Masalah 01

162 Masalah Sufistik (Masalah 1):

Habib Abubakar bin Syeikh Asseggaf ra. bertanya: “Bagaimanakah perasaan yg timbul dalam hati seseorang yg telah sampai kepada Allah Ta’ala. Apakah ia harus membuangnya jauh² dan hanya bersandar kepada perasaan Rabbani saja atau apa yg seharusnya ia kerjakan?

al-‘Allamah al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad ra. menjawab: “Seseorang yg telah sampai kepada Allah atau seseorang yg mengenal Allah dengan ilmu yg ia miliki, sebagaimana yg dimiliki pula oleh para ulama, memiliki berbagai tingkatan yg tidak terhitung banyaknya.

Seseorang yg telah sampai kepada Allah Ta’ala mempunyai dua keadaan: Pertama, yg dikenal dengan nama al-Jam’u, dan yg kedua adalah yg dikenal dengan nama al-Farqu.

al-Jam’u adalah tingkatan atau keadaan yg dicapai oleh seorang yg telah mengenal Allah secara terus menerus tanpa terputus sesaat pun di dalam keadaan yg sedemikian ini. la adalah seseorang yg akan terus-menerus fana’ dan tenggelam di alam ketuhanan secara keseluruhan secara terus-menerul tanpa terputus sesaat pun.

Sehingga ia tidak lagi mengenali dirinya maupun yg lain selain Allah Ta’ala. Tentang keadaan atau tingkatan seperti ini pernah diucapkan oleh seorang penyair: “Andaikata hatiku pernah mengingat selain-Mu karena kelalaianku, maka aku rela jika dihukum dengan kemurtadan.”

Penyair lain mengatakan: “Dahulu hatiku mencintai-Mu, akan tetapi tidak terus-menerus. Namun setelah aku mengenal-Mu lebih jauh, maka aku tidak dapat melupakan diri-Mu sedetikpun.”

Adanya perasaan kepada selain Allah Ta’ala bagi seseorang yg telah mengenal Allah Ta’ala dengan baik tidak mungkin akan terjadi. Karena perasaannya telah benar² menyatu dengan Dzat Allah Ta’ala, sehingga ia tidak dapat memalingkan perasaan tersebut sesaatpun daripada-Nya. Keadaan yg seperti ini pernah disebutkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya:

“Aku mempunyai waktu yg tidak cukup bagiku, kecuali hanya untuk Tuhanku.”

Perasaan semacam ini sulit didapat oleh seseorang. Akan tetapi jikalau perasaan ini telah hadir pada diri seseorang secara terus-menerus, maka ia akan melihat berbagai keajaiban dan kemisterian alam ghaib yg menakjubkan.

Perasaan semacam ini pernah dialami seorang tokoh sufi di Irak. Ia pernah tenggelam dalam perasaan seperti ini selama tujuh tahun dan selama itu ia tidak sadar. Kemudian ia sadar dalam waktu pendek, tetapi ia tenggelam kembali dalam perasaan ketuhanannya itu selama tujuh tahun lagi. Dan selama itu ia tidak pernah makan, minum, tidur maupun shalat, ia hanya berdiri di sebuah tempat dan matanya selalu memandang ke langit.

Disebutkan juga bahwa salah seorang tokoh sufi di Mesir pernah juga mengalami keadaan atau perasaan seperti itu. Ia berwudhu, kemudian ia berbaring dan ia berkata kepada pembantunya: “Jangan engkau membangunkan aku, sampai aku bangun sendiri.”

Maka, ia tidak sadarkan diri selama tujuh belas tahun. Dan selama itu pula ia tidak makan dan tidak minum. Kemudian ia bangun dan ia melakukan shalat dengan wudhu’nya yg dahulu. Perlu diketahui, para ‘arifin billah selalu merindukan untuk mendapatkan keadaan seperti itu.

Tetapi Allah Ta’ala jarang sekali memberikan perasaan semacam itu kepada hamba²Nya, karena Allah Ta’ala kasihan kepada mereka dan agar hambanya yg terdekat dapat mengerjakan segala kewajibannya kepada Allah Ta’ala, agar pahala mereka senantiasa bertambah serta agar tubuh mereka tidak rusak karenanya.

Sebab, jika perasaan ketuhanan telah mempengaruhi hati seseorang dan ia tenggelam dalam perasaan seperti itu, maka kekuatannya sebagai manusia tidak akan dapat menanggulanginya. Sebab, Gunung Tursina menjadi terbakar dan meletus ketika cahaya Allah Ta’ala tumbuh di puncaknya, maka bagaimana jika cahaya Allah Ta’ala itu telah bersemayam di hati seseorang.

Karena itu, tidak pantas jika kita percaya kepada sebagian orang yg telah disesatkan oleh setan yg mengaku bahwa mereka telah mengalami masa tenggelam di alam ketuhanan, sehingga mereka meninggalkan semua kewajiban agama, seperti puasa, shalat, serta mereka melakukan segala bujuk rayu hawa nafsunya dan larangan² Allah Ta’ala.

Andaikata mereka termasuk wali² Allah, tentunya mereka akan dipelihara oleh Allah dari segala perbuatan yg tidak baik. Dan secara logika, andaikata mereka benar² mengalami masa tenggelam di alam ketuhanan, tentunya mereka tidak akan terpengaruh oleh hal² selain Allah Ta’ala.

Kiranya kami cukupkan sampai disini keterangan kami tentang keadaan atau masa ketenggelaman seseorang di alam ketuhanan yg memfana’kan dirinya dari selain Allah Ta’ala. Kini, mari kita bicarakan tentang keadaan al-Farqu, yaitu keadaan atau perasaan yg di alami oleh seseorang yg telah tenggelam di alam ketuhanan, tetapi tidak terus-menerus.

Seseorang yg telah mencapai tingkatan ini, maka Allah Ta’ala akan senantiasa memeliharanya dan memperhatikannya. Untuk selamanya, ia akan merasa selalu diawasi dan diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, sehingga ia tidak berani berbuat sesuatu, kecuali yg telah diajarkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Yg menurut istilah kaum sufi, perasaan semacam itu disebut perasaan malaki atau ilham Rabbani.

Adapun perasaan setan, tidak akan timbul dan tidak akan berpengaruh sedikitpun kepada seseorang yg telah sampai kepada Allah Ta’ala. Sebab, setan yg terkutuk tidak akan dapat mendekati hati seorang yg telah sampai kepada Allah Ta’ala.

Karena Allah Ta’ala akan senantisa meneranginya dengan cahaya petunjuk-Nya. Mungkin setan dapat mempengaruhi seseorang yg telah sampai kepada Allah Ta’ala, tetapi orang itu akan diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari gangguan setan. Hal ini sebagaimana yg disabdakan oleh Rasulullah Saw.:

“Aku mempunyai setan, tetapi Allah memenangkan aku daripadanya, sehingga aku selamat dari godaannya, sehingga ia tidak menyuruhku kecuali yg baik.”

Adapun perasaan nafsu tidak mungkin dapat mempengaruhi hati seseorang yg telah sampai kepada Allah Ta’ala, karena hatinya telah tunduk dan telah dekat kepada Allah Ta’ala. Bahkan nafsunya pun dapat ia kendalikan, sehingga ia taat kepada Tuhannya dan telah dimasukkan dalam golongan hamba²Nya yg pantas menghuni surga-Nya yg luasnya seluas langit dan bumi, yg disediakan hanya bagi orang² yg bertakwa.

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri