظَرِ فِى مُكَوَّناَتِهِ وَسَيَكـْشِفُ لَكَ فِى تِلْكَ الدَّارِ عَنْ كمَال ذاَتِهِ

Allah memerintahkan kepadamu semasa hidup di dunia ini memperhatikan alam ciptaan-Nya (memikirkan makhluk di dunia ini sehingga menjadikan ingat pada Allah). Dan kelak di akhirat, Allah akan mamperlihatkan kepadamu kesempurnaan Dzat-Nya.

Allah telah memerintahkan memperhatikan dan memikirkan makhluknya Allah. Ada juga yg secara isyarah seperti firman Allah yg artinya: “Dan di bumi itu ada bagian² tanah yg berdekatan satu sama lainnya, ada kebun² kurma dan anggur, ada tanaman yg sejenis dan beda jenis, yg kesemuanya itu disirami dengan satu macam air, sesungguhnya yg demikian itu mengandung tanda² keagungan Allah, yg manfaat bagi orang² yg mau berfikir.”

Satu macam air itu (air hujan) tetapi pohon yg disiram beda², daunnya tidak sama, buahnya tidak sama, adakalanya sama tapi rasanya berbeda, itu semua pasti ada yg menetapkan, yaitu Allah.

Apabila mau memperhatikan alam semesta (makhluk), maka kelak di akhirat, Allah akan membukakan hijab sehingga langsung bisa melihat Dzat-Nya.

Firman Allah Ta’ala: WUJUUHUY-YAUMA-IDZIN-NAADHIROH, ILAA-ROB-BIHAA NAADHIROH. (beberapa wajah pada hari kiamat itu berseri-seri, (bercahaya), karena ia dapat melihat Tuhannya).

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Allah memerintahkanmu di dunia ini untuk memperhatikan ciptaan-Nya agar dengan mata batinmu kau melihat-Nya tampak sana.

Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yg ada di langit dan di bumi’.” (OS. Yunus (10): 101)

Dengan begitu, di akhirat kelak, Dia akan menyingkapkan untukmu kesempurnaan Dzat-Nya agar kau melihat-Nya dengan mata batinmu. Kemampuan seorang hamba melihat Tuhannya bergantung pada kadar penampakan-Nya di hadapan mereka.

Di dunia, mereka melihat-Nya tampak di alam semesta dengan cahaya mata batin mereka karena Allah menampakkan Diri kepada mereka dari balik hijab mereka sendiri, yaitu alam semesta tersebut. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan hamba²Nya untuk mengamati dan merenungkan ciptaan-Nya. Di akhirat, mereka akan melihat-Nya langsung tanpa hijab dengan cahaya mata kepala mereka. Itu tak mustahil terjadi.

Inilah puncak dari tajalli (penampakan Allah) dan kasyaf (ketersingkapan Allah) di dunia yg di alami khusus oleh orang² ‘arif. Di akhirat, tajalli dan kasyaf ini akan di alami oleh seluruh kaum mukmin. Wallaahu a’lam

128. Tidak Sabar ingin Menyaksikan Allah

Hikmah 128 dlm Al-Hikam:

عَلِمَ مِنكَ اَنَّكَ لاَ تَصْبِرُ عَنْهُ فاَشـْهَدَكَ ماَ بَرَثَ مِنْهُ

Allah mengetahui bahwa engkau tidak sabar ingin menyaksikan Allah, maka Allah memperlihatkan kepadamu yg bersumber dari-Nya.

Orang yg berfikir tentang makhluk buatan Allah, dan mengetahui semua atas ketentuan Allah, tentu tidak sabar ingin mengetahui Dzat yg membuat dan menentukan yaitu Allah. Berhubung itu tidak mungkin, maka Allah memperkenalkan Diri-Nya lewat makhluk buatan-Nya.

Kerinduan yg berupa ingin melihat Allah itu, termasuk karunia yg agung dari Allah, dan ini termasuk maqam ihsan.

Dawuh mu’allif ini untuk orang² yg mencari Allah, yg dalam pikirannya sudah jauh dari selain Allah.

Ahli fikir itu ada dua:

1. Ahli fikir yg punya maksud mencari Allah/taqarrub kepada Allah, ini akan menghasilkan cinta dan rindu bertemu Allah.

2. Ahli fikir yg untuk urusan dunia seperti mencari ilmu alam yg tidak ada maksud mencari Allah, ini tidak akan membuka mata hati.

Maka terhadap orang yg telah sampai ke maqam ihsan ini, Allah menganjurkan sabar melihat ciptaan² Allah terlebih dahulu untuk diperlihatkan Dzat Allah di akhirat nanti.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Allah Maha Mengetahui jika kau tidak bisa bersabar untuk dapat melihat-Nya langsung, sebagaimana seorang pencinta yg tak tahan ingin segera melihat kekasihnya. Namun, penglihatanmu kepada Allah tanpa hijab di dunia ini tidak mungkin bisa dilakukan. Maka dari itu, Allah memperlihatkan kepadamu segala jejak, tanda, dan ciptaan-Nya agar kau melihat-Nya pada semua itu dengan mata batinmu.

Namun, jika semua ciptaan itu menghalangi pandanganmu kepada-Nya, sebenarnya kau telah melihat-Nya dari balik hijab. Itulah karunia dan perhatian Allah untukmu karena di dunia pun Dia tidak menghijabmu dari memandang-Nya. Wallaahu a’lam

129. Beragamnya Bentuk Ketaatan Agar Tidak Membosankan

Hikmah 129 dlm Al-Hikam:

“Beragamnya Bentuk Ketaatan Agar Tidak Membosankan”

لمّا علم الحق منك وجود الملل لَوّن لك الطاعات وعلم مافيك من وجود الشرّه فحجرهاعليك فى بعض الاوقات ليَكون همّك اِقمامة الصلاةِلاوجودالصلاةِفماكلُّ مصَلٍّ مُقِيمٌ

Karena Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu, Dia membuat bermacam-macam cara taat untukmu. Karena Allah mengetahui bahwa engkau rakus, Dia membatasi ketaatan itu hanya pada waktu² tertentu. Agar perhatianmu tertuju pada kesempurnaan shalat, bukan pada adanya shalat. Karena tidak semua orang yg shalat dapat menyempurnakan shalatnya.

Allah Ta’ala berfirman: Wa-aqiimus-shalaata (dan kamu semua supaya mendirikan shalat), firman-Nya tidak: SHALLUU (shalatlah kamu semua).

Cara mendirikan shalat (iqamatus-shalah) itu harus dengan menyempurnakan adab/tata kramanya shalat;
1. Adab lahir seperti: menjaga syarat², rukun² dan sunnah²nya shalat.
2. Adab batin seperti: menjaga khusyuk dalam shalat dengan menghadapkan hati hanya kepada Allah Ta’ala, sehingga hati tidak mengingat sesuatu melainkan kepada Allah Ta’ala, dan merasa bahwa shalatnya itu semata-mata karunia dari Allah Ta’ala.

Shalat dengan menyempurnakan adab/tata kramanya ini yg akan menimbulkan bekas, seperti bertambah baik budi pekertinya, dan mencegah dari perbuatan keji dan munkar ( INNAS-SHALAATA-TANHAA ‘ANIL-FAKHSYA-I WAL MUNKAR)

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Allah Ta’ala mengetahui bahwa kau mudah bosan dan jemu. Beratnya amal akan mengakibatkanmu meninggalkan amal itu. Oleh karena itu, Dia membuat untukmu bermacam cara dan bentuk ketaatan. Itu adalah rahmat dan kemudahan-Nya untukmu. Jika kau bosan dengan satu cara ketaatan, kau bisa menggunakan cara lainnya. Sekiranya ketaatan itu hanya satu macam, tentu jiwamu akan jemu dan akan meninggalkannya lantaran merasa berat melakukannya. Lain halnya dengan ketaatan yg beragam, tentu dapat membuatmu ringan dan mudah sehingga kau bisa berpindah dari satu ketaatan ke ketaatan lainnya.

Tabiat jiwa biasanya tidak sanggup berada dalam satu kondisi secara terus-menerus. Ia akan mencari bermacam kondisi lainnya.

Tidakkah kau lihat bahwa manusia, jika terus-menerus memakan satu jenis makanan, ia akan merasa bosan? Sebagaimana yg pernah terjadi pada Bani Israil ketika hidup terasing di tengah hamparan gurun. Makanan yg bisa mereka temukan saat itu hanyalah manna dan salwa.

Allah Ta’ala juga mengetahui bahwa kau begitu tamak, rakus, dan melampaui batas. Kau selalu ingin cepat beramal sehingga membuatmu tidak melaksanakannya secara sempurna. Maka dari itu, Dia pun melarangmu untuk melakukannya pada beberapa waktu tertentu. Hal itu juga dimaksudkan demi meringankanmu.

Kewajiban terlarang dilakukan di luar waktu²nya yg telah ditentukan. Sementara itu, ibadah atau amal sunnah terlarang dilakukan pada waktu² yg dibenci (makruh). Allah membuat setiap ketaatan memiliki waktu khusus dan tidak membuatnya setiap waktu agar kau tidak tamak dan berlebihan, yg akan berakibat pada ditinggalkannya amal itu.

Kesimpulannya, ketaatan dibuat beragam karena adanya rasa bosan. Ketaatan dilarang di waktu² tertentu karena adanya ketamakan pada dirimu. Keragaman dan ketentuan waktu ketaatan ini merupakan dua nikmat yg diberikan Allah kepada hamba-Nya. Di sisi lain, rasa bosan dan sifat rakus adalah dua bencana besar yg dapat memutus amal.

Rutinitas ibadah yg sama dapat mendatangkan rasa bosan sehingga jiwa akan jemu dan merasa berat melakukannya. Namun, jika jiwa diberikan bentuk² amal yg beragam, ia akan merasa ringan dan menikmatinya.

Jika ibadah diperbolehkan di setiap waktu, tentu akan melahirkan rasa rakus karena ibadah itu dilakukan dengan penuh ketamakan. Saat tamak itulah, pelaksanaan ibadah akan kurang sempurna, seperti orang yg tamak membaca Al-Qur’an, namun tidak menghayati maknanya dan kalbunya tidak hadir bersama Tuhannya ketika membacanya. Oleh sebab itu, Allah menentukan waktu² khusus untuk ibadah dan ketaatan. Itulah hikmah mengapa Allah melarang beribadah pada waktu² tertentu.

Allah membatasi shalat dengan waktu tertentu agar tekadmu adalah bagaimana mendirikan shalat dengan baik, bukan bagaimana shalat itu terlaksana begitu saja.

Allah mewarnai dan membuat variasi ketaatan untukmu agar kau tidak bosan. Dia melarangmu beribadah pada waktu² tertentu agar kau tidak rakus. Itu semua dimaksudkan agar tekadmu adalah mendirikan shalat dengan baik, bukan sekadar ada dan terlaksana.

Mendirikan shalat dengan benar adalah dengan menjaga batasan²nya seraya menjaga hati agar tetap khusyuk dan hadir bersama Allah sehingga tidak gelisah dan gusar dalam shalat.

Dalam hikmah di atas, shalat disebut secara khusus, tak lain karena ia merupakan ibadah yg di dalamnya seorang hamba sering melakukan kesalahan. Wallaahu a’lam

130. Manfaat² Shalat

Hikmah 130 dlm Al-Hikam:

“Manfaat² Shalat”

الصلاةطهرة للقلوب من ادناس الذنوب واستفتاح لباب الغيوب

Shalat adalah pembersih hati dari kotoran dosa dan pembuka pintu kegaiban.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan shalat itu bagaikan sungai yg mengalir di depan pintu rumah salah seorang, maka ia mandi di sungai itu tiap hari lima kali, apakah masih ada sisa kotorannya?” Jawab sahabat, “Tidak ada sisa kotoran sedikitpun.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Demikian pula shalat lima waktu yg menghapuskan dosa.”

Shalat juga sebagai pemuka pintu ghaib, sebab bila hati telah bersih dan selalu berhubungan dengan Tuhannya, pasti lambat laun akan terbuka baginya tirai/pintu ghaib.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Shalat yg sesungguhnya ialah yg menjadi pembersih hati dari pengaruh dan kotoran duniawi dan dosa, serta sifat² lain yg menjauhkan pelakunya dari pandangan kepada Tuhan Yang Maha Perkasa.

Shalat juga merupakan pembuka pintu sesuatu yg tak pernah kau miliki, yaitu berupa makrifat dan rahasia² Ilahi. Makrifat dan rahasia Ilahi ini di umpamakan dengan harta karun yg tertutup rapat. Jika hati sudah dibersihkan, tutupnya akan diangkat sehingga ia bisa melihat rahasia² ghaib yg tak bisa dilihatnya. Wallaahu a’lam

131. Shalat Adalah Tempat Munajat & Kerinduan

Hikmah 131 dlm Al-Hikam:

الصلاة محل المناجاةومعدن المصافات تتسع فيهاميادين الاسرار وتشرق فيها شوارق الانوار

Shalat adalah tempat munajat dan kerinduan. Di dalamnya ruang rahasia meluas dan cahaya bersinar.

Allah Ta’ala berfirman: “Aqimis-shalaata li-dzikrii.” (Dirikanlah/tegakkanlah shalat itu untuk dzikir ingat kepadaKu.)

Sesungguhnya seorang hamba bila ia berdiri shalat, maka Allah Ta’ala membukakan untuknya tirai hijab, dan langsung dihadapinya, dan berdiri tegak para malaikat dari atas bahunya hingga langit, mengikuti shalatnya dan mengaminkan doanya.

Dan seorang yg shalat itu ditaburi rahmat dari langit hingga ubun² kepalanya. Dan dipanggil oleh suara: Andaikata orang yg munajat ini mengetahui siapakah yg diajak bicara, maka tidak akan berhenti shalatnya, dan sesungguhnya pintu² langit terbuka untuk orang yg shalat.

Dan sesungguhnya Allah Ta’ala membanggakan barisan orang² yg shalat di hadapan malaikat-Nya.

Muhammad bin Ali at-Tirmidzi berkata, “Allah Ta’ala telah memanggil orang² yg bertauhid supaya shalat lima waktu, karena rahmat kasih kepada mereka, dan menyediakan berbagai macam hidangan, supaya seorang hamba bisa merasakan pada tiap² bacaan dan gerak itu karunia pemberian-Nya. Maka gerakan itu bagaikan makanan dan minuman. Dan hidangan itu disediakan oleh Allah tiap hari lima kali, supaya tidak ada lagi sisa kotoran ataupun debunya.

Dalam kitab Taurat disebutkan: Hai anak Adam, jangan malas untuk mendirikan shalat di hadapan-Ku sambil menangis, maka Akulah Allah yg telah mendekat dari hatimu, dan karena ghaib engkau telah dapat melihat cahaya-Ku.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Munajat bermakna keintiman dan percakapan lembut seorang hamba dengan Tuhannya. Shalat adalah media munajat hamba kepada Tuhannya. Dengan munajat itu, Allah menampakkan sifat²Nya yg indah sebagai rahmat-Nya kepada para hamba dan seluruh alam semesta. Dengan munajat itu pula, Allah memasukkan ke dalam batin hamba, ilmu² laduni dan rahasia² pengetahuan.

Shalat juga menjadi sarana pertemuan dan pelepas rindu hamba dengan Tuhannya. Dengan shalat, hamba menghadap-Nya dengan segenap jiwa raga dan mendatangi-Nya secara lahir dan batin sehingga dalam relung batinnya tak ada yg tersimpan selain-Nya. Dengan shalat juga, Allah Ta’ala akan membersihkan hamba-Nya dengan memberinya kemampuan syuhud dan mencurahkan karunia dan kebaikan-Nya. Inilah pembersihan yg paling tinggi. Semakin seorang hamba mendekati-Nya maka Allah pun akan semakin lebih mendekatinya lagi.

Di dalam shalat, ruang hati menjadi luas, sehingga bisa menerima rahasia² yg berlimpah.

Di dalam shalat pula cahaya bersinar terang. Jika cahaya menyinari hati, hati itu akan lapang dan terbuka menerima berbagai ilmu dan makrifat. Itulah buah munajat dan pembersihan yg disebut di atas. Semuanya adalah penegasan dari hikmah sebelumnya bahwa yg dituntut dari hamba adalah mendirikan shalat secara sungguh², bukan sekedar melaksanakannya. Wallaahu a’lam

132. Kebutuhan Hamba Terhadap Karunia Allah

Hikmah 132 dlm Al-Hikam:

علم وجود الضعف منك فقلل اعدادها وعلم احتياجك الى فضله فكثرامدادها

Allah mengetahui kelemahan dirimu sehingga menyedikitkan bilangan (shalat). Dia juga mengetahui kebutuhanmu terhadap karunia-Nya sehingga melipatgandakan pahala-Nya.

Allah Ta’ala itu mengetahui kalau hamba itu butuh sekali anugerah dari-Nya, maka Allah memperbanyak asror-nya shalat, yakni Allah memperbanyak anugerah berupa ilmu dan makrifat di dalam hatinya.

Dalam kitab ini disebutkan Amdadahaa itu mempunyai dua arti:

1. Untuk orang yg bermaksud wushul kepada Allah/salik, itu bermakna Asror (yaitu anugerah ilmu makrifat).

2. Untuk orang yg tidak bermaksud wushul kepada Allah, itu bermakna tsawab (pahalanya), yakni Allah melipat gandakan pahalanya shalat, shalatmu yg lima waktu tapi diberi pahala lima puluh waktu.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Allah Ta’ala mengetahui kelemahanmu, wahai murid, karena kemampuan dan energi manusia tak akan sanggup menyaksikan penampakan Ilahi. Oleh karena itu, Dia mengurangi bilangan shalat dari yg sebelumnya lima puluh waktu menjadi lima waktu saja. Allah juga mengetahui rasa butuhmu kepada karunia-Nya, karena itu Dia memberikan ilmu², rahasia² (asror), dan pengetahuan-Nya ke dalam hati seseorang yg shalat. Ungkapan ini ditujukan untuk para murid.

Untuk selain murid, Allah mengetahui kelemahanmu karena kau malas dan sibuk dengan duniawi sehingga tak sanggup melakukan shalat yg banyak. Allah juga mengetahui kebutuhanmu akan karunia-Nya. Oleh karena itu, Dia memperbanyak pahala-Nya dengan memberikan sebanyak lima puluh pahala untuk shalat lima waktu. Wallaahu a’lam

133. Jangan Minta Balasan Atas Amalmu (1)

Hikmah 133 dlm Al-Hikam:

“Jangan Minta Balasan Atas Amalmu”

متى طلبت عواضا على عمل طولبت بوجود الصدق فيه ويكفي المريب وجدان السلامة

Ketika kau meminta balasan atas sebuah amal, sebenarnya kau dituntut untuk tulus di dalamnya. Sudah cukup beruntung bila seseorang selamat dari siksa-Nya.

Hikmah ini menjelaskan kejelekan orang yg beramal karena mengharap balasan/upah dari amalnya. Padahal seharusnya orang itu beramal yg baik, bersih hanya karena menghamba pada Allah Ta’ala.

Karena hanya Allah lah Dzat yg wajib disembah dan diagungkan, dan menjadi tujuan kita dunia dan akhirat. Hal ini sudah banyak dibahas dalam kitab ini dengan berbagai bahasan yg berbeda.

Syaikh Khair an-Nassaj ra. berkata, “Timbangan amalmu itu sesuai dengan perbuatanmu, karena itu mintalah kemurahan karunia-Nya. Dan itu lebih baik bagimu.”

Syaikh al-Washity ra. berkata, “Amal ibadah lebih dekat kepada minta/mengharap ampunan dan maaf, dari pada mengharap pahala dan upah.”

Syaikh an-Nashrabadzy ra. berkata, “Amal ibadah itu bila diperhatikan kekurangan²nya, lebih dekat kepada mengharap maaf dari pada mengharap pahala dan balasan.”

Firman Allah Ta’ala: QUL-BI-FADH-LILLAAHI-WA-BIROHMATIHII-FA-BIDZAALIKA FAL-YAF-ROCHUU-HUWA KHOIRUM-MIMMAA YAJ-MA’UUN.”

Katakanlah: “Hanya karena karunia dan rahmat Allah mereka boleh bergembira, sebab itu lebih baik bagi mereka dari segala apa yg dapat mereka kumpulkan sendiri.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Ketika kau meminta balasan atas shalatmu atau ibadah lainnya, misalnya dengan berharap pahala langsung di dunia dan akhirat, padahal Allah menuntutmu agar ikhlas dan tulus dalam amalmu, Allah akan menyatakan kepadamu bahwa kau belum tulus dalam amalmu untuk-Nya. Kau hanya beramal untuk kepentingan dan keuntungan dirimu.

Ketulusan dan keikhlasan adalah kesesuaian batin dengan lahir. Sifat inilah yg tidak ada pada diri seorang ‘amil (orang yg beramal). Secara lahir, ia memang beramal untuk Allah dan ingin melaksanakan hak² ketuhanan-Nya. Namun, di dalam batinnya, ia beramal untuk keuntungan dirinya sendiri. Oleh karena itu, sangat beruntunglah dia bila Allah membebaskannya dari siksa.

Lebih beruntung lagi bila orang yg kurang sempurna dalam amalnya itu diberi pahala oleh Tuhannya, secara langsung maupun tak langsung. Sekiranya ia bertekad dan berniat untuk menyempurnakan amalnya serta yakin atas keluasan rahmat Allah Ta’ala, niscaya di hatinya tak akan pernah terpikir pahala saat ia beramal. Justru ia akan mengikhlaskan amalnya karena Allah. Sekalipun amalnya kurang sempurna, beruntungnya, ia tetap terselamatkan dari siksa Allah. Tuhannya akan berkata kepadanya, “Amal yg kau kerjakan ini tidak layak mendapat pahala-Ku, tetapi cukuplah bagimu jika kau selamat dan tidak Ku-siksa.”

Hikmah di atas sebetulnya adalah celaan bagi para pencari pahala atas amal yg dilakukannya. Ia menjelaskan bahwa sebaiknya seorang hamba menyembah Allah berdasarkan keyakinannya atas kebesaran, ketuhanan, dan sifat² rububiyah-Nya, bukan karena balasan yg akan di dapatnya di dunia dan akhirat. Wallaahu a’lam

134. Jangan Minta Balasan Atas Amalmu (2)

Hikmah 134 dlm Al-Hikam:

لاتطلب عواضا على عمل لست له فاعلا، يكفى من الجزاءلك على العمل ان كان له قابلا

Jangan mengharap upah atas amal yg tidak kau lakukan. Sudah cukup sebagai balasan untukmu jika Allah menerimanya.

Firman Allah Ta’ala:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Padahal Allah-lah yg menciptakan kamu dan apa yg kamu perbuat itu.” (QS. Ash-Saffat [37]: 96)

Jadi, kita hanya menjadi lalu lintas qadha’ dan qadar-nya Allah Ta’ala, tidaklah pantas kalau kita minta balasan/upah sedangkan kita tidak ikut mengerjakan, yakni semua pekerjaan yg kita kerjakan itu yg menjadikannya adalah Allah Ta’ala, ini hukum ‘Aqli.

Kalau menurut hukum syar’i, hamba yg membuat pekerjaan yg dikerjakannya. Dalilnya:

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yg telah kamu kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 32)

Tapi ketahuilah bahwa makhluk tidak bisa mengerjakan kalau tidak digerakkan oleh Allah Ta’ala.

Syaikh Ibrahim al-Laqqany ra. berkata, “Dan Allah yg menjadikan hamba, dan segala perbuatannya, Dia pula yg memberi taufiq untuk siapa yg akan sampai (wushul) kepada-Nya.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Jangan mengharap upah atas amal yg tidak kau lakukan karena yg melakukan sesungguhnya adalah Allah. Kau hanyalah objek penampakan-Nya. Jika yg melakukan adalah Allah, betapa lancang kau meminta pahala atas amal itu!

Dengan kata lain, pencipta sesungguhnya dari amal para hamba adalah Allah semata, sedangkan hamba hanya berusaha. Lantas, apakah pantas ia meminta pahala atas amal yg sebenarnya tidak dilakukannya?

Cukuplah bagimu jika Allah sudah menerimanya. Maksudnya, jika Allah sudah menerima amalmu, Allah tidak lagi meminta pertanggunganjawabmu atas amalmu yg kurang sempurna, bukan atas amalmu yg tidak kau niatkan untuk mencari pahala. Wallaahu a’lam

135. Karunia Allah Atas Adanya Amal (1)

Hikmah 135 dlm Al-Hikam:

“Karunia Allah Atas Adanya Amal”

اذا اراد ان يظهرفضله عليك خلق فنسب اليك

Apabila Allah hendak memperlihatkan karunia-Nya kepadamu, Dia akan mencipta (amal), lalu menisbatkannya kepadamu.

Sebagaimana firman² Allah: Hai hamba-Ku yg beriman, Hai orang² yg beriman.

Padahal Allah yg memberikan iman itu, karena itu jawaban hamba: Engkau ya Allah yg memberikan karunia iman kepadaku, sehingga aku berbuat taat, padahal aku sendiri tiada berdaya dan tidak berkekuatan kecuali semata-mata dengan pertolongan-Mu.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Jika Allah Ta’ala ingin menganugerahimu karunia-Nya, Allah akan menciptakan amal pada dirimu, lalu menisbatkannya kepadamu. Dia akan menyatakan kepadamu melalui malaikat-Nya bahwa kau adalah orang yg taat, bertakwa, gigih, dan gemar beramal. Dengan cara lain, Allah akan menisbatkan amal itu kepadamu melalui lisan para hamba-Nya, seperti perkataan orang² kepadamu, “Kau adalah orang yg taat, bertakwa, dan rajin beribadah.”

Jika seorang hamba menyaksikan karunia yg amat agung ini dan merasa malu kepada Tuhannya, ia tidak akan menisbatkan sifat² terpuji atau amal² baik kepada dirinya karena ia tidak memiliki kelayakan sama sekali untuk itu. Adapun sifat² tercela dan amal yg buruk, menurut etika, sepatutnya ia nisbatkan kepada diri sendiri. Ia harus mengakui bahwa itu akibat kezaliman dan kebodohannya.

Sahal ibn Abdullah ra. berkata, “Jika seorang hamba melakukan kebaikan, lalu ia berkata, “Tuhanku, dengan karunia-Mu aku beramal, Engkau yg membantuku dan memudahkannya”, berarti ia telah bersyukur kepada Allah atas karunia itu. Lalu, Allah pun akan menjawabnya, “Hamba-Ku, melainkan kau sendiri yg taat dan kaulah yg mendekati-Ku.”

Namun, jika seorang hamba hanya memandang dirinya sendiri, lalu bergumam, “Aku yg beramal, aku yg taat, dan aku yg mendekat”, maka Allah akan berpaling darinya. Dia akan berkata kepadanya, “Hamba-Ku, Akulah yg membimbingmu, Aku pula yg membantumu, dan Aku yg memudahkan jalanmu.”

Sekiranya hamba melakukan keburukan, lalu berkata, “Tuhanku, Engkau yg mentakdirkannya, Engkau yg menetapkannya, dan Engkau pula yg memutuskannya”, maka Tuhan akan murka kepadanya. Dia akan berkata kepada hamba itu, “Justru kau yg telah berbuat buruk. Kau bodoh dan kau durhaka.”

Sekiranya hamba itu berkata, “Tuhanku, aku telah berlaku zalim, bodoh, dan buruk.” Tuhan pun akan mendatanginya dan berkata, “Hamba-Ku, Akulah yg memutuskannya, Aku yg menetapkannya, dan kau pun telah Ku-ampuni, Aku maafkan, dan Kututupi aibmu.”” Wallaahu a’lam

136. Karunia Allah Atas Adanya Amal (2)

Hikmah 136 dlm Al-Hikam:

لانهاية لمذامّك ان ارجعك اليك ولا تفرغ مداءحك ان اظهر جوده عليك

Tiada terhingga keburukanmu jika Allah membiarkanmu. Sebaliknya, tiada pernah berakhir kebaikanmu, jika Allah memperlihatkan kemurahan-Nya atas dirimu.

Apabila Allah mengembalikan amal pada kamu sendiri, artinya Allah tidak memberi bantuan, taufiq, hidayah dan pertolongan-Nya padamu, maka kamu akan selalu (tidak ada akhirnya) melakukan pekerjaan yg dicela oleh syara’. Sehingga tidak ada amal yg di anggap baik menurut Allah, walaupun kelihatannya ibadah dan amal kebaikan.

Rasulullah Saw. bersabda dalam doanya: “ASHLIH-LII- SYA’NII-KULLAHU, WALAA-TAKILNII- ILAA-NAFSII-THORFATA ‘AINII.” (Ya Allah, perbaikilah urusanku semuanya, dan jangan Kau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walaupun sekejap mata.)

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Keburukanmu tidak akan pernah berakhir jika Allah membiarkanmu sendiri, karena nafsumu selalu terdorong untuk melakukan keburukan. Jika Allah membiarkanmu dan tidak mengaturmu dalam mengontrol hawa nafsu, niscaya nafsu akan menguasai dan mengendalikanmu. Ia akan menjerumuskanmu ke jurang keburukan sehingga tak satu pun amal dan ahwal-mu yg baik. Itulah tanda² jika kau terusir dan dijauhkan dari rahmat Allah.

Jika Allah menampakkan wujud-Nya kepadamu, misalnya dengan memberimu pertolongan dan perlindungan-Nya dalam mengendalikan hawa nafsumu sehingga tidak menguasaimu, maka tak terhitung pujian orang terhadapmu. Dengan begitu, amal dan ahwal-mu akan menjadi baik dan indah. Kebaikanmu pun tidak akan pernah habis. Itulah tanda bahwa Allah telah memilihmu. Ketahuilah, tak ada jalan selamat dari hawa nafsu dan gejolaknya, kecuali dengan bergantung dan berlindung kepada Allah Ta’ala. Wallaahu a’lam

137. Larangan Mengakui Sifat Rububiyah Allah (1)

Hikmah 137 dlm Al-Hikam:

“Larangan Mengakui Sifat Rububiyah Allah”

كن باوصاف ربوبيته متعلقا، وباوصاف عبود يّـتك متحققا

Bersandarlah selalu kepada sifat² Rububiyah Allah (ketuhanan-Nya) dan wujudkanlah sifat² ‘ubudiyah-mu (kehambaanmu).

Arti bersandar/bergantung pada sifat² ke-Tuhanan (Rububiyah) ialah: Ingatlah selalu sifat² ke-Tuhanan Allah, yaitu: Maha Kaya, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Mulia, Maha Kuat dan sifat² sempurna lainnya.

Sedangkan memperlihatkan sifat² kehambaan (Ubudiyah) ialah: Menyadari sifat² hamba seperti: fakir/miskin, lemah, bodoh, hina, tak berdaya. Maka hamba harus bergantung/bersandar diri pada sifat² ke-Tuhanan Allah, sehingga Allah memberi pertolongan dan bantuan dan menitipkan sifat² Rububiyah-Nya pada hamba-Nya, seperti: menjadi kaya billah (karena Allah), kuasa billah, ‘alim/pandai billah, mulia billah, kuat billah.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Bersandarlah selalu kepada sifat² Rububiyah-Nya dan jangan berusaha mewujudkan sifat² itu pada dirimu karena seorang hamba tak mampu melakukannya. Ia hanya bisa bergantung pada sifat² Tuhannya. Maka dari itu, wujudkanlah pada dirimu sifat² ‘ubudiyah-mu kepada-Nya.

“Bersandar kepada sifat² Rububiyah” bermakna memandang atau memperhatikan maslahat sifat² itu. Namun demikian, tidak layak bagimu untuk bersifat dengan salah satunya.

“Mewujudkan sifat² ubudiyah” bermakna melihat dan memperhatikan sifat² itu atau mengamati pembentukannya untuk dirinya. Sifat inilah yg harus dimiliki seorang hamba dengan sempurna, bukan sifat² Rububiyah-Nya.

Sifat Rububiyah yg didapat seorang hamba yg ada pada dirinya tak lain hanyalah pinjaman Allah padanya, bukan miliknya pribadi. Jika seorang hamba mendapati sifat kaya dan mampu, mulia dan kuat pada dirinya, tak lain itu hanyalah milik Allah. Ia harus melihat bahwa sifat² asli yg dimilikinya adalah kebalikan dari semua sifat Allah, yaitu miskin, lemah, hina, dan tak berdaya. Kemudian, Allah menyokongnya dengan sifat²Nya sehingga ia menjadi kaya, mampu, tahu, mulia, dan kuat karena Allah. Wallaahu a’lam

138. Larangan Mengakui Sifat Rububiyah Allah (2)

Hikmah 138 dlm Al-Hikam:

منعك ان تدّعي ماليس لك مما للمخلوقين افيبيح لك ان تدعي وصفه وهو ربّ العلمين

Allah melarangmu mengakui hak orang lain yg bukan milikmu. Lalu, mungkinkah Dia membolehkanmu mengakui memiliki sifat-Nya, padahal Dia Tuhan Pemelihara alam semesta?

Pangakuanmu terhadap apa yg bukan menjadi sifat²mu itu bagian dari kedhaliman yg besar. Dan bagian dari paling jeleknya perkara yg jelek menurut para ‘arifin yaitu: Menyekutukan Allah di dalam hatinya hamba, dengan mengakui sebagian dari sifat² ke-Tuhanan Allah, dengan i’tiqad dan ucapan. Itu berarti merebut kedudukan Allah dan sombong kepada Allah.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Tiada seorang yg lebih cemburu dari Allah, karena itu Allah mengharamkan segala perbuatan keji, dan karena itu pula Allah takkan mengampuni orang yg menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Karena itu pula sifat² kesempurnaan Allah, tidak boleh dikurangi walaupun sedikit.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Allah mengharamkanmu untuk mengaku-aku sesuatu yg bukan milikmu, misalnya mengaku-aku kepemilikan harta yg diberikan-Nya kepada makhluk-Nya yg lain. Tindakan ini disebut Allah sebagai ‘udwan (tindakan melampaui batas) dan kezaliman. Jika tindakan ini dilarang-Nya, apakah Dia membolehkanmu mengaku-aku sifat² yg dimiliki-Nya?

Apabila tindakan mengaku-aku hak milik orang lain saja diharamkan, tentu saja tindakan mengaku-aku sifat Allah lebih dilarang lagi. Tindakan ini merupakan ‘udwan dan kezaliman yg lebih besar dan lebih berat.

Jika kau mengaku kaya, berkuasa, terhormat, kuat, dan alim, sebagaimana yg terjadi pada sebagian orang, itu termasuk maksiat dan dosa besar. Bahkan, menurut pandangan orang² ‘arif, itu merupakan tindakan menyekutukan Tuhan dan kekejian yg paling keji. Hal itu dikarenakan di dalam hati hamba, ada sekutu Allah, yaitu dirinya yg mengaku sifat² rububiyah Allah, baik dengan keyakinan maupun dengan ucapan. Itu sama dengan tindakan menandingi Allah dan sombong di hadapan-Nya.

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman, “Kesombongan adalah surban-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku, siapa yg menandingi-Ku dalam salah satu sifat itu, maka Aku akan menjerumuskannya ke dalam neraka.”

Makna “menandingi” di sini ialah mengaku-aku dengan ungkapan dan keyakinan. Wallaahu a’lam

139. Kejadian² Luar Biasa akan Muncul Dari Orang Yang Mujahadah-nya Luar Biasa

Hikmah 139 dlm Al-Hikam:

“Kejadian² Luar Biasa akan Muncul Dari Orang Yang Mujahadah-nya Luar Biasa”

كيف تخرق لك العواءـد وانت لم تخرق من نفسك العواءــد

Bagaimana mungkin kau mendapat hal luar biasa, sedangkan kebiasaanmu belum luar biasa?

Kharqul-awaa’id ialah: perkara yg tidak masuk akal, kejadian² yg luar biasa seperti: berjalan di atas air, melipat jarak dan waktu, sehingga bisa pergi ke ujung barat dan timur dengan satu langkah kaki, dll.

Bagaimana kau akan dapat mencapai yg demikian (kharqul-awaa’id), padahal kau sendiri belum bisa mengekang hawa nafsu dan keinginanmu, padahal kau belum dapat melepaskan kehendakmu untuk menyerah pasrah pada kehendak Allah Ta’ala.

Keramat/Kharqul-awaa’id itu tidak diberikan oleh Allah, kecuali pada orang yg sudah bisa melenyapkan kehendak diri sendiri dan menentang keinginan hawa nafsunya sendiri.

Kharqul-awaa’id itu ada beberapa macam: kalau keluar dari seorang Nabi disebut mu’jizat. Kalau keluar dari seorang wali disebut karamah, kalau keluar dari orang shalih disebut ma’unah. Tapi kalau keluar dari orang yg menentang hukum Allah Ta’ala disebut istidraj (panglulon).

Karamah itu ada dua macam;

  1. Karamah maknawiyyah, yakni karamah yg tidak di ketahui orang lain, seperti: bertambahnya iman dan keyakinan, bertambah baik akhlaqnya kepada Allah Ta’ala dan kepada makhluk.
  2. Karamah dhohiriyyah, yakni: keramat yg bisa diketahui orang lain, seperti Toyyil Ardhi (melipat jarak yg jauh menjadi dekat) dan melakukan perkara yg luar biasa yg tidak masuk akal.

Futuh yaitu: terbukanya tabir/hijab yg menutupi mata lahir dan mata hati.

Macam futuh itu banyak sekali, termasuk bagian dari futuh yaitu Kasyaf.

Antara kasyaf dan futuh itu sama artinya. Dan keduanya ada yg dari malaikat, ada yg dari setan, dan yg dari setan itu bukan karamah tapi dinamakan istidraj.

Kasyaf itu ada dua macam:

  1. Kasyaf hissi, yakni mengetahui perkara/kejadian yg jauh dari pandangan mata kepala. Seperti kisah Sayyidina Umar bin Khattab ra. ketika khutbah jum’ah di Madinah, tiba² memerintahkan pada panglima perang bernama Sariyyah yg sedang bertempur di tanah Nahawand yg jauhnya kira² perjalanan dua bulan dari Madinah. Sayyidina Umar ra. berkata, “Ya Sariyyah al-Jabal! (Hai Sariyyah! Awas, musuh ada di atas gunung).”

Diceritakan saat itu pasukan Islam baru bertempur di bawah gunung melawan sebagian pasukan musuh. Dan tidak tahu kalau ada sebagian pasukan musuh yg ada di atas gunung yg mau menyerang. Seumpama tidak ada komando dari Sayyidina Umar ra. yg bisa didengar oleh panglima perang Sariyyah, tentu pasukan Islam akan kalah. Dan akhirnya pasukan Islam dapat kemenangan. Setelah pasukan kembali ke Madinah, komando dari Sayyidina umar ra. dicocokkan dengan penduduk Madinah ternyata benar.

  1. Kasyaf ma’nawi, yakni mengetahui perkara yg diluar dari alam syahadah (alam nyata).

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Bagaimana kau begitu antusias untuk mendapatkan sesuatu yg luar biasa, misalnya karamah dan kemampuan mempersingkat jarak bumi, sedangkan kau terbiasa melakukan kesombongan dan keangkuhan serta sifat buruk lainnya? Hal² luar biasa terjadi dengan kuasa Allah Ta’ala. Dan itu tidak akan diberikan Allah kecuali kepada orang yg membuat kebiasaannya menjadi luar biasa, memusnahkan keinginan dan maslahat pribadinya.

Barang siapa yg belum mencapai maqam ini maka ia tidak boleh berhasrat mendapatkannya. Jika terlihat padanya sebentuk karamah, ia harus takut tertipu dan hendaknya ia tidak mengharapkan dan mencarinya. Jika ia masih mengharapkan atau mencarinya, itu menjadi bukti bahwa ia tetap terkungkung dalam keinginan, maslahat, dan kebiasaannya. Bagaimana bisa hal² luar biasa didapat oleh orang² yg sifatnya selalu ingin mendapatkan karamah?

Wallaahu a’lam

140. Adab Berdoa

Hikmah 140 dlm Al-Hikam:

“Adab Berdoa”

ماشاءن وجودالطلب انّما الشاءن ان ترزق حسن الاداب

Yg harus diperhatikan bukan sekedar meminta, melainkan bagaimana kau di anugerahi adab yg baik.

Sebab karena adab, kamu bisa memperlihatkan ‘ubudiyahmu, dan mencukupi hak²nya ke-Tuhanan Allah Ta’ala. Dan juga bisa menerima apa yg diberi oleh Allah Ta’ala, tanpa merasa kurang atau kecil. Sebagai kebiasaannya seorang tuan (majikan) itu mencukupi semua kebutuhan hambanya, demikian pula kewajiban seorang hamba menyerah dan pasrah kepada kebijaksanaan aturan Tuhannya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Yg harus diperhatikan bukan sekadar berdoa dengan lisan. Sebaliknya, menurut para muhaqqiq (ahli hakikat), yg penting bukanlah berdoa dengan mengarahkan semua permintaan dan kebutuhanmu kepada-Nya semata. Cara itu belum memenuhi etika² dan kesopanan berdoa.

Namun, yg paling penting menurut para muhaqqiq adalah kau meminta seluruh permintaanmu itu dari-Nya semata, bukan bertujuan mendapatkan bagian dan keinginanmu saja, melainkan memintanya sebagai perwujudan dari ‘ubudiyah-mu kepada-Nya dan pelaksanaan terhadap hak² rububiyah-Nya. Dengan begitu, kau akan mendapatkan adab yg baik dari-Nya. Permintaanmu dan adab baikmu itu menjadi pelaksanaan yg sesungguhnya dari hak² etika dalam berdoa.

Maksud “meminta” dalam hikmah di atas adalah permintaan dengan hati atau hasrat hati kepada suatu tujuan. Jadi, yg harus diperhatikan bukanlah kau meminta sesuatu dari Tuhanmu dengan hatimu, baik disertai dengan permohonan lisan maupun tidak, namun yg paling penting adalah bagaimana kau diberikan adab yg baik oleh-Nya, yaitu tidak meminta kepada-Nya karena kau merasa cukup dengan pandangan Allah terhadapmu.

Etika yg baik dalam berdoa pada ungkapan pertama adalah agar berdoa kepada Allah sebagai bentuk ‘ubudiyah dan pelaksanaan terhadap hak² rububiyah-Nya, bukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi saja. Sementara itu, pada ungkapan kedua adalah meninggalkan doa karena puas dengan bagian yg telah diberikan-Nya dan cukup dengan kehendak-Nya serta sibuk dengan berdzikir kepada-Nya. Wallaahu a’lam

141. Hubungan Antara Pengabulan dengan Kehinaan dan Kebutuhan

Hikmah 141 dlm Al-Hikam:

“Hubungan Antara Pengabulan dengan Kehinaan dan Kebutuhan”

ماطلب لك شيء مثل الاضطرار ولا اسرع بالمواهب اليك مثل الذلة والافتقار

Tiada sesuatu yg lebih menuntutmu, kecuali kebutuhan mendesak. Tidak ada pula yg dapat mempercepat tibanya pemberian selain rasa hina dan butuh.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Kebutuhan mendesak seorang hamba merupakan sifat terkhusus ‘ubudiyah-nya kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, tak ada sesuatu pun yg lebih menuntut seorang hamba, kecuali perasaan mendesak itu. Maknanya, sebaik-baik peminta adalah kebutuhan mendesak, Syaikh Ibnu Atha’illah mengumpamakan kebutuhan mendesak ini dengan sosok “peminta”.

Kebutuhan mendesak adalah sikap menampakkan kefakiran yg sangat sehingga berkonotasi bahwa kau tak memiliki daya dan upaya apa², serta tidak menemukan satu pun sebab yg bisa kau jadikan sandaran untuk mendapatkannya. Keadaanmu sama dengan keadaan orang yg tenggelam di laut atau yg tersesat di hutan. Kau tak mendapati sesuatu pun yg dapat mensejahterakanmu, kecuali Tuhanmu dan tak berharap keselamatan dari kebinasaanmu, kecuali dari-Nya.

Tak ada yg dapat mempercepat tibanya pemberian selain rasa hina dan butuh karena kehinaan dan rasa butuh merupakan dua sifat yg ada pada seseorang yg terdesak. Keduanya tentu akan mempercepat pemberian Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yg memiliki sifat itu.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang² yg lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran [3]: 123)

Karena kondisi itulah, mereka pun akhirnya mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Ta’ala. Wallaahu a’lam

142. Wushul itu Sebab Karunia dari Allah dan Ditutupinya Cela Kita (1)

Hikmah 142 dlm Al-Hikam:

“Wushul Itu Sebab Karunia Dari Allah Dan Ditutupinya Cela Kita”

ولولا انك لاتصل اليه الابعد فناء مساويك ومحودعاويك لم تصل اليه ابدا ولكن اذااراد ان يوصلك اليه غطى وصفك بوصفه ونعتك بنعته فوصلك اليه منه اليك لابمامنك اليه

Jika kau yakin bahwa kau hanya akan sampai kepada-Nya setelah lenyapnya semua keburukanmu dan sirnanya semua hasratmu, kau selamanya tak akan sampai kepada-Nya. Akan tetapi, jika Dia menghendakimu sampai kepada-Nya, Dia akan menutupi sifatmu dengan sifat-Nya dan watakmu dengan watak-Nya. Dia membuatmu sampai kepada-Nya dengan kebaikan yg diberikan-Nya kepadamu, bukan dengan kebaikan yg kau persembahkan kepada-Nya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Kau tidak akan sampai kepada-Nya sekalipun kau melakukan riyadhah (olah batin) dan mujahadah berusaha menghilangkan aib dan semua keinginan yg tak layak bagimu, seperti keinginan untuk meraih kekuatan, kehormatan, kekayaan, dan kekuasaan. Itu adalah sifat² inti dan watak yg sudah melekat pada seorang hamba dan tak bisa terlepas darinya. Sampainya kau kepada Allah adalah anugerah-Nya kepadamu, bukan karena usahamu sendiri.

Hal itu di isyaratkan Syaikh Ibnu Atha’illah dengan ucapannya, “Akan tetapi, jika Dia menghendakimu sampai kepada-Nya, Dia akan menutupi sifatmu dengan sifat-Nya, watakmu dengan watak-Nya.” Allah akan menutup dan menghapus sifat² buruk darimu. Dia juga akan mengabadikan ketiadaan sifat² burukmu itu dengan menampakkan sifat² yg baik padamu.

Hal itu di isyaratkan Allah dalam sebuah hadits qudsi, “Hamba-Ku terus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah² sunnah sampai Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yg digunakannya untuk mendengar, penglihatannya yg digunakannya untuk melihat, tangannya yg digunakannya untuk memukul, dan kakinya yg digunakannya untuk berjalan.”

Allah akan membawamu sampai kepada-Nya dengan anugerah-Nya kepadamu, yaitu berupa sifat²Nya yg ditampakkan-Nya pada dirimu, bukan dengan usahamu dalam beramal.

Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili ra berkata, “Seorang wali tidak akan pernah sampai kepada Allah selama ia memiliki syahwat, keinginan, dan pilihan. Walaupun Allah sudah memberi jalan baginya, ia tetap tidak akan sampai kepada-Nya. Namun, jika Allah menginginkan untuk mendekatkan hamba itu kepada-Nya, Dialah yg akan mengaturnya, yaitu dengan menampakkan sifat²Nya yg tinggi dan suci sehingga akan menghilangkan sifat² hamba-Nya yg buruk. Saat itu, hamba tersebut tidak lagi memiliki keinginan dan pilihan, kecuali yg dipilihkan dan diinginkan Tuhannya.” Wallaahu a’lam

143. Wushul itu Sebab Karunia dari Allah dan Ditutupinya Cela Kita (2)

Hikmah 143 dlm Al-Hikam:

لولا جميل ستره لم يكن عمل اهلا للقبول

Kalau bukan karena keindahan tutup-Nya, tentulah tiada amal yg layak diterima.

Sebab syarat untuk diterimanya amal itu adalah ikhlas, tulus kepada Allah, tetapi manusia diuji dengan sombong diri, merasa sudah cukup amalnya, dan lebih jelek lagi bila ia riya’ dengan amalnya,dan mengharap pujian atas amal perbuatannya. Karena demikian watak tiap hamba, maka sulit untuk diterima amal perbuatannya, kecuali hanya mengharap rahmat karunia Allah semata.

Syaikh Abu Abdullah al-Quraisyi berkata, “Jika Allah menuntut mereka tentang keikhlasan, maka lenyaplah semua amal perbuatan mereka, maka apabila telah lenyap semua amalnya, bertambahlah hajat kebutuhan mereka, maka dengan itu mereka lalu melepaskan diri dari bergantung kepada segala sesuatu, dan apabila ia telah bebas dari segala sesuatu, kembalilah mereka kepada Allah dalam keadaan bersih dari segala sesuatu.”

Jadi para murid/salik dalam perkara wushul kepada Allah, itu harus bergantung pada anugerah dan pemberian Allah. Jangan sampai mengandalkan amal ibadahnya sendiri.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Kalau bukan karena tirai-Nya yg indah, tentu tidak satu pun amal yg diterima-Nya karena seorang hamba selalu diuji dengan pandangannya terhadap diri sendiri dan kebahagiaannya dengan amalnya. Selain itu, ia juga selalu menisbatkan amalnya itu kepada diri dan kemampuannya. Terkadang ia membuka hijabnya di depan orang sehingga ia menjadi riya’ dan mengharap pujian manusia. Semua ini akan menjadi syirik tersamar yg dapat merusak keikhlasan. Sementara itu, keikhlasan adalah syarat diterimanya sebuah amal.

Dengan demikian, sampainya seorang murid kepada Allah bergantung pada karunia dan kemuliaan-Nya, bukan atas perjuangan dan kerja kerasnya. Sekiranya ia berkata, “Jika bukan karena karunia Allah,” tentu akan lebih utama baginya daripada bersikap sombong. Wallaahu a’lam

144. Wushul itu Sebab Karunia dari Allah dan Ditutupinya Cela Kita (3)

Hikmah 144 dlm Al-Hikam:

انت الى حلمه اذا اطعته احوج منك الى حلمه اذاعصيته

Ketika taat, kau lebih membutuhkan belas kasih-Nya daripada ketika melakukan maksiat.

Kemuliaan seorang hamba hanya ketika bersandar diri kepada Tuhannya. Dan hina/jatuhnya seorang hamba bila ia telah melihat dan berbangga dengan dirinya sendiri. Sedang manusia ketika berbuat taat, merasa dirinya sudah baik lalu bangga dengan amal perbuatannya sendiri, sombong dan merendahkan orang lain. Padahal amal perbuatannya jika dikoreksi keikhlasannya tidaklah mungkin akan diterima, bahkan amal itu semua hanyalah amal yg palsu dan tidak ada harganya di sisi Allah.

Allah telah menurunkan wahyu kepada seorang Nabi-Nya, “Beritahukan kepada hamba²Ku yg shiddiqin (sungguh² dalam beribadah kepada-Ku), janganlah kamu tertipu oleh kesombongan dengan amal perbuatanmu itu, karena apabila Aku menegakkan benar² keadilan-Ku pasti Aku akan menyiksa mereka, dan bukan suatu kedholiman terhadap mereka. Dan katakan kepada hamba²Ku yg telah berbuat dosa, ‘Jangan kamu berputus asa dari rahmat-Ku, sebab tidak ada suatu dosa yg tidak dapat Ku ampunkan.'”

Syaikh Abu Yazid al-Busthami ra. berkata, “Taubat karena berbuat maksiat itu cukup hanya sekali, sedangkan taubat setelah berbuat taat harus seribu kali, sebab taat yg diliputi oleh ‘ujub, sombong, itu berubah menjadi maksiat yg besar, dan orang tidak akan menyadarinya. Sebagaimana jatuhnya iblis dari singgasananya.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Seorang yg taat biasa mengalami berbagai keadaan, seperti sombong, ‘ujub, meremehkan orang lain, menganggap dirinya layak mendapat pahala, dan kondisi lainnya yg mencerminkan kesombongan. Lain halnya dengan seorang pemaksiat, boleh jadi maksiatnya akan mendorongnya untuk berhati-hati, takut kepada Tuhannya, berlindung kepada-Nya, tunduk dan membutuhkan-Nya.

Oleh sebab itu, seorang hamba lebih membutuhkan belas kasih Allah saat ia taat, melebihi kebutuhannya terhadap belas kasih-Nya saat ia bermaksiat kepada-Nya. Hikmah ini merupakan peringatan tambahan bagi orang yg merasa mampu sampai kepada Allah dengan amalan²nya. Sikap ini adalah kesalahan dan kebodohan. Wallaahu a’lam

145. Dua Macam Perlindungan Allah (1)

Hikmah 145 dlm Al-Hikam:

“Dua Macam Perlindungan Allah”

الستر على قسمين ستر عن المعصية وستر فيها، فالعامّة يطلبون من الله تعالى الستر فيها خشيــة سقوط مرتبتهم عندالخلق، والخاصة يطلبون من الله السترعنهاخشية سقوطهم من نظرالملك الحقّ

Tutup (perlindungan) Allah ada dua: tutup yg menghalangi perbuatan maksiat dan tutup ketika melakukan maksiat. Manusia pada umumnya berharap supaya ditutupi dalam melakukan maksiat karena khawatir derajat mereka jatuh di mata makhluk. Adapun kalangan khusus berharap ditutup (dicegah) dari perbuatan maksiat karena khawatir kedudukan mereka jatuh dalam pandangan Allah.

Manusia pada umumnya meminta pada Allah Ta’ala supaya ditutupi maksiatnya pada waktu mengerjakannya, sehingga mereka meminta pada Allah supaya di tutupi karena takut kedudukannya di masyarakat/sesama manusia jatuh sebab maksiat itu.

‘Ady bin Hatim ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Kelak pada hari kiamat ada beberapa orang yg dibawa ke surga, tetapi setelah melihat segala kesenangan yg tersedia dan merasakan hawa enaknya surga, tiba² diperintahkan mengusir mereka dari surga, sebab mereka tidak punya bagian dalam surga itu, maka kembalilah mereka dengan penuh penyesalan, sehingga mereka berkata, ‘Ya Allah, andaikan Engkau memasukkan kami ke neraka sebelum memperlihatkan kepada kami surga dan segala yg disediakan untuk para wali-Mu, niscaya akan lebih bagi kami.’ Allah Ta’ala menjawab, ‘Memang Aku sengaja demikian, kamu dulu jika sendirian berbuat segala dosa² besar, tetapi jika bertemu dengan orang², berlagak khusyuk bermuka-muka pada manusia, berlawanan dengan apa yg ada dalam hatimu, kamu takut pada manusia dan tidak takut pada-Ku, mengagungkan manusia tidak condong pada-Ku, maka hari ini rasakan siksa-Ku yg sepedih-pedihnya, dan diharamkan atas kamu segala rahmat-Ku.'”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Tirai Allah Ta’ala ada dua macam. Pertama, tirai yg menghalangi seorang hamba dari kemaksiatan, misalnya dengan tidak memberinya sebab² untuk melakukan maksiat. Kedua, tirai penutup saat hamba melakukan maksiat, misalnya dengan menutupi aibnya di hadapan semua orang saat ia melakukan maksiat atau sesudahnya.

Manusia awam yg tidak memiliki hakikat keimanan selalu di dominasi oleh pandangan mereka terhadap makhluk. Mereka selalu berharap dari makhluk berbagai manfaat dan keselamatan dari bahaya, karena itu mereka bersikap riya’ dan berpura-pura di hadapan semua makhluk. Mereka selalu tamak dan sombong di hadapan manusia. Mereka juga tidak suka jika manusia mengetahui hal² buruk yg ada pada diri mereka yg dapat menjatuhkan kedudukan mereka.

Oleh sebab itu, manusia cenderung meminta agar Allah menutupi aib mereka saat mereka melakukan maksiat atau bahkan saat menyukainya. Hal itu dikarenakan, mereka takut martabatnya jatuh di mata makhluk. Jika makhluk mengetahui kondisi mereka, tentu mereka tidak akan mendapatkan apa yg mereka harapkan, yaitu manfaat dan keselamatan dari bahaya. Mereka itulah orang² yg bersandar kepada selain Allah. Mereka adalah ahli syirik tersamar yg dapat mengeluarkan pemiliknya dari hakikat keimanan. Tentang mereka, Allah Ta’ala berfirman,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضٰى مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yg Allah tidak ridlai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yg mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’ [4]: 108)

Adapun orang² khusus yg mendapatkan hakikat keimanan, mereka tidak pernah menoleh kepada makhluk, tidak memuji, tidak pula mencela. Mereka juga tidak berharap dari makhluk manfaat atau takut terhadap bahaya mereka. Mereka tidak pernah bersandar kepada makhluk karena mereka hanya puas dengan pandangan Allah Ta’ala kepada diri mereka.

Orang² khusus ini meminta agar Allah Ta’ala menutupi aib mereka dari pandangan manusia dan menjaga bisikan hati mereka untuk tidak melakukan maksiat. Hal itu dikarenakan, mereka takut kedudukannya jatuh di mata Allah akibat pelanggaran dan perbuatan mereka yg memicu murka-Nya.

Inilah yg sering terjadi pada dua kelompok manusia tersebut. Tentu ada perbedaan yg besar di antara keduanya. Terkadang orang² awam meminta agar Allah Ta’ala menutupi aibnya. Ini dilakukannya karena ingin melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk menutupi aib orang yg diuji dengan maksiat. Pada diri mereka tak ada rasa penghinaan terhadap maksiat, tidak pula rasa cinta kepadanya. Sesekali orang khusus juga meminta agar Allah Ta’ala menutupi maksiat yg mereka lakukan, tidak membongkarnya di tengah makhluk, tidak pula di hadapan Allah Ta’ala karena mereka malu telah jatuh ke jurang maksiat. Juga karena manusia sering berburuk sangka kepada orang² yg dekat dengan Allah Ta’ala jika mereka mengetahui keburukannya. Wallaahu a’lam

146. Dua Macam Perlindungan Allah (2)

Hikmah 146 dlm Al-Hikam:

من اكرمك فانمااكرم فيك جميل ستره فالحمد لمن سترك ليس الحمد لمن اكرمك وشكرك

Orang yg menghormatimu sebenarnya menghormati indahnya tutup Allah yg diberikan kepadamu. Oleh karena itu, pujian hanya layak diberikan kepada Dzat Yang Menutupi (aibmu); bukan kepada orang yg menaruh hormat dan berterima kasih kepadamu.

Sudah menjadi sifat manusia bahwa tiap orang pasti mempunyai cela/aib dan kebusukan yg andaikan diketahui oleh orang lain, pasti orang lain akan membenci dan tidak suka padanya. Kenyataannya ada orang yg memuji, menghormatinya, adapun yg menyebabkan adanya orang yg memuji dan menghormati padanya, bukan semata-mata karena kebaikannya, tetapai karena Allah menutupi kebusukan dan cacatnya, maka pujian itu seharusnya kembali pada Allah yg menutupi kebusukan dan aibnya. Karena itu ia wajib bersyukur dan memuji kepada Allah yg menutupi aibnya, tidak pada manusia yg memujinya karena tidak tahu kejelekannya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Orang yg mendekati dan mencintaimu atau berterima kasih kepadamu tak lain dikarenakan keindahan tirai Allah yg diberikan kepadamu. Tanpa tirai itu, mereka tidak akan datang kepadamu, tidak mencintaimu, dan tidak pula melihat kepadamu dengan keramahan. Hal itu dikarenakan jika mereka mengetahui apa yg ada padamu, niscaya mereka akan merendahkanmu dan menganggap dirimu buruk, bahkan mereka akan menghindar darimu.

Saat itulah segala puji hanya layak diberikan kepada Dzat Yang Menutupi aibmu, bukan kepada orang yg menghormati dan berterima kasih kepadamu. Jangan kau berterima kasih kepada orang itu, kecuali atas kebaikan yg diberikannya, bukan karena ia orang yg menghormatimu dengan sebenar-benarnya karena tak ada yg memuliakanmu dengan sebenarnya, kecuali Allah Ta’ala semata.

Orang yg didatangi, dicintai, dan dimuliakan oleh manusia kadang melakukan kesalahan sehingga pujian dan sanjungan kepadanya tidak tepat. Manusia yg memujinya sama saja dengan zalim. Ia juga kadang salah dengan melihat pada dirinya sifat² terpuji yg layak mendapat kemuliaan. Maka dari itu, mereka yg memujinya termasuk orang² yg bodoh. Mereka bodoh karena hanya melihat kepada amalnya dan lupa kepada karunia Allah atasnya. Oleh karena itu, Syaikh Ibnu Atha’illah mengingatkan dari dua kesalahan ini. Wallaahu a’lam

147. Sahabat Sejati

Hikmah 147 dlm Al-Hikam:

“Sahabat Sejati”

ماصحبك الامن صاحبك وهوبعيبك عليم وليس ذٰلك الامولك الكريم خيرمن تصحب من يطلبك لالشيءيعودمنك اليه

Sahabat sejatimu adalah yg bersahabat denganmu dalam kondisi ia mengetahui aibmu. Tidak lain Ia adalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yg tidak mengharap keuntungan darimu.

“Dan sebaik-baik sahabatmu ialah yg selalu memperhatikan/membantu kepentinganmu, bukan karena sesuatu kepentingan yg diharap daripadamu untuk dirinya.”

Sudah menjadi watak manusia akan menjauhi/membenci orang lain ketika jelas² mengetahui kebusukan dan kejelekan orang tersebut, dan tidak mau bersahabat dengannya, kecuali hanya Allah Ta’ala. Dan juga orang² yg bersandar pada sifat² Ketuhanan, yaitu orang² yg sudah makrifatullah, yg masih mau menolong dan membantu. Sedangkan orang tua itu masih juga ada kepentingan dan pengharapan atas dirimu, sedang di dunia ini tidak ada orang yg kasih sayangnya sebagaimana ayah ibumu.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Tiada yg menjadi sahabatmu dengan sebenar-benarnya, kecuali Dzat yg memberimu kebaikan-Nya. Dia mengetahui aib dan celamu, namun Dia tidak pernah terhalang untuk mendekatimu dan menjadi sahabatmu, padahal ia mengetahui rincian kekurangan dan aibmu itu. Teman seperti itu ialah Tuhanmu Yang Maha Mulia. Seperti itu pulalah persahabatan kaum sufi dan orang² ‘Arif yg memiliki akhlak seperti sifat² Tuhannya.

Adapun orang² yg menemanimu dengan kebodohannya, ia bukanlah sahabatmu sejati karena ia tak kuasa melihat kekurangan dan aibmu. Ia takkan mampu bersabar menanggungnya. Meskipun bersabar, pasti ada tendensi dan tujuan yg di inginkannya.

Sebaik-sebaik sahabatmu adalah orang yg tidak menuntut apa2 darimu. Itu hanyalah Tuhanmu atau orang yg berakhlak seperti akhlak-Nya. Adapun orang yg bersahabat denganmu karena kebaikanmu dan manfaat yg kau berikan kepadanya, ia bukanlah sahabat sejati karena tujuannya hanyalah menunaikan kebutuhannya darimu. Jika tujuan itu telah terlaksana, ia akan meninggalkanmu.

148. Nur Yaqin Akan Mendekatkan Akhirat dan Memperlihatkan Kefanaan Dunia

Hikmah 148 dlm Al-Hikam:

“Nur Yaqin Akan Mendekatkan Akhirat dan Memperlihatkan Kefanaan Dunia”

لواشرق لك نوراليقين لرايت الاخرةاقرب اليك من ان ترحل اليها ولرايت محاسن الدنيا قدظهرت كسفةالفناء عليها

Andaikan cahaya keyakinan menerangi dirimu, tentu kau akan melihat akhirat lebih dekat denganmu daripada kau berjalan menujunya, dan tentu kau akan menyaksikan keindahan dunia telah diliputi selubung kebinasaan.

Sebab dengan Nurul-yaqin, semua hakikat perkara itu kelihatan yg semestinya dan apa adanya. Apabila hamba sudah bercahaya hatinya dengan Nurul-yaqin dia bisa mengetahui yg benar dan yg salah sedangkan akhirat itu perkara yg haqq/benar, tetap wujudnya, sedangkan dunia itu akan rusak.

Anas ra. berkata: Ketika Rasulullah Saw. sedang berjalan dan berjumpa dengan seorang pemuda dari sahabat Anshor, Rasulullah Saw. bertanya, “Bagaimanakah keadaanmu hai Haritsah pada pagi ini?”

Jawabnya, “Saya kini menjadi seorang mukmin yg sungguh².

Rasulullah Saw. bersabda, “Hai Haritsah, perhatikan perkataanmu, sebab tiap kata itu harus ada bukti hakikinya.”

Maka Haritsah ra. berkata, “Ya Rasulullah, jiwaku jemu dari dunia, sehingga aku bangun malam dan puasa siang hari, kini seolah-olah aku berhadapan dengan ‘Arsy, dan seolah-olah aku melihat neraka yg penghuninya sedang menjerit-jerit di dalamnya.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Engkau telah melihat, maka tetapkanlah (jangan berubah). Seorang hamba, yg telah diberi Nur iman dalam hatinya.”

Haritsah ra. berkata, “Ya Rasulullah, doakan aku mati syahid.”

Maka Rasulullah Saw. berdoa untuknya. Dan ketika pada suatu hari ada panggilan untuk berjihad, maka dialah orang pertama yg menyambutnya, dan akhirnya dia yg pertama mati syahid.

Dan ketika ibunya mendengar berita bahwa anaknya telah mati syahid, ia datang bertanya kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang Haritsah putraku, jika ia di surga aku tidak akan menangis atau menyesal, tapi jika lain dari itu, maka aku akan menangis selama hidup di dunia!”

Jawab Rasulullah Saw., “Haritsah, bukan hanya satu surga tetapi surga di dalam surga². Dan Haritsah telah mencapai Firdaus yg tertinggi.”

Maka kembalilah ibu Haritsah sambil tertawa dan berkata, “Untung.. untung bagimu hai Haritsah.”

Anas ra. juga berkata: Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal ra. masuk ke tempat Rasulullah Saw. sambil menangis, maka ditanya oleh Rasulullah Saw., “Bagaimanakah keadaanmu pagi ini hai Mu’adz?”

Jawab Mu’adz ra., “Aku pagi ini mukmin benar² kepada Allah.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Tiap kata² yg benar harus ada bukti hakikatnya. Maka apakah bukti pernyataanmu itu?”

Jawab Mu’adz ra., “Ya Nabiyallah, kini jika aku berada di waktu pagi merasa mungkin tidak sampai sore, dan jika sore, aku merasa tidak akan sampai pagi. Dan tiap melangkahkan kaki merasa mungkin tidak dapat melangkah yg lain, dan terlihat kepadaku seolah-olah manusia semua telah dipanggil untuk menerima suratan amal bersama dengan Nabi² dan berhala²nya yg disembah selain Allah, dan juga seolah-olah aku melihat siksa ahli neraka dan pahala ahli surga.”

Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Engkau telah mengetahui, maka tetapkanlah.”

Rasulullah Saw. ketika memberi tahu kepada para sahabat hal gugurnya Zaid bin Haritsah ra. dan Ja’far bin Abi Thalib ra., dan Abdullah bin Rowahah ra. bersabda, “Demi Allah, mereka tidak akan senang, andaikan mereka masih berada di antara kami.”

Rasulullah Saw. memberitakan demikian dengan air mata yg berlinang-linang.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Sekiranya hatimu diterangi cahaya keyakinan atau ilmu pengetahuan tentang Allah dan janji-Nya yg disampaikan melalui lisan Nabi-Nya, niscaya kau akan melihat akhirat lebih dekat denganmu saat kau berjalan menuju-Nya. Kau juga akan melihat keindahan dunia telah diliputi oleh selubung kebinasaan. Karena dengan cahaya keyakinan dan ilmu itu, hakikat segala sesuatu akan terlihat sesuai kondisi aslinya.

Jika cahaya itu menyinari hati, seorang hamba akan melihat yg benar tetap benar dan yg bathil tetap bathil; akhirat adalah benar, sedangkan dunia adalah bathil. Dia akan melihat akhirat yg tadinya ghaib seakan hadir di hadapannya, seakan akhirat itu tidak sirna dari hadapannya dan amat dekat kepadanya untuk ia tuju.

Dengan begitu, ia akan lebih siap lagi untuk menyongsongnya. la melihat dunia yg hadir di matanya telah redup cahayanya, segera musnah dan sirna dari pandangannya. Di matanya, tampaklah kebathilan dunia itu sehingga seakan ia tidak ada. Dengan pandangan penuh keyakinan ini, ia terdorong untuk ber-zuhud meninggalkan dunia dan perhiasannya, serta lebih mengutamakan akhirat dan bersiap menyongsongnya.

Keadaan ini menandakan kelapangan dada seorang hamba dengan cahaya tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Sesungguhnya cahaya jika masuk ke dalam hati, dada akan lapang dan terbuka karenanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu ada tanda²nya?” Beliau menjawab, “Ya, tandanya ialah sikap menjauhi tempat tipu daya, berlindung ke negeri keabadian, dan bersiap menghadapi kematian sebelum datang.”

Saat cahaya masuk ke dalam kalbu seorang hamba, syahwatnya akan mati dan dorongan jiwanya akan sirna sehingga ia hanya terdorong untuk melakukan kebaikan dan tidak pernah tertarik untuk melanggar. Hamba yg mendapatkan cahaya tidak memiliki tekad, kecuali untuk segera melakukan kebaikan dan menggunakan waktu dan kesempatan karena saat itu ia merasa ajal sudah dekat, sedangkan kebaikan banyak terlewatkan. Wallaahu a’lam

149. Allah Ta’ala Tidak Terhijab Oleh Segala Sesuatu (1)

Hikmah 149 dlm Al-Hikam:

“Allah Ta’ala Tidak Terhijab Oleh Segala Sesuatu”

ماحجبك عن الله وجود موجود معه ولٰـكن حجبك عنه توهّم موجود معه

Bukan keberadaan benda yg menghijab dirimu dari Allah Ta’ala. Akan tetapi, yg menghijabmu dari-Nya adalah sangkaan adanya wujud selain Allah Ta’ala.

Segala sesuatu selain Allah Ta’ala itu pada hakikatnya tidak maujud/tidak ada, sebab yg wajib wujud/ada itu hanya Allah Ta’ala, sedang yg lainnya terserah belas kasih Allah Ta’ala, untuk di adakan atau ditiadakan.

Jadi apabila kita tidak bisa melihat/mengenal Allah Ta’ala, itu bukan karena ada perkara/sesuatu yg di adakan Allah Ta’ala yg menghalangi/menghijab kita, akan tetapi yg menghalangi kita dari Allah Ta’ala yaitu adanya prasangka kita bahwa ada sesuatu yg wujud selain Allah Ta’ala.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Bukanlah perkara² duniawi dan ukhrawi yg menghijab kita dari Allah Ta’ala karena tak ada wujud pada sesuatu selain wujud-Nya. Akan tetapi, yg menghijab kita dari-Nya adalah anggapan kita bahwa sesuatu selain-Nya memiliki wujud, padahal menurut orang² ‘Arif, aslinya sesuatu itu tidak berwujud. Wujud segala sesuatu laksana bayangan pepohonan di atas air. Ia tidak dapat menghalangi perjalanan perahu di air tersebut. Dengan demikian, tak ada hijab antara diri kita dengan Allah, kecuali sangkaan kita bahwa ada wujud lain selain Allah Ta’ala.

Seperti seorang lelaki yg ingin buang air kecil di dekat sebuah gua, ketika ia mendengar suara deru angin dari mulut gua itu, ia menyangkanya suara auman singa. Hal itu menghalanginya untuk buang air. Namun, ketika ia tidak mendapati seekor pun singa di sana, ia akhirnya memberanikan diri untuk menunaikan hajatnya. Tentu saja singa bukan sesuatu yg menghalanginya buang air, melainkan sangkaannya tentang wujud seekor singa di sana. Wallaahu a’lam

150. Allah Ta’ala Tidak Terhijab Oleh Segala Sesuatu (2)

Hikmah 150 dlm Al-Hikam:

لولاظهوره في المكونات ماوقع عليها وجود ابصار، لوظهرت صفاته اضمحلّـت مكوّناته

Andaikan Allah Ta’ala tidak tampak di alam, tidak akan ada pandangan yg tertuju pada-Nya. Andaikan sifat²Nya terlihat, pasti alam menjadi lenyap.

Yakni dhahirnya Allah Ta’ala kepada kita itu dari belakang tabir berupa semua makhluk, ini yg menjadikan dhahirnya semua makhluk, dan menjadi sebab kita bisa melihat wujudnya makhluk, seperti juga dhahirnya sinar matahari yg ada di kaca cermin.

Seumpama Allah Ta’ala tidak dhahir di belakang tabir makhluk artinya Allah Ta’ala dhahir dengan sifat Dzat-Nya secara langsung, maka semua makhluk akan hancur.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Sekiranya bukan karena penampakan Allah Ta’ala di alam wujud, tidak akan ada pandangan yg tertuju pada-Nya. Jika tidak ada, tentu pandangan itu tidak akan pernah melihat wujud-Nya.

Wujud alam semesta itu tak lain hanya pinjaman Allah Ta’ala semata. Penampakan Yang Maha Haqq di dalamnya seumpama pantulan matahari di dalam lentera kaca karena pada hakikatnya, alam semesta ini tidak ada dan tak berwujud, sebagaimana telah dijelaskan.

Penampakan Allah Ta’ala kepada kita dari balik hijab alam semesta itulah yg membuat alam semesta berwujud dan semua pandangan tertuju padanya. Tanpa ada penampakan Allah di alam semesta ini, niscaya semua alam lenyap dan musnah, serta tak satu pun pandangan yg melihatnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا جَآءَ مُوسٰى لِمِيقٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرٰىنِى وَلٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرٰىنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسٰى صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yg telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yg pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’raf [7]: 143)

Ayat ini menyatakan bahwa sekiranya sifat²Nya terlihat, seluruh alam semesta akan luluh lantak, bahkan tak akan ada wujud di sana dan tak ada yg melihatnya. Sebagaimana dalam hadits “Hijab-Nya adalah cahaya.” Dalam riwayat lain, “Hijab-Nya adalah api.” Sekiranya hijab itu terbuka, Allah Ta’ala akan membakar semua yg ada. Wallaahu a’lam

151. Segala Sesuatu Tidak Ada, Allah-lah Yang Menjadikannya Ada

Hikmah 151 dlm Al-Hikam:

“Segala Sesuatu Tidak Ada, Allah-lah Yang Menjadikannya Ada”

اظهركلّ شيءلانه الباطن وطوى وجودكلّ شيءلانه الظاهر

Allah menampakkan segala sesuatu karena Dia Maha Tersembunyi. Dia menutupi keberadaan segala sesuatu karena Dia Maha Tampak.

Yakni sebab Allah mempunyai sifat Bathin maka Allah mendhohirkan semua makhluk, sebab makhluk itu tidak bisa terlihat kecuali dengan Nur Allah, dan Allah melipat/menyembunyikan makhluk sebab Allah bersifat dhohir, tidak ada makhluk yg menyekutukan Allah dalam Sifat, Dzat dan Af’al-nya Allah. Artinya Allah tidak menjadikan sifat wujud dengan dzatnya/hakiki pada selain Allah. Semua makhluk itu ‘adam yg hakiki, dan semua makhluk itu tidak wujud kecuali dengan wujudnya Allah.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Allah memiliki nama baik “Al-Bathin” (Yang Maha Tersembunyi). Tak satu pun yg dapat menandingi-Nya dalam hal ketersembunyian. Oleh sebab itu, Dia menampakkan segala sesuatu dan membuatnya lahir. Di dalamnya tidak ada lagi yg tersembunyi, kecuali Dzat-Nya.

Allah juga memiliki nama baik “Az-Zhahir” (Yang Maha Tampak). Tak satu pun yg menyamai-Nya dalam hal kelahiran. Oleh sebab itu, Dia menutupi wujud segala sesuatu atau tidak membuat selain-Nya berwujud dengan sendirinya. Bahkan, seluruh alam semesta ini tidak berwujud, kecuali karena wujud-Nya.

Lahir bermakna tersembunyinya segala sesuatu selain-Nya. Sehingga tak satu pun yg menandingi penampakan-Nya. Saat itu, wujud segala sesuatu akan tertutup dan lenyap.

Batin bermakna tampaknya segala sesuatu sehingga tak satu pun yg menandingi ketersembunyian-Nya. Saat itu, wujud segala sesuatu akan tampak dengan wujud-Nya.

Intinya, Allah Yang Maha Haqq adalah Dzat Yang Mawjud, dan tak ada wujud selain-Nya, kecuali secara dependen (mengikuti wujud-Nya). Wallaahu a’lam

152. Lihat dan Pelajari Alam Ini (1)

Hikmah 152 dlm Al-Hikam:

“Lihat Dan Pelajari Alam Ini”

اباح لك ان تنظر في الممكوّنات وما اذن لك ان تقف مع ذوات المكوّنات قل انظروا ماذافى السماوات؟ فتح لك باب الافهام ولم يقل: انظرواالسماوات لـءلا يدلك على وجودالاجرام

Allah memperbolehkan kamu melihat alam sekitarmu (makhluk), tetapi Allah tidak mengizinkan engkau berhenti pada benda² di alam ini (makhluk). Sebagaimana firman Allah; Katakanlah: perhatikanlah apa² yg di langit. Semoga Allah membuka kefahaman padamu, Allah tidak berfirman: Perhatikan langit² itu. Supaya tidak menunjukkan padamu adanya benda² itu.

Pada hikmah sebelumnya mushonnif menerangkan tentang wujud/adanya alam (bisa terlihat) itu karena Nur dari Allah. ALLAAHU-NUURUS-SAMAAWATI WAL-ARDHI (Allah itulah yg menerangi langit dan bumi). Dan pada hikmah ini kita dituntun untuk bisa melihat dan mempelajari alam ini.

Allah mengizinkan kita untuk melihat ciptaannya supaya kita bisa melihat bahwa semua itu ciptaan Allah, jangan sampai kita terjebak/berhenti hanya melihat/memperhatikan bendanya, sehingga kita tidak melihat Allah dibalik benda² itu.

Dalam ayat ini menggunakan Fi’iI dengan makna dhorof, yg berarti: yg harus diperhatikan yaitu apa yg ditempatkan, bukan tempatnya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Allah memerintahkanmu untuk melihat alam semesta sebagai bukti keindahan Allah Ta’ala atau menyapukan pandangan hatimu ke sana agar kau menyaksikan bahwa Allah ada di alam semesta dan tampak di sana. Allah melarangmu untuk menghijab dirimu dengan alam sehingga kau tidak bisa melihat-Nya di sana. Allah Ta’ala berfirman, “Katakan, perhatikan apa yg terdapat di langit!”

Dalam Lathaif Al-Minan disebutkan, “Alam semesta yg ditampakkan di hadapanmu bukan untuk kau lihat, tetapi aga kau lihat wujud Tuhan di dalamnya. Kehendak Tuhanmu adalah agar kau melihat alam semesta dengan mata orang yg tidak melihatnya. Kau melihatnya dari sisi penampakan Allah di dalamnya, bukan melihatnya dari sisi wujud alam semesta itu sendiri.”

Allah membukakan pintu pemahaman atau mengingatkan dan menyadarkanmu atas apa yg dituntut darimu, yaitu melihat yg ada di alam semesta.

Allah tidak mengatakan kepadamu, “Lihatlah langit²!” agar tidak menunjukkan kepadamu benda² langit saja sehingga dengannya kau menjadi terhijab dan tidak menyaksikan wujud Allah di dalamnya. Hal itu juga dimaksudkan agar alam semesta tidak menjadi fokus dan tujuanmu karena ia hanyalah wasilah (perantara) dan media. Ia hanyalah benda yg dapat dilihat. Bagi para ahli syuhud, alam semesta adalah wahana penampakan Allah Ta’ala. Namun, bagi para ahli hijab, alam adalah bukti keberadaan-Nya. Wallaahu a’lam

153. Lihat dan Pelajari Alam Ini (2)

Hikmah 153 dlm Al-Hikam:

الاكوان ثابتة بإثباته وممحوّة باحد يّة ذاته

Alam ini ada dengan penetapan Allah dan ia lenyap dengan keesaan Dzat-Nya.

Siapa saja yg memandang Sifat Esa Dzat-Nya Allah, pasti tidak akan menemukan sifat tetap dan nyata pada semua makhluk. Semua makhluk itu bisa mempunyai sifat tetap kalau memandang sifat WAHID-nya Allah.

Sifat Ahadiyyah menurut para ‘Arifin adalah Dzat yg bersih dari sifat tetap/nyata pada semua makhluk. Sedangkan sifat Wahidiyyah itu Dzat-Nya Allah yg nyata ada pada semua makhluk, dan semua makhluk mempunyai sifat tetap (ada) sebab memandang adanya Allah pada semua makhluk, sehingga para ‘Arifin mengatakan “AL-AHADIYYATU BAHRUN-BILA MAUJIN WAL WAA-HIDIYYATU BAHRUN MA’A MAUJIN. (Ahadiyyah itu umpama laut tanpa ombak, sedangkan Wahidiyyah itu umpama laut beserta ombaknya).

Yakni: menurut pandangan para ‘Arifin, Allah itu di ibaratkan laut, maka makhluk di ibaratkan ombak yg di gerakkan oleh laut. Jadi jelasnya semua makhluk itu bukan Allah.

Ke-Esaan Dzat Allah yg tidak bersekutu itu melenyapkan apa saja (makhluk), yakni tetap Allah yg tunggal dan segala sesuatu yg selain-Nya itu hanya bayangan belaka yg di ciptakan/di wujudkan oleh Allah.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Pada mulanya, alam semesta ini tidak ada. Alam semesta memiliki sifat wujud dengan penetapan Allah Ta’ala terhadapnya atau dengan penampakan-Nya di dalamnya. Ketetapan alam ini bersifat relatif karena tak ada yg mutlak, kecuali Dia. Oleh karena itu, Syaikh Ibnu Atha’illah berkata, “Alam lenyap dengan keesaan Dzat-Nya.”

Siapa yg melihat kepada keesaan Dzat-Nya maka ia tidak akan mendapati alam ini tetap dan berwujud. Alam memiliki sifat tetap dengan memandang kepada keesaan-Nya. Menurut orang² ‘arif, keesaan maknanya adalah kemurnian, kemutlakan, dan keterbebasan dari penampakan pada alam semesta. Keesaan dalam arti itu berbeda dengan ke-satu-an karena kesatuan ialah penampakan dzat yg lahir di alam semesta sehingga alam semesta menjadi ada berdasarkan adanya Yang Maha Haqq di sana. Oleh sebab itu, mereka berkata, “Keesaan umpama lautan tanpa gelombang, sedangkan kesatuan umpama lautan dengan gelombang.”

Bagi mereka, Allah Ta’ala seumpama lautan dan alam semesta ini seperti gelombang yg digerakkan oleh lautan itu. Gelombang tentu berbeda dengan lautan. Inilah tauhid orang² ‘arif.

Di dalam kitab ini, Syaikh Ibnu Atha’illah mengulang-ulang ungkapannya tentang hal ini. Ia mengatakannya dengan berbagai ungkapan berbeda untuk mewujudkan yg benar dan menyingkirkan yg bathil dari dirimu. Sebagian orang membahasnya secara khusus dalam satu karya tersendiri atau membahasnya dalam pembahasan tentang wahdatul wujud (kesatuan wujud). Wallaahu a’lam

154. Sikap Kita Ketika Dipuji Orang (1)

Hikmah 154 dlm Al-Hikam:

“Sikap Kita Ketika Dipuji Orang”

الناس يمدحونك لمايظنونه فيك فكن انت ذامّالنفسك لماتعلمه منها

Orang² memujimu atas apa yg mereka sangka ada pada dirimu. Karena itu, celalah dirimu atas apa yg kau ketahui ada pada dirimu.

Jangan sampai terpengaruh/tertipu dengan pujian orang² yg tidak mengetahui hakikatnya dirimu, tetapi kamu harus kembali melihat dirimu dengan mencela dirimu sebab perbuatanmu yg terbalik/tidak sama dengan prasangka orang lain pada dirimu.

Dan siapa yang merasa senang dengan pujian orang lain terhadap dirinya, berarti dia telah memberi kesempatan pada setan untuk masuk dan merusak imannya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Manusia memujimu atas sifat² terpuji yg ada padamu. Oleh karena itu, jangan kau tertipu dan terpesona oleh pujian mereka kepadamu, tetapi celalah dirimu sendiri. Celalah dirimu karena apa yg tidak sesuai dengan sangkaan manusia kepadamu.

Oleh sebab itu, Sayyidina Ali kw. sering berdoa, “Ya Allah, jadikan kami lebih baik daripada apa yg mereka kira dan jangan tuntut kami dengan apa yg mereka katakan tentang kami. Ampuni dosa kami atas apa yg tidak mereka ketahui.”

Ucapan Syaikh Ibnu Atha’illah: “Celalah dirimu!” bukan berarti bahwa kau disuruh untuk mendustakan perkataan manusia atau mencoba mengubah sangkaan mereka terhadapmu. Akan tetapi, maksudnya, kau tidak boleh tertipu atau terpesona dan tidak mengutamakan pengetahuanmu atas sangkaan mereka.

Jika seorang pemuji berbohong, misalnya dengan terlalu berlebihan dalam memuji, dan kebohongannya telah diketahui, laksanakanlah sabda Rasulullah Saw., “Lemparkan debu di wajah para pemuji.”
Pujian seperti itu dilarang.

Demikian pula jika pujian dapat mendorong orang yg dipuji tertipu dan membuatnya melakukan kesalahan terhadap dirinya sendiri maka laksanakan perintah Rasulullah Saw., “Jauhilah pujian karena ia sama dengan tindakan menyembelih seseorang.”

Wallaahu a’lam.

155. Sikap Kita Ketika Dipuji Orang (2)

Hikmah 155 dlm Al-Hikam:

الموءمن اذامدح استحيٰى من الله ان يثنى عليه بوصف لايشهده من نفسه

Seorang mukmin, jika dipuji, akan malu kepada Allah karena ia dipuji dengan sifat yg tidak ia dapati pada dirinya.

Jadi apabila orang lain memuji dirinya dan menyebut kebaikannya, dia merasa malu kepada Allah, karena dia merasa tidak mempunyai sifat² yg layak dipuji, sebab ia merasa hanya mendapat karunia Allah jika ia bisa berbuat sesuatu yg baik, dan bukan dari usaha dan kemampuannya sendiri.

Seorang salik itu harus tidak percaya dengan pujian orang lain, tetapi dia juga tidak diperintah untuk merubah/menolak supaya orang lain tidak memuji atau berprasangka baik padanya, dia hanya di perintah untuk tidak terpengaruh, dan supaya mendahulukan apa yg diketahui terhadap dirinya sendiri, mengalahkan prasangka orang lain. Yg penting tidak keterlaluan pujiannya, kalau keterlaluan maka harus ditolak.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Mukmin sejati adalah mukmin yg tidak mendapati pada dirinya sifat² terpuji sehingga layak untuk dipuji. Dia hanya memandang bahwa sifat itu datang dari Allah. Jika manusia memujinya dan menyebut-nyebut kebaikannya, ia akan malu kepada Allah karena ia tidak mendapati sifat yg dipuji itu ada pada dirinya.

Rasa malunya kepada Allah adalah rasa malu penuh takzim dan pengagungan kepada-Nya dengan sifat² yg tak ada padanya. Dengan begitu, ia akan bertambah benci dan jijik kepada dirinya sendiri, pandangannya terhadap kebaikan dan karunia Allah semakin besar. Inilah kesyukuran yg dengannya ia akan mendapatkan yg lebih dan selamat dari sikap nyaman dengan pujian manusia. Wallaahu a’lam

156. Sikap Kita Ketika Dipuji Orang (3)

Hikmah 156 dlm Al-Hikam:

اجهل الناس من ترك يقين ما عنده لظن ماعند الناس

Sebodoh-bodoh manusia adalah orang yg meninggalkan keyakinannya karena mengikuti sangkaan orang².

Orang yg dipuji orang lain dan terpengaruh dengan pujiannya, dan menganggap baik pada dirinya sendiri, orang seperti ini adalah orang paling bodoh, karena yg yakin ia ketahui yaitu kekurangan² dan dosa² yg telah dilakukannya atau rendahnya akhlaknya dan kelemahan imannya sendiri.

Al-Harits Al-Muhasiby mengumpamakan pada orang yg senang dipuji orang lain, itu bagaikan orang yg senang dengan ejekan orang padanya. Seumpama ada orang berkata, “Kotoranmu itu berbau harum.” Lalu engkau gembira dengan pujian yg demikian, padahal engkau sendiri jijik dan tahu kotoran itu berbau busuk. Ketahuilah bahwa kotoran dosa dan jiwa itu lebih busuk daripada kotoran (tinja) orang.

Seorang Hakim dipuji oleh orang awam/biasa, maka ia menangis, lalu ditanya: “Mengapa engkau menangis? Padahal orang itu memujimu.”

Jawabnya: “Ia tidak memujiku, melainkan setelah dia mengetahui bahwa yg ada padaku sifat² yg sama dengan sifat²nya.”

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Orang yg paling bodoh adalah orang yg meninggalkan keyakinan atau pengetahuannya tentang kelemahan dan aib diri serta kekurangan hubungannya dengan Allah karena sangkaan orang² bahwa dirinya baik sehingga mereka memujinya. Jika orang yg dipuji itu tertipu dan yakin bahwa dirinya layak mendapat pujian tersebut serta terperdaya oleh kesaksian seluruh makhluk tentangnya, ia menjadi manusia terbodoh karena ia mengabaikan keyakinannya dan lebih mengutamakan sangkaan tentangnya. Ia lebih mengutamakan sesuatu yg ada pada orang lain daripada yg ada pada dirinya. Wallaahu a’lam

157. Orang Zahid Merasa Risih dengan Pujian Manusia, Berbeda dengan Orang ‘Arif (1)

Hikmah 157 dlm Al-Hikam:

“Orang Zahid Merasa Risih dengan Pujian Manusia, Berbeda dengan Orang ‘Arif”

اذااطلق الثناء عليك ولست باهل فاَثن عليه بما هو اهلهُ

Jika kau mendapat pujian, sedangkan kau tidak layak atasnya, pujilah Allah sebagai Dzat yg memang layak menyandangnya.

Kenyataannya apa yg disanjungkan orang² padamu itu tidak ada pada dirimu, atau kau mempunyai cacat/aib, sehingga kau tidak berhak menerima pujian itu, maka kau harus memuji kepada Allah, yg telah menutupi aib² dan kekuranganmu.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Kau tidak layak mendapat pujian karena pujian mereka sesungguhnya tidak ada padamu. Orang² memujimu karena Allah menutupi aib dan celamu itu. Sekiranya bukan karena karunia Allah kepadamu dan tirai-Nya yg menutupi aibmu, niscaya kau tidak layak mendapat pujian tersebut.

Oleh karena itu, etikanya, kau harus memuji Tuhanmu yg memang layak dipuji agar hal itu menjadi kesyukuranmu atas nikmat ditutupnya tirai darimu dan banyaknya lisan yg memuji kendati kau tidak layak mendapatkannya. Oleh sebab itu, jangan tertipu dan terpesona oleh ucapan orang² yg memujimu. Wallaahu a’lam

158. Orang Zahid Merasa Risih dengan Pujian Manusia, Berbeda dengan Orang ‘Arif (2)

Hikmah 158 dlm Al-Hikam:

الزهّاد اذامدحواانقبضوالشهودهم الثناءمن الخلق ، والعارفون اذامدحوا انبسطوا لشهودهم ذالك من الملك الحقّ

Jika kaum zuhud mendapat pujian, hati mereka resah karena mereka melihat pujian tersebut berasal dari makhluk. Ketika kaum ‘arif dipuji, hati mereka senang karena mereka melihatnya berasal dari Allah Yang Maha Haqq.

Orang ‘arif itu selalu hadir ke hadhratullah, tidak pernah memandang selain Allah, mereka menganggap pujian² itu datang dari Allah, sehingga mereka gembira, dan pujian itu bisa menambah kekuatan hatinya dan kedudukannya di hadapan Allah, karena mereka tidak memandang pada dirinya, tidak membanggakan amalnya, dan tidak terpengaruh dengan pujian ataupun celaan orang lain.

Rasulullah Saw. sendiri pernah dipuji dengan qasidah oleh Hassan dan Ka’ab bin Zuhair. Rasulullah Saw. menunjukkan kegembiraan bahkan memberikan mantel kepada Ka’ab bin Zuhair.

Orang yg mempunyai maqam ini, antara dihina dan dipuji orang tidak akan ada bekasnya dalam hati, karena mereka tidak memandang itu semua dari makhluk, tapi mereka melihat itu semua dari Allah Ta’ala.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Jika orang² zuhud dipuji, mereka akan gelisah karena merasa pujian itu dari makhluk, bukan dari Allah. Mereka gelisah karena takut tertipu oleh pujian itu sehingga kedudukan mereka di sisi Allah akan hilang. Sebaliknya, jika orang² ‘arif dipuji, mereka akan senang karena merasa bahwa pujian itu dari Allah Yang Maha Haqq.

Mereka selalu hadir bersama Tuhannya dan tidak menyaksikan kecuali Dzat-Nya. Jika mereka dipuji, mereka menganggap pujian itu dari Allah, karena itu mereka senang dan bahagia. Itu yg membuat tinggi ahwal dan kedudukannya karena mereka tidak lagi menyadari dirinya sendiri. Dengan demikian, mereka tidak lagi merasa ujub dan tertipu.

Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw., “Jika seorang mukmin dipuji di hadapannya, keimanan akan bertambah dalam hatinya.”

Oleh sebab itu, Syaikh Ibnu Atha’illah memuji Syaikhnya, Syaikh Abul Abbas al-Mursi, dan Beliau tetap diam. Pada dirinya, pujian itu menduduki tempat yg agung. Seperti itulah yg di alami kaum ‘arif lainnya. Para pemilik maqam ini, jika dicela dan dihina, mereka tidak akan merasa resah, kecewa, atau sakit hati karena tidak merasa bahwa celaan itu berasal dari orang yg mencelanya. Wallaahu a’lam

159. Sifat Ke-Kanak-Kanakan

Hikmah 159 dlm Al-Hikam:

“Sifat Ke-Kanak-Kanakan”

متى كنت اذا اُعطيتَ بسطك العطاءُوإذامنعت قبضك المنع فاستدلّ بذالك على ثبوت طفوليّتك وعدم صدقك في عبوديتك

Apabila kau gembira ketika diberi karunia oleh-Nya dan kecewa saat ditolak-Nya, simpulkanlah bahwa itu adalah bukti dari kekanak-kanakanmu dan ketidaktulusan penghambaanmu.

Ketika suasana hatimu masih selalu berubah-ubah ketika menerima nikmat atau mendapat balak/ujian. Maka nyata bahwa engkau masih dipengaruhi oleh hawa nafsu, dan belum sungguh² dalam kedudukan kehambaan kepada Allah Ta’ala, dan pengertian terhadap hikmah rahmat Allah terhadap semua makhluk-Nya.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Itu adalah sikap kekanak-kanakanmu di tengah orang² yg dekat dengan Allah. Maksudnya, kau masih belum termasuk golongan mereka. Kau hanya ikut-ikutan dalam perkara yg tak layak kau ikuti. Seperti halnya anak² yg tidak mempunyai rasa malu mendekati tamu yg belum dikenalnya. Ini juga menjadi bukti ketidaktulusan penghambaanmu kepada-Nya.

Saat seseorang merasa sempit karena tidak diberi dan merasa lapang saat diberi, ini pertanda bahwa ia masih mempedulikan kepentingan dan maslahatnya. Menurut kaum ‘arif, bekerja untuk mendapatkan kepentingan dan maslahat pribadi bertentangan dengan ‘ubudiyah. Siapa yg mendapati kondisi itu pada dirinya, hendaknya ia mengerti bahwa ‘ubudiyah-nya masih belum tulus. Sepatutnya juga ia sadar bahwa ia sedang bersikap kekanak-kanakan di tengah orang² yg dekat dengan Allah. Terlebih lagi bila ia mengaku-aku memiliki kedudukan seperti mereka, padahal tidak demikian.

Lain halnya jika kekecewaan saat ditolak Allah itu timbul karena ia takut tidak sabar dan takut melawan kuasa Ilahi, akan terjadilah padanya rasa bosan. Lain halnya jika kebahagiaan saat diberi Allah itu terjadi karena ia tidak lagi mengalami rasa takut untuk tidak bersabar. Ini adalah bukti perhatian dan kasih sayang Allah kepadanya karena ia tidak dijerumuskan-Nya ke dalam perkara yg mengganggu kondisinya. Ini bukanlah bukti sifat kekanak-kanakan dan ketidaktulusan yg disebutkan di atas. Bagaimanapun, orang² ‘arif pasti tetap memiliki sisa² sifat kemanusiaan yg ada pada dirinya. Dengan sisa² sifat itu, mereka mampu bergaul dengan manusia dan makhluk lainnya. Itu adalah kebutuhan manusiawi pada dirinya. Wallaahu a’lam

160. Jangan Putus Asa

Hikmah 160 dlm Al-Hikam:

“Jangan Putus Asa”

إذا وقع منك ذنب فلا يكن سببالياءْسك من حصول الاستـقامة مع ربّك فقد يكون ذٰلك اٰخرذنب قدّر عليكَ

Jika kau terjatuh pada dosa, janganlah hal itu membuatmu putus asa untuk beristiqamah bersama Tuhanmu karena bisa jadi itulah dosa terakhir yg ditetapkan atasmu.

Engkau jangan putus asa dengan merasa tidak mungkin bisa istiqomah dalam menghamba pada Allah Ta’ala, (sehingga mendorongmu melakukan dosa² yg lainnya) karena engkau terlanjur melakukan dosa.

Perbuatan dosa itu tidak menyalahi istiqamah dalam kehambaan, kalau semata-mata terlanjur, dengan tidak ada sifat gembira dalam melakukan dosa itu, sebab manusia tidak mungkin mengelak dari takdir yg telah ditulis baginya. Kewajiban kamu ketika terlanjur berbuat dosa yaitu harus segera bertobat.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Jika kau melakukan dosa sesuai dengan maqam dan kedudukanmu, hal itu jangan sampai membuatmu putus asa dari kelurusan dan keseimbangan ahwal -mu dengan Tuhanmu, misalnya dengan meyakini bahwa karena timbulnya dosa itu, kau merasa mustahil untuk beristiqamah. Sikap itu akan mendorongmu untuk melakukan dosa lainnya. Ini tentu langkah yg salah karena istiqamah dalam ‘ubudiyah tidak mesti terhalang oleh perbuatan dosa yg dilakukan akibat lalai dan alpa jika kau telah ditakdirkan untuk itu.

Yg menghalangi istiqamah adalah keinginanmu yg terus menerus untuk melakukan dosa dan bertekad untuk kembali melakukannya lagi. Oleh karena itu, yg wajib bagimu adalah bertobat langsung kepada Tuhanmu dan kembali kepada-Nya, jangan putus asa dari rahmat-Nya. Bisa jadi itu adalah dosa terakhir yg ditetapkan Allah untukmu sehingga setelah itu, Allah akan menerimamu dengan taufik dan kebaikan-Nya. Wallaahu a’lam

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam:

“Roja’ dan Khouf”

اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه اليكَ، واذا اردت ان يفتح لك باب الخوف فاشهد مامنك إليهِ

Jika kau ingin dibukakan pintu roja’/asa/harapan, lihatlah karunia-Nya kepadamu. Namun, jika kau ingin dibukakan pintu khouf/takut, lihatlah amal yg kau persembahkan untuk-Nya.

Hikmah ini menjelaskan dua cara untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, yaitu:

  1. Roja’ (berharap hanya kepada Allah Ta’ala), caranya: selalu memperhatikan apa yg ada pada dirimu dari nikmat pemberian Allah Ta’ala, macam²nya manfaat yg diberikan kepadamu, dan dihindarkan dari macam²nya bala’ bencana mulai dari kamu dalam kandungan ibumu sampai saat ini. Sehingga hati kamu bisa berharap secara optimis dan husnudzan kepada Allah Ta’ala dan tidak akan putus asa.
  2. Khouf (takut hanya kepada Allah Ta’ala), caranya: selalu memperhatikan apa² dari dirimu tentang kekurangan dan kecuranganmu dalam menghamba kepada Allah Ta’ala, adab yg kurang baik terhadap Allah Ta’ala. Sehingga timbul dalam hatimu rasa takut kepada Allah Ta’ala. Kedua sifat ini harus dimiliki oleh setiap mukmin.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Jika kau ingin Allah Ta’ala membukakan pintu harap untukmu, rasakanlah dalam dirimu kehadiran nikmat-Nya kepadamu, baik yg berupa manfaat maupun perlindungan-Nya dari bahaya, sejak kau masih dalam perut ibumu sampai waktu kau hidup sekarang. Jika kau merasakan hal itu, kau akan dihiasi dengan harapan yg besar dan tak pernah putus asa dari rahmat-Nya walaupun saat kau terjerumus ke lembah dosa. 

Jika kau sudah dikuasai rasa harap dan kau takut hal itu akan membuatmu melanggar perintah Allah Ta’ala, kau akan merasa ingin dibukakan pintu takut kepada-Nya agar bisa menjagamu dari yg kau takutkan. Oleh karena itu, sadarilah apa yg sudah kau berikan kepada-Nya, baik berupa kesalahan, pelanggaran, maksiat, maupun kekurangsopananmu di hadapan-Nya. Jika kau merasakan hal itu, kau akan dikuasai rasa takut kepada-Nya sehingga kau pun akan berhenti melanggar perintah-Nya.

Rasa harap dan takut merupakan dua kondisi yg timbul dari dua kesadaran di atas; kesadaran atas nikmat Allah dan kesadaran atas amal perbuatan yg kau persembahkan kepada-Nya. Wallaahu a’lam

162. Manfaat Al-Qobdh Dan Al-Basthu

Hikmah 162 dlm Al-Hikam:

“Manfaat Al-Qobdh Dan Al-Basthu”

ربّما افادك في ليل القبض مالم تستفده في إشراق نهارالبسط لاتدْرُون ايّهُمْ اَقرَبُ لكم نفعًا

Boleh jadi Allah memberimu manfaat pada saat malam kesempitan yg tidak kau dapatkan pada saat siang kelapangan. “Kalian tidak mengetahui mana yg lebih bermanfaat bagi kalian,” (QS. An-Nisa’ [4]: 11)

Dalam hikmah yg lalu telah diterangkan tentang al-qobdhu dan al-basthu, bahwa orang yg diberi kesenangan/kelapangan (basth) yg nafsunya ikut mendapatkan bagiannya, yg terkadang menjadikan sebab terhijab dengan Allah. Berbeda ketika orang yg dalam kondisi susah, sedih hatinya, nafsunya akan lemah dan merasa sangat berhajat kepada Allah, yg menjadikan sebabnya Allah memberikan suatu kenikmatan yg hakiki, yaitu ilmu dan ma’rifat. Sebagaimana diterangkan lagi pada hikmah ini. Sehingga orang² ‘Arif lebih memilih keadaan qobdh daripada basth. Tapi pada umumnya manusia memilih kesenangan daripada kesempitan.

Karena kita tidak mengetahui maka sebaiknya menyerahkannya kepada Allah, dan rela terhadap pemberian dan kehendak Allah kepada kita.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

“Kesempitan” di umpamakan dengan malam hari karena pada kedua keadaan tersebut terdapat kesunyian. “Manfaat” yg dimaksud adalah manfaat ilmu dan pengetahuan. Adapun “kelapangan” di umpamakan dengan siang hari karena pada kedua kondisi tersebut manusia bertebaran ke seluruh penjuru.

Siapa yg mendapatkan kelapangan maka jiwanya akan bergejolak untuk menampakkan pengetahuan dan hal lain yg dimilikinya. Mungkin ini akan menjadi sebab ia dihijab. Beda halnya dengan orang yg mengalami kesempitan, jiwanya akan lelah dan merasa hina. Ini akan menjadi sebab Allah akan menganugerahinya bermacam kebaikan. Oleh karena itu, orang² ‘arif lebih mengutamakan masa sempit daripada masa lapang.

Saat sempit, jiwa tidak memiliki kesenangan dan keuntungan. Ia lebih mampu untuk menunaikan hak² Allah dan etika-Nya. Saat sempit, terkadang jiwa juga mengalami ketakutan dan ketidaksabaran dalam melawan kuasa Ilahi. Oleh karena itu, seorang hamba harus sadar dan tahu kadar nikmat Allah kepadanya saat sempit, sebagaimana ia harus mengetahuinya saat lapang. Pada dua kondisi itu, ia harus tetap bersandar kepada Tuhannya dan berbaik sangka kepada-Nya karena ia tidak mengetahui mana yg lebih bermanfaat baginya.

Allah Ta’ala berfirman: “Kalian tidak mengetahui mana yg lebih bermanfaat bagi kalian,” (QS. An-Nisa [4]: 11). Wallaahu a’lam

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam:

“Hati Menjadi Sumbernya Nur”

مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ

Tempat terbitnya cahaya Ilahi adalah hati dan relung batin.

Hati dan sirr-nya para ‘Arifiin itu ibaratnya seperti langit yg menjadi tempat berjuta-juta bintang, bulan dan matahari. Seperti yg sudah diterangkan pada hikmah yg terdahulu bahwa nur yg keluar dari hati ‘Arifin itu lebih terang dibandingkan sinarnya bintang, bulan dan matahari.

Sebagian ‘Arifin berkata: “Andaikan Allah membuka Nur hatinya para waliyullah, niscaya cahaya matahari, bulan akan suram (kalah). Sebab cahaya matahari dan bulan bisa tenggelam dan gerhana, sedangkan Nur hati para wali itu tidak bisa tenggelam dan gerhana.”

Dalam hadits qudsi, Rasulullah Saw. bersabda, firman Allah Ta’ala: “Tidak cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku, tetapi yg cukup bagi-Ku hanya hati hamba-Ku yg beriman.”

Jadi kalau kita tidak mengetahui nurnya ‘Arifin, itu bagian dari belas kasihnya Allah Ta’ala.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Tempat terbitnya cahaya maknawi yg berupa bintang² pengetahuan, bulan ilmu, dan matahari tauhid adalah hati dan relung batin. Hati orang ‘arif seumpama langit yg di dalamnya seluruh bintang bersinar.

Cahaya² maknawi itu lebih terang sinarnya daripada cahaya² bintang sesungguhnya. Seorang ‘arif berkata, “Jika Allah membukakan tempat² bersinarnya cahaya di hati para wali-Nya, niscaya cahaya matahari dan bulan akan redup oleh pancaran cahaya hati mereka. Cahaya matahari dan bulan tak sebanding dengan cahaya hati karena cahaya keduanya masih bisa dihalangi oleh gerhana, selain juga akan tenggelam di malam atau siang hari. Sementara itu, cahaya hati wali Allah tidak pernah tenggelam atau mengalami gerhana.

Syaikh Abul Hasan Ali asy-Syadzili berkata, “Jika Allah menyingkap cahaya seorang mukmin yg bermaksiat, cahaya itu menyinari semua yg ada di antara langit dan bumi. Lantas, bagaimana halnya dengan cahaya mukmin yg taat?”

Di antara bukti kelembutan Allah untuk seluruh makhluk adalah, Dia tidak menyingkap cahaya² kaum ‘arif. Syaikh Abul Abbas al-Mursi berkata, “Jika Allah membukakan hakikat para wali-Nya, niscaya wali² itu akan disembah karena sifat² dan watak²nya sama dengan sifat² Allah Ta’ala.” Wallaahu a’lam

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam:

نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ

Cahaya yg tersimpan di dalam kalbu bersumber dari cahaya yg datang dari perbendaharaan ghaib.

Sebagaimana diterangkan dalam hikmah terdahulu, bahwa Allah Ta’ala menerangi alam semesta ini dengan cahaya benda (matahari, bulan) buatan-Nya. Sedangkan Allah Ta’ala menerangi hati dengan nur sifat²Nya. Selanjutnya dalam hikmah ini mejelaskan bahwa Nur cahaya keyakinan dalam hati para ‘Arifin itu salurannya langsung dari Nur yg berasal dari perbendaharaan alam ghaib. Sehingga Nur yg ada dalam hati ‘Arifin semakin bertambah terang memancar.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Cahaya yg tersimpan dalam hati disebut nurul yaqin (cahaya keyakinan), yaitu yg tersimpan dalam hati orang² ‘Arif. Cahayanya bertambah terang dengan cahaya sifat² azali yg bersumber dari perbendaharaan ghaib. Jika Allah menampakkan diri dan sifat²Nya kepada mereka, cahaya yg masuk ke dalam hati mereka akan bertambah. Itu adalah bukti perhatian Allah Ta’ala kepada mereka.

Dalam Lathaif Al-Minan disebutkan, “Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala, jika mengangkat seorang wali, Dia akan menjaga hatinya dari segala kebendaan dan menjaganya dengan cahaya² yg terus meneranginya.”

Syaikh Ibnu Atha’illah mengisyaratkan bahwa cahaya yg tersimpan dalam hati terbagi menjadi dua, sebagaimana dijelaskan hikmah berikutnya. Wallaahu a’lam

165. Hati Menjadi Sumbernya Nur (3)

Hikmah 165 dlm Al-Hikam:

نوريكشفُ لك بهِ عن اٰثاره، ونوريكشف لك به عن اوصافه

Ada cahaya yg menyingkap jejak²Nya dan ada cahaya yg menyingkap sifat²Nya.

Hikmah ini juga bisa di artikan:

  1. Nur yg ada dihati ‘Arifin itu bisa membuka/mengetahui keadaan makhluk, mengetahui apa yg ada diatas dan dibawah langit, apa yg ada dibawah bumi, dll. Yg seperti ini dinamakan Kasyaf Shuwari. Menurut ulama’ ahli hakikat, Kasyaf Shuwari itu tidak dipentingkan.
  2. Dan Nur itu juga bisa membuka sifat² keagungan, dan keindahan Allah Ta’ala. Nur yg seperti ini tidak akan bisa berhasil kecuali Allah Ta’ala memperlihatkan sifat² keagungan-Nya pada hamba. Hal seperti ini disebut Kasyaf Maknawi. Dan inilah yg terpenting menurut para ‘Arifin.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Ada cahaya yg menyingkap keadaan makhluk² sehingga ia menyinari ahwal para hamba dan menyinari yg ada di atas bumi dan di bawah langit. Ini disebut dengan kasyaf shuwari (pengungkapan bentuk). Kasyaf ini tidak dipedulikan oleh para muhaqqiq.

Ada pula cahaya yg menyingkap sifat² Allah Ta’ala dan keindahan-Nya. Cahaya ini tidak akan terlihat, kecuali pada orang² yg darinya tampak sifat² Allah. Ini disebut dengan kasyaf maknawi (pengungkapan immateril). Kasyaf inilah yg dicari oleh para muhaqqiq.

Syaikh Ibnu Atha’illah tidak mengatakan, “Ada cahaya yg menyingkap Dzat-Nya,” karena penampakan Dzat Allah yg murni dan bersih dari sifat² masih menjadi perdebatan di kalangan mereka. Sebagian dari mereka menafikannya. Sebagian lagi membenarkan kemungkinannya.

Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi menyebut penampakan Dzat Allah yg murni ini dengan bawâriq (kilat) karena ia datang dan hilang dengan cepat, dan manusia tidak sanggup menerimanya dalam waktu lama. Wallaahu a’lam

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam:

ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ

Bisa jadi hati terhenti pada cahaya², sebagaimana terhijabnya jiwa oleh gelapnya bayang² ciptaan.

Ada dua perkara yg bisa menghijab/menghalangi manusia berjalan menuju Allah Ta’ala, yaitu:

  1. Hijab/penghalang yg berupa Nur, yaitu macam²nya cahaya ilmu dan makrifat. Apabila hati hamba selalu silau melihat dan condong kepada Nur ilmu dan makrifatnya, dan menjadikan ilmu dan makrifatnya sebagai tujuan ibadahnya, bukan karena Allah Ta’ala yg memberi ilmu dan makrifat.
  2. Hijab berupa kegelapan, yaitu kesenangan nafsu syahwat dan adat kebiasaan nafsu.

Syaikh Abdullah asy-Syarqawi mensyarah:

Bisa jadi hati tertutup oleh cahaya² dan terhenti dari perjalanannya menuju Allah Ta’ala, sebagaimana jiwa tertutup oleh tebalnya ciptaan, syahwat, dan kenikmatan sehingga terhalang dari Allah Ta’ala.

Hijab yg menghalangi dari Allah Ta’ala itu ada dua macam. Pertama, hijab yg bersumber dari cahaya, yaitu ilmu dan pengetahuan. Jika hati berhenti padanya, ia akan merasa cukup dengannya dan menjadikannya sebagai tujuan dan maksud.

Kedua, hijab yg bersumber dari kegelapan, yaitu nafsu syahwat dan kebiasaannya. la digambarkan dengan ketebalan dan kegelapan karena tidak bisa dihilangkan, kecuali dengan perjuangan dan penderitaan. Wallaahu a’lam

Daftar Isi

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…
All articles loaded
No more articles to load

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…

160. Jangan Putus Asa

Hikmah 160 dlm Al-Hikam: “Jangan Putus Asa” إذا وقع منك ذنب فلا يكن سببالياءْسك من…

159. Sifat Ke-Kanak-Kanakan

Hikmah 159 dlm Al-Hikam: “Sifat Ke-Kanak-Kanakan” متى كنت اذا اُعطيتَ بسطك العطاءُوإذامنعت قبضك المنع فاستدلّ…
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Share via
Copy link
Powered by Social Snap